
Melilit!
Bel akhir pelajaran berbunyi nyaring di SD Pius, menandakan waktu istirahat telah tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas seperti lebah yang keluar dari sarangnya. Bagi sebagian besar anak, ini adalah waktunya bermain kejar-kejaran. Namun belakangan ini, Jane lebih suka berdiri di dekat gerbang sekolah, memperhatikan teman-temannya yang sedang asyik mengerumuni gerobak penjual makanan.
Siska, sahabatnya, baru saja membeli gulali merah muda. Budi sedang asyik mengunyah sosis bakar. Aroma bumbu kacang, gurihnya gorengan, dan manisnya sirup es campur berpadu di udara, membuat Jane menelan ludah. Selama ini, Mama selalu membawakan Jane kotak bekal berisi roti isi atau buah-buahan. Sehat dan enak, tentu saja. Tapi melihat teman-temannya bisa menukar uang kertas dengan jajanan beraneka ragam membuat Jane merasa iri.
Siang itu, sepulang sekolah, Jane langsung melancarkan aksinya. Ia membuntuti Mama ke dapur dengan wajah memelas yang sengaja dibuat selucu mungkin.
"Mama..." panggil Jane dengan suara manja yang dipanjang-panjangkan.
Mama yang sedang memotong sayuran menoleh, sudah hafal dengan nada suara putrinya itu. "Ada apa, Jane? Mau minta tolong ambilkan buku gambar yang di atas lemari lagi?"
Jane menggeleng cepat. "Bukan, Ma. Jane mau minta izin... boleh tidak besok Jane bawa uang saku ke sekolah? Teman-teman sekelas Jane semuanya sudah boleh jajan sendiri di kantin. Jane juga ingin belajar beli makanan sendiri, Ma. Boleh ya? Ya? Ya?"
Mama menghentikan pisau di tangannya dan menghela napas pelan. Beliau menatap mata bulat putrinya. "Jane, Mama membawakan bekal supaya kamu makan makanan yang bersih dan bergizi. Jajanan di luar itu kadang banyak minyaknya, banyak debunya, dan pewarnanya belum tentu aman untuk perut kecilmu."
"Tapi Jane janji akan pilih-pilih! Jane sudah besar, Ma, kelas empat! Boleh ya, Ma?" bujuk Jane sambil memeluk pinggang Mama erat-erat.
Melihat kegigihan Jane, akhirnya pertahanan Mama runtuh juga. Mama mengelap tangannya yang basah, lalu mengambil dompet dari atas kulkas. Beliau mengeluarkan selembar uang kertas berwarna cokelat pudar.
"Baiklah, Mama beri kamu uang saku. Tapi tidak banyak, ya. Ini lima ribu rupiah," kata Mama sambil menyerahkan uang itu ke telapak tangan Jane. "Dan ingat pesan Mama baik-baik: jangan kebanyakan beli jajanan yang digoreng, jangan banyak minum es, dan kurangi yang manis-manis. Boleh jajan, tapi jangan semuanya dibeli. Mengerti?"
"Mengerti, Mama! Terima kasih!" seru Jane kegirangan. Uang lima ribu rupiah itu ia cium dan ia masukkan ke dalam saku rok merahnya dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah harta karun bajak laut.
Keesokan harinya di sekolah, uang lima ribu di saku Jane terasa sangat panas, seolah tidak sabar ingin segera dikeluarkan. Begitu bel istirahat berbunyi, Jane langsung melesat ke area penjual makanan di dekat kantin. Ia merasa sangat bangga dan dewasa karena bisa jajan sendiri.
Pilihan pertama Jane jatuh pada gerobak yang mengeluarkan aroma paling gurih: Cimol goreng! Bulatan-bulatan aci yang digoreng garing itu disiram dengan bumbu keju dan bubuk cabai yang menggugah selera. Jane membeli seharga dua ribu rupiah.
Setelah asyik mengunyah cimol yang kenyal, matanya tertuju pada kantin sekolah yang memajang pisang goreng madu yang masih hangat. Kulitnya renyah kecokelatan dan wangi. Tentu saja, Jane membeli satu seharga seribu rupiah.
Setelah makan cimol yang pedas gurih dan pisang goreng yang manis berminyak, kerongkongan Jane terasa sangat haus. Ia melihat penjual minuman menuangkan teh pekat ke dalam gelas plastik berisi bongkahan es batu yang menggiurkan.
"Es teh manis satu, Bang!" seru Jane. Sisa uang dua ribu rupiahnya berpindah tangan.
Dalam sekejap mata, uang lima ribu rupiah dari Mama habis tak bersisa. Jane kembali ke kelas dengan perut buncit dan senyum puas, melupakan sepenuhnya peringatan Mama tentang gorengan dan es.
Siang harinya, saat Jane pulang ke rumah, Mama sudah menyiapkan makan siang di atas meja makan. Ada nasi hangat, sayur bayam bening, dan tempe bacem kesukaan Jane. Aroma sayur bayam itu biasanya selalu membuat Jane lapar, tapi hari ini berbeda.
Saat melihat piringnya, perut Jane terasa sangat penuh hingga seolah mau meletus. Cimol, pisang goreng, dan es teh manis di dalam perutnya seperti sedang berpesta pora dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk sayur bayam.
"Ayo ganti baju dan cuci tangan, Sayang, lalu makan siang," panggil Mama dari ruang tengah.
Jane berjalan pelan mendekati meja makan, lalu menggelengkan kepalanya. "Jane masih kenyang, Ma. Jane tidak mau makan siang dulu. Jane mau tidur siang saja."
Mama menatap Jane dengan tatapan menyelidik, lalu melihat ke arah tas Jane. Tidak ada sisa uang saku di sana. Mama sudah bisa menebak apa yang terjadi, tapi beliau memilih untuk diam dan membiarkan Jane beristirahat.
Hukuman atas kelalaian Jane baru datang menjelang sore.
Saat Jane sedang tidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman. Perutnya berbunyi krucuk-krucuk dengan keras. Rasa mulas yang tajam mulai menyerang, melilit ususnya seolah ada tangan tak terlihat yang sedang memeras perutnya kuat-kuat. Tubuh Jane langsung berkeringat dingin. Ia berguling ke kiri dan ke kanan di atas kasur, menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Mamaaa...!" erang Jane dengan suara parau.
Mendengar rintihan itu, Mama segera berlari masuk ke kamar Jane. Ia mendapati putrinya meringkuk memeluk bantal sambil memegangi perutnya yang kembung. Wajah Jane terlihat pucat pasi.
"Ya ampun, Jane! Kenapa, Sayang? Perutnya sakit?" tanya Mama panik, langsung duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahi Jane.
"Sakit, Ma... Melilit sekali..." isak Jane. Air matanya mulai menetes. Rasanya jauh lebih sakit daripada saat lututnya terbentur rak supermarket atau saat tangannya dicapit kepiting.
Mama dengan cepat mengambil minyak kayu putih dari kotak P3K. Beliau menyingkap sedikit baju Jane dan mengoleskan minyak yang hangat itu ke perut putrinya, memijatnya dengan gerakan melingkar yang lembut.
"Tadi di sekolah jajan apa saja sampai uang lima ribunya habis?" tanya Mama lembut, tangannya terus memijat perut Jane.
Sambil menahan isak tangis, Jane akhirnya mengaku. "Jane... Jane beli cimol goreng bumbu pedas, Ma... terus makan pisang goreng... lalu minum es teh manis yang besar..."
Mama menghela napas panjang. "Jane sayang, coba ingat pesan Mama kemarin. Mama bilang apa? Jangan kebanyakan gorengan, jangan banyak es, dan jangan banyak yang manis-manis. Kamu malah membeli ketiga-tiganya sekaligus."
Jane semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di bantal. "Maafkan Jane, Ma. Jane terlalu senang bisa jajan. Jane lupa pesan Mama. Karena jajan terus, Jane jadi tidak makan nasi dan sayur... sekarang perut Jane sakit sekali."
"Gorengan dan makanan pedas itu berat untuk dicerna oleh perutmu, apalagi kalau kamu menenggaknya dengan es dingin dan membiarkan perutmu kosong dari makanan bergizi seperti nasi dan sayur," jelas Mama dengan sabar. "Makanya perutmu sekarang protes karena kaget dan bekerja terlalu keras."
Mama lalu beranjak sebentar ke dapur dan kembali membawa secangkir teh tawar hangat. "Ayo, bangun pelan-pelan. Minum teh hangat ini perlahan supaya perutmu lebih tenang dan gasnya keluar."
Jane menurut. Ia meminum teh itu sedikit demi sedikit. Kehangatan teh dan pijatan minyak kayu putih dari tangan Mama perlahan-lahan membuat rasa melilit di perutnya sedikit mereda. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Mama, merasa sangat bersalah sekaligus lega karena selalu ada Mama yang merawatnya saat ia berbuat salah.
"Jane janji, Ma," bisik Jane lemah di pelukan Mama. "Besok-besok kalau Jane bawa uang saku, Jane cuma mau beli biskuit atau susu saja. Jane tidak mau makan gorengan banyak-banyak lagi. Sakit perut itu tidak enak."
Mama tersenyum dan mengecup dahi putrinya. "Anak pintar. Belajar mengendalikan diri itu penting, Jane. Makanan yang kelihatannya enak dan warnanya menarik, belum tentu baik untuk tubuh kita kalau dimakan berlebihan."
Sore itu, Jane menghabiskan waktunya di kasur dengan perut yang dibalut kehangatan minyak kayu putih. Ia belajar bahwa kebebasan membawa uang saku ternyata harus diiringi dengan tanggung jawab memilih makanan yang baik.





