Skip to content
Log in
Hope

Piring Terakhir di Warteg Bahari

Kehangatan di Warung Tegal

by AGT

Published 6 min read0 views

Piring Terakhir di Warteg Bahari

Namanya Slamet.

Orang-orang di kampung memanggilnya Met. Ia lahir di sebuah desa kecil di pinggiran Tegal, di rumah berdinding bata yang sebagian masih belum diplester. Bapaknya buruh tani, sedangkan ibunya berjualan nasi ponggol setiap pagi di depan rumah.

Sejak kecil Slamet sudah akrab dengan bau nasi panas, sambal tempe, dan daun pisang.

Jam empat pagi, ketika anak-anak lain masih tidur, ibunya sudah duduk di dapur.

“Met, tulung jupukna godhong gedhang nang mburi.”

Slamet yang masih mengantuk biasanya menjawab pendek.

“Ya, Mak.”

Ia mengambil daun pisang di belakang rumah, mengelapnya, lalu membantu membungkus nasi ponggol satu per satu.

Kadang Slamet mengeluh.

“Mak, kapan awake dhewe sugih?”

Ibunya selalu tertawa.

“Wong sugih kuwe ora mesti sing duite akeh, Met. Sing penting wetenge wareg, atine tentrem.”

Waktu itu Slamet tidak benar-benar memahami kalimat itu.

Baginya, orang kaya adalah mereka yang rumahnya bertingkat, punya mobil, dan tidak perlu berjualan nasi sejak subuh.

---

Setelah lulus SMP, Slamet tidak melanjutkan sekolah.

Bapaknya sakit.

Sawah tempat bapaknya biasa bekerja juga semakin jarang membutuhkan buruh.

Slamet akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta.

Umurnya baru tujuh belas tahun

Ia membawa sebuah tas pakaian, uang seratus lima puluh ribu rupiah yang dikumpulkan ibunya selama beberapa bulan, dan secarik kertas berisi alamat saudara jauh di daerah Palmerah.

Sebelum bus berangkat, ibunya menyelipkan sebungkus nasi ponggol ke dalam tas.

“Nggo mangan nang dalan.”

Slamet tersenyum.

“Mak, Jakarta akeh makanan. Ora usah nggawa ponggol.”

Ibunya menatapnya.

“Panganan Jakarta akeh. Ning rasa omah ora ana sing dodol.”

Slamet terdiam.

Bus berjalan meninggalkan Tegal.

Untuk pertama kalinya ia melihat ibunya semakin kecil dari balik jendela.

Ia tidak tahu bahwa dua puluh tahun kemudian, kalimat ibunya itu masih akan terus diingatnya.

---

Di Jakarta, hidup tidak seperti yang ia bayangkan.

Slamet bekerja sebagai pencuci piring di sebuah warteg kecil.

Jam kerjanya hampir lima belas jam sehari.

Pagi ia menyapu.

Siang mencuci piring.

Malam membersihkan dapur.

Tidurnya di lantai belakang warteg bersama dua pegawai lainnya.

Gajinya kecil.

Tetapi hampir setiap bulan ia tetap mengirim uang ke Tegal.

Seratus ribu.

Dua ratus ribu.

Kadang lebih.

Ia hanya menyisakan cukup untuk membeli sabun, rokok sesekali, dan ongkos pulang setahun sekali.

Pemilik warteg itu, Pak Tarno, memperhatikan Slamet.

Anak itu jarang mengeluh.

Kalau pegawai lain sedang istirahat, Slamet malah memperhatikan bagaimana Pak Tarno berbelanja ke pasar.

Ia menghafal harga beras.

Harga minyak.

Harga telur.

Berapa kilogram ayam yang harus dibeli.

Berapa porsi makanan yang harus disiapkan setiap hari.

Suatu malam Pak Tarno bertanya.

“Met, kowe kok seneng ndelok buku catetan daganganku?”

Slamet tersenyum malu.

“Pingin ngerti carane duwe warteg dhewe, Pak.”

Pak Tarno tertawa.

“Warteg kuwe katon cilik. Ning nek ora pinter ngatur, duit iso ilang kaya banyu.”

Sejak malam itu, Pak Tarno mulai mengajarinya.

---

Enam tahun berlalu.

Slamet sudah menjadi juru masak.

Tabungannya terkumpul hampir dua belas juta rupiah.

Jumlah yang menurutnya sangat besar.

Ia kemudian memberanikan diri menyewa kios kecil di pinggir jalan dekat kawasan perkantoran.

Lebarnya hanya tiga meter.

Dindingnya kusam.

Atapnya bocor.

Mejanya bekas.

Kursinya berbeda-beda warna.

Di atas pintu, Slamet memasang papan sederhana.

WARTEG BAROKAH TEGAL

Hari pertama buka, Slamet memasak terlalu banyak.

Ayam goreng.

Telur balado.

Orek tempe.

Sayur asem.

Ikan tongkol.

Tumis kangkung.

Ia duduk menunggu pelanggan.

Jam sembilan.

Tidak ada orang.

Jam sepuluh.

Satu orang masuk.

Hanya membeli teh manis.

Jam makan siang datang.

Slamet berharap wartegnya penuh.

Ternyata hanya enam orang yang makan.

Malamnya banyak makanan tersisa.

Ia menghitung uang di laci.

Seratus delapan puluh tujuh ribu rupiah.

Sementara biaya belanja hari itu hampir lima ratus ribu.

Slamet duduk sendirian.

Untuk pertama kalinya sejak membuka warung, ia merasa takut.

---

Bulan pertama rugi.

Bulan kedua juga rugi.

Bulan ketiga ia mulai berutang kepada pemasok.

Seorang kawannya menyarankan agar ia menyerah.

“Met, tutup bae. Kerja karo wong maning. Paling ora gajian mesti.”

Slamet hampir setuju.

Malam itu ia menelepon ibunya di Tegal.

“Mak…”

“Ya, Met?”

“Kayane warteg arep tak tutup.”

Ibunya diam beberapa detik.

“Kenapa?”

“Sepi.”

“Masakane ora enak?”

“Enak, Mak.”

“Panggonane elek?”

“Lumayan.”

“Terus kenapa tutup?”

Slamet tidak menjawab.

Ibunya berkata pelan.

“Met, wong dagang kuwe ora mung adol panganan.”

“Terus adol apa, Mak?”

“Adol kepercayaan.”

Kalimat itu membuat Slamet berpikir semalaman.

---

Sejak hari berikutnya, ia mengubah caranya berdagang.

Setiap pelanggan yang datang ia hafalkan.

Mas Joko suka sayur asem banyak kuah.

Pak Rahmat tidak boleh terlalu banyak garam.

Mbak Siska selalu pesan telur balado dan orek tempe.

Anak kos di gang belakang boleh berutang sampai akhir bulan.

Pengemudi ojek yang makan lewat jam sembilan malam selalu diberinya tambahan nasi.

Kadang ada mahasiswa yang hanya punya uang lima ribu rupiah.

Slamet tetap memberi makan.

“Nanti nek wis duwe duit, bayar.”

Perlahan-lahan Warteg Barokah mulai ramai.

Bukan karena tempatnya bagus.

Bukan karena makanannya mewah.

Tetapi orang-orang merasa dikenal di sana.

---

Tahun berganti.

Slamet menikah dengan Rini, perempuan asal Brebes yang dikenalnya dari pelanggan warteg.

Mereka bekerja bersama.

Rini menjaga kasir.

Slamet memasak.

Ketika anak pertama mereka lahir, bayi itu tidur di kardus besar di belakang warteg yang diberi kasur kecil.

Kalau warung sedang ramai, Rini menggendong bayi sambil menghitung uang.

Mereka bekerja hampir tanpa hari libur.

Lima tahun kemudian Slamet membuka warteg kedua.

Lalu yang ketiga.

Lalu yang kelima.

Orang mulai memanggilnya Pak Slamet.

Ia sudah punya mobil.

Rumahnya sudah bagus.

Anaknya sekolah di tempat yang baik.

Tetapi setiap pagi ia tetap datang ke warteg pertama.

Kadang masih mengangkat piring.

Kadang membantu memotong tempe.

Pegawai barunya sering heran.

“Pak, sekarang kan sudah punya banyak warteg. Ngapain masih ikut cuci piring?”

Slamet tertawa.

“Aku pertama kali belajar usaha ya dari piring kotor.”

---

Suatu hari ibunya datang dari Tegal.

Sudah tua.

Jalannya pelan.

Slamet mengajak ibunya melihat warteg yang sekarang selalu ramai.

“Mak, kelingan mbiyen aku tau takon kapan awake dhewe sugih?”

Ibunya tersenyum.

“Kelingan.”

Slamet menunjuk mobil di depan.

“Saiki Slamet wis nduwe omah. Nduwe mobil. Wartege akeh.”

Ibunya hanya mengangguk.

“Berarti aku wis sugih, Mak?”

Ibunya menatap deretan pelanggan.

Ada sopir.

Mahasiswa.

Pegawai kantor.

Tukang bangunan.

Orang-orang duduk berdekatan, makan dari lauk sederhana yang sama.

Kemudian ibunya menunjuk seorang pengemudi ojek yang baru selesai makan.

Laki-laki itu membuka dompet.

Uangnya kurang.

Slamet yang melihatnya hanya berkata,

“Wis, sesuk bae bayare.”

Pengemudi itu tersenyum.

“Matur nuwun, Pak.”

Ibunya lalu memandang Slamet.

“Saiki kowe pancen wis sugih.”

Slamet tersenyum lebar.

“Merga nduwe akeh warteg?”

Ibunya menggeleng.

“Merga saiki kowe isa nggawe wong liyane wareg.”

---

Malam itu, setelah warteg tutup, Slamet duduk sendirian.

Di atas meja hanya tersisa satu piring.

Piring tua berwarna putih dengan sedikit retakan di pinggirnya.

Piring itu berasal dari warteg pertamanya.

Ia sengaja tidak pernah membuangnya.

Slamet mengambil piring itu dan mengusapnya perlahan.

Tiba-tiba ia teringat seorang anak tujuh belas tahun yang turun dari bus di Jakarta dengan tas pakaian sederhana dan sebungkus nasi ponggol buatan ibunya.

Anak itu datang tanpa modal besar.

Tanpa ijazah tinggi.

Tanpa kenalan orang penting.

Ia hanya membawa keberanian untuk mencoba.

Kesediaan untuk bekerja.

Dan keyakinan bahwa besok bisa sedikit lebih baik daripada hari ini.

Slamet tersenyum.

Dari dapur, aroma bawang goreng masih tertinggal.

Ia mematikan lampu warteg.

Sebelum pulang, ia melihat papan tua bertuliskan:

WARTEG BAROKAH TEGAL

Di bawahnya, beberapa tahun lalu Slamet menambahkan satu kalimat kecil:

“Mangan sing wareg. Bayar sing ikhlas. Urip kudu migunani.”

Makanlah sampai kenyang.

Bayarlah dengan keikhlasan.

Dan hiduplah agar berguna bagi orang lain.

Karena bagi Slamet, perjalanan dari Tegal ke Jakarta akhirnya mengajarkan satu hal:

Kesuksesan seorang pengusaha bukan hanya dihitung dari berapa banyak warung yang berhasil ia buka, tetapi dari berapa banyak kehidupan yang ikut tumbuh bersama usahanya.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

AGT

@agt

10 stories published · 5 followers

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Hope

Recently published stories from the same category.