Skip to content
Log in
Family

Teh Jahe itu terasa Hangat

Ibuku

by AGT

Published 10 min read3 views

TEH JAHE ITU TERASA HANGAT

Sebuah cerita tentang Iwan, Ibu, dan kata "nanti"

Hari itu hujan turun dengan lebat di Jakarta.

Wajar saja. Bulan-bulan seperti ini Jakarta memang sering diguyur hujan.

Dari balik jendela sebuah kedai kecil di kawasan Sudirman, Iwan memperhatikan orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

Ada yang menutupi kepala dengan tas.

Ada yang nekat menerobos hujan.

Ada pula seorang bapak yang berlari sambil memegang payung, sementara anak kecil di sebelahnya tertawa kegirangan menginjak genangan.

Iwan ikut tersenyum melihatnya.

"Enak juga jadi anak kecil," gumamnya.

"Kenapa, Pak?"

Pelayan yang sedang membersihkan meja rupanya mendengar.

"Nggak mikirin cicilan."

Pelayan itu tertawa.

Iwan ikut tertawa.

"Pesan apa, Pak?"

"Kopi hitam satu."

"Waduh, mesin kopinya baru dibersihkan, Pak. Teh ada. Wedang jahe juga ada."

Iwan yang tadinya masih tersenyum mendadak diam.

"Wedang jahe?"

"Iya, Pak."

Entah mengapa dua kata itu membuat sesuatu bergerak di dalam dadanya.

"Ya sudah. Wedang jahe satu."

Beberapa menit kemudian sebuah cangkir diletakkan di hadapannya.

Uap tipis mengepul.

Iwan memegang cangkir itu dengan kedua tangan.

Hangat.

Ia meniupnya perlahan.

Kemudian aroma jahe menyentuh hidungnya.

Dan tanpa diminta...

sebuah suara lama muncul kembali dalam ingatannya.

"Wan! Jangan lari-lari! Jatuh nanti!"

Iwan tersenyum.

"Ibu..."

---

Anak Laki-Laki Satu-Satunya

Iwan adalah anak bungsu.

Dan satu-satunya anak laki-laki.

Semua kakaknya perempuan.

Karena itulah sejak kecil Iwan merasa hidupnya mempunyai terlalu banyak ibu.

Kalau ia pulang terlambat, Ibu marah.

Kalau bajunya kotor, kakak pertama mengomel.

Kalau ia belum makan, kakak kedua mengejar membawa piring.

Kalau ia bermain terlalu jauh, kakaknya yang lain akan mencarinya.

"Ini rumah apa pos keamanan, sih?" protes Iwan suatu kali.

Kakak-kakaknya tertawa.

Ibu menjewer telinganya.

"Enak kamu dijaga banyak orang."

"Aduh, Bu!"

"Makanya jangan nakal."

"Aku laki-laki, Bu!"

"Terus?"

"Laki-laki itu harus berani."

Ibu berkacak pinggang.

"Laki-laki berani juga tetap harus mandi."

Semua kakaknya tertawa.

Iwan cemberut.

Begitulah rumah mereka.

Ribut.

Ramai.

Kadang menyebalkan.

Tetapi hangat.

Hanya ada satu sosok yang tidak pernah Iwan kenal di rumah itu.

Papa.

Papa meninggal ketika Iwan masih sangat kecil—begitu kecil hingga ia bahkan tidak memiliki kenangan tentang suara, pelukan, atau tangan seorang ayah.

Iwan mengenal Papa hanya dari cerita.

Dan beberapa lembar foto.

Ada satu foto yang paling sering ia lihat.

Seorang laki-laki muda berdiri tersenyum di samping Ibu.

"Itu Papa?"

"Iya."

"Papa orangnya galak?"

Ibu tersenyum.

"Kadang."

"Lebih galak dari Ibu?"

Ibu langsung melotot.

"Memangnya Ibu galak?"

Iwan tertawa dan berlari.

"Galak banget!"

"WAN!"

Suara Ibu mengejarnya sampai halaman.

Kakak-kakaknya tertawa.

Masa kecil Iwan penuh suara seperti itu.

Tawa.

Teriakan.

Pertengkaran kecil.

Dan aroma teh jahe.

---

Setiap musim hujan, Ibu selalu membuat teh jahe.

Iwan menyukainya sejak kecil.

Tetapi seperti anak-anak pada umumnya, ia tetap saja mengeluh.

"Panas, Bu."

"Ditiup."

"Pedas."

"Ya namanya jahe."

"Kebanyakan gula."

"Besok bikin sendiri."

"Tapi buatan Ibu lebih enak."

Ibu biasanya akan berhenti sebentar.

Lalu tersenyum puas.

"Nah... tahu."

Iwan tertawa.

Begitulah cara sederhana mereka mengatakan sayang.

Tidak pernah dengan kalimat besar.

Tidak pernah dengan pelukan dramatis.

Kadang kasih sayang mereka berbentuk omelan.

Kadang sepiring makanan.

Kadang pertanyaan, "Sudah makan?"

Dan kadang...

hanya secangkir teh jahe.

---

Aku Mau Pergi, Bu

Semakin besar, Iwan semakin merasa rumah itu terlalu sempit.

Bukan ukuran bangunannya.

Tetapi karena semua orang selalu ingin tahu apa yang dilakukannya.

"Wan, mau ke mana?"

"Wan, pulang jam berapa?"

"Wan, sama siapa?"

"Wan, jangan lupa makan."

"Wan..."

"Wan..."

"Wan..."

Sampai suatu hari Iwan mengatakan sesuatu yang membuat rumah mendadak sunyi.

"Aku mau kuliah di Jakarta."

Ibu yang sedang memotong sayur berhenti.

"Kenapa harus Jakarta?"

"Karena kampusnya di Jakarta."

"Di sini juga ada kampus."

"Tapi aku maunya Jakarta."

Ibu tidak menjawab.

Kakak-kakaknya saling memandang.

Sebenarnya bukan hanya kuliah yang dicari Iwan.

Ia ingin pergi.

Ia ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa ada yang bertanya ia mau ke mana.

Tanpa ada yang menyuruhnya makan.

Tanpa ada yang memarahinya karena pulang malam.

Bagi Iwan muda, Jakarta adalah kebebasan.

Dan meninggalkan rumah adalah pemberontakan kecilnya.

Malam sebelum keberangkatan, Ibu masuk ke kamarnya.

"Baju hangat sudah?"

"Sudah."

"Obat?"

"Sudah."

"Vitamin?"

"Bu..."

"Payung?"

"Sudah!"

"Kalau sakit langsung ke dokter."

"Iya."

"Jangan cuma makan mi."

"Iya."

"Kalau malam—"

Iwan akhirnya tertawa.

"Bu..."

"Apa?"

"Aku ini sudah besar. Tidak perlu diingatkan terus."

Ibu terdiam.

Kemudian tersenyum.

"Iya. Sudah besar."

Ia berdiri.

Sebelum keluar kamar, Ibu berkata pelan,

"Tapi buat Ibu, kamu tetap anak Ibu."

Saat itu Iwan hanya tersenyum.

Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian kalimat itu akan menjadi salah satu kalimat yang paling dirindukannya.

---

Jakarta

Hari-hari pertama di Jakarta adalah hari-hari terbaik dalam hidup Iwan.

Setidaknya begitu pikirnya.

Tidak ada yang menyuruh pulang.

Tidak ada yang memarahinya kalau tidur pukul dua pagi.

Tidak ada yang bertanya sudah makan atau belum.

Ia bebas.

Kuliah.

Teman-teman baru.

Warung kopi.

Begadang.

Organisasi kampus.

Kadang uang habis tanggal dua puluh.

Kadang makan mi instan tiga hari berturut-turut.

Tetapi ia bahagia.

Setiap malam Minggu Ibu menelepon.

"Sudah makan?"

"Sudah."

"Makan apa?"

Iwan melihat mi instan di depannya.

"Ayam."

"Sayur?"

"Ada."

Padahal tidak ada.

"Buah?"

"Bu..."

Ibu tertawa.

"Iya, iya."

Kadang percakapan mereka panjang.

Iwan bercerita tentang dosen.

Tentang teman.

Tentang Jakarta yang macet.

Tentang gadis yang sedang ia sukai.

"Nah, ini baru cerita penting," kata Ibu.

"Bu!"

"Kapan dikenalkan?"

"Baru kenal!"

Ibu tertawa.

Dulu...

telepon dari Ibu masih membuatnya tersenyum.

---

Kemudian Iwan lulus.

Mendapat pekerjaan.

Gajinya tidak besar, tetapi ia bangga.

Telepon pertama setelah menerima gaji ditujukan kepada Ibu.

"Bu!"

"Kenapa?"

"Gajian!"

"Alhamdulillah."

"Mau dibelikan apa?"

Ibu tertawa.

"Nggak usah."

"Serius."

"Tabung."

"Aduh, Ibu mah."

Ibu diam sebentar.

Kemudian berkata,

"Kalau memang mau belikan Ibu sesuatu..."

"Nah. Apa?"

"Pulang."

Iwan tertawa.

"Ya nanti."

Nanti.

Satu kata kecil.

Yang perlahan-lahan akan menjadi kebiasaan.

---

Tahun berganti.

Karier Iwan semakin baik.

Kesibukannya semakin banyak.

Dan tanpa disadarinya, percakapan dengan Ibu semakin pendek.

Ponselnya bergetar di tengah meeting.

IBU

Reject.

Beberapa menit kemudian bergetar lagi.

IBU

Reject.

Ketiga kalinya, Iwan keluar ruangan.

"Iya, Bu?"

"Sudah makan?"

"Bu, aku sedang kerja."

"Oh..."

"Nanti ya."

"Ibu cuma mau—"

"Iya, Bu, ini sedang kerja. Nanti aku telepon lagi."

Telepon ditutup.

Iwan kembali ke ruang meeting.

Ia lupa menelepon kembali.

Malamnya Ibu mengirim pesan.

Jangan lupa makan.

Iwan membacanya.

Tidak membalas.

Besok pagi ada pesan lagi.

Jakarta hujan ya? Bawa payung.

Iwan tersenyum kecil.

Ibu ini...

Tetapi ia tetap tidak membalas.

---

Lebaran yang Tidak Jadi

Lebaran tahun itu, Ibu menelepon jauh-jauh hari.

"Wan, tiket sudah beli?"

Iwan diam.

"Belum, Bu."

"Ya beli. Nanti mahal."

Iwan menarik napas.

"Aduh... Lebaran kali ini sulit pulang, Bu. Aku kena giliran jaga kantor."

Sunyi.

"Oh..."

Suara Ibu berubah.

Iwan mendengarnya.

Tetapi pura-pura tidak menyadarinya.

"Maaf ya, Bu."

"Nggak apa-apa."

"Tahun depan aku pulang."

"Iya."

Ibu diam sebentar.

"Kakak-kakakmu pulang semua."

"Iya, nanti video call saja."

"Ya sudah."

Kemudian seperti biasa Ibu berkata,

"Jangan terlalu capek."

"Iya."

"Uang itu penting, Nak. Tetapi jaga kesehatan lebih penting."

"Iya, Bu."

Iwan melihat layar laptopnya.

"Sudah dulu ya. Ada kerjaan."

"Iya."

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Sebelum Iwan mematikan telepon, terdengar suara Ibu.

Pelan sekali.

"Hati-hati ya, Nak."

Klik.

Telepon terputus.

Iwan kembali bekerja.

Ia tidak tahu...

di rumah, Ibu tetap memasak makanan kesukaannya.

Ketika salah satu kakaknya bertanya mengapa memasak sebanyak itu, Ibu menjawab,

"Siapa tahu Iwan berubah pikiran dan tiba-tiba pulang."

Tetapi Iwan tidak pulang.

---

Beberapa minggu kemudian sebuah paket tiba di kost.

Nama pengirimnya membuat Iwan tersenyum.

IBU.

Ia membukanya.

Makanan.

Vitamin.

Beberapa barang kecil.

Dan beberapa bungkus wedang jahe buatan Ibu.

Ada secarik kertas di dalamnya.

Tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

"Nak, Ibu ada kirim ke kostmu. Itu wedang jahe untuk diminum, kesukaanmu."

Baris berikutnya:

"Sekarang musim hujan. Kalau pulang ingat minum teh jahe untuk jaga badan."

Lalu:

"Jangan terlalu capek."

— Ibu

Iwan tersenyum.

"Dasar Ibu."

Ia memasukkan wedang jahe itu ke lemari.

Malam itu ia membuat kopi.

---

Hari-hari kembali berjalan.

Sampai suatu malam ponselnya berdering.

Kakaknya.

Iwan mengangkat sambil mengetik.

"Halo?"

"Wan..."

Nada suara di seberang membuat tangannya berhenti.

"Ibu masuk rumah sakit."

Iwan berdiri.

"Apa?"

"Sejak sore."

"Kenapa baru kasih tahu?!"

Sunyi.

Kemudian kakaknya menjawab,

"Ibu yang nggak mau kamu dikabari."

"Kenapa?"

Jawaban berikutnya menghancurkan sesuatu dalam diri Iwan.

"Katanya kamu sedang sibuk kerja."

Iwan tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya...

kalimat sedang sibuk kerja terdengar begitu menjijikkan di telinganya sendiri.

---

Ia pulang malam itu juga.

Sepanjang perjalanan, ia berdoa.

Ia tidak meminta promosi.

Tidak meminta uang.

Tidak meminta karier.

Ia hanya meminta satu hal.

"Tuhan... jangan sekarang."

"Sebentar saja."

"Kasih aku waktu."

"Aku belum bilang banyak hal ke Ibu."

"Aku belum minta maaf."

"Aku belum..."

Suaranya pecah.

"Aku belum pulang."

Tetapi untuk beberapa hal dalam hidup...

tidak ada kesempatan kedua.

---

Ketika Iwan tiba, rumah itu ramai.

Persis seperti Lebaran.

Banyak sandal di depan pintu.

Banyak saudara.

Banyak tetangga.

Hanya satu yang berbeda.

Tidak ada suara Ibu.

Iwan berjalan masuk.

Langkahnya semakin pelan.

Dan di sana...

Ibu terbaring.

Tenang.

Untuk pertama kalinya sejak Iwan lahir, Ibu tidak berkata apa-apa ketika melihat anak laki-lakinya pulang.

Iwan berlutut.

"Bu..."

Tangannya menyentuh tangan Ibu.

Dingin.

"Bu."

Ia menggenggamnya.

"Aku pulang, Bu."

Tidak ada jawaban.

Kalimat yang bertahun-tahun ditunggu Ibu akhirnya datang.

Terlambat.

"Bu..."

Air mata Iwan jatuh.

"Maaf."

"Maaf aku sering marah."

"Maaf kalau Ibu telepon aku bilang sedang kerja."

"Maaf Lebaran kemarin aku nggak pulang."

Ia menundukkan kepala di samping tangan Ibu.

"Bu... bangun sebentar."

Suaranya berubah seperti suara anak kecil.

"Marahi aku."

"Suruh aku makan."

"Suruh aku pakai jaket."

"Telepon aku terus juga nggak apa-apa."

Tangisnya pecah.

"Aku nggak akan bilang aku sudah besar lagi, Bu."

Tetapi tangan itu tetap diam.

Dan untuk pertama kalinya Iwan mengerti...

betapa mahal harga sebuah kata nanti.

---

Setelah semuanya selesai, Iwan kembali ke Jakarta.

Kostnya sunyi.

Ia membuka lemari.

Di sana masih ada paket dari Ibu.

Wedang jahe itu.

Masih tersimpan.

Iwan mengambil satu bungkus.

Kemudian melihat kertas kecil tulisan Ibu.

"Sekarang musim hujan. Kalau pulang ingat minum teh jahe untuk jaga badan."

Tangannya gemetar.

Ia merebus air.

Menuangkan wedang jahe ke cangkir.

Uapnya naik.

Persis seperti dulu.

Iwan meminumnya.

Hangat.

Tetapi air matanya jatuh.

Satu.

Dua.

Kemudian ia tidak sanggup lagi menahannya.

Ia terduduk di lantai dapur kost.

Memeluk lututnya.

Dan malam itu, seorang laki-laki dewasa yang bertahun-tahun berkata bahwa dirinya sudah besar...

menangis seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang.

"Bu..."

"Teh jahenya enak."

Ia menangis.

"Bu..."

"Aku minum sekarang."

"Maaf baru diminum sekarang."

Tidak ada jawaban.

---

"Pak?"

Suara pelayan membuat Iwan kembali ke kedai di Sudirman.

Hujan masih turun.

Wedang jahe di hadapannya tinggal setengah.

Iwan menatap seorang ayah yang tadi dilihatnya di luar.

Laki-laki itu sekarang menggendong anaknya sambil berlari menerobos gerimis.

Iwan tersenyum pahit.

Ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk seorang ayah.

Papa pergi bahkan sebelum Iwan sempat mengenalnya.

Tetapi malam itu ia menyadari sesuatu.

Mungkin karena itulah Ibu menjaganya begitu keras.

Ibu harus menjadi dua orang sekaligus.

Menjadi Ibu.

Sekaligus mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Papa.

Dan Iwan...

justru menghabiskan masa mudanya dengan berusaha melarikan diri dari perhatian itu.

Dulu ia menyebutnya kekangan.

Sekarang ia tahu namanya.

Kasih sayang.

Iwan mengambil ponselnya.

Kontak itu masih ada.

IBU ❤️

Ia menatapnya lama.

Dulu nama itu muncul hampir setiap hari.

Kadang ia abaikan.

Kadang ia reject.

Kadang ia jawab dengan tergesa-gesa.

Sekarang...

Iwan rela memberikan apa saja hanya untuk melihat nama itu muncul sekali lagi di layar ponselnya.

Ia ingin mengangkatnya pada dering pertama.

"Halo, Bu."

"Iya, aku sudah makan."

"Iya, aku sudah pakai jaket."

"Iya, aku nggak akan pulang malam."

"Iya, Bu."

"Aku dengar."

Tetapi tidak akan ada lagi telepon itu.

---

Iwan menghabiskan tegukan terakhir.

Di luar, hujan mulai reda.

Jakarta kembali bergerak.

Orang-orang bergegas pulang.

Dan Iwan akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya ia pahami jauh lebih awal.

Sayangi orang tuamu saat mereka masih ada.

Angkat telepon mereka.

Dengarkan pertanyaan yang sama untuk keseratus kalinya.

Biarkan mereka mengingatkanmu membawa payung.

Biarkan mereka bertanya apakah kamu sudah makan.

Pulanglah ketika mereka mengatakan rindu.

Jangan menunggu punya banyak uang untuk membahagiakan mereka.

Sering kali orang tua tidak membutuhkan uangmu.

Mereka hanya membutuhkan sedikit waktumu.

Dan jangan terlalu sering mengatakan,

"Nanti."

Karena suatu hari nanti...

kamu mungkin akhirnya mempunyai waktu.

Tetapi mereka sudah tidak memilikinya.

Iwan menatap cangkir kosong di hadapannya.

Lalu berbisik,

"Bu..."

"Aku sudah minum teh jahenya."

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Air mata kembali jatuh.

"Sayangi orang tuamu itu saat masih ada, bukan nanti menangis saat sudah mereka tidak bisa mendengar."

Sebab ada pelukan yang hanya bisa diberikan hari ini.

Ada permintaan maaf yang hanya berarti ketika masih bisa didengar.

Ada kata "Aku sayang Ibu" yang seharusnya tidak disimpan untuk sebuah batu nisan.

Dan ada rumah...

yang baru kita sadari begitu hangat,

setelah orang yang membuatnya menjadi rumah sudah tidak ada.

Di luar, gerimis kembali turun di antara gedung-gedung tinggi Jakarta.

Iwan berdiri dan mengenakan jaketnya.

Untuk sesaat ia tersenyum.

Dulu Ibu selalu berkata,

"Kalau hujan, pakai jaket."

"Iya, Bu," bisiknya.

Kali ini Iwan menurut.

Ia melangkah keluar menuju malam Jakarta.

Udara terasa dingin.

Namun entah mengapa...

teh jahe itu terasa hangat, sehangat kenangan yang Abadi tersimpan di lubuk Hati Iwan.

Menyesal, tetapi saat nafas sudah terhenti, tinggal kenangan yang abadi. Secangkir teh Jahe itu .......

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

1 save · 1 reader reaction

About the writer

AGT

@agt

5 stories published · 4 followers

Comments

1 comment

Log in to join the conversation.

  1. Sudjoko

    Bagus ceritanya

More in Family

Recently published stories from the same category.