Skip to content
Log in
Family

Janji Manis Jane

Sahabat

by JM

Published 4 min read2 views

Janji Manis Jane

Bagi Jane, siswi kelas 4 SD Pius, tidak ada hal di dunia ini yang lebih menyenangkan selain liburan dan bermain.

Namun, ada satu hal lagi yang paling dinantikannya akhir-akhir ini: pergi ke Kota Solo untuk menemui sahabat baiknya, Nana.

Nana adalah anak perempuan yang manis dan ceria. Ia berusia satu tahun lebih muda dari Jane—Jane kini duduk di kelas 4 SD, sementara Nana berada di kelas 3 SD.

Pertemuan mereka bermula karena Papa dan Mama Jane bersahabat baik dengan orang tua Nana. Sejak saat itu, setiap kali keluarga Jane merencanakan perjalanan ke Solo atau melewati kota tersebut, Jane pasti akan merengek dan sibuk meminta Mama mampir ke rumah Nana.

Karena jarak yang memisahkan, kerinduan mereka biasanya diobati lewat layar ponsel. Jane dan Nana sering bertukar pesan seru di WhatsApp, menceritakan mulai dari mainan baru, cerita lucu di sekolah, hingga rencana permainan apa yang akan mereka mainkan saat berjumpa nanti.

Suasana di rumah mendadak menjadi tegang ketika musim ujian semester ganjil tiba dan liburan sekolah sudah di depan mata. Seperti biasa, begitu bayangan liburan muncul di kepalanya, Jane langsung merengek kepada Mamanya.

"Mama, liburan besok kita ke Solo ya? Jane mau ketemu Nana! Sudah lama banget kita nggak main bareng!" bujuk Jane sambil menarik-narik ujung lengan baju Mama di ruang keluarga.

Mama yang sedang sibuk membereskan tumpukan buku menghela napas panjang sambil memijit pelipisnya. Pusing juga meladeni rengekan Jane setiap musim liburan tiba. Mama lantas berhenti dan menatap putrinya dengan serius.

"Jane, dengar ya. Pergi ke Solo itu butuh persiapan dan biaya. Kamu tidak boleh terus-menerus minta jalan-jalan kalau kewajibanmu di sekolah tidak dipersiapkan dengan baik," kata Mama tegas.

"Tapi, Mama buat penawaran. Kalau di rapor dan ujian akhir semester ini kamu bisa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai 100 untuk salah satu mata pelajaran utama, Mama janji kita akan jalan-jalan ke Solo untuk menemui Nana!"

Mata Jane langsung berbinar mendengar kata "Solo" dan "Nana". Namun, sedetik kemudian, ia terdiam. Nilai 100? Selama hidupnya bersekolah, Jane baru pernah merasakan mendapat nilai sempurna itu sebanyak dua kali saja: sekali di kelas 1 SD untuk pelajaran Bahasa Indonesia, dan sekali di kelas 2 SD untuk pelajaran Matematika. Selebihnya, nilai Jane selalu bermain di angka delapan puluhan. Mendapatkan angka 100 terasa seperti mendaki gunung yang sangat tinggi.

Tapi tekad Jane untuk bertemu Nana sudah bulat. Bayangan serunya makan serabi Solo bersama Nana di sore hari membuat semangatnya membara.

Jane menegakkan tubuhnya, menatap mata Mamanya dengan sungguh-sungguh, lalu mengangkat tangan kanannya bersumpah ala pramuka. "Janji ya, Ma? Kalau Jane dapat nilai 100, kita pasti berangkat ke Solo?"

Mama tersenyum tipis melihat keseriusan di wajah putrinya. Beliau mengangguk mantap. "Iya, Mama janji. Tapi ingat, harus belajar keras dan jujur, tidak boleh menyontek!"

Sejak hari itu, kamar Jane berubah drastis. Tidak ada lagi cerita Jane bermain boneka atau menggambar dengan santai sepulang sekolah. Buku-buku cetak pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia tertata rapi di atas meja belajarnya. Lampu belajarnya menyala terang setiap malam.

Jane benar-benar membuktikan kata-katanya. Ia belajar dengan sangat keras. Ia menghafal rumus, membaca ulang catatan gurunya berkali-kali, dan meminta Mama atau Kak Maurice membuatkan soal-soal latihan tambahan. Sesekali, saat ia merasa lelah dan ingin menyerah, ia membuka aplikasi WhatsApp di ponsel Mama untuk melihat foto profil Nana, lalu semangatnya kembali bangkit.

Hari-hari ujian sekolah pun dilewati Jane dengan penuh konsentrasi dan doa.

Hingga akhirnya, hari penyerahan buku rapor tiba. Dengan jantung yang berdebar kencang dan tangan berkeringat dingin, Jane membuka amplop rapor di samping Mamanya. Ia membalik halaman demi halaman dengan hati-hati.

Tiba-tiba, mata Jane terpaku pada lembar hasil ujian akhir mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Di sudut kertas itu, tertulis sebuah angka merah yang sangat indah, melingkar sempurna tanpa cacat: 100!

"Mama! Maaaama, lihat!" jerit Jane histeris kegirangan sambil melompat-lompat di kursi kelas, menunjukkan kertas ulangannya pada Mama.

Mama yang melihatnya tersenyum lebar, matanya bahkan berkaca-kaca karena bangga melihat kerja keras dan buah kesungguhan putrinya. Mama memeluk Jane erat-erat.

"Hebat sekali anak Mama! Kamu benar-benar membuktikannya," puji Mama penuh kasih.

Sore harinya, kabar gembira itu langsung diketik cepat oleh Jane lewat pesan WhatsApp untuk sahabatnya di Solo: "Nanaaaa! Aku dapat nilai 100! Sebentar lagi aku ke Solo liburan sama Mama Papa!"

Balasan stiker loncat gembira dari Nana langsung masuk dalam hitungan detik. Dan janji pun ditepati—liburan sekolah kali ini menjadi liburan paling berharga bagi Jane, hasil dari belajar keras dan kerinduan manis pada sahabat sejatinya di Kota Solo.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

JM

@jml21

Jane adalah siswi SD Pius yang ceria, penuh rasa ingin tahu, dan sangat menyukai petualangan di alam. Dikenal aktif dan mudah excited, ia sering mengalami berbagai kejadian seru. Di balik sifatnya yang usil dan keras kepala, Jane adalah anak yang jujur, cepat belajar dari kesalahan, dan sangat menyayangi keluarganya.

7 stories published · 5 followers

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Family

Recently published stories from the same category.