
Be Careful Jane
Bagi Jane, hari Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan dalam seminggu. Hari Sabtu berarti tidak ada sekolah, bisa menonton film kartun di pagi hari, dan yang paling penting: ikut Mama belanja bulanan ke supermarket!
Jane selalu menyukai supermarket. Baginya, tempat itu seperti taman bermain raksasa dengan lampu-lampu terang benderang, rak-rak tinggi yang penuh dengan barang-barang berwarna-warni, dan tentu saja, lorong makanan ringan yang terasa seperti harta karun.
Pagi itu, Jane sudah bersiap sejak pukul tujuh pagi. Ia mengenakan gaun kuning bermotif bunga matahari dan sepatu kets merah kesayangannya. Sambil menunggu Mama bersiap, Jane melompat-lompat kecil di ruang tamu, menyanyikan lagu riang yang liriknya ia karang sendiri.
"Jane, Sayang, jangan melompat-lompat terus. Nanti kamu capek sebelum kita sampai di supermarket," tegur Mama yang baru saja keluar dari kamar, merapikan tas tangannya.
"Jane nggak capek, Ma! Jane excited banget! Kita mau beli susu cokelat, kan, Ma? Beli biskuit bintang juga, kan?" seru Jane tak sabar, menarik-narik ujung baju Mama.
Mama tersenyum lembut sambil mengusap rambut Jane. "Iya, kita beli semuanya. Tapi ingat ya, janji Mama apa?"
Jane menghela napas panjang, pura-pura berpikir keras. "Ehm... tidak boleh lari-lari di supermarket?"
"Betul sekali," Mama mengangguk mantap. "Di supermarket banyak orang, lantainya kadang licin, dan rak-raknya penuh barang kaca. Kalau kamu buru-buru dan lari-lari, nanti bisa jatuh. Kalau jatuh, nanti luka dan sakit lho."
"Iya, Ma. Jane ingat. Jalan pelan-pelan," jawab Jane yakin, meskipun kakinya masih tidak bisa berhenti bergoyang-goyang.
Setibanya di Supermarket Makmur, mata Jane langsung berbinar-binar. Suara roda troli yang berderit, aroma roti yang baru dipanggang dari area bakery, dan deretan buah-buahan segar berwarna-warni langsung menyambut mereka.
Awalnya, Jane menepati janjinya. Ia berjalan di samping troli yang didorong Mama, sesekali membantu memasukkan sayuran atau buah yang Mama pilih. Ia melangkah dengan hati-hati, seperti seorang putri keraton.
Namun, kesabaran Jane perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Bagian sayur dan buah terasa sangat membosankan. Begitu juga bagian sabun dan pasta gigi.
"Ma, lama banget sih pilih sabun mandinya," keluh Jane sambil menarik-narik troli.
"Sabar, Sayang. Mama sedang membandingkan harganya," jawab Mama tenang.
Setelah melewati lorong sabun, sampailah mereka di persimpangan lorong. Dari kejauhan, Jane bisa melihat plang besar bertuliskan "MAKANAN RINGAN & SUSU". Jantung Jane langsung berdebar kencang. Itu dia! Lorong surga!
"Ma! Lorong susu cokelat di sana!" seru Jane kegirangan, menunjuk ke arah lorong nomor lima.
"Iya, sebentar. Mama ambil tisu dulu di lorong ini. Kamu tunggu di sini sebentar ya, jangan ke mana-mana," pesan Mama.
Tapi Jane sudah terlalu bersemangat. Pikirannya sudah dipenuhi oleh bayangan kotak susu cokelat dingin dan biskuit bintang kesukaannya. Ah, cuma sebentar kok. Aku ambil susunya dulu, nanti kembali lagi, pikir Jane.
Tanpa menunggu Mama, Jane langsung melesat. Rasa senangnya membuat ia lupa akan janji yang ia buat pagi tadi. Ia tidak berjalan, melainkan berlari kecil menyusuri lorong panjang itu. Sepatu kets merahnya berbunyi cit-cit setiap kali bergesekan dengan lantai supermarket yang mengilap dan licin.
"Susu cokelat, susu cokelat, aku datang!" gumam Jane senang.
Lorong makanan ringan itu sedang agak sepi. Rak-rak menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan, penuh sesak dengan berbagai macam barang. Jane melihat rak berisi susu berada di ujung lorong sebelah kanan. Ia mempercepat larinya, tidak sabar ingin segera memeluk kotak susu itu.
Tepat sebelum Jane mencapai rak susu, ia bermaksud untuk berbelok sedikit menghindari seorang pegawai supermarket yang sedang menata barang. Namun, karena ia berlari terlalu kencang di atas lantai yang licin, sepatu ketsnya kehilangan cengkeraman.
Sret!
Kaki Jane terpeleset. Waktu seolah melambat. Jane mencoba menyeimbangkan badannya, tangannya menggapai udara, tetapi semuanya sudah terlambat.
BRUUK! PRANG!
Jane jatuh tersungkur ke depan dengan keras. Wajahnya menabrak bagian bawah rak besi yang memajang sirup, sementara lututnya menghantam lantai keramik dengan bunyi yang menakutkan. Beberapa botol sirup plastik yang ada di rak terbawah ikut jatuh dan menggelinding di sekitarnya.
Selama beberapa detik, Jane terdiam. Ia merasa terkejut, bingung, dan... sakit. Sangat sakit.
Lalu, tangisnya pun pecah. Suara tangisannya yang keras menggema di seluruh lorong supermarket.
"Huwaaaaa!! Mamaaa!!" jerit Jane, air matanya langsung mengalir deras seperti air terjun.
Mendengar jeritan anaknya, Mama yang sedang memilih tisu segera membuang barang belanjaannya dan berlari panik menuju lorong nomor lima. Jantung Mama berdegup kencang melihat Jane sudah duduk di lantai, menangis histeris sambil memegangi mulutnya.
"Astaga, Jane! Sayang!" Mama langsung menjatuhkan dirinya di samping Jane, memeluk tubuh mungil yang gemetar itu erat-erat.
"Ma, sakiiiit... Hiks... sakiiit," isak Jane.
Mama melepaskan pelukannya perlahan untuk memeriksa keadaan Jane. Lutut kanan Jane lecet parah, darah segar menetes dari luka yang cukup lebar dan mewarnai kaus kaki putihnya. Tapi yang lebih membuat Mama kaget adalah mulut Jane. Ada darah di sekitar bibirnya.
"Buka mulutmu sedikit, Sayang, coba Mama lihat," pinta Mama dengan suara bergetar namun berusaha tetap tenang.
Jane membuka mulutnya sambil menangis. Gigi susu bagian depan Jane, yang memang sudah agak goyang sejak minggu lalu, kini benar-benar tanggal. Gigi kecil itu tergeletak di lantai, tak jauh dari tempat Jane jatuh.
"Oh, Sayang..." Mama menghela napas, merasa lega karena tidak ada luka yang lebih serius, namun hatinya juga ikut sakit melihat anaknya menangis seperti itu. Mama mengambil saputangan bersih dari tasnya dan dengan lembut membersihkan darah di mulut dan lutut Jane.
Pegawai supermarket yang tadi ada di dekat sana segera datang membawa kotak P3K. Mama mengucapkan terima kasih dan dengan cekatan membersihkan luka di lutut Jane dengan antiseptik, lalu menempelkan plester bergambar kartun.
Jane masih menangis tersedu-sedu di pelukan Mama. Rasa sakit di lutut dan mulutnya membuat rasa senangnya akan supermarket hilang seketika.
"Sudah, sudah... tidak apa-apa," bisik Mama lembut sambil mengusap punggung Jane yang naik turun karena menangis.
"Jane minta maaf, Ma... Hiks... Jane lari-lari..." ucap Jane terbata-bata, menyadari kesalahannya.
Mama mencium puncak kepala Jane. "Iya, Sayang. Mama tahu kamu menyesal. Ini yang Mama maksud tadi pagi. Mama bukan melarang kamu bersenang-senang, tapi Mama ingin kamu aman. Kalau kita buru-buru, kita jadi kurang waspada dan akhirnya bisa terluka seperti ini."
Jane mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada Mama. "Sakit banget, Ma..."
"Iya, Mama tahu. Tapi gigi susumu memang sudah waktunya tanggal, jadi tidak apa-apa," Mama tersenyum tipis, mencoba menghibur. "Nanti malam giginya kita taruh di bawah bantal, ya? Siapa tahu Peri Gigi datang membawakan hadiah untuk anak yang berani."
Tangisan Jane mulai mereda, meskipun masih ada sisa-sisa isakan kecil. Ia menatap lututnya yang kini berhiaskan plester kartun, lalu menatap gigi kecilnya yang sudah Mama simpan di dalam tisu.
"Janji ya, setelah ini harus lebih hati-hati? Jangan buru-buru dalam segala hal. Pelan-pelan saja," nasehat Mama dengan nada yang sangat lembut, tanpa ada kemarahan sedikit pun.
"Janji, Ma. Be careful, Jane," bisik Jane pelan, mengulangi kata-kata yang sering Mama ucapkan.
Hari itu, belanja bulanan mereka selesai lebih cepat dari biasanya. Jane tidak lagi berlari-lari. Ia memilih untuk duduk manis di dalam troli sambil memegangi kotak susu cokelatnya, sementara Mama mendorong troli dengan pelan. Meskipun lututnya masih terasa perih dan ia harus bicara sedikit cadel karena kehilangan gigi depannya, Jane belajar sebuah pelajaran yang sangat penting hari itu: terkadang, memperlambat langkah adalah cara terbaik agar kita bisa menikmati hari tanpa rasa sakit.





