Skip to content
Log in
Everyday Life

Sepotong Tahu untuk Pulang

Tahu dari Tegal

by AGT

Published 10 min read1 view

SEPOTONG TAHU UNTUK PULANG

Sebuah Cerita dari Kota Tegal

Nama anak itu Adi.

Beberapa bulan lalu, kalau ada yang bertanya dari mana asalnya, dengan cepat ia akan menjawab,

"Jakarta."

Padahal Mamanya selalu mengoreksi.

"Orang Tegal."

Adi biasanya langsung protes.

"Mama yang orang Tegal. Aku kan lahir dan besar di Jakarta."

"Kalau Mamamu orang Tegal, berarti setengah darahmu apa?"

Adi berpikir sebentar.

"Jakarta?"

Mamanya memukul lengannya pelan.

"Dasar."

---

Seumur hidupnya, Adi memang tinggal di Jakarta.

Papanya bekerja sebagai pegawai sebuah bank. Bertahun-tahun keluarga kecil mereka tinggal di ibu kota.

Adi tumbuh dengan gedung tinggi, pusat perbelanjaan, kemacetan, jalan tol, apartemen, restoran cepat saji, dan kehidupan kota yang hampir tidak pernah berhenti.

Tegal baginya hanya satu hal:

tempat mudik.

Setahun sekali.

Itu pun beberapa hari saja.

Pulang.

Makan.

Silaturahmi.

Lalu kembali ke Jakarta.

Sampai pekerjaan Papanya membawa perubahan.

Papanya dipindahtugaskan.

Dan keluarga itu akhirnya pindah ke Tegal.

Bagi Mama, kepindahan itu seperti pulang.

Bagi Adi...

seperti dibuang ke planet lain.

---

Anak Baru dari Jakarta

Hari pertama sekolah, Adi langsung menjadi perhatian.

"Anak Jakarta."

Begitulah teman-temannya memanggil.

Cara bicaranya berbeda.

Logatnya berbeda.

Bahkan cara ia menyebut beberapa makanan juga berbeda.

Pada minggu pertama, seorang teman bertanya,

"Di, wis mangan durung?"

Adi melongo.

"Apa?"

Teman-temannya tertawa.

Adi ikut tertawa meskipun tidak mengerti.

Di antara teman-teman barunya ada seorang anak bernama Teguh.

Teguh anaknya menyenangkan.

Tidak banyak gaya.

Gampang tertawa.

Dan termasuk orang pertama yang mengajak Adi bermain setelah sekolah.

Suatu pagi Teguh datang sedikit terlambat.

Begitu duduk di sebelah Adi, Adi mengernyit.

"Guh."

"Apa?"

"Lo bau apa, sih?"

Teguh mencium bajunya sendiri.

"Biasa."

"Bau kedelai."

"Oh."

Teguh santai membuka buku.

"Habis bantu Bapak bikin tahu."

Adi berhenti.

"Bikin apa?"

"Tahu."

"Maksud lo... Bapak lo jualan tahu?"

"Bikin tahu. Nanti dikirim ke pasar sama warung."

Adi menatap Teguh beberapa detik.

Kemudian tertawa.

"Serius?"

"Iya."

Entah kenapa bagi Adi saat itu terdengar lucu.

Di lingkungan lamanya di Jakarta, orang tua teman-temannya bekerja di kantor.

Ada pegawai bank seperti Papanya.

Ada manajer.

Pegawai perusahaan.

Pengusaha.

Dokter.

Beberapa bekerja di gedung tinggi yang bahkan Adi sendiri tidak tahu persis pekerjaannya apa.

Tetapi...

pembuat tahu?

Itu baru.

Keesokan harinya ketika Teguh masuk kelas, Adi berseru,

"Eh, tukang tahu datang!"

Beberapa anak tertawa.

Teguh ikut tertawa.

Dan sejak hari itu julukan tersebut melekat.

---

"Teguh! Hari ini bawa tahu?"

"Nggak."

"Yah. Tukang tahu kok nggak bawa tahu."

Teguh menjawab santai,

"Bapakmu kerja di bank memang tiap hari bawa uang sekarung?"

Satu kelas langsung tertawa.

Adi terdiam.

"Kurang ajar!"

Penghapus melayang.

Teguh menghindar sambil tertawa.

Mereka sebenarnya berteman baik.

Itulah sebabnya Teguh tidak pernah benar-benar marah.

Tetapi candaan tetaplah candaan.

Kadang tanpa sadar, candaan bisa melukai seseorang.

Suatu hari ketika mereka membicarakan cita-cita, Adi bertanya,

"Kalau besar lo mau jadi apa?"

"Belum tahu."

"Jangan-jangan nerusin usaha Bapak."

"Mungkin."

Adi tertawa.

"Serius? Masa cita-cita jadi tukang tahu?"

Beberapa anak ikut tertawa.

Kali ini Teguh tidak membalas.

Ia hanya tersenyum kecil.

"Memangnya kenapa?"

Adi mengangkat bahu.

"Nggak apa-apa. Cuma... ya..."

"Ya apa?"

Adi tidak bisa menjelaskan.

Dalam pikirannya, pekerjaan yang bagus adalah pekerjaan seperti Papanya.

Kemeja rapi.

Sepatu mengkilap.

Berangkat ke kantor.

Duduk di ruangan ber-AC.

Punya kartu nama.

Sementara pekerjaan Bapak Teguh?

Bangun sebelum matahari.

Berkeringat.

Mengangkat kedelai.

Tangan kotor.

Bau tahu.

Bagi Adi yang baru mengenal kehidupan di Tegal...

dua dunia itu terlihat sangat berbeda.

---

Tangan Bapak

Sore itu Teguh membantu Bapaknya.

Uap panas memenuhi tempat produksi sederhana di belakang rumah.

Bapak memperhatikan anaknya yang sejak tadi lebih diam dari biasanya.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Dimarahi guru?"

"Nggak."

"Nilai jelek?"

"Nggak."

"Berantem?"

Teguh tertawa.

"Bapak kok doanya jelek semua."

Bapak ikut tertawa.

Akhirnya Teguh bercerita.

Tentang Adi.

Tentang teman-temannya.

Tentang "tukang tahu".

Dan tentang pertanyaan apakah cita-citanya hanya menjadi pembuat tahu.

Bapak mendengarkan.

Kemudian mengambil satu tahu kuning yang baru selesai dibuat.

"Guh."

"Hm?"

"Ini apa?"

"Tahu."

"Bagus. Berarti sekolahmu berhasil."

Teguh tertawa.

Bapak ikut tertawa.

Kemudian ia berkata,

"Jangan pernah malu dengan pekerjaan Bapak."

Teguh diam.

"Bapak memang tidak pakai dasi."

Tangannya mengangkat tahu itu.

"Bapak juga nggak kerja di gedung tinggi."

Ia melihat kedua tangannya sendiri.

Kasar.

Ada bekas luka kecil akibat bertahun-tahun bekerja.

"Tapi dari tangan ini kalian makan."

"Kamu bisa sekolah."

"Kakakmu bisa kuliah."

"Dan Bapak tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan hak Bapak."

Teguh memandang ayahnya.

Kemudian Bapak berkata pelan,

"Pekerjaan itu jangan dilihat dari kotornya tangan, Guh."

"Lihat dari apa yang bisa dilakukan tangan itu untuk keluarganya."

Teguh tidak menjawab.

Tetapi kalimat itu ia simpan.

---

Lebaran Datang

Seminggu menjelang Lebaran, Tegal berubah.

Jalanan semakin ramai.

Mobil-mobil berpelat luar kota mulai memenuhi jalan.

B.

D.

F.

Bahkan pelat dari kota-kota yang jauh.

Para perantau pulang.

Rumah-rumah yang biasanya tenang mulai ramai oleh suara anak dan cucu.

Bagi Adi, ini pemandangan baru.

Biasanya...

dialah yang datang dari Jakarta.

Sekarang ia berdiri di Tegal dan melihat Jakarta seakan-akan sedang datang kepadanya.

Suatu sore ia berkata kepada Mamanya,

"Ma, ternyata banyak banget orang Tegal di Jakarta ya."

Mamanya tertawa.

"Baru tahu?"

"Iya."

"Kamu pikir Warteg di Jakarta yang punya orang mana?"

Adi diam.

"Oh iya."

Mamanya tertawa.

Menjelang Lebaran, banyak Warung Tegal di berbagai kota ikut tutup karena pemilik dan pekerjanya pulang kampung.

Orang-orang yang selama setahun memasak untuk para pekerja, mahasiswa, sopir, pegawai kantor dan masyarakat kota...

kini pulang untuk makan bersama keluarganya sendiri.

Bagi Tegal, Lebaran adalah saat anak-anaknya kembali.

Dan bersama mereka...

kembali pula selera masa kecil.

Tahu kuning.

Tahu aci.

Nasi lengko.

Soto.

Ketupat.

Opor.

Makanan-makanan sederhana yang mungkin bisa ditemukan di tempat lain.

Tetapi entah mengapa...

selalu terasa berbeda ketika dimakan di rumah.

---

Di rumah Teguh, Lebaran berarti bekerja hampir empat kali lebih keras.

Pesanan tahu melonjak.

Sejak selepas sahur, Bapak sudah bekerja.

Teguh membantu.

"Guh! Ini untuk pasar!"

"Iya!"

"Yang itu pesanan warung!"

"Iya!"

"Yang itu jangan dicampur!"

"Iya, Pak!"

Bapak berhenti.

"Kamu ngerti nggak sebenarnya?"

"Nggak."

Bapak tertawa.

"Dasar."

Teguh ikut tertawa.

Rumah produksi mereka penuh aktivitas.

Kedelai datang.

Tahu dibuat.

Dipotong.

Disusun.

Dikirim.

Satu wadah keluar.

Wadah lain masuk.

Bagi Teguh, aroma kedelai yang dulu kadang membuatnya malu datang ke sekolah...

hari itu justru terasa seperti aroma Lebaran.

---

Mana Tahunya?

Sehari sebelum Lebaran, rumah Adi juga sibuk.

Mamanya memasak sejak pagi.

"Adi!"

"Iya, Ma?"

"Tahunya mana?"

Adi keluar dari kamar.

"Tahu apa?"

Mamanya menatapnya.

"Tahu kuning."

"Lho?"

"Kemarin Mama bilang kamu ingatkan Mama pesan."

Adi berpikir.

"Oh..."

"Oh apa?"

"Lupa."

Mamanya menutup mata.

"Ya Allah, Adi."

"Kan bisa beli sekarang."

Mamanya menatap jam.

"Ya sudah. Ikut Mama."

"Ke mana?"

"Pasar."

"Kenapa aku?"

"Karena yang lupa kamu."

Argumen selesai.

---

Mereka mendatangi langganan pertama.

"Habis, Bu."

Kedua.

"Sudah dipesan semua."

Ketiga.

"Maaf, Bu. Dari pagi sudah habis."

Keempat.

"Besok tutup."

Pasar pun mulai bersiap tutup.

Sebagian pedagang sudah membereskan dagangan.

Mamanya Adi mulai panik.

"Aduh..."

Adi mengangkat bahu.

"Opor ayam saja, Ma. Nggak usah pakai tahu."

Mamanya langsung menoleh.

"Kamu belum kenal keluarga Mama."

Adi tertawa.

"Kakekmu kalau opor nggak ada tahu bisa rapat keluarga."

Mereka tertawa.

Kemudian Adi melihat seseorang di kejauhan.

Kaos sederhana.

Celana sedikit basah.

Mengangkat wadah besar bersama seorang laki-laki.

Adi menyipitkan mata.

"Guh!"

Anak itu menoleh.

"Di!"

Teguh.

---

Adi dan Mamanya mendekat.

Teguh berkeringat.

Tangannya basah.

Bajunya tidak serapi Adi.

Tetapi ia bekerja cepat membantu Bapaknya menyetor pesanan terakhir kepada para pedagang eceran.

"Ngapain lo di sini?" tanya Adi.

Teguh menunjuk wadah tahu.

"Main badminton."

Adi tertawa.

"Ya bantu Bapak."

Mamanya Adi langsung melihat isi wadah.

Tahu kuning.

Matanya berbinar.

"Guh..."

"Iya, Tante?"

"Masih ada tahu?"

Teguh hendak menjawab.

Tetapi Adi tiba-tiba menunduk.

Ia ingat ejekannya.

Tukang tahu.

Ia ingat tawanya.

Masa cita-cita jadi pembuat tahu?

Sekarang justru dirinya yang membutuhkan tahu buatan keluarga Teguh.

"Guh..."

"Apa?"

Adi menggaruk kepalanya.

"Masih ada... sisa tahu nggak?"

Teguh memandangnya.

Adi terlihat benar-benar malu.

Mamanya heran.

"Kenapa kamu malu-malu begitu?"

"Nggak apa-apa, Ma."

Teguh tersenyum.

"Katanya tukang tahu?"

Adi langsung merah.

Mamanya menoleh.

"Tukang tahu kenapa?"

"Ma..."

"Ada apa?"

Akhirnya Teguh bercerita sambil tertawa.

Mamanya tidak tertawa.

Ia memandang Adi.

"Adi."

"Iya..."

"Kamu mengejek pekerjaan Bapaknya Teguh?"

Adi menunduk.

"Cuma bercanda, Ma."

Mamanya diam beberapa saat.

Kemudian melihat Bapak Teguh yang sedang bekerja.

Ia melihat tangannya.

Keringatnya.

Wadah-wadah tahu yang sejak pagi dikirim untuk orang-orang yang akan merayakan Lebaran.

Lalu Mamanya berkata,

"Kamu tahu kenapa Mama mengajakmu ke pasar hari ini?"

Adi menggeleng.

"Supaya kamu tahu makanan di meja kita tidak muncul begitu saja."

Adi diam.

"Papamu bekerja di bank. Pekerjaannya penting."

"Tapi petani juga penting."

"Pedagang penting."

"Orang yang mengantar barang penting."

"Orang yang membersihkan pasar penting."

"Dan orang yang membuat tahu yang besok kamu makan..."

Mamanya menunjuk Teguh dan Bapaknya.

"...juga penting."

Adi menatap mereka.

Kemudian Mamanya mengucapkan kalimat yang tidak pernah dilupakannya.

"Tidak ada pekerjaan halal yang memalukan, Di."

"Yang memalukan adalah ketika kita merasa pekerjaan orang lain lebih rendah daripada pekerjaan keluarga kita."

Adi terdiam.

---

Bapak Teguh yang sejak tadi mendengar hanya tersenyum.

"Namanya juga anak-anak, Bu."

Tetapi Mamanya Adi menggeleng.

"Justru harus belajar dari sekarang, Pak."

Ia kemudian menoleh kepada Adi.

"Kamu besar di Jakarta. Mama mengerti kenapa kamu merasa asing melihat pekerjaan seperti ini."

Adi menatap Mamanya.

"Tapi jangan lupa."

Mamanya tersenyum.

"Mama juga anak Tegal."

"Dan Kakekmu dulu bukan orang kantoran."

Adi diam.

"Kakek kerja apa?"

"Pedagang kecil."

Mamanya tersenyum.

"Sebagian uang yang membuat Mama bisa sekolah dulu datang dari pasar seperti ini."

Untuk pertama kalinya Adi memandang pasar dengan cara berbeda.

Tempat yang tadinya hanya terlihat panas, berisik dan kotor...

ternyata menyimpan ribuan cerita keluarga.

---

"Jadi tahunya masih ada nggak?" tanya Mamanya.

Bapak Teguh tertawa.

"Ada sedikit. Tapi tinggal jatah keluarga."

"Waduh, jangan kalau begitu."

Teguh langsung berkata,

"Ambil saja, Pak."

Bapak melihat anaknya.

"Yakin?"

Teguh mengangguk.

"Buat Adi."

Adi menatapnya.

"Guh..."

"Kenapa?"

"Maaf ya."

Teguh tersenyum.

"Seratus ribu satu tahu."

"Hah?!"

Semua tertawa.

"Kurang ajar!"

Teguh menepuk bahunya.

"Bercanda."

Mamanya Adi ikut tertawa.

Kemudian Adi mengambil salah satu wadah.

"Mana? Gue bantu angkat."

Teguh menyerahkannya.

Begitu menerima, tubuh Adi sedikit turun.

"Buset! Berat!"

Teguh tertawa keras.

"Baru satu wadah."

Adi melihat Teguh.

"Lo tiap hari begini?"

"Kalau bantu Bapak."

Untuk pertama kalinya...

Adi merasa julukan tukang tahu tidak terdengar lucu.

Justru terdengar seperti pekerjaan yang berat.

---

Rasa Pulang

Pagi Lebaran tiba.

Meja keluarga Adi penuh makanan.

Ketupat.

Opor ayam.

Sambal goreng.

Kerupuk.

Dan tahu kuning.

Kakek Adi mengambil satu tahu dari kuah opor.

"Nah!"

Ia tersenyum puas.

"Ini baru Lebaran."

Mamanya Adi tertawa.

Adi memperhatikan Kakeknya makan.

Laki-laki tua itu terlihat begitu bahagia hanya karena sepotong tahu.

"Kok senang banget, Kek?"

Kakeknya tertawa.

"Kamu kebanyakan makan makanan Jakarta."

Semua tertawa.

Kakeknya kemudian berkata,

"Kalau lama di rantau, nanti kamu mengerti."

"Mengerti apa?"

"Kadang yang dirindukan dari kampung bukan sesuatu yang mahal."

Kakek mengangkat sepotong tahu.

"Bisa cuma begini."

Adi tersenyum.

Ia mengambil satu potong.

Memakannya.

Sederhana.

Tetapi hari itu rasanya berbeda.

---

Sore harinya Adi pergi ke rumah Teguh.

Teguh sedang duduk di depan rumah sambil makan tahu aci.

"Eh, anak bank datang."

Adi tertawa.

"Eh, tukang tahu."

Mereka saling memandang.

Lalu tertawa bersama.

Tetapi kali ini...

kata tukang tahu tidak lagi terdengar sebagai ejekan.

Adi duduk di sebelahnya.

"Bagi."

"Bayar."

"Teman sendiri pelit."

Teguh memberikan satu.

Adi menggigitnya.

Masih panas.

Aci di atasnya renyah.

"Enak."

"Ya iyalah."

Beberapa detik mereka diam.

Kemudian Adi berkata,

"Guh."

"Hm?"

"Kalau nanti lo benar-benar nerusin usaha Bapak..."

Teguh menoleh.

"...gue nggak bakal ketawain lagi."

Teguh tersenyum.

"Kenapa?"

Adi menggigit tahu acinya lagi.

"Karena sekarang gue tahu..."

Ia melihat Bapak Teguh yang sedang membereskan peralatan di belakang rumah.

"...bikin tahu ternyata lebih susah daripada kelihatannya."

Teguh tertawa.

"Besok bantu."

Adi cepat-cepat menjawab,

"Nggak segitunya juga."

Mereka tertawa.

---

Lebaran tahun itu mengajarkan sesuatu kepada Adi.

Jakarta mengajarkannya bermimpi besar.

Tetapi Tegal mengajarkannya sesuatu yang mungkin lebih penting.

Menghargai orang-orang kecil yang pekerjaannya membuat kehidupan besar tetap berjalan.

Ia akhirnya memahami mengapa Mamanya selalu mengatakan bahwa dirinya juga orang Tegal.

Karena kampung halaman bukan sekadar tempat kita dilahirkan.

Ia hidup dalam keluarga.

Dalam kebiasaan.

Dalam bahasa.

Dalam pekerjaan yang diwariskan.

Dalam makanan yang selalu dicari ketika pulang.

Dan dalam rasa yang tidak bisa digantikan oleh kota sebesar apa pun.

Bagi Teguh, tahu kuning adalah kehidupan keluarganya.

Bagi Bapaknya, tahu kuning adalah pekerjaan yang membesarkan anak-anaknya.

Bagi Mama Adi, tahu kuning adalah kenangan masa kecil.

Bagi Kakek, tahu kuning adalah rasa kampung halaman.

Dan bagi ribuan orang Tegal yang pulang dari perantauan setiap Lebaran...

kadang rasa pulang itu hadir sangat sederhana.

Dalam sepiring nasi lengko.

Dalam tahu aci yang masih panas.

Dalam potongan tahu kuning di antara ketupat dan opor ayam.

Tidak mahal.

Tidak mewah.

Tetapi mampu membawa seseorang kembali kepada masa kecilnya hanya dalam satu gigitan.

Dan sejak hari itu, setiap kali melihat tahu kuning, Adi selalu teringat satu kalimat Mamanya:

"Tidak ada pekerjaan halal yang memalukan."

"Yang memalukan adalah ketika kita merendahkan orang yang bekerja keras."

Sebab tidak semua pahlawan mengenakan seragam.

Tidak semua orang sukses bekerja di gedung tinggi.

Dan tidak semua tangan yang kotor memiliki kehidupan yang rendah.

Kadang tangan-tangan kasar itulah yang membiayai sekolah seorang anak.

Membangun sebuah keluarga.

Menjaga tradisi.

Dan setiap Lebaran tiba...

mengantarkan rasa pulang ke ribuan meja makan.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

AGT

@agt

5 stories published · 4 followers

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Everyday Life

Recently published stories from the same category.