SEBUNGKUS KEBAIKAN DALAM SEPIRING NASI PONGGOL
Tentang seorang anak rantau, harga diri, dan jalan pulang ke Tegal
Sore itu Jakarta baru saja selesai diguyur hujan.
Air Kali Ciliwung mengalir keruh membawa ranting, botol plastik, dan sampah yang entah berasal dari mana.
Di antara deretan rumah yang berdiri berdesakan di bantaran kali, seorang pemuda berjalan pelan sambil menundukkan kepala.
Namanya Joni.
Usianya dua puluh enam tahun.
Delapan tahun lalu ia datang ke Jakarta membawa sebuah tas besar, ijazah SMK, beberapa potong pakaian, dan rasa percaya diri yang bahkan lebih besar daripada tasnya.
Hari ini...
seluruh kekayaannya tinggal lima ribu rupiah di dalam saku celana.
Dan beberapa jam sebelumnya, ia baru saja kehilangan pekerjaan.
"Besok Nggak Usah Masuk Lagi"
"Jon."
Mandor memanggilnya sore tadi.
Joni yang sedang mengangkat ember langsung mendekat.
"Iya, Pak?"
"Besok nggak usah masuk dulu."
Joni terdiam.
"Maksudnya?"
"Bangunan sudah hampir selesai. Tenaga kita kurangi."
"Oh."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Mandor menepuk bahunya.
"Kalau nanti ada proyek lagi, saya kabari."
"Iya, Pak."
Joni tahu kalimat itu.
Ia sudah terlalu sering mendengarnya.
Nanti saya kabari.
Di Jakarta, nanti saya kabari kadang merupakan cara yang lebih sopan untuk mengatakan:
Jangan menunggu.
Joni kembali ke tempatnya.
Mengambil tas.
Mengganti baju.
Menerima sisa upah.
Sebagian langsung digunakan membayar kontrakan yang sudah ditagih sejak minggu lalu.
Ketika semuanya selesai, ia memasukkan tangan ke saku.
Satu lembar uang lima ribuan.
Itu saja.
Kontrakan Joni tidak jauh dari Ciliwung.
Orang menyebutnya kontrakan.
Kalau melihat ukurannya, mungkin lebih tepat disebut sebuah kamar yang dipaksa menjadi rumah.
Lima kali lima meter.
Ditinggali delapan orang.
Delapan laki-laki.
Delapan nasib.
Delapan cerita dari berbagai daerah yang sama-sama mencoba menaklukkan Jakarta.
Malam hari lantai berubah menjadi tempat tidur.
Tas digantung di dinding.
Pakaian bergelantungan di mana-mana.
Kalau satu orang ingin berjalan ke kamar mandi, yang lain harus menggeser kaki.
Tidak ada lemari.
Tidak ada meja makan.
Tidak ada privasi.
Tetapi sewanya murah.
Dan di Jakarta, murah sering kali jauh lebih penting daripada nyaman.
Joni sebenarnya ingin membeli mi instan.
Dengan lima ribu rupiah mungkin masih bisa.
Masalahnya...
mau dimasak dengan apa?
Gas kontrakan dibeli dari uang iuran bersama.
Dan Joni sudah beberapa bulan tidak membayar bagiannya.
Ia malu kalau malam ini ikut memakai gas.
Perutnya berbunyi.
Sejak siang ia hanya minum air.
Joni berjalan tanpa tujuan.
Sampai akhirnya langkahnya berhenti di depan sebuah tempat yang sangat dikenalnya.
Sebuah Warteg kecil.
Catnya sudah kusam.
Kacanya penuh uap.
Di balik etalase terlihat beberapa lauk yang tersisa.
Tempe orek.
Mi goreng.
Sayur.
Sambal.
Dan nasi.
Tulisan sederhana tergantung di depannya.
WARTEG IBU RAYAH
Joni berdiri cukup lama.
Ia kenal pemiliknya.
Dan justru itulah masalahnya.
Ia masih punya utang di sana.
Delapan Tahun Sebelumnya
Joni bukan anak bodoh.
Justru sebaliknya.
Sejak sekolah, ia selalu termasuk anak yang cepat memahami mesin.
Ia tumbuh di Talang, Kabupaten Tegal, di lingkungan tempat suara mesin, gerinda, bor dan las bukanlah kebisingan.
Itulah suara kehidupan.
Daerah itu dikenal dengan keterampilan industri logam masyarakatnya.
Orang-orang bisa membuat berbagai peralatan.
Memperbaiki mesin.
Membubut komponen.
Mengelas.
Membuat sesuatu dari besi yang bagi orang lain mungkin hanya terlihat sebagai potongan logam.
Joni tumbuh di bengkel Bapaknya.
Sejak kecil ia terbiasa mendengar:
NGIIIIING...
suara gerinda.
TAK! TAK! TAK!
suara palu.
Dan cahaya putih kebiruan dari las yang membuatnya selalu dimarahi kalau melihat terlalu dekat.
"Aja dideleng!"
Bapak akan berteriak.
"Mripatmu rusak mengko!"
Joni kecil biasanya langsung bersembunyi.
Lima menit kemudian muncul lagi.
Bapaknya mempunyai bengkel las kecil.
Tidak besar.
Tetapi cukup berhasil.
Dari bengkel itulah tiga anak laki-lakinya dibesarkan.
Joni adalah anak bungsu.
Kakak pertamanya kemudian membuka bengkel sendiri yang khusus mengerjakan pagar, teralis, kanopi dan konstruksi besi.
Kakak keduanya memilih dunia yang berbeda.
Membuka bengkel servis sepeda motor.
Sedangkan Joni...
sejak awal sudah dipersiapkan untuk meneruskan bengkel Bapak.
Dan memang ia yang paling berbakat.
Di SMK jurusan mesin, nama Joni hampir selalu berada di atas.
Mesin bubut?
Bisa.
Mesin bor?
Bisa.
Las listrik?
Jangan ditanya.
Membaca gambar teknik?
Cepat.
Beberapa gurunya bahkan mengatakan,
"Kalau kamu serius, Jon, kamu bisa jadi orang."
Kalimat itu masuk terlalu dalam ke kepalanya.
Masalahnya bukan Joni menjadi percaya diri.
Masalahnya...
ia mulai merasa terlalu hebat untuk tetap berada di bengkel kecil Bapaknya.
Suatu hari seorang teman yang sudah lebih dahulu ke Jakarta pulang membawa cerita.
"Di Jakarta operator mesin gajinya gede, Jon."
"Berapa?"
"Kalau pabrik bagus bisa dua digit."
Mata Joni membesar.
Untuk anak berusia delapan belas tahun, angka itu terdengar seperti kekayaan.
Temannya melanjutkan.
"Apalagi kamu bisa bubut, las, mesin. Gampang."
Kata terakhir itulah yang paling berbahaya.
Gampang.
Joni percaya.
Ketika menyampaikan niatnya, Bapak langsung menolak.
"Kerja di sini dulu."
"Nggo apa?"
"Belajar."
"Aku sudah bisa, Pak."
Bapak menatapnya.
"Baru lulus kok sudah merasa bisa semuanya?"
"Aku juara kelas."
"Juara kelas ora berarti ngerti urip."
Kalimat itu membuat Joni tersinggung.
"Aku bisa cari kerja sendiri."
"Ya cari. Tapi jangan asal berangkat."
"Temanku sudah nunggu di Jakarta."
"Jakarta ora mlayu."
Joni semakin panas.
"Bapak maunya aku di bengkel terus!"
"Bapak mau kamu punya dasar!"
"Aku sudah punya!"
Suara mereka semakin keras.
Ibu mencoba melerai.
Tetapi dua laki-laki keras kepala jarang mau berhenti ketika harga diri sudah ikut berbicara.
Sampai akhirnya Bapak berkata,
"Kalau mau pergi, pergi. Tapi jangan merasa Jakarta akan tunduk cuma karena kamu juara kelas."
Joni mengambil tasnya.
"Ya sudah."
Ibu menangis.
"Jon..."
Tetapi Joni tetap pergi.
Tanpa mencium tangan Bapak.
Tanpa meminta restu.
Tanpa menoleh.
Jakarta Tidak Peduli Siapa Juara Kelas
Hari pertama di Jakarta, Joni masih percaya semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Hari ketiga...
mulai ada masalah.
Teman yang menjanjikan pekerjaan ternyata hanya mengenal seseorang yang mengenal seseorang.
Lowongan memang ada.
Tetapi pelamarnya puluhan.
Kemudian ada nama lain yang masuk.
Kerabat seseorang.
Kenalan seseorang.
Rekomendasi seseorang.
Joni menunggu.
Satu minggu.
Dua minggu.
Satu bulan.
Akhirnya jawaban datang.
Tidak diterima.
Joni terpukul.
Tetapi lebih malu lagi untuk pulang.
Ia membayangkan wajah Bapak.
Sudah Bapak bilang.
Tidak.
Joni tidak mau mendengarnya.
Ia mencari pekerjaan lain.
Delapan tahun berlalu.
Pernah menjadi helper bengkel.
Pernah mengelas pagar.
Pernah bekerja di gudang.
Pernah menjadi kuli bongkar muat.
Pernah membantu proyek.
Pernah menganggur.
Pernah bekerja lagi.
Kemampuan tangannya sebenarnya jauh di atas sebagian pekerjaan yang ia lakukan.
Tetapi hidup tidak selalu bertanya:
"Kamu bisa apa?"
Kadang hidup bertanya:
"Kamu kenal siapa?"
Kadang:
"Ada lowongan atau tidak?"
Kadang bahkan tidak bertanya apa-apa.
Pintunya langsung tertutup.
Setiap tahun rasa malu Joni untuk pulang semakin besar.
Tahun pertama:
Nanti kalau sudah dapat kerja tetap.
Tahun kedua:
Nanti kalau sudah punya tabungan.
Tahun ketiga:
Nanti kalau sudah sukses.
Tahun kelima:
Malu pulang sekarang.
Tahun kedelapan:
Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa.
Sementara itu kedua kakaknya semakin maju di Tegal.
Bengkel pagar kakaknya ramai.
Bengkel motor kakaknya punya beberapa montir.
Dan bengkel Bapak?
Masih berdiri.
Masih bekerja.
Masih menunggu anak bungsunya.
Tetapi Joni terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa mungkin...
Bapak benar.
Warteg Ibu Rayah
"Jon!"
Suara keras membuyarkan lamunannya.
Ibu Rayah berdiri di balik etalase.
Perempuan paruh baya itu sudah mengenal Joni hampir tiga tahun.
Ia asli Tegal.
Sudah lama merantau ke Jakarta.
Logatnya tidak pernah hilang.
Dan ada dua hal yang terkenal dari Ibu Rayah.
Pertama:
masakannya enak.
Kedua:
kalau soal utang, ingatannya lebih tajam daripada komputer bank.
"Ngapa ngadeg nang njaba?"
Joni tersenyum canggung.
"Nggak apa-apa, Bu."
"Arep mangan?"
Joni meraba uang lima ribu di sakunya.
Lalu masuk.
Beberapa pelanggan sedang makan.
Sopir.
Tukang bangunan.
Pengemudi ojek.
Pedagang keliling.
Wajah-wajah lelah yang sudah sangat akrab dengan kerasnya Jakarta.
Joni duduk.
"Bu..."
"Apa?"
"Boleh beli nasi ponggol lima ribu saja?"
Ibu Rayah menatapnya.
"Sama air putih."
Ibu Rayah menyipitkan mata.
"Limang ewu?"
"Iya."
Kemudian sesuatu seperti alarm menyala di kepala Ibu Rayah.
"Eh!"
Joni sudah tahu.
"Utangmu bae durung dibayar!"
Beberapa orang menoleh.
Joni semakin menunduk.
"Sudah dua ratus ribu, Jon!"
"Iya, Bu."
"Telung wulan!"
"Iya."
"Tiga bulan!"
"Iya, Bu."
Ibu Rayah berkacak pinggang.
"Kerja apa ora, sih?"
Joni diam.
"Baru diberhentikan, Bu."
Ibu Rayah berhenti.
Nada suaranya sedikit turun.
"Kapan?"
"Tadi."
"Proyek rampung?"
Joni mengangguk.
"Oh..."
Hanya satu detik rasa iba terlihat di wajahnya.
Setelah itu galak lagi.
"Bisane ora gelem balik bae maring Tegal?"
Joni diam.
Ibu Rayah mengambil piring.
Sepiring Ponggol
Joni mengira dengan lima ribu rupiah ia hanya akan mendapatkan sedikit nasi dan tempe.
Tetapi Ibu Rayah mengambil nasi.
Satu sendok.
Dua.
Tempe orek.
Mi goreng.
Sedikit sayur.
Sambal.
Joni memperhatikan.
"Bu..."
"Apa?"
"Kebanyakan."
"Meneng."
"Tapi uangku—"
"Meneng!"
Joni diam.
Ibu Rayah meletakkan piring di depannya.
Kemudian menuangkan teh manis hangat.
Joni melihat gelas itu.
"Bu, aku pesan air putih."
Ibu Rayah menjawab ketus,
"Nyong ngerti."
"Lha ini teh."
"Ya terus?"
"Nanti tambah utang."
Ibu Rayah melotot.
"Tak siram kuwe teh nang sirahmu gelem?"
Orang-orang di warung tertawa.
Joni akhirnya ikut tersenyum.
Ibu Rayah mendorong piring itu.
"Wes. Mangan kuwe ponggole."
Sudah.
Makan.
Joni mengambil suapan pertama.
Nasi hangat.
Tempe orek.
Mi goreng.
Sambal.
Sederhana sekali.
Tidak ada ayam.
Tidak ada daging.
Tidak ada makanan mahal.
Tetapi entah kenapa...
suapan itu membuatnya berhenti mengunyah.
Rasanya familiar.
Manis.
Pedas.
Sederhana.
Tegal.
Ia tiba-tiba teringat pagi-pagi di rumah.
Ibu membungkus nasi ponggol.
Bapak sudah berada di bengkel.
Suara mesin mulai terdengar.
Joni kecil duduk di dekat pintu sambil makan.
"Jon!"
"Apa, Pak?"
"Aja cedhak mesin!"
"Iya!"
Lima menit kemudian ia mendekat lagi.
"JON!"
Kenangan itu begitu jelas.
Sudah delapan tahun.
Delapan tahun ia berusaha menjadi orang Jakarta.
Tetapi hanya dengan satu suapan...
ia kembali menjadi anak bengkel dari Talang.
Di meja sebelah, seorang sopir berkata,
"Pulang saja, Jon."
Joni menoleh.
Laki-laki itu rupanya mendengar percakapan mereka.
"Kalau masih ada rumah buat pulang, pulang."
Seorang pelanggan lain tertawa.
"Saya malah sudah nggak punya orang tua."
Warung mendadak sedikit lebih tenang.
"Sekarang kalau pulang kampung cuma ziarah."
Ia mengaduk tehnya.
"Dulu waktu Emak masih ada, saya malas pulang."
"Ditanya kapan pulang malah kesel."
Ia tersenyum kecil.
"Sekarang pengin ditanya begitu lagi sudah nggak ada yang nanya."
Tidak ada yang tertawa.
Seorang pengemudi ojek ikut berbicara.
"Saya dari Brebes. Anak dua di rumah."
"Berapa lama nggak pulang?"
"Enam bulan."
"Kangen?"
Ia tertawa.
"Ya kangen."
"Terus kenapa nggak pulang?"
"Kalau pulang bawa apa?"
Kalimat itu sederhana.
Tetapi semua orang di warung memahami.
Itulah penyakit orang rantau.
Kadang bukan tidak ingin pulang.
Malu pulang tanpa membawa keberhasilan.
Ibu Rayah sedang membersihkan meja.
Ia berkata tanpa melihat Joni,
"Perantau kuwe aneh."
Semua menoleh.
"Pas nang kampung kepengin lunga."
"Pas wis lunga..."
Ia berhenti.
"...kepengin balik."
Beberapa orang tertawa.
Ibu Rayah melanjutkan,
"Sing gawe angel kuwe dudu dalane."
"Bukan jalannya yang bikin susah."
Ia menunjuk dadanya.
"Iki."
"Hatinya."
Joni terus makan.
Tetapi semakin lama nasi di mulutnya semakin sulit ditelan.
Ia teringat Ibu.
Teringat kedua kakaknya.
Teringat bengkel.
Teringat Bapak.
Dan paling jelas...
pertengkaran delapan tahun lalu.
"Juara kelas ora berarti ngerti urip."
Dulu Joni menganggap kalimat itu penghinaan.
Sekarang ia baru mengerti.
Bapak tidak mengatakan dirinya bodoh.
Bapak hanya tahu...
hidup jauh lebih besar daripada ruang kelas.
Satu tetes air jatuh ke piring.
Joni melihatnya.
Ia pikir mungkin keringat.
Kemudian satu lagi.
Barulah ia sadar.
Air mata.
Ia buru-buru mengusap pipinya.
"Pedas sambalnya, Bu."
Orang-orang diam.
Semua tahu itu bukan sambal.
Ibu Rayah juga tahu.
Tetapi perempuan itu cukup baik untuk tidak mempermalukannya.
Ia hanya berkata,
"Ya aja akeh-akeh sambale."
Lalu pura-pura sibuk membersihkan meja.
Beberapa menit kemudian Joni menghabiskan nasi.
Tidak tersisa satu butir pun.
Ia menghabiskan teh.
Hangat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perutnya kenyang.
Tetapi yang terasa hangat bukan hanya perutnya.
Ada sesuatu yang selama bertahun-tahun membeku di dalam dadanya...
perlahan mencair.
"Balik Tegal Bae, Jon."
Joni mengeluarkan uang lima ribu.
"Bu."
Ibu Rayah menoleh.
"Ini."
Perempuan itu melihat uang di tangannya.
Kemudian menggeleng.
"Wes."
"Lho?"
"Simpen."
"Tapi tadi—"
"Wes, Jon. Ora usah mbayar ndisit."
Ibu Rayah mengambil sebuah buku kecil dari dekat etalase.
Buku utang.
Ia membuka halaman.
Ada nama:
JONI
Di bawahnya deretan angka.
Ibu Rayah menambahkan sesuatu.
Joni melongo.
"Bu! Jangan ditambah lagi!"
Ibu Rayah tertawa.
"Ya memang utangmu nambah."
Orang-orang ikut tertawa.
"Tapi..."
Ibu Rayah menutup bukunya.
"Bayare mengko nek wis duwe duit."
Bayar nanti kalau sudah punya uang.
Joni diam.
Kemudian Ibu Rayah berkata,
"Saiki goleka gawean sing bener."
"Iya."
"Utawa..."
Ibu Rayah menatapnya.
"Balik Tegal bae, Jon."
Joni menunduk.
"Jarene Bapakmu duwe bengkel."
"Iya."
"Ya kerja karo Bapakmu."
Joni diam.
"Isin?"
Joni tidak menjawab.
"Malu?"
Perlahan ia mengangguk.
Ibu Rayah mendengus.
"Wong njaluk ngapura karo Bapak dhewe kok isin."
Beberapa orang mengangguk.
Ibu Rayah melanjutkan,
"Kerja serabutan ora isin."
"Jadi tukang ora isin."
"Utang mangan ya..."
Ia menatap buku utangnya.
"...rada isin."
Warung langsung tertawa.
Joni ikut tertawa di antara sisa air matanya.
Kemudian Ibu Rayah berkata lebih pelan,
"Tapi anak pulang maring wong tuwane, ora tau isin."
Anak pulang kepada orang tuanya tidak pernah memalukan.
Joni berdiri.
"Terima kasih, Bu."
Ibu Rayah tidak menoleh.
"Iya."
"Serius, Bu."
"Iya."
"Nanti utangnya aku bayar."
"Nah, kuwe sing penting."
Joni tertawa.
Ia berjalan keluar.
Beberapa langkah kemudian Ibu Rayah berteriak,
"JON!"
Joni menoleh.
"Apa, Bu?"
"Aja ilang maning!"
Jangan menghilang lagi.
Joni tersenyum.
"Iya."
Lima Ribu Terakhir
Tidak jauh dari Warteg ada konter pulsa.
Joni berdiri di depannya.
Ia melihat uang lima ribu di tangannya.
Uang yang seharusnya menjadi makan malam.
Karena Ibu Rayah tidak menerimanya...
uang itu masih ada.
"Bang."
"Iya?"
"Isi pulsa lima ribu."
"Nomor?"
Joni menyebutkan nomor ponselnya.
Ponsel itu tua.
Layarnya sudah tergores.
Baterainya harus ditekan sedikit supaya tidak mati.
Sudah lama nomor itu hanya hidup sekadarnya.
Kadang keluarganya mencoba menghubungi.
Kadang tidak masuk.
Kadang Joni sengaja tidak menjawab.
Ia selalu punya alasan.
Sedang kerja.
Tidak ada pulsa.
Baterai habis.
Sinyal jelek.
Padahal alasan sebenarnya hanya satu.
Malu.
Pulsa masuk.
Joni membuka daftar kontak.
Nama itu masih ada.
BAPAK
Ia menatapnya.
Tangannya gemetar.
Delapan tahun.
Delapan tahun ia menunggu waktu yang tepat untuk menelepon.
Ketika sudah punya pekerjaan.
Ketika sudah punya uang.
Ketika sudah berhasil.
Ketika bisa pulang dengan kepala tegak.
Hari ini ia tidak punya semua itu.
Tidak punya pekerjaan.
Tidak punya tabungan.
Tidak punya keberhasilan untuk diceritakan.
Yang ia punya hanya keberanian untuk akhirnya mengakui:
ia ingin pulang.
Joni menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Tut...
Jantungnya berdegup.
Tut...
Klik.
"Halo?"
Suara itu.
Lebih tua.
Lebih berat.
Tetapi Joni mengenalnya.
Joni membuka mulut.
Tidak ada suara.
"Halo?"
Diam.
"Siapa iki?"
Joni menggigit bibir.
"Pak..."
Sunyi.
Sangat lama.
Kemudian suara di seberang berubah.
"...Joni?"
Pertahanan yang dibangun delapan tahun runtuh hanya karena namanya dipanggil oleh Bapak.
Joni menangis.
"Pak..."
"Joni?"
"Ngapunten, Pak..."
Maaf.
Hanya itu.
Semua pidato yang bertahun-tahun ia susun hilang.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada alasan.
Tidak ada pembelaan.
Hanya:
"Ngapunten, Pak."
Di seberang telepon tidak terdengar suara beberapa detik.
Kemudian Bapak bertanya,
"Kowe nang endi?"
"Jakarta."
"Bapak ngerti Jakarta. Nang endi?"
Joni menyebutkan daerahnya.
"Sehat?"
Pertanyaan itu membuat tangis Joni semakin keras.
"Iya."
"Sudah makan?"
Joni melihat ke arah Warteg Ibu Rayah.
Lampunya masih menyala.
"Iya, Pak."
"Mangan apa?"
Joni tertawa kecil di tengah tangis.
"Nasi ponggol."
Bapak diam.
Kemudian terdengar sesuatu yang sudah delapan tahun tidak Joni dengar.
Tawa kecil Bapaknya.
"Adoh-adoh maring Jakarta mangan ponggol."
Joni tertawa sambil menangis.
"Pak..."
"Hm?"
"Aku..."
Kalimat itu sulit sekali keluar.
"Aku gagal."
Bapak diam.
"Aku nggak punya kerja sekarang."
Diam.
"Uang juga nggak punya."
Joni menarik napas.
"Aku malu pulang."
Lama sekali Bapak tidak menjawab.
Kemudian terdengar:
"Sapa sing ngomong kowe ora oleh balik Jon ?"
Siapa yang bilang kamu tidak boleh pulang?
Joni menutup wajahnya.
"Pak..."
"Rumahmu ya nang kene."
Rumahmu tetap di sini.
Tangis Joni pecah.
Kemudian Bapak berkata,
"Sesuk Bapak jemput."
Joni terkejut.
"Nggak usah, Pak! Aku bisa naik bus."
"Kowe duwe duit?"
Joni diam.
Bapak langsung tahu jawabannya.
"Sesuk Bapak mangkat."
"Pak, jauh."
"Ya ngerti."
"Capek."
"Sing nyetir kakangmu."
Joni tertawa sambil menangis.
"Bapak..."
"Apa?"
"Maaf."
Bapak diam.
Lalu berkata,
"Ngapurane mengko nang omah."
Minta maafnya nanti di rumah.
"Pulang dhisik."
Telepon berakhir.
Joni berdiri lama di pinggir jalan.
Jakarta tetap sibuk.
Motor lewat.
Klakson berbunyi.
Kereta terdengar dari kejauhan.
Ciliwung tetap mengalir.
Tidak ada yang berubah.
Tetapi bagi Joni...
seluruh dunia baru saja berubah.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun...
ia tahu ke mana harus pergi.
Pulang.
Talang
Keesokan harinya sebuah mobil berhenti di dekat kontrakan.
Kakak pertama Joni turun.
Kemudian Bapak.
Joni berdiri beberapa meter dari mereka.
Bapak terlihat jauh lebih tua.
Rambutnya memutih.
Tubuhnya sedikit membungkuk.
Tangan yang dulu kuat mengangkat besi kini terlihat lebih kurus.
Joni tidak bergerak.
Semua keberanian yang ia punya tadi malam hilang.
Bapak berjalan mendekat.
Joni menunduk.
"Pak..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Bapak memeluknya.
Joni membeku.
Seumur hidupnya ia hampir tidak pernah dipeluk Bapak.
Laki-laki Pantura itu bukan tipe orang yang mudah menunjukkan perasaan.
Tetapi pagi itu...
Bapak memeluk anak bungsunya.
"Mulih."
Satu kata.
Pulang.
Joni menangis di bahunya.
Beberapa hari kemudian suara mesin kembali memenuhi telinga Joni.
NGIIIIING...
Gerinda.
TAK! TAK!
Palu.
Percikan las menyala.
Joni berdiri di bengkel Bapak.
Tempat yang delapan tahun lalu terasa terlalu kecil bagi mimpinya.
Sekarang...
entah mengapa terasa begitu luas.
Bapak melemparkan sarung tangan kerja.
"Isih bisa ngelas?"
Joni menangkapnya.
Senyum muncul.
"Ya bisa, Pak."
"Katanya jago."
Joni tertawa.
"Ya memang."
Bapak menggeleng.
"Durung berubah."
Mereka tertawa.
Beberapa bulan kemudian Joni mulai membantu memperbaiki sistem kerja bengkel.
Ia menggunakan pengetahuan SMK-nya.
Mengatur ulang mesin.
Memperbaiki peralatan lama.
Membuat jig sederhana agar pekerjaan lebih cepat.
Menerima pekerjaan bubut.
Las.
Bor.
Perbaikan mesin.
Pelan-pelan pelanggan bertambah.
Untuk pertama kalinya kemampuan yang selama delapan tahun tercecer di berbagai pekerjaan serabutan...
akhirnya kembali menemukan rumahnya.
Joni tidak menjadi operator pabrik bergaji dua digit seperti impiannya dulu.
Setidaknya belum.
Tetapi ia menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Harga dirinya kembali.
Bukan karena gajinya.
Bukan karena Jakarta.
Tetapi karena ia akhirnya berhenti melarikan diri dari dirinya sendiri.
Suatu sore setelah menerima pembayaran dari pelanggan, Joni mengambil ponsel.
Ia membuka aplikasi transfer.
Mencari nomor rekening yang beberapa hari sebelumnya ia minta.
Nama penerima:
RAYAH
Ia tersenyum.
Dua ratus ribu.
Kemudian berpikir sebentar.
Ia menambahkan sedikit lebih banyak.
Di keterangan transfer ia menulis:
Utang nasi ponggol. Matur nuwun, Bu.
Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi.
Ibu Rayah menelepon.
"Jon!"
"Iya, Bu?"
"Ngapa transfer akeh?"
"Buat bayar utang."
"Utangmu ora semono!"
"Lebihnya buat teh manis."
Ibu Rayah tertawa.
"Saiki kerja nang bengkel?"
"Iya."
"Karo Bapakmu?"
"Iya."
"Betah?"
Joni melihat Bapaknya sedang mengukur besi di seberang bengkel.
Ia tersenyum.
"Betah."
Ibu Rayah diam sebentar.
Kemudian berkata,
"Nah."
Hanya itu.
Tetapi Joni tahu perempuan itu sedang tersenyum.
Sepiring yang Membawanya Pulang
Bertahun-tahun kemudian Joni masih mengingat sore itu.
Bukan karena itu hari ketika ia kehilangan pekerjaan.
Bukan karena uangnya tinggal lima ribu.
Bukan karena utangnya dua ratus ribu.
Ia mengingatnya karena pada sore itulah...
untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin ia dengar:
Pulang saja.
Kadang manusia tidak tersesat karena tidak mengetahui jalan.
Kita tersesat karena terlalu gengsi untuk berbalik.
Kita takut pulang tanpa membawa keberhasilan.
Takut dianggap gagal.
Takut mendengar:
"Sudah dibilang."
Padahal sering kali...
orang-orang di rumah tidak menunggu keberhasilan kita.
Mereka menunggu kita.
Dan Warteg?
Bagi sebagian orang, Warteg mungkin hanya tempat makan sederhana.
Etalase kaca.
Bangku panjang.
Nasi.
Tempe orek.
Mi goreng.
Sambal.
Teh hangat.
Tetapi bagi ribuan perantau...
Warteg kadang menjadi ruang kecil tempat kampung halaman masih hidup di tengah kota besar.
Di sana orang-orang yang tidak saling mengenal bisa berbicara tentang rumah.
Tentang anak.
Tentang orang tua.
Tentang utang.
Tentang pekerjaan.
Tentang kegagalan.
Tentang kapan terakhir kali pulang.
Tidak ada sofa mahal.
Tidak ada pendingin ruangan.
Tidak ada pelayan berseragam.
Tetapi terkadang...
ada sesuatu yang jauh lebih mahal di sana.
Kepedulian.
Joni datang ke Warteg Ibu Rayah sore itu hanya untuk membeli nasi lima ribu rupiah.
Yang diterimanya justru jauh lebih banyak.
Sepiring nasi ponggol.
Tempe orek.
Mi goreng.
Sambal.
Segelas teh manis hangat.
Beberapa omelan.
Nasihat orang-orang yang sama-sama hidup di perantauan.
Dan sebuah keberanian yang sudah delapan tahun hilang.
Keberanian untuk menekan satu nama di ponselnya:
BAPAK.
Kadang kebaikan tidak datang dengan kata-kata lembut.
Kadang ia datang sambil berkacak pinggang dan berkata,
"Utangmu bae durung dibayar!"
Kadang kasih sayang tidak mengatakan,
"Aku peduli kepadamu."
Ia hanya menambahkan tempe ke piringmu ketika tahu uangmu tidak cukup.
Menuangkan teh manis meskipun kamu hanya meminta air putih.
Mencatat makananmu sebagai utang meskipun tahu mungkin kamu belum bisa membayar.
Lalu mengomel,
"Wes mangan disit."
Makan dulu.
Sebab orang lapar tidak selalu hanya membutuhkan makanan.
Kadang ia membutuhkan seseorang yang mengingatkannya bahwa hidupnya belum selesai.
Bahwa gagal bukan berarti kalah.
Bahwa meminta maaf tidak membuat seorang laki-laki menjadi kecil.
Dan bahwa pulang...
bukanlah pengakuan bahwa kita gagal menaklukkan dunia.
Kadang pulang justru merupakan keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak harus menghadapi dunia sendirian.
Di sebuah bengkel kecil di Talang, Kabupaten Tegal, suara mesin kembali terdengar.
Joni berdiri di depan mesin bubut.
Bapak duduk tidak jauh darinya sambil minum teh.
"Jon!"
"Apa, Pak?"
"Sesuk sarapan apa?"
Joni berpikir sebentar.
Lalu tersenyum.
"Ponggol bae, Pak."
Bapak tertawa.
Joni ikut tertawa.
Delapan tahun ia pergi mencari kehidupan yang lebih besar.
Ternyata jalan yang membawanya kembali...
dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.
Lima ribu rupiah.
Sebuah Warteg.
Seorang Ibu yang cerewet.
Dan...
sepiring nasi ponggol hangat.
Karena terkadang,
sepiring nasi sederhana bisa menjadi pelukan yang tidak pernah kita duga.
Dan terkadang pula...
sebungkus kebaikan cukup untuk menunjukkan jalan pulang kepada hati yang terlalu lama tersesat.
Kadang itu datang dari tempat yang kita tidak pernah sangka




