WAKTU YANG SULIT TERULANG
Tentang seorang anak yang mempunyai segalanya, kecuali waktu untuk menjadi anak-anak.
Kalau ada satu kata yang paling sering didengar Bayu sejak kecil, kata itu bukanlah bermain.
Bukan pula istirahat.
Melainkan:
“Harus.”
“Bayu harus juara.”
“Bayu harus bisa.”
“Bayu harus lebih baik.”
“Bayu harus disiplin.”
Dan yang paling sering:
“Kalau bisa nomor satu, kenapa harus nomor dua?”
Kalimat terakhir itu milik Ibunya.
---
Bayu lahir di Solo sebagai anak tunggal keluarga yang berkecukupan.
Bapaknya seorang pengusaha kain.
Tokonya besar. Gudangnya penuh gulungan batik, kain katun, dan berbagai jenis tekstil yang dikirim ke banyak kota.
Orang-orang mengenal Bapaknya sebagai pengusaha sukses.
Ibunya juga cukup dikenal di kalangan pergaulan Kota Solo.
Cantik.
Pandai bergaul.
Aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Arisan.
Kegiatan amal.
Pertemuan organisasi.
Kalau ada acara, penampilannya selalu rapi.
Dan jika pembicaraan beralih kepada anak, wajahnya akan semakin bersinar.
“Bayu kemarin juara lagi.”
“Bayu sekarang les piano.”
“Renangnya juga bagus.”
“Nilai matematikanya sembilan puluh delapan.”
Orang-orang biasanya menjawab,
“Wah, lengkap sekali anakmu.”
Ibunya tersenyum bangga.
“Anak cuma satu. Ya harus dididik benar.”
Dan memang...
dari luar, Bayu terlihat sempurna.
---
Nilainya hampir selalu paling tinggi.
Badannya atletis.
Bicaranya sopan.
Kalau bertemu orang tua, ia mencium tangan.
Kalau ada temannya kesulitan belajar, ia membantu.
Guru-guru menyukainya.
Orang tua murid menjadikannya contoh.
“Lihat Bayu.”
“Bayu saja bisa.”
“Coba kamu seperti Bayu.”
Kadang Bayu mendengar kalimat itu.
Ia hanya tersenyum.
Tidak ada yang tahu bahwa diam-diam...
ia justru ingin menjadi seperti anak-anak mereka.
---
JAM EMPAT SORE
Bagi sebagian besar anak sekolah, bel pulang adalah suara kebebasan.
Teeeeeng!
Anak-anak berhamburan keluar.
Ada yang membeli es.
Ada yang bermain kelereng.
Ada yang bersepeda.
Ada yang langsung menuju lapangan.
Bayu?
Sopir keluarga sudah menunggu.
“Mas Bayu.”
“Iya, Pak.”
“Hari ini les matematika.”
Bayu masuk mobil.
Dari balik kaca ia melihat teman-temannya berlari membawa bola.
“Yu!”
Dimas mengetuk kaca mobil.
“Main bola!”
Bayu membuka kaca.
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Les.”
“Besok?”
“Les piano.”
“Lusa?”
Bayu berpikir.
“Renang.”
Dimas tertawa.
“Uripmu les kabeh.”
Anak-anak tertawa.
Bayu ikut tertawa.
Mobil berjalan.
Tetapi setelah teman-temannya tidak terlihat...
senyum Bayu hilang.
---
Di rumah jadwalnya tertempel di dinding.
Senin: Matematika.
Selasa: Piano.
Rabu: Bahasa Inggris.
Kamis: Renang.
Jumat: Matematika lagi.
Sabtu: latihan tambahan.
Minggu?
Kadang ikut acara keluarga.
Kadang latihan piano.
Kadang menemani orang tua.
Hampir setiap jam mempunyai tujuan.
Setiap kegiatan mempunyai target.
Bahkan olahraga yang seharusnya menyenangkan mempunyai pelatih pribadi.
“Bayu, waktunya harus lebih cepat!”
“Iya, Coach.”
“Sekali lagi!”
Bayu berenang.
“Kurang dua detik!”
Ia mengulang.
Tidak pernah ada:
“Sudah. Sekarang main saja.”
---
Suatu sore Bayu bertanya kepada Ibunya.
“Bu.”
“Hm?”
“Besok boleh main bola sama teman-teman?”
Ibunya sedang melihat agenda.
“Besok?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Pulang sekolah.”
“Besok matematika.”
“Lesnya sekali saja nggak usah?”
Ibunya menatapnya.
“Kenapa?”
“Pengen main.”
“Kamu minggu depan ujian.”
“Tapi—”
“Setelah ujian.”
Bayu diam.
Kalimat itu terdengar masuk akal.
Setelah ujian.
Masalahnya, setelah ujian selalu ada sesuatu yang lain.
---
NOMOR DUA
Suatu hari kesempurnaan itu terusik.
Bayu pulang membawa hasil ulangan matematika.
Nilainya:
96.
Nilai yang sangat bagus.
Tetapi bukan yang tertinggi.
Dimas mendapat 98.
Di meja makan, Ibunya melihat kertas itu.
“Siapa yang paling tinggi?”
“Dimas.”
“Berapa?”
“98.”
Ibunya mengangguk.
Tidak marah.
Justru itulah yang membuat Bayu semakin tegang.
“Kenapa bisa kalah?”
Bayu diam.
“Kurang teliti?”
“Mungkin.”
“Sudah Ibu bilang. Kamu itu pintar, tetapi jangan cepat puas.”
Bapaknya yang sedang makan berkata,
“96 sudah bagus.”
Ibunya menoleh.
“Bagus memang. Tapi dia bisa lebih.”
Kemudian kembali kepada Bayu.
“Besok bilang Pak Anton tambah satu jam.”
Sendok Bayu berhenti.
“Bu...”
“Apa?”
“Aku capek.”
Ibunya menatapnya.
“Capek bagaimana?”
Bayu ingin menjelaskan.
Tetapi ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Jadi ia menjawab seperti biasanya.
“Nggak apa-apa.”
---
Malam itu Bayu berdiri di depan jendela kamar.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak.
“OPER!”
“WOI!”
“GOOOL!”
Bayu membuka tirai.
Di lapangan kecil tidak jauh dari rumah, beberapa anak masih bermain.
Lampu jalan menjadi penerangan.
Gawangnya hanya dua sandal.
Bola mereka kusam.
Lapangan sedikit becek.
Tidak ada pelatih.
Tidak ada stopwatch.
Tidak ada nilai.
Tidak ada piala.
Tidak ada yang peduli siapa nomor satu.
Anehnya...
mereka terlihat sangat bahagia.
Bayu memandang lama.
Kemudian menutup tirai.
Di atas meja sudah menunggu buku matematika.
---
PERTANDINGAN
Beberapa minggu kemudian sekolah mengadakan pertandingan sepak bola antarkelas.
Semua anak bersorak.
Dimas menghampiri Bayu.
“Yu! Ikut tim kita!”
“Nggak.”
“Lho, kamu kan jago lari.”
“Aku nggak pernah main bola.”
Dimas tertawa.
“Ya belajar.”
Bayu hampir mengatakan tidak bisa.
Tetapi entah mengapa ia bertanya,
“Kapan?”
“Jumat sore.”
Bayu tahu jadwal Jumat.
Matematika.
Dimas sudah berlari pergi ketika Bayu memanggil.
“Dim!”
“Apa?”
Bayu menarik napas.
“Aku ikut.”
---
Jumat sore menjadi hari pertama dalam hidup Bayu ketika ia melakukan sesuatu tanpa izin.
Mobil menunggu di gerbang sekolah.
Bayu tidak datang.
Ia berada di lapangan.
Sepatu olahraganya terlalu bagus untuk lapangan becek.
Dimas melihat.
“Sepatumu nanti dimarahin nyokap.”
Bayu melihat sepatunya.
Kemudian...
ia melepasnya.
“Lha terus?”
“Nyeker.”
“Serius?”
Bayu menggulung celana.
“Serius.”
Untuk pertama kalinya telapak kakinya menyentuh lumpur.
Dingin.
Aneh.
Bayu tersenyum.
---
Pertandingan dimulai.
Dan ternyata...
Bayu payah.
Benar-benar payah.
Lima menit pertama ia salah mengoper.
Sepuluh menit kemudian ia hampir menendang kaki temannya sendiri.
“YU! BOLANYA! BUKAN DIMAS!”
Semua tertawa.
Bayu ikut tertawa.
Tidak malu.
Tidak marah.
Tidak merasa gagal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melakukan sesuatu yang tidak dikuasainya...
dan dunia ternyata tidak berakhir.
“OPER!”
Bayu menendang.
Bola keluar lapangan.
“WOIII!”
Bayu tertawa sampai perutnya sakit.
---
Kemudian hujan turun.
Bukannya berhenti, anak-anak justru semakin liar.
Baju mereka basah.
Lutut penuh lumpur.
Rambut berantakan.
Bayu berlari.
Jatuh.
Bangun.
Tertawa.
Terpeleset lagi.
“Bayu!”
“OPER!”
Bayu menendang.
Entah bagaimana bola masuk.
GOOOL!
Teman-temannya berlari memeluknya.
Bayu berteriak.
Tidak ada nilai 100.
Tidak ada medali.
Tidak ada tepuk tangan orang tua.
Hanya anak-anak berlumpur yang berteriak kegirangan.
Tetapi saat itulah Bayu merasa menjadi juara paling besar sepanjang hidupnya.
Sampai sebuah mobil berhenti di pinggir lapangan.
Bayu membeku.
Ibunya turun.
---
BAJU KOTOR
“BAYU!”
Semua anak diam.
Bayu berdiri dengan pakaian penuh lumpur.
Ibunya berjalan mendekat.
“Masuk mobil.”
“Bu...”
“Sekarang.”
Tidak ada yang berani bicara.
Bayu mengambil sepatu.
Masuk mobil.
Sepanjang perjalanan mereka diam.
Sesampainya di rumah, barulah kemarahan itu keluar.
“Kamu tahu Ibu cari kamu ke mana-mana?”
“Maaf.”
“Pak Anton menunggu satu jam!”
“Maaf.”
“Kenapa HP tidak diangkat?”
“Di tas.”
“Dan lihat pakaianmu!”
Bayu diam.
“Sepatumu bagaimana?”
“Kotor.”
“Itu sepatu baru!”
“Iya.”
“Bayu!”
Ibunya menarik napas.
“Ibu tidak pernah mengajari kamu seperti ini.”
Bayu menunduk.
“Besok tidak boleh keluar.”
Diam.
“Latihan bola juga berhenti.”
Bayu mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Karena mengganggu jadwalmu.”
“Tapi aku suka.”
“Kamu punya tanggung jawab.”
“Aku cuma main bola.”
“Justru itu! Cuma main bola!”
Ruangan menjadi sunyi.
Entah mengapa dua kata itu melukai Bayu lebih daripada bentakan.
Cuma bermain.
Seolah bermain adalah sesuatu yang tidak berguna.
---
“Masuk kamar.”
Bayu tidak bergerak.
“Bayu.”
Untuk pertama kalinya...
ia tidak menurut.
“Bu.”
“Apa?”
“Aku capek.”
Ibunya menghela napas.
“Kita sudah bahas ini.”
“Bukan capek belajar.”
“Lalu?”
Bayu mencoba bicara.
Bibirnya gemetar.
“Aku capek jadi Bayu.”
Ibunya terdiam.
---
“BAYU CUMA MAU JADI ANAK IBU”
“Apa maksudmu?”
Bayu mulai menangis.
Ia sendiri terkejut.
Ia sudah lama tidak menangis di depan Ibunya.
“Bayu harus juara.”
“Bayu harus piano.”
“Bayu harus renang.”
“Bayu harus matematika.”
“Bayu harus bahasa Inggris.”
“Semua harus.”
Ibunya terdiam.
“Ibu melakukan itu untuk kamu.”
“Aku tahu!”
Suara Bayu meninggi.
Kemudian pecah.
“Tapi kapan aku boleh main, Bu?”
Sunyi.
Pertanyaan itu begitu sederhana.
Ibunya tidak mempunyai jawaban.
---
“Teman-teman pulang sekolah main bola.”
Air mata Bayu mengalir.
“Aku lihat dari mobil.”
“Mereka beli es, aku les.”
“Mereka main sepeda, aku les.”
“Mereka main bola, aku les.”
“Libur aku latihan.”
“Nilai 96 ditanya kenapa bukan 98.”
Napas Bayu mulai tersengal.
“Aku juara terus, Bu.”
“Aku ikut semua yang Ibu mau.”
“Bayu nggak pernah nakal.”
“Bayu nggak pernah bolos.”
“Hari ini cuma sekali.”
Ia menunjuk bajunya yang penuh lumpur.
“Dan hari ini aku senang banget.”
Ibunya membeku.
---
Bayu menangis semakin keras.
“Bayu capek jadi anak yang Ibu banggakan.”
Ibunya seperti tertampar.
Bayu mencoba mengusap air matanya.
Lalu keluar kalimat yang tidak pernah dilupakan Ibunya seumur hidup.
“Bayu cuma pengin jadi anak Ibu.”
Bapaknya yang sejak tadi berdiri di pintu menundukkan kepala.
Tidak ada seorang pun bicara.
---
Ibunya perlahan duduk.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat anaknya.
Bukan rapornya.
Bukan medalinya.
Bukan jadwalnya.
Bukan masa depannya.
Anaknya.
Seorang anak berusia tiga belas tahun dengan pakaian berlumpur yang sedang menangis karena ingin bermain.
---
KESALAHAN YANG DIWARISKAN
Malam itu setelah Bayu tidur, Bapaknya menemukan istrinya duduk sendiri.
“Aku salah ya?”
Bapaknya tidak langsung menjawab.
“Aku cuma ingin dia punya masa depan.”
“Aku tahu.”
“Aku ingin dia lebih baik daripada kita.”
“Aku tahu.”
Ibunya mulai menangis.
Kemudian berkata pelan,
“Ibuku dulu juga begitu.”
Bapaknya menoleh.
“Nilai sembilan ditanya kenapa bukan sepuluh.”
“Juara dua ditanya siapa juara satu.”
“Main dianggap buang waktu.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku dulu janji kalau punya anak tidak akan seperti itu.”
Ia menutup wajah.
“Ternyata aku melakukan hal yang sama.”
Bapaknya menggenggam tangannya.
Kadang luka masa kecil mempunyai cara aneh untuk hidup kembali.
Bukan karena kita ingin menyakiti anak kita.
Tetapi karena tanpa sadar...
kita mengajarkan kepada mereka cara yang sama seperti dunia dulu mengajarkan kita.
---
MINGGU PAGI
Minggu pagi Bayu bangun pukul enam.
Kebiasaan.
Ia mandi.
Merapikan tempat tidur.
Kemudian melihat jadwal.
Pukul delapan: latihan piano.
Pukul sepuluh: latihan soal.
Tiba-tiba Ibunya masuk.
“Yu.”
“Iya, Bu?”
“Ganti baju.”
“Mau ke mana?”
“Keluar.”
Bayu bingung.
“Les?”
Ibunya menggeleng.
“Terus?”
“Main bola.”
Bayu mengira salah dengar.
“Apa?”
Ibunya tersenyum.
“Main bola.”
“Tapi piano?”
“Libur.”
“Matematika?”
“Besok.”
Bayu masih tidak percaya.
“Ibu serius?”
Ibunya mengangguk.
“Tapi satu syarat.”
Wajah Bayu langsung tegang.
“Apa?”
Ibunya menunjuk sepatunya.
“Jangan pakai sepatu mahal itu lagi.”
Bayu tertawa.
---
Mereka berjalan ke lapangan.
Anak-anak sudah bermain.
Dimas melihat Bayu.
“YU!”
Kemudian melihat Ibunya.
Dimas langsung berdiri sopan.
“Selamat pagi, Tante.”
Ibunya tersenyum.
“Pagi.”
Bayu berlari.
Tetapi beberapa langkah kemudian ia berhenti.
Menoleh.
“Ibu?”
“Hm?”
“Boleh sampai siang?”
Ibunya hampir otomatis berkata:
Jangan.
Panas.
Nanti sakit.
Ada jadwal.
Tetapi ia menahannya.
“Boleh.”
Bayu tersenyum lebar.
Lalu berlari.
---
Ibunya duduk di pinggir lapangan.
Ia memperhatikan anaknya.
Bayu salah menendang.
Teman-temannya tertawa.
Bayu tertawa paling keras.
Jatuh.
Bangun.
Kotor.
Berkeringat.
Tidak rapi.
Tidak sempurna.
Dan entah mengapa...
Ibunya belum pernah melihat anaknya seindah itu.
---
Bapaknya datang membawa tiga bungkus nasi liwet.
“Gimana?”
Ibunya tersenyum.
“Anakmu ternyata jelek main bolanya.”
Bapaknya tertawa.
“Bagus.”
Ibunya menoleh.
“Kok bagus?”
“Berarti akhirnya dia punya sesuatu yang dilakukan bukan karena harus jadi juara.”
Ibunya terdiam.
Kemudian tersenyum.
---
WAKTU YANG SULIT TERULANG
Bayu tetap belajar.
Tetap berprestasi.
Tetap bermain piano.
Tetap berenang.
Ibunya tidak berhenti mendidiknya.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Di jadwal Bayu sekarang terdapat beberapa kotak kosong.
Awalnya Ibunya merasa aneh melihatnya.
Tidak ada matematika.
Tidak ada piano.
Tidak ada bahasa Inggris.
Hanya tulisan tangan Bayu:
MAIN.
Dan untuk pertama kalinya...
tidak ada target di sebelahnya.
---
Bertahun-tahun kemudian Bayu tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
Ia kuliah.
Bekerja.
Kemudian ikut mengelola usaha keluarganya.
Orang-orang tetap melihatnya sebagai laki-laki yang berhasil.
Tetapi ketika ditanya tentang masa kecil, Bayu jarang bercerita tentang piala.
Ia bahkan lupa sebagian nilai ulangannya.
Ia tidak ingat berapa nilai matematika kelas delapan.
Tidak ingat kapan pertama kali juara renang.
Tidak ingat lagu apa yang membuatnya menang lomba piano.
Anehnya...
ia masih mengingat dengan sangat jelas satu Jumat sore.
Lapangan becek.
Dua sandal menjadi gawang.
Bola kusam.
Baju penuh lumpur.
Hujan.
Teman-temannya berteriak.
Dan sebuah gol jelek yang entah bagaimana masuk.
Bayu masih ingat rasanya.
Bebas.
---
Ketika akhirnya mempunyai seorang anak laki-laki, suatu sore Bayu sedang bekerja di rumah.
Anaknya datang.
“Ayah.”
“Hm?”
“Besok aku ada latihan matematika.”
“Iya.”
“Tapi teman-teman mau main bola.”
Bayu berhenti mengetik.
Untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri puluhan tahun lalu.
Anak yang duduk di dalam mobil...
melihat teman-temannya berlari di lapangan.
Bayu menutup laptop.
“Nilaimu bagaimana?”
“Lumayan.”
“PR?”
“Sudah.”
Bayu mengangguk.
“Ya main bola.”
Anaknya terkejut.
“Serius?”
“Serius.”
“Ayah nggak marah?”
Bayu tertawa.
“Kenapa harus marah?”
Anaknya langsung berlari.
Tetapi Bayu memanggilnya.
“Eh!”
Anaknya berhenti.
Bayu memasang wajah serius.
“Satu syarat.”
Anaknya menelan ludah.
“Apa?”
Bayu menunjuk sepatunya.
“Jangan pakai sepatu mahal. Nanti Ibumu marah sama Ayah.”
Anaknya tertawa.
Bayu ikut tertawa.
---
Dari teras, Bayu melihat anaknya berlari menuju lapangan.
Ia tersenyum.
Karena sekarang ia mengerti sesuatu yang dulu bahkan orang tuanya hampir terlambat memahami.
Anak bukanlah proyek.
Bukan piala yang bisa dipamerkan.
Bukan rapor yang harus selalu sempurna.
Bukan perpanjangan ambisi orang tuanya.
Anak adalah manusia kecil yang sedang belajar mengenal dunia.
Mereka membutuhkan disiplin.
Membutuhkan pendidikan.
Membutuhkan batas.
Membutuhkan tuntunan.
Tetapi mereka juga membutuhkan lumpur di kaki.
Tawa yang tidak mempunyai tujuan.
Teman.
Kesalahan.
Kekalahan.
Waktu kosong.
Pelukan.
Dan kesempatan untuk melakukan sesuatu hanya karena...
mereka menyukainya.
---
Kita sering berkata,
“Belajar yang rajin. Semua ini untuk masa depanmu.”
Dan mungkin itu benar.
Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk mempersiapkan masa depan seorang anak...
kita mengambil seluruh masa kecilnya.
Nilai yang buruk masih bisa diperbaiki.
Pelajaran yang tertinggal masih bisa dikejar.
Keterampilan masih bisa dipelajari.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa diberikan kembali oleh orang tua kepada anaknya.
Usia mereka.
Anak berumur tujuh tahun hanya sekali.
Sepuluh tahun hanya sekali.
Tiga belas tahun...
juga hanya sekali.
Dan ketika waktu itu berlalu, uang sebanyak apa pun tidak dapat membelinya kembali.
---
Sore itu Bayu melihat anaknya mencetak gol.
“AYAH!”
Bayu mengangkat tangan.
“HEBAT!”
“Aku bikin gol!”
“Iya!”
Anaknya kembali berlari.
Bayu tersenyum.
Ia tidak bertanya:
Berapa gol?
Siapa yang paling bagus?
Kenapa tendanganmu tadi meleset?
Kenapa kamu tidak menjadi nomor satu?
Tidak.
Untuk sekali ini, pertanyaannya nanti hanya satu.
Pertanyaan sederhana yang mungkin seharusnya lebih sering ditanyakan orang tua kepada anak-anaknya.
“Kamu senang?”
Karena prestasi bisa dicari sepanjang hidup.
Tetapi masa kecil...
adalah waktu yang sulit terulang.




