
Payung Kuning di Halte Terakhir
Tidak semua kebaikan membutuhkan nama untuk dikenang.
by Raka Arkaan
Published 1 min read12 views
Payung Kuning di Halte Terakhir
Hujan turun tepat ketika halte terakhir mulai sepi.
Damar berdiri di bawah atap halte yang bocor, memeluk tas kerjanya sambil menatap jalanan. Hari itu terasa panjang. Pekerjaannya menumpuk, keretanya terlambat, dan baterai ponselnya tinggal tiga persen.
Di sebelahnya, seorang nenek berusaha melindungi kantong belanja dengan kedua tangannya. Air hujan perlahan membasahi roti dan beberapa bungkus makanan di dalamnya.
Damar melihat payung kuning di tasnya. Payung itu kecil, bahkan untuk dirinya sendiri.
"Nek, pakai payung saya saja," katanya.
"Lalu kamu bagaimana, Nak?"
"Rumah saya dekat."
Padahal rumah Damar masih dua belokan dan satu tanjakan dari halte itu.
Nenek tersebut tersenyum, menerima payungnya, lalu berjalan perlahan menembus hujan.
Damar pulang dengan pakaian basah. Namun, entah mengapa, malam itu ia merasa sedikit lebih ringan.
Keesokan sorenya, ketika melewati halte yang sama, Damar melihat payung kuningnya tergantung di depan warung kecil.
Di gagangnya terselip selembar kertas.
Terima kasih sudah meminjamkan payungmu. Hari ini, payung itu sudah membantu tiga orang lainnya.
Damar membaca tulisan itu dua kali.
Ia tersenyum dan membiarkan payung tersebut tetap tergantung di sana.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa ada hal-hal yang justru menjadi lebih berarti ketika tidak buru-buru kita ambil kembali.

