
Ulegan Batu Janda
Di kampung Karangasem, ada satu kepercayaan yang entah berasal dari siapa.
Tidak pernah ada bukunya.
Tidak pernah ada ustaz yang mengajarkan.
Tidak pernah ada bukti ilmiahnya.
Tapi anehnya, hampir semua pedagang sambal tahu.
Namanya:
Pesugihan Ulegan Batu Janda
Konon, siapa pun yang ingin ... dagangannya laris—ayam goreng, pecel, gado-gado, rujak, lotek, sampai sambal penyet—harus memiliki ulegan batu milik seorang janda kembang yang belum punya anak.
Tidak boleh beli.
Tidak boleh minta.
Harus dicuri.
Kalau berhasil, katanya sambal yang dibuat dengan ulegan itu akan memiliki rasa yang membuat pembeli ketagihan.
Sekali makan, besok datang lagi.
Dua kali makan, seminggu bisa lima kali.
Kalau tiga kali makan, katanya bisa ngajak keluarga.
Kalau sudah sampai situ, warung dijamin ramai.
Begitu mitosnya.
Dan orang yang paling percaya mitos itu adalah Darno.
Darno baru saja membuka warung ayam goreng.
Namanya cukup meyakinkan:
AYAM GORENG DARNO MAKMUR JAYA
Tulisan “Makmur Jaya” dibuat tiga kali lebih besar daripada tulisan “Ayam Goreng”.
Menurut Darno, nama itu penting.
“Usaha itu harus dimulai dari sugesti,” katanya.
Masalahnya, ayam goreng Darno tidak terlalu enak.
Ayamnya kadang kering.
Kadang kurang matang.
Kadang sambalnya keasinan.
Kadang terlalu manis.
Kadang pembeli tidak tahu sedang makan sambal atau selai cabai.
Istrinya, Siti, sudah berkali-kali mengingatkan.
“Mas, sambalnya itu resepnya dibenerin dulu.”
Darno menggeleng.
“Bukan resepnya.”
“Terus?”
“Auranya belum keluar.”
Siti menatap suaminya cukup lama.
“Aura apa?”
“Aura dagang.”
Siti menarik napas panjang.
“Yang kurang itu garam sama jeruk limau.”
Darno tidak mau mendengar.
Suatu malam, Darno bertemu Pak Gondes.
Pak Gondes adalah orang yang di kampung terkenal karena tahu segala hal yang tidak perlu diketahui orang.
Mulai dari hari baik potong rambut, arah rumah yang bikin rezeki mampet, sampai jenis burung yang kalau bunyi jam dua pagi katanya pertanda ada orang mau berutang.
Pak Gondes mencicipi sambal Darno.
Ia mengunyah perlahan.
Lalu wajahnya berubah serius.
“Wah.”
Darno tegang.
“Kenapa, Pak?”
“Berat.”
“Apa yang berat?”
Pak Gondes menunjuk sambalnya.
“Sambalmu belum punya tuah.”
Darno langsung duduk lebih dekat.
“Terus gimana caranya?”
Pak Gondes melihat kanan kiri.
Lalu berbisik.
“Cari ulegan batu janda kembang.”
Darno menelan ludah.
“Janda?”
“Iya.”
“Yang cantik?”
“Harus.”
“Kenapa harus cantik?”
Pak Gondes mengangkat bahu.
“Kalau jandanya jelek, katanya sambalnya cuma laku pas tanggal muda.”
Darno mengangguk seolah-olah penjelasan itu sangat ilmiah.
“Terus syaratnya apa lagi?”
“Belum punya anak.”
“Kenapa?”
“Wah, itu rahasia leluhur.”
Padahal Pak Gondes juga tidak tahu.
Sejak malam itu, Darno berubah.
Ia tidak lagi sibuk belajar membuat sambal.
Ia sibuk mendata janda sekecamatan.
Setiap pagi ia bertanya ke orang.
“Bu, di gang sini ada janda nggak?”
Orang menjawab.
“Ada.”
“Cantik?”
“Lumayan.”
“Punya anak?”
“Dua.”
Darno mencoret nama dari catatannya.
Suatu hari ia menemukan satu kandidat.
Namanya Mbak Raras.
Umur tiga puluh dua tahun.
Janda.
Belum punya anak.
Cantik.
Rumahnya hanya berjarak tiga kilometer dari warung Darno.
Darno langsung gemetar.
“Lengkap!”
Ia mengintai rumah Mbak Raras selama tiga hari.
Hari pertama, tidak melihat ulegan.
Hari kedua, melihat cobek plastik.
Darno kecewa.
Hari ketiga, akhirnya ia melihat benda yang dicarinya.
Sebuah ulegan batu hitam tergeletak di dapur belakang.
Darno hampir menangis terharu.
“Ya Allah… akhirnya.”
Seperti menemukan harta karun kerajaan Majapahit.
Malam Jumat Kliwon dipilih Darno untuk beraksi.
Pak Gondes mengatakan itu malam paling ampuh.
Siti sudah curiga ketika melihat suaminya memakai baju hitam.
“Mau ke mana?”
“Cari bahan usaha.”
“Jam sebelas malam?”
“Bahan khusus.”
Siti melihat suaminya membawa sarung tangan, senter kecil, dan karung beras.
“Mas…”
“Iya?”
“Kamu mau maling?”
Darno tersinggung.
“Jangan ngomong maling. Ini ikhtiar spiritual.”
Jam dua belas malam, Darno sudah berjongkok di belakang rumah Mbak Raras.
Suasana sepi.
Angin bertiup.
Daun pisang bergerak pelan.
Dari kejauhan terdengar suara burung malam.
Darno merinding.
Tiba-tiba terdengar suara:
“Huuuuuu…”
Darno membeku.
“Huuuuuu…”
Ia menutup mulut.
“Ya Allah…”
Suara itu datang lagi.
“Huuuuuu…”
Darno menoleh perlahan.
Ternyata suara kipas angin rumah tetangga yang bearing-nya rusak.
Darno melanjutkan misi.
Ia membuka pagar belakang.
Berhasil.
Masuk ke dapur.
Berhasil.
Ulegan terlihat.
Berhasil.
Tangannya hampir menyentuh benda itu ketika tiba-tiba terdengar suara perempuan.
“Mas…”
Darno langsung kaku.
“Mas…”
Keringat dingin keluar.
Perlahan ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
“Mas…”
Darno hampir pingsan.
Ternyata suara dari televisi ruang tengah.
Sedang ada sinetron.
Darno mengelus dada.
“Kurang ajar.”
Ia mengambil ulegan batu itu.
Lalu kabur.
Keesokan paginya, Darno langsung membuat sambal.
Cabai.
Bawang.
Tomat.
Terasi.
Garam.
Semua diulek menggunakan ulegan hasil curian.
Darno mencicipi.
Ia terdiam.
“Wah.”
Siti ikut mencoba.
“Gimana?”
Darno menjawab penuh keyakinan.
“Beda.”
“Bedanya apa?”
Darno berpikir.
“Lebih… mistis.”
Siti mencicipi sekali lagi.
“Ini karena terasinya kebanyakan.”
Darno tidak peduli.
Hari itu ia membuat spanduk baru.
SAMBAL RAHASIA TURUN-TEMURUN
Padahal baru turun tadi malam dari dapur Mbak Raras.
Darno menunggu keajaiban.
Hari pertama, pembeli tetap sedikit.
Hari kedua, malah berkurang.
Hari ketiga, ada pelanggan protes.
“Pak, ayamnya kok masih merah?”
Darno menjawab,
“Yang penting sambalnya, Pak.”
Pelanggan itu tidak kembali.
Hari berikutnya seorang ibu mengeluh,
“Sambalnya terlalu asin.”
Darno menjawab,
“Mungkin lidah Ibu belum cocok dengan energinya.”
Ibu itu langsung pergi.
Seminggu kemudian omzet turun tiga puluh persen.
Tapi Darno tidak curiga pada ayamnya.
Ia curiga pada ulegannya.
“Jangan-jangan belum aktif.”
Ia kembali menemui Pak Gondes.
Pak Gondes memegang ulegan.
Memejamkan mata.
Berpura-pura merasakan sesuatu.
“Hmm…”
“Gimana, Pak?”
“Kurang sesajen.”
Darno pucat.
“Sesajen apa?”
“Kopi pahit.”
“Berapa gelas?”
“Satu.”
Darno lega.
“Terus?”
“Pisang raja.”
Darno mengangguk.
“Terus?”
“Rokok kretek.”
Darno semakin curiga.
“Ini buat siapa?”
Pak Gondes mengambil satu batang rokok.
“Buat… proses spiritual.”
Sebulan kemudian, Warung Darno Makmur Jaya semakin sepi.
Ayam makin kecil.
Minyak goreng dipakai terlalu lama.
Meja jarang dibersihkan.
Pelayan sering terlambat.
Tapi Darno sibuk dengan ritual.
Ulegan dimandikan air bunga.
Ulegan diasapi kemenyan.
Ulegan ditaruh di dekat kasir.
Bahkan setiap malam Jumat Darno membisikkan:
“Laris… laris… laris…”
Sementara sambalnya sendiri tidak pernah ia cicipi lagi.
Siti akhirnya marah.
“Mas!”
“Apa?”
“Warung kita sepi bukan karena ulegan!”
Darno tersinggung.
“Jangan meremehkan hal gaib.”
“Hal gaib apaan? Ayamnya kecil, sambalnya asin, minyaknya bau!”
Darno diam.
Siti menunjuk dapur.
“Dulu kamu setiap pagi pilih ayam sendiri. Sekarang sibuk cari bunga tujuh rupa.”
Darno mulai kehilangan argumen.
“Dulu kamu bikin sambal tiga kali sampai rasanya pas. Sekarang sekali ulek langsung bilang ada energi.”
Darno menunduk.
Masalah bertambah ketika suatu sore Mbak Raras datang ke warung.
Darno langsung pucat.
Mbak Raras melihat ke meja.
Lalu melihat ulegan batu di samping kasir.
Matanya menyipit.
“Mas Darno.”
“I… iya?”
“Itu ulegan saya, kan?”
Darno tersedak teh.
“Bukan.”
Mbak Raras mendekat.
“Di bawahnya ada tulisan RARAS.”
Darno membalik ulegan.
Benar.
Ada tulisan RARAS dengan spidol permanen.
Siti menutup muka.
Akhirnya Darno mengaku.
Ia menceritakan semuanya.
Mitos janda kembang.
Pesugihan sambal.
Ritual.
Pak Gondes.
Sampai sesajen kopi.
Mbak Raras terdiam.
Darno siap dimarahi.
Tapi tiba-tiba Mbak Raras tertawa keras.
“Hahahahaha!”
Darno bingung.
“Kenapa?”
Mbak Raras masih tertawa.
“Mas Darno…”
“Iya?”
“Itu bukan ulegan pusaka.”
Darno terdiam.
“Saya beli di pasar.”
“Pasar mana?”
“Pasar pagi.”
“Berapa?”
“Dua puluh lima ribu.”
Dunia Darno runtuh.
“Terus… kok sambal Mbak enak?”
Mbak Raras menjawab santai.
“Ya karena resepnya bener.”
Darno terdiam cukup lama.
“Jadi bukan karena janda?”
“Bukan.”
“Belum punya anak?”
“Juga bukan.”
“Energi?”
“Mas, saya kalau bikin sambal pakai cabai segar, bawang digoreng sebentar, terasinya dibakar, garamnya pas.”
Darno semakin kecil.
Mbak Raras melanjutkan,
“Yang bikin sambal enak itu bahan, resep, dan tangan yang rajin latihan.”
Siti menepuk meja.
“Nah!”
Besok paginya, Darno mengembalikan ulegan.
Ia juga meminta maaf.
Lalu ia melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.
Ia pergi ke pasar sendiri.
Memilih ayam yang bagus.
Membeli cabai segar.
Mengganti minyak goreng.
Membersihkan dapur.
Mengurangi menu.
Mencatat komentar pelanggan.
Setiap pagi ia mencicipi sambalnya.
Kalau terlalu asin, diperbaiki.
Kalau kurang pedas, ditambah.
Kalau ayam terlalu kering, cara memasaknya diubah.
Perlahan, pelanggan kembali.
Bukan karena pesugihan.
Bukan karena janda.
Bukan karena malam Jumat.
Tapi karena makanannya memang menjadi lebih enak.
Tiga bulan kemudian, warung kembali ramai.
Pak Gondes datang.
Ia mencicipi sambal.
Matanya membesar.
“Wah, Met—eh, Darno. Ini sambalnya sekarang punya aura.”
Darno menatapnya.
“Aura apa?”
“Aura rezeki.”
Darno tersenyum.
Lalu mengambil cobek plastik.
“Pak Gondes.”
“Iya?”
“Kalau Bapak masih ngomong soal pesugihan…”
Darno mengangkat ulegan.
“…ulegan ini auranya pindah ke kepala Bapak.”
Pak Gondes langsung membayar makanannya.
Sejak saat itu, Darno memasang tulisan baru di warungnya:
“Sambal enak bukan karena ulegan keramat.
Tapi karena bahan bagus, resep benar, dan orangnya mau belajar.”
Di bawahnya ada tulisan lebih kecil:
“Dilarang mencuri ulegan janda.”
Beberapa pelanggan tertawa membaca tulisan itu.
Darno biasanya ikut tertawa.
Meski dalam hati, setiap melihat ulegan batu, ia masih sedikit malu.
Karena pernah hampir kehilangan usaha hanya gara-gara terlalu sibuk mencari jalan pintas.
Ia akhirnya mengerti:
Kadang hal paling mistis dalam dunia usaha bukan pesugihan.
Melainkan bagaimana seseorang bisa begitu yakin menyalahkan nasib…
padahal ayamnya memang kurang matang.




