Malu Bertanya..........Apa yang Terjadi
Ada satu kebiasaan Evelyn sejak kecil yang sering membuat Mamanya kesal.
Kalau ditanya apakah ia tahu sesuatu, jawabannya hampir selalu sama.
“Tahu kok, Ma.”
Kalau ditanya apakah ia mengerti jalan—
“Tahu kok.”
Kalau ditanya apakah ia sudah membaca petunjuk—
“Tahu kok.”
Kalau diingatkan agar bertanya kalau bingung—
“Iya, Mama… Evelyn tahu.”
Seolah-olah mengakui bahwa ia tidak tahu adalah sebuah kekalahan kecil.
Padahal, Sabtu malam itu, Evelyn akhirnya belajar bahwa kadang-kadang satu pertanyaan sederhana bisa menyelamatkan banyak hal.
Termasuk sebuah tiket kereta.
---
Sabtu sore di Surabaya terasa lebih panjang dari biasanya.
Sejak pagi, Evelyn mengikuti kegiatan psikotes wajib dari sekolah. Tes itu digunakan untuk melihat minat, bakat, serta arah peminatan siswa ke depannya.
Seharusnya tidak ada yang istimewa.
Hanya satu kegiatan sekolah di akhir pekan.
Namun bagi Evelyn, Sabtu itu berbeda.
Biasanya setiap Jumat sore ia sudah bersiap pulang ke Surakarta.
Seragam sekolah diganti.
Pakaian dimasukkan ke tas.
Charger jangan sampai tertinggal.
Lalu pulang.
Sesederhana itu.
Maklum, Evelyn baru berusia empat belas tahun.
Orang-orang mungkin melihatnya sebagai anak yang cukup mandiri. Tinggal di kota lain. Menjalani sekolah jauh dari keluarga. Mengurus banyak hal sendiri.
Namun tetap saja, di balik semua kemandirian itu, ia masih seorang anak perempuan yang selalu merindukan rumah.
Rindu suara Mamanya dari dapur.
Rindu Papanya yang kadang terlihat sibuk tetapi selalu punya waktu ketika anaknya menelepon.
Bahkan rindu adiknya yang kalau sudah bertemu sering membuat rumah menjadi terlalu berisik.
Aneh memang.
Ketika bersama, kadang ingin sendiri.
Ketika jauh, yang paling dirindukan justru suara-suara itu.
---
Minggu itu sebenarnya Evelyn bisa saja tidak pulang.
Mama bahkan sudah melarang.
“Tidak usah pulang minggu ini, Lin.”
“Kenapa?”
“Kamu Sabtu selesai sore. Nanti capek. Baru sampai rumah malam, Minggu sudah harus siap balik lagi.”
Evelyn diam.
Sebenarnya alasan Mama masuk akal.
Tetapi ada satu hal yang membuat Evelyn ingin pulang.
Papa dan Mamanya sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-16.
Bukan acara besar.
Tidak ada pesta.
Tidak ada ballroom.
Tidak ada tamu.
Mungkin hanya makan malam keluarga.
Namun justru hal-hal sederhana seperti itulah yang selalu terasa penting bagi Evelyn.
“Aku mau pulang, Ma.”
“Nggak usah. Minggu depan saja.”
Evelyn tahu perdebatan itu sudah selesai.
Kalau Mama sudah berkata demikian, peluang berubah pikiran tidak terlalu besar.
Untungnya Evelyn punya satu jalur lain.
Jalur yang sejak kecil hampir selalu berhasil.
Papa.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Papanya.
«Pa… Evelyn mau pulang.»
Disusul satu emoji memelas.
Papa mungkin sudah tahu persis apa yang sedang terjadi.
Tidak lama kemudian balasan datang.
«Papa belikan Turangga. Sabtu jam 20.00 dari Gubeng.»
Seketika wajah Evelyn berubah cerah.
Sementara di rumah, Mama hanya bisa menggeleng ketika mengetahui tiket sudah dibeli.
“Papa itu kalau sama anak perempuan nggak pernah bisa tegas.”
Papa tertawa.
“Sekali-sekali.”
Bagi Evelyn, persoalan selesai.
Ia akan pulang.
---
Masalahnya, hidup kadang tidak terlalu peduli pada rencana kita.
Psikotes yang diperkirakan selesai lebih awal ternyata molor.
Saat Evelyn akhirnya keluar dari sekolah, jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
19.00 WIB.
Kereta berangkat pukul delapan.
Ia masih harus kembali ke kos.
Mengambil barang.
Bersiap.
Lalu menuju Stasiun Gubeng.
Waktunya sangat sempit.
Evelyn terburu-buru.
Ia mengambil tas yang sudah disiapkan sejak pagi, mengganti pakaian, memastikan tiket ada di ponsel, lalu memesan kendaraan.
Biasanya ia naik mobil menuju Gubeng.
Ia tahu ada dua akses Stasiun Gubeng: Gubeng Baru dan Gubeng Lama.
Mobil biasanya berhenti di area Gubeng Baru.
Tetapi malam itu Evelyn memilih ojek online.
Motor lebih cepat.
Bisa menyelip di tengah kemacetan Surabaya.
Sebelum ia berangkat, Mamanya menelepon.
“Hati-hati.”
“Iya, Ma.”
“Jangan main HP terus.”
“Iya.”
“Kalau bingung, tanya petugas.”
“Iyaaa…”
Mama belum selesai.
“Evelyn.”
“Iya, Ma?”
“Kamu itu dari kecil kalau nggak tahu suka malas bertanya.”
Evelyn tertawa kecil.
“Tenang aja, Ma. Aku tahu kok.”
Mama mungkin tidak menyadarinya saat itu.
Tetapi kalimat itulah yang beberapa jam kemudian akan terngiang-ngiang kembali.
Aku tahu kok.
---
Motor melaju menembus malam Surabaya.
19.31.
19.37.
19.42.
Evelyn semakin sering melihat jam.
Ketika akhirnya motor berhenti di depan Stasiun Gubeng Lama, ia segera turun.
19.45 WIB.
Masih lima belas menit.
Cukup.
Setidaknya menurut Evelyn.
Ia berlari kecil masuk ke dalam stasiun.
Di sana cukup ramai.
Banyak orang duduk.
Ada yang membawa koper.
Ada ibu dengan anak kecil.
Ada beberapa anak muda dengan ransel.
Ada orang-orang yang sibuk melihat layar ponsel mereka.
Evelyn melihat sekeliling.
Kemudian merasa lega.
“Masih belum datang.”
Entah bagaimana ia sampai pada kesimpulan itu.
Mungkin karena banyak orang masih duduk.
Mungkin karena suasana terlihat tenang.
Atau mungkin karena ia memang ingin mempercayai bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia menemukan sebuah kursi.
Duduk.
Mengeluarkan ponsel.
Lalu mulai melihat pesan.
Membalas chat.
Melihat media sosial.
Satu video.
Video berikutnya.
Kemudian video berikutnya lagi.
Di pengeras suara sebenarnya terdengar beberapa pengumuman.
Evelyn mendengarnya.
Tetapi tidak mendengarkan.
Ada bedanya antara mendengar dan memperhatikan.
Beberapa orang berdiri.
Ada yang berjalan menuju peron.
Ada yang menyeret koper dengan cepat.
Evelyn sempat melihat mereka.
Tetapi kemudian kembali menunduk ke layar.
Dalam pikirannya sederhana.
Kalau keretaku datang, pasti nanti aku tahu.
---
Pukul delapan tepat, ponselnya berdering.
Mama.
“Halo, Ma.”
“Sudah di kereta?”
“Belum.”
“Lho?”
“Belum datang kayaknya.”
Mama terdiam sebentar.
“Kereta jam delapan kan?”
“Iya.”
“Mungkin telat?”
“Iya, paling telat sedikit.”
Mama akhirnya berkata,
“Ya sudah. Hati-hati.”
Telepon selesai.
Di Surakarta, Mama mengatakan kepada Papa bahwa kereta Evelyn terlambat.
Papa yang sedang duduk mengambil ponselnya.
Membuka aplikasi Access by KAI.
Sekadar memastikan.
Beberapa detik kemudian wajah Papa berubah.
Ia melihat layar.
Sekali.
Kemudian sekali lagi.
“Ma.”
“Apa?”
“Turangga sudah berangkat.”
Mama mendekat.
“Sudah?”
Papa mengangguk.
Di layar tertulis keberangkatan kereta.
20.02 WIB.
Mama langsung mengambil ponsel.
---
Telepon Evelyn kembali berbunyi.
Kali ini nada suara Mamanya berbeda.
“Lin.”
“Iya, Ma?”
“Kamu di Gubeng mana?”
Evelyn mulai bingung.
“Ya… Gubeng.”
“Gubeng Lama atau Baru?”
“Yang motor tadi.”
“Sekarang tanya petugas.”
“Kenapa?”
“Tanya kereta Turangga.”
Entah mengapa dada Evelyn tiba-tiba terasa tidak enak.
Ia berdiri.
Untuk pertama kalinya sejak sampai di stasiun, ia benar-benar melihat sekeliling.
Kemudian menghampiri seorang petugas.
“Pak…”
“Iya?”
“Kereta Turangga yang jam delapan… belum datang ya?”
Petugas itu menatap Evelyn.
“Turangga?”
“Iya, Pak.”
Petugas menjawab dengan nada biasa.
Kalimat pendek.
Sangat pendek.
Tetapi bagi Evelyn terasa seperti sesuatu yang jatuh keras di dalam dadanya.
“Sudah berangkat, Mbak.”
Evelyn terdiam.
“Sudah?”
“Iya.”
“Barusan?”
“Iya.”
Sejenak Evelyn tidak tahu harus berkata apa.
Stasiun tetap ramai.
Orang-orang tetap berjalan.
Pengumuman tetap terdengar.
Lampu tetap menyala.
Tidak ada yang berubah.
Hanya dunia kecil Evelyn yang mendadak terasa berhenti.
Kereta yang seharusnya membawanya pulang sudah pergi.
Tanpa dirinya.
---
“Ma…”
Suara Evelyn berubah.
“Gimana?”
“Kereta Evelyn sudah berangkat.”
Mama diam.
Beberapa detik.
Lalu—
“Kamu tadi tanya nggak?”
“Nggak…”
“Lihat papan?”
“Nggak.”
“Dengar pengumuman?”
Evelyn menunduk.
“Nggak tahu…”
“Main HP?”
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab.
Mama sudah tahu.
Evelyn mulai menangis.
Bukan hanya karena keretanya pergi.
Bukan hanya karena tiketnya hangus.
Tetapi karena tiba-tiba ia sadar bahwa semua ini sebenarnya bisa dicegah dengan satu hal yang sangat sederhana.
Bertanya.
Satu pertanyaan.
“Pak, Turangga berangkat dari mana?”
Hanya itu.
Tidak sampai sepuluh detik.
Tetapi Evelyn memilih tidak melakukannya.
Karena merasa tahu.
---
Mama sedang marah.
Tetapi seorang ibu bisa marah sekaligus khawatir dalam waktu yang sama.
“Sudah. Jangan ke mana-mana. Cari tempat dekat petugas.”
Tangisan Evelyn semakin terdengar.
Lalu suara Papa mengambil alih telepon.
“Lin.”
“Pa…”
“Sudah. Tenang.”
“Maaf…”
“Jangan nangis dulu. Kita cari kereta berikutnya.”
Evelyn mengusap pipinya.
Papa membuka aplikasi kembali.
Mencari perjalanan setelah Turangga.
Beberapa menit kemudian—
“Ada Sangkuriang jam sembilan.”
“Masih ada?”
“Ada.”
“Papa…”
“Iya?”
“Maaf tiketnya jadi beli lagi.”
Papa terdiam sebentar.
“Uang bisa dicari lagi.”
Kalimat itu membuat Evelyn semakin merasa bersalah.
“Tapi lain kali jangan buang pelajaran dari kejadian ini.”
“Iya…”
“Kalau nggak tahu?”
Evelyn menjawab pelan.
“Tanya.”
---
Malam itu Evelyn berubah menjadi penumpang paling waspada di seluruh Stasiun Gubeng.
Ia tidak lagi sibuk melihat media sosial.
Ponselnya hanya digunakan untuk melihat tiket.
Setiap pengumuman didengarkan.
Setiap papan dibaca.
Bahkan beberapa kali ia menghampiri petugas yang sama.
“Pak, Sangkuriang benar dari sini?”
“Iya.”
Lima menit kemudian—
“Pak, benar nanti diumumkan?”
“Iya, Mbak.”
Beberapa menit lagi—
“Pak… ini benar ke Solo?”
Petugas itu tersenyum.
“Iya. Tenang saja.”
Evelyn tersenyum malu.
Aneh.
Satu jam sebelumnya ia merasa bertanya itu tidak perlu.
Sekarang ia baru menyadari—
ternyata bertanya sama sekali tidak memalukan.
Yang memalukan justru menganggap diri tahu semuanya.
---
Ketika akhirnya ia duduk di dalam kereta, napasnya terasa jauh lebih ringan.
Evelyn langsung memotret dirinya dari kursi.
Lalu mengirim pesan kepada Mama.
«Udah di kereta.»
Balasan datang cepat.
«Yakin keretanya benar?»
Evelyn tertawa kecil.
Ia memotret nomor kereta dan papan informasi.
«Yakin, Ma.»
Mama membalas.
«Nah. Sekarang baru Mama tenang.»
Kereta bergerak perlahan.
Surabaya mulai tertinggal.
Lampu-lampu kota lewat di balik jendela.
Evelyn menyandarkan kepala.
Untuk pertama kalinya sejak sore, ia benar-benar diam.
Di sekolah hari itu ia mengerjakan berbagai macam soal psikotes.
Soal logika.
Angka.
Bentuk.
Kepribadian.
Minat.
Bakat.
Tetapi mungkin pelajaran paling penting justru tidak datang dari ruang kelas.
Ia mendapatkannya di sebuah stasiun.
Menjelang malam.
Dengan tiket kereta yang hangus.
Bahwa menjadi dewasa bukan berarti harus tahu semuanya.
Menjadi mandiri bukan berarti melakukan semuanya sendiri.
Dan menjadi pintar bukan berarti malu berkata,
“Saya tidak tahu. Bisa tolong jelaskan?”
---
Pukul 00.24 WIB, kereta akhirnya tiba di Surakarta.
Evelyn turun dengan membawa tasnya.
Dari kejauhan ia melihat dua orang yang sangat dikenalnya.
Papa.
Mama.
Mereka menunggu.
Mama berdiri sambil memandang ke arahnya.
Evelyn tiba-tiba merasa seperti anak kecil lagi.
Ia berjalan mendekat.
Kemudian tanpa berkata banyak langsung memeluk Mamanya.
“Maaf, Ma.”
Mama diam beberapa detik.
Kemudian tangannya mengusap rambut Evelyn.
“Kapok?”
Evelyn mengangguk.
“Kalau nggak tahu?”
“Tanya.”
“Kalau di tempat ramai?”
“Perhatikan sekeliling.”
“Kalau nunggu kereta?”
“Jangan main HP.”
Papa tertawa kecil.
“Bagus. Lengkap.”
Evelyn menatap Papa.
“Maaf ya, Pa. Tiketnya dua kali.”
Papa tersenyum.
“Yang penting anak Papa pulang.”
---
Malam itu rencana keluarga berubah.
Awalnya mereka ingin makan bersama sekitar pukul sebelas malam.
Makan sederhana untuk ulang tahun pernikahan Papa dan Mama.
Menunggu Evelyn pulang.
Tetapi waktu sudah lewat tengah malam.
Adiknya sudah tertidur.
Makanan harus dipanaskan ulang.
Tidak ada perayaan sempurna seperti yang dibayangkan Evelyn.
Ia duduk di meja makan hanya bersama Papa dan Mama.
Melihat satu kursi kosong milik adiknya.
“Ma…”
“Hm?”
“Gara-gara Evelyn jadi begini ya.”
Mama menatapnya.
Kemudian tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Tapi anniversary Papa Mama…”
Papa menjawab,
“Perayaan itu bukan soal jam berapa kita makan.”
Mama mengangguk.
“Yang penting akhirnya kamu sampai rumah.”
Evelyn terdiam.
Entah mengapa, kalimat itu terasa hangat sekali.
Malam itu mereka makan hampir pukul satu pagi.
Bukan makan malam yang sempurna.
Bukan sesuai rencana.
Bukan dengan seluruh anggota keluarga masih terjaga.
Tetapi mungkin justru karena itulah malam tersebut menjadi sesuatu yang tidak mudah dilupakan.
---
Kelak Evelyn mungkin lupa nilai psikotesnya hari itu.
Mungkin lupa apa saja pertanyaannya.
Mungkin lupa siapa yang duduk di sebelahnya.
Bahkan mungkin lupa menu apa yang dimakan keluarga mereka tengah malam itu.
Tetapi sepertinya ia tidak akan lupa Stasiun Gubeng.
Tidak akan lupa pukul delapan malam.
Tidak akan lupa suara petugas yang berkata,
“Sudah berangkat, Mbak.”
Dan tidak akan lupa bagaimana satu kereta pergi hanya karena dirinya terlalu yakin bahwa ia sudah tahu.
Sejak malam itu, ada satu kebiasaan Evelyn yang perlahan berubah.
Ketika tidak yakin, ia mulai bertanya.
Ketika bingung, ia mencari petugas.
Ketika berada di tempat baru, ia lebih memperhatikan sekelilingnya.
Karena ternyata kalimat yang dahulu dianggapnya sekadar nasihat orang tua itu memang benar.
Malu bertanya, sesat di jalan.
Hanya saja Evelyn punya versinya sendiri.
Sedikit lebih mahal.
Sedikit lebih memalukan.
Dan jauh lebih sulit dilupakan.
Malu bertanya…
kereta pun pergi..





