
Maafkan Jane, Mama
Waktu berlalu begitu cepat. Gadis kecil yang dulu suka menangkap kodok dan pernah menabrak rak di supermarket kini sudah bertumbuh dan duduk di kelas 4B SD Pius.
Jane tetaplah anak yang ceria, penuh energi, dan sangat menyukai petualangan. Namun, seiring bertambahnya kelas, pelajaran sekolah pun menjadi semakin sulit. Ada satu hal yang sangat menantang kesabaran Jane akhir-akhir ini: pelajaran Matematika.
Besok adalah hari ulangan harian Matematika pertama di semester ini. Materinya cukup sulit, yaitu tentang perkalian bersusun dan pembagian. Sejak sore, Mama sudah mengingatkan Jane untuk mulai membuka buku.
"Jane, ingat besok ada ulangan Matematika. Jangan main terus, ayo duduk di meja belajar," panggil Mama dari arah dapur.
"Iya, Ma! Sebentar lagi, nanggung nih gambarnya belum selesai!" sahut Jane dari ruang tengah. Ia sedang asyik mewarnai gambar pemandangan dengan krayon barunya.
Setelah dipanggil hingga tiga kali, barulah Jane melangkah gontai ke kamarnya. Di atas meja belajar, Mama rupanya sudah menyiapkan selembar kertas berisi sepuluh soal latihan khusus untuk Jane.
"Kerjakan latihan ini dulu. Ingat, gunakan cara bersusun seperti yang diajarkan Bu Guru. Kalau sudah selesai dan betul semua, kamu baru boleh main atau menggambar lagi," kata Mama tegas namun penuh perhatian.
Jane menatap soal-soal itu dengan malas. Angka-angka itu seolah menari-nari mengejeknya. Di luar jendela kamarnya, ia bisa mendengar sayup-sayup suara anak-anak tetangga yang sedang asyik bermain sepeda. Pikirannya melayang ke luar. Ia ingin segera bergabung dengan mereka.
"Ah, gampang ini. Aku asal isi saja biar cepat selesai," gumam Jane nakal dalam hati.
Dengan terburu-buru, Jane menuliskan jawaban tanpa menghitungnya dengan benar. 24 dikali 5? Tulis saja 100. 144 dibagi 12? Tulis saja 10. Tulisannya pun sangat berantakan, angkanya besar-kecil tidak beraturan menabrak garis buku. Hanya dalam waktu sepuluh menit, Jane sudah keluar dari kamar dengan wajah berseri-seri.
"Sudah selesai, Ma!" serunya bangga sambil menyerahkan kertas itu ke tangan Mama.
Mama mengernyitkan dahi. Beliau mengambil kacamata bacanya dan meneliti kertas Jane. Wajah Mama yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi tegang dan tegas.
"Jane, apa-apaan ini?" tanya Mama dengan nada sedikit tinggi. "Kamu menghitungnya bagaimana? Kenapa 24 dikali 5 jawabannya 100? Lalu ini coret-coretan apa? Kamu sama sekali tidak menggunakan cara bersusun."
Jane menunduk, memainkan ujung bajunya dengan gugup. "Kan biar cepat, Ma... Jane mau main sepeda..."
"Belajar itu bukan soal cepat-cepatan, Jane! Tapi soal memahami materi," tegur Mama, kali ini terdengar sangat marah. "Kalau kamu belajar asal-asalan begini, Mama tidak izinkan kamu main. Sekarang kembali ke kamar, hapus semua, dan kerjakan ulang dengan benar!"
Namun, Jane sedang keras kepala hari itu. Dengan bibir mengerucut, ia kembali ke kamar dan menutup pintu sedikit keras. Bukannya mengerjakan ulang, ia malah merebahkan diri di kasur. Ia hanya membolak-balik buku catatannya sekilas tanpa benar-benar berlatih menulis hitungan. Ah, besok pas ulangan pasti aku bisa menghitungnya sendiri, pikirnya meremehkan.
Keesokan harinya, ruang kelas 4B terasa sangat hening. Bu Guru membagikan kertas ulangan. Saat Jane melihat soal-soal itu, matanya terbelalak. Angka-angkanya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia duga.
Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia mencoba mengingat-ingat cara menghitung bersusun, tapi kepalanya terasa kosong. Tangan Jane gemetar saat mencoba menghitung, banyak coretan salah di kertasnya, dan waktunya terus berjalan cepat. Hingga bel berbunyi tanda waktu habis, ada tiga soal yang belum ia isi sama sekali.
Dua hari kemudian, saat yang paling mendebarkan tiba. Bu Guru membagikan hasil ulangan. Jane menerima kertasnya dengan jantung berdebar kencang. Di pojok kanan atas kertas itu, tertulis angka dengan tinta merah menyala: 40. Di bawahnya terdapat cap besar bertuliskan: REMIDI.
Hati Jane hancur berkeping-keping. Ia tidak pernah mendapat nilai seburuk itu. Siska, sahabat bangkunya, tersenyum senang karena mendapat nilai 90. Tiba-tiba, dada Jane terasa sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia teringat betapa marahnya Mama saat ia belajar asal-asalan tempo hari. Ia sadar, kesalahannya ini murni karena kemalasan dan kesombongannya sendiri.
Sepulang sekolah, langkah kaki Jane terasa sangat berat. Sesampainya di rumah, ia tidak langsung pergi ke kamar untuk berganti baju. Ia berjalan perlahan mencari Mama yang sedang melipat pakaian di ruang tengah.
Melihat wajah putrinya yang murung dan matanya yang sembab merah, Mama segera meletakkan pakaian di tangannya. "Ada apa, Sayang? Kok pulangnya sedih begitu?"
Jane tidak bisa menahannya lagi. Tangisnya pecah seketika. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan kertas ulangan yang sudah sedikit lecek, dan menyodorkannya kepada Mama dengan kedua tangan yang gemetar.
"Maafkan Jane, Mama... Hiks... Jane dapat nilai jelek... Jane harus remidi..." isaknya tersedu-sedu, air matanya membasahi pipi. "Mama benar, Jane belajarnya asal-asalan. Jane cuma mikirin main. Jane menyesal sekali, Ma."
Mama melihat angka merah di kertas itu. Awalnya, ada raut kecewa yang melintas di wajah Mama. Namun, melihat air mata penyesalan yang begitu tulus dari putrinya, hati Mama seketika luluh. Beliau merentangkan tangannya, menarik Jane ke dalam pelukan yang hangat, dan mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Menangislah, tidak apa-apa," bisik Mama menenangkan. "Mama memang sempat marah dan kecewa kemarin, karena Mama tahu kamu sebenarnya anak yang cerdas. Kamu hanya kurang tekun. Nilai jelek ini adalah akibat dari kamu yang terburu-buru dan meremehkan kewajibanmu."
Jane mengangguk-angguk di dalam pelukan Mama. "Jane janji, Ma. Jane nggak akan malas-malasan dan asal-asalan lagi. Jane mau belajar yang sungguh-sungguh untuk ujian remidi besok."
Mama melepaskan pelukannya, lalu tersenyum sambil menghapus sisa air mata di pipi Jane menggunakan ibu jarinya. "Itu baru anak Mama yang hebat. Mengakui kesalahan dan berani memperbaikinya adalah langkah pertama untuk menjadi orang sukses. Nilai 40 bukan akhir dunia, asalkan kamu mau berusaha lebih keras."
Mata Jane kembali berbinar, beban berat di dadanya seakan menguap entah ke mana.
"Nah, sekarang ganti baju dulu, cuci muka, lalu kita makan siang," ajak Mama. "Setelah itu, kita duduk bersama di meja belajar. Mama akan ajarkan lagi cara perkalian bersusun pelan-pelan sampai kamu benar-benar paham. Setuju?"
"Setuju, Ma!" jawab Jane mantap.
Siang itu, tidak ada rengekan minta bermain. Tidak ada keluhan ingin cepat-cepat selesai. Jane duduk dengan tenang di meja belajarnya, mendengarkan penjelasan Mama dengan saksama, dan menghitung setiap soal latihan remidi dengan sangat teliti. Jane akhirnya memetik pelajaran berharga: tidak ada jalan pintas menuju keberhasilan, semua butuh usaha dan ketekunan.


