Skip to content
Log in
Mystery

Celana Dalam di Kuah Soto

Celana nya siapa ini ??

by AGT

Published 7 min read8 views

Celana Dalam di Kuah Soto

Di Pasar Pagi, ada dua warung soto yang jaraknya hanya tiga meter.

Yang satu milik Pak Gito.

Yang satu lagi milik Pak Manto.

Tiga meter itu sebenarnya jarak yang pendek.

Tapi kalau sudah urusan dagang, tiga meter bisa terasa seperti perbatasan dua negara.

---

Warung Pak Gito baru berdiri dua tahun.

Namanya sederhana:

Soto Semarang Pak Gito

Tempatnya tidak besar.

Tapi bersih.

Meja dilap setiap pelanggan selesai makan.

Lantai tidak lengket.

Mangkok ditata rapi.

Gorengan dibuat sedikit-sedikit supaya tetap hangat.

Bakwan.

Tempe.

Perkedel.

Tahu isi.

Selain itu ada sate kerang, sate telur puyuh, sate brutu, sate paru, dan sate ayam.

Bumbunya meresap.

Rempahnya terasa.

Kuah sotonya bening, ringan, tetapi gurih.

Satu mangkok dijual Rp15.000.

Tidak murah untuk ukuran pasar.

Tapi setiap pagi warung Pak Gito tetap ramai.

Jam enam sudah ada pelanggan.

Jam tujuh kursi mulai penuh.

Jam delapan kadang orang harus berdiri menunggu.

---

Di sebelahnya ada warung milik Pak Manto.

Pak Manto sudah berjualan hampir tiga puluh tahun.

Ia legenda Pasar Pagi.

Dulu, kata orang-orang tua, Soto Lamongan Pak Manto termasuk yang paling terkenal.

Kuah kuning.

Koya tebal.

Ayam suwir banyak.

Sambal pedas.

Harga sekarang cuma Rp12.500.

Lebih murah dari Pak Gito.

Masalahnya, warung Pak Manto sudah hampir tidak pernah direnovasi sejak zaman orang masih menyimpan nomor telepon di buku kecil.

Dindingnya kusam.

Lampunya redup.

Mejanya sedikit lengket.

Kipas angin bunyinya:

krek... krek... krek...

Kalau hujan, ada satu titik yang bocor.

Pak Manto tahu itu.

Tapi ia punya prinsip.

“Warung lawas kuwi justru nduwe karakter.”

Padahal istrinya berkali-kali bilang,

“Karakter apa? Cat temboknya mengelupas.”

Pak Manto tidak mau dengar.

Menurutnya, masalah warungnya sepi bukan karena warungnya perlu dibenahi.

Masalahnya pasti…

Pak Gito.

---

Suatu pagi Pak Manto duduk bersama tiga pedagang pasar.

Ia melihat warung Pak Gito penuh.

“Heran aku,” katanya.

“Kenapa, Pak?”

“Baru dua tahun kok bisa seramai itu.”

Pedagang sayur menjawab,

“Ya karena enak, Pak.”

Pak Manto langsung menatap tajam.

“Jangan polos.”

“Terus?”

Pak Manto merendahkan suara.

“Saya dengar ada ilmunya.”

Semua langsung mendekat.

“Ilmu apa?”

Pak Manto berbisik,

“Pesugihan.”

Besoknya cerita itu sudah berubah.

Bukan cuma pesugihan.

Katanya ada setan kecil yang meludah ke mangkok soto pelanggan supaya rasanya bikin ketagihan.

Tiga hari kemudian versinya berkembang lagi.

Katanya di bawah kompor Pak Gito ada kepala jenglot.

Seminggu kemudian ada tambahan baru.

Jenglotnya bukan satu.

Tiga.

Masing-masing tugasnya berbeda.

Satu bagian kuah.

Satu bagian pelanggan.

Satu bagian gorengan.

Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali menambahkan struktur organisasi jenglot itu.

---

Tapi gosip paling terkenal muncul dua minggu kemudian.

Suatu pagi Pak Manto berkata kepada Bu Yati, penjual bumbu:

“Bu…”

“Iya?”

“Saya dengar rahasia sotonya Pak Gito.”

Bu Yati mendekat.

“Apa?”

Pak Manto melihat kanan kiri.

Lalu berbisik sangat pelan.

“Celana dalam.”

Bu Yati diam.

“Apa?”

“Celana dalam Pak Gito dimasukkan ke kuah soto.”

Bu Yati hampir menjatuhkan cabai.

“HAH?”

Pak Manto mengangguk serius.

“Katanya supaya pelanggan balik lagi.”

Bu Yati menutup mulut.

Sore itu seluruh blok pasar sudah tahu.

Tentu saja detailnya berkembang.

Ada yang bilang celana dalamnya warna merah.

Ada yang bilang hitam.

Ada yang bilang harus dipakai tiga hari.

Ada yang bilang harus direndam tepat jam dua malam.

Bahkan ada yang mengklaim:

“Saudaranya teman sepupu saya pernah lihat sendiri.”

Padahal saudaranya teman sepupunya bahkan tidak kenal Pak Gito.

---

Anehnya, gosip itu memang sempat berdampak.

Beberapa pelanggan lama Pak Gito menjadi ragu.

“Pak Gito…”

“Iya?”

“Boleh lihat pancinya?”

Pak Gito bingung.

“Kenapa?”

“Ya... pengin lihat aja.”

Pak Gito membuka tutup panci.

Isinya kuah bening.

Ayam.

Daun bawang.

Bawang goreng.

Tidak ada pakaian dalam.

Pelanggan mengangguk lega.

Besok datang lagi.

---

Pak Manto mulai merasa strateginya berhasil.

Beberapa orang memang kembali makan di tempatnya.

Ia tersenyum puas.

“Nah.”

Tetapi hanya bertahan sebentar.

Karena setelah satu minggu, pelanggan-pelanggan itu kembali ke Pak Gito.

Alasannya sederhana.

“Tempat sana lebih bersih.”

“Gorengannya lebih fresh.”

“Sate parunya enak.”

“Soto beningnya segar.”

“Sambalnya juga pas.”

Pak Manto kesal.

Ia mulai mengembangkan teori baru.

Katanya di depan warungnya ada tanah kuburan yang ditaburkan malam-malam.

Akibatnya orang yang lewat merasa warungnya terlihat tutup.

Padahal papan warung memang sudah pudar dan lampunya cuma satu.

---

Lalu terjadi kejadian yang membuat semuanya meledak.

Suatu pagi, nasi Pak Manto kembali basi.

Pak Manto membuka magic com.

BUAK!

Baunya aneh.

“Asu...!”

Pegawainya langsung mundur.

Pak Manto memegang kepala.

“Lagi!”

Ini sudah ketiga kalinya dalam dua minggu.

Pak Manto langsung mengambil kesimpulan.

“PASTI DIA!”

“Siapa, Pak?”

“GITO!”

Pegawainya takut bertanya lebih lanjut.

Pak Manto keluar warung.

Ia memanggil dua hansip pasar.

Lalu entah bagaimana dua preman pasar ikut.

Satu karena penasaran.

Satu lagi karena dikira ada pembagian makan gratis.

Mereka semua berjalan menuju warung Pak Gito.

Pak Manto paling depan.

Wajahnya merah.

“GITO!”

Pak Gito sedang mengiris daun bawang.

“Iya, Pak?”

“KELUAR!”

Seluruh pelanggan berhenti makan.

Pak Gito keluar.

“Ada apa, Pak?”

Pak Manto menunjuk wajahnya.

“Jangan pura-pura!”

“Saya memang nggak tahu.”

“Nasi saya basi lagi!”

Pak Gito terdiam.

“Terus hubungannya sama saya?”

Pak Manto berteriak,

“Karena warung saya dikirimi!”

Orang pasar mulai berkumpul.

“Dikirimi apa?”

“Tanah kuburan!”

“Katanya jenglot juga.”

“Katanya celana dalam.”

“Celana dalam siapa?”

“Pak Gito.”

Pak Gito langsung memegang jidat.

---

Situasi makin ramai sampai Pak Agus, lurah setempat, datang.

“Ada apa ini?”

Hansip menjawab,

“Masalah soto, Pak.”

Pak Agus melihat kerumunan.

“Kalau masalah soto kenapa bawa preman?”

Preman pertama menjawab,

“Kami diajak.”

Preman kedua menambahkan,

“Saya kira ada makan.”

Pak Agus menarik napas panjang.

Kemudian memanggil Pak Manto dan Pak Gito.

“Sekarang jelaskan.”

Pak Manto mulai menceritakan semuanya.

Jenglot.

Tanah kuburan.

Setan meludah.

Celana dalam.

Pak Agus mendengarkan dengan wajah datar.

Setelah lima menit, ia bertanya,

“Buktinya?”

Pak Manto diam.

“Ya... orang-orang bilang.”

“Orang mana?”

Pak Manto menoleh.

Semua orang tiba-tiba sibuk melihat lantai.

---

Tiba-tiba terdengar suara perempuan.

“MANTO!”

Semua orang menoleh.

Datanglah Bu Manto, istri Pak Manto.

Langkahnya cepat.

Wajahnya marah.

“Manto!”

Pak Manto langsung mengecil.

“Ya, Bu.”

Bu Manto membawa botol plastik.

“Ini apa?”

Pak Manto melihat botol itu.

“Ya... air.”

“Air apa?”

“Air biasa.”

Bu Manto mendekat.

“BAU!”

Pak Manto mencium.

Wajahnya berubah.

Itu bau cuka.

Bu Manto menunjuk ke arah warung.

“Kemarin kamu mindahin botol cuka ke dekat jerigen air!”

Pak Manto diam.

“Pagi ini kamu masak nasi pakai air yang sudah ketumpahan cuka!”

Kerumunan hening.

Lalu seseorang mulai tertawa.

“Hahaha…”

Yang lain ikut.

Tak sampai sepuluh detik, satu lorong pasar tertawa semua.

Preman yang tadi ikut bahkan sampai jongkok.

“Jadi nasinya bukan disantet?”

Bu Manto menjawab,

“Disantet apa! Wong dia sendiri ceroboh!”

Pak Manto merah padam.

Pak Agus menahan senyum.

“Terus tanah kuburan?”

Bu Manto menjawab,

“Itu tanah dari pot tanaman depan warung. Kemarin jatuh.”

Pak Gito mulai ikut tertawa.

“Terus jenglot?”

Bu Manto mengangkat alis.

“Jenglot apaan?”

Pak Manto menjawab kecil,

“Ya... katanya.”

Bu Manto langsung menjewer telinganya.

“Ayo pulang!”

“Aduh, Bu!”

“Kamu ini warung kotor dibenahi tidak, malah sibuk nuduh orang!”

Pak Manto berjalan sambil dijewer.

Satu pasar tertawa.

---

Siang harinya, Pak Manto kembali.

Kali ini sendirian.

Ia berdiri di depan warung Pak Gito.

“Git.”

“Iya, Pak?”

“Maaf.”

Pak Gito tersenyum.

“Sudah, Pak.”

Pak Manto duduk.

“Saya kebawa emosi.”

Pak Gito menuangkan teh.

“Kita ini sebenarnya nggak jual barang yang sama persis.”

Pak Manto mengerutkan dahi.

“Maksudmu?”

“Bapak jual Soto Lamongan.”

Pak Gito menunjuk mangkoknya.

“Saya jual Soto Semarang.”

“Bapak kuah kuning, pakai koya.”

“Saya kuah bening.”

“Bapak punya pelanggan tiga puluh tahun.”

“Saya baru dua tahun.”

Pak Manto diam.

Pak Gito melanjutkan.

“Kenapa mesti saling jatuhkan?”

Kalimat itu membuat Pak Manto lama tidak bicara.

---

Seminggu kemudian, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Warung Pak Manto tutup tiga hari.

Bukan bangkrut.

Renovasi.

Dinding dicat ulang.

Lampu diganti.

Meja diamplas.

Etalase dibersihkan.

Kipas angin tua yang berbunyi krek-krek-krek akhirnya pensiun.

Pak Gito ikut membantu.

Bahkan ia membagi sedikit tips soal penyimpanan bahan dan gorengan.

Sebaliknya, Pak Manto membagikan resep koya Lamongan miliknya.

“Rahasia ini,” katanya.

Pak Gito tertawa.

“Tenang. Nggak saya kasih jenglot.”

Pak Manto langsung ikut tertawa.

---

Sebulan kemudian, dua warung itu sama-sama ramai.

Orang yang ingin kuah bening makan di Pak Gito.

Orang yang ingin kuah kuning koya makan di Pak Manto.

Kadang pelanggan makan soto di satu tempat lalu beli sate di tempat sebelah.

Pak Manto bahkan membuat papan baru:

SOTO LAMONGAN PAK MANTO

Sejak 30 Tahun Lalu — Tanpa Jenglot

Pak Gito tidak mau kalah.

Ia memasang tulisan:

SOTO SEMARANG PAK GITO

Kuah Bening — Celana Dalam Tidak Termasuk

Sejak itu lorong pasar selalu dipenuhi tawa.

Dan cerita tentang celana dalam di kuah soto tetap hidup bertahun-tahun.

Bukan sebagai cerita mistis.

Tapi sebagai pengingat bahwa:

kalau dagangan orang lain lebih laris, sebelum menyalahkan setan, jenglot, tanah kuburan, atau pakaian dalam…

coba periksa dulu rasa masakan, kebersihan warung, dan air yang dipakai buat masak nasi.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

AGT

@agt

10 stories published · 5 followers

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Mystery

Recently published stories from the same category.