Skip to content
Log in
Humor

JAMAN DIGITAL NIHhh...

by Maurice Joanna

Published 9 min read11 views

Start reading

"Mah, ngapain sih bawa uang cash? Kan ada QRIS."

Kalimat itu mungkin terdengar biasa saja.

Bahkan sangat biasa.

Terutama kalau yang mengucapkannya adalah Joan.

Siswi berusia empat belas tahun yang sekolah di salah satu SMA swasta di Surabaya dan, karena sekolahnya jauh dari kota asal, sekarang hidup sebagai anak kos.

Joan lahir tahun 2011.

Generasi yang mungkin tidak terlalu mengenal rasanya menelepon pakai telepon umum. Tidak pernah merasakan membeli pulsa telepon rumah. Tidak tahu kenapa dulu orang membawa peta kalau bepergian.

Bagi Joan, hampir seluruh dunia berada di dalam benda berukuran sekitar enam inci.

HP.

Bangun tidur lihat HP.

Pesan makanan pakai HP.

Cari jalan pakai HP.

Beli tiket pakai HP.

Chat orang tua pakai HP.

Bayar makanan pakai HP.

Bahkan kalau suatu hari ada aplikasi untuk membuka pintu kamar mandi umum pakai QR code, mungkin Joan akan menjadi orang pertama yang menganggapnya normal.

Dompet?

Barang kuno.

Joan punya dompet sebenarnya.

Entah di mana.

Mungkin di dalam lemari kos.

Mungkin di laci meja belajar.

Mungkin juga sudah tertimbun kaus kaki.

Yang jelas, sudah lama Joan tidak merasa perlu membawanya.

Kalau keluar, cukup HP.

Di belakang casing HP terselip satu kartu.

Selesai.

Hidup praktis.

Begitulah prinsip Joan.


Jumat siang itu Joan akan pulang ke kota asalnya.

Perjalanan dari Surabaya hanya sekitar tiga jam dengan kereta ke arah selatan. Sudah beberapa bulan dia tidak pulang, jadi barang bawaannya lumayan banyak.

Satu koper.

Satu tas ransel.

Satu tote bag.

Dan satu kantong berisi entah apa yang menurut Joan semuanya "penting".

Sejak pagi, Mamanya sudah mengirim pesan.

Mama:
Jo, nanti jangan lupa bawa uang tunai.

Joan membalas singkat.

Joan:
Iya Mah.

Lima menit kemudian.

Mama:
Serius lho. Uang cash.

Joan:
Iyaaaaa.

Siang hari, Mama menelepon lagi.

"Joan, uang tunainya sudah dibawa?"

"Sudah, Mah."

"Berapa?"

Joan diam.

Kesalahan.

Seorang ibu memiliki kemampuan khusus mendeteksi kebohongan anak hanya dari jeda dua detik.

"Joanna."

Kalau nama lengkap sudah keluar, situasi mulai berbahaya.

"Hehehe... nanti ambil ATM."

"Ambil sekarang!"

"Iya, Mah."

"Jangan cuma iya!"

"Iyaaaaaa..."

Telepon ditutup.

Joan kembali memasukkan charger ke dalam tas.

Dalam kepalanya, urusan uang tunai sebenarnya tidak penting.

Ngapain juga?

Taksi sudah dipesankan Papa.

Tiket kereta sudah ada di aplikasi.

Makan bisa QRIS.

Minum bisa QRIS.

Minimarket bisa QRIS.

Bahkan tukang gorengan dekat kosnya punya QRIS.

Untuk apa uang tunai?


Jam tiga sore, taksi langganan keluarga tiba.

Sopirnya Pak Darto, orang yang memang sudah beberapa kali mengantar Joan kalau keluarganya datang ke Surabaya.

Begitu melihat barang bawaan Joan, Pak Darto tertawa.

"Lho, Mbak Joan mau pulang kampung apa pindahan?"

Joan nyengir.

"Sedikit kok, Pak."

Pak Darto melihat koper besar, ransel, tote bag, dan satu kantong tambahan.

"Kalau ini sedikit, yang banyak mungkin satu truk."

Joan tertawa.

Barang dimasukkan ke bagasi.

Dalam perjalanan menuju stasiun, Pak Darto bertanya,

"Sudah bawa uang tunai, Mbak?"

Joan menoleh.

Kok semua orang hari ini menanyakan hal yang sama?

"Pak Darto juga?"

"Lho, Mama tadi pesan ke saya. Katanya tolong ingatkan Joan bawa uang tunai."

Joan menggeleng sambil tertawa.

"Mama lebay."

Pak Darto ikut tertawa.

"Orang tua biasanya cerewet karena pernah mengalami hal yang anak muda belum pernah alami."

Kalimat itu masuk telinga kanan.

Lalu keluar lagi lewat telinga kiri.

Joan kembali membuka HP.


Sampai di stasiun, masalah pertama muncul.

Barangnya ternyata jauh lebih merepotkan daripada ketika masih berada di kamar kos.

Koper ditarik.

Ransel di punggung.

Tote bag di bahu.

Kantong tambahan dijinjing.

HP di tangan.

Joan berjalan seperti manusia yang sedang memainkan game dengan tingkat kesulitan expert.

Saat itulah seorang porter mendekatinya.

Usianya mungkin sudah lewat enam puluh tahun. Tubuhnya tidak besar, wajahnya penuh garis usia, tetapi gerakannya cekatan.

"Mbak, saya bantu?"

Joan melihat barang-barangnya.

Melihat porter.

Melihat kereta yang sebentar lagi boarding.

"Eh... boleh, Pak."

Sang porter langsung mengangkat koper dan membawa beberapa barang lainnya.

Problem solved.

Joan tersenyum puas.

Teknologi memang hebat.

Manusia tinggal mencari solusi.

Saat berjalan menuju peron, Mama melakukan video call.

"Sudah sampai?"

"Sudah."

"Koper?"

"Ada."

"Ransel?"

"Ada."

"Barang di taksi sudah dicek?"

"Ada semua, Mah."

Kemudian wajah Mama mendadak berubah.

"Eh, itu siapa yang bawa kopermu?"

"Porter."

"HAH?"

"Iya, Mah. Berat."

Mama diam sekitar dua detik.

Lalu pertanyaan paling mengerikan hari itu keluar.

"Joanna..."

"Apa?"

"KAMU BAWA UANG TUNAI?"

Joan tersenyum santai.

"Kan bisa QRIS, Mah."

Mama memejamkan mata.

Mungkin sedang berdoa meminta kesabaran.

"Joan, Mama dari tadi pagi bilang apa?"

"Tenang aja. Bisa transfer juga."

"Kalau Bapaknya nggak punya rekening?"

Joan tertawa.

"Ya masa sih, Mah..."

Kalimat itu belum selesai.


Porter mengantar Joan sampai ke tempat duduk di dalam kereta.

Koper diletakkan rapi.

Tas dinaikkan.

Semua beres.

"Terima kasih ya, Pak."

"Sama-sama, Mbak."

Porter berdiri menunggu.

Joan membuka HP.

"Bapak ada QRIS?"

Porter mengernyit.

"QR apa, Mbak?"

Joan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"QRIS, Pak. Buat bayar."

"Oh..."

Bapak itu tersenyum kikuk.

"Nggak punya, Mbak."

"Oh... transfer aja, Pak. Rekeningnya bank apa?"

Bapak itu kembali tersenyum.

Kali ini lebih kikuk.

"Saya nggak punya rekening."

DEG.

Joan menatap layar HP.

Lalu menatap porter.

Lalu layar HP lagi.

Di video call, Mamanya masih menyaksikan semuanya.

Ekspresi Mama berubah.

Bukan marah.

Lebih menyerupai ekspresi seorang guru yang baru saja melihat muridnya membuktikan sendiri teori yang sudah dijelaskan sejak pagi.

"Tuh."

Hanya satu kata.

Tapi sakitnya luar biasa.

Joan membuka casing HP.

Siapa tahu ada uang terselip.

Tidak ada.

Membuka ransel.

Tidak ada.

Kantong depan.

Kosong.

Tote bag.

Isinya charger, tisu, botol minum, dan snack yang ternyata tinggal bungkusnya.

Aduhhhh.

Wajah Joan mulai merah.

"Bentar ya, Pak..."

Porter terlihat mulai bingung karena kereta sebentar lagi berangkat.

Seorang ibu yang duduk di sebelah Joan memperhatikan sejak tadi.

Usianya sekitar lima puluhan.

Ibu itu tersenyum.

"Berapa, Pak?"

"Dua puluh ribu, Bu."

Ibu tersebut membuka dompet.

Dompet sungguhan.

Benda yang menurut Joan tadi hampir masuk kategori peninggalan sejarah.

Dikeluarkannya selembar uang dua puluh ribu rupiah.

"Niki, Pak."

"Terima kasih, Bu."

Porter tersenyum lega.

"Terima kasih juga, Mbak."

Joan rasanya ingin masuk ke dalam koper.

"Maaf banget, Pak."

"Nggak apa-apa."

Porter kemudian turun dari kereta.

Mama masih berada di layar.

Diam.

Joan tahu badai akan datang.

"JOANNA!"

"Mah..."

"Mama bilang apa dari tadi pagi?!"

"Iya..."

"Pak Darto juga sudah Mama suruh ingatkan!"

"Iya..."

"Kalau tadi nggak ada Ibu itu bagaimana?"

Joan menunduk.

Ibu di sebelahnya malah tertawa kecil.

Mama kemudian berbicara kepada ibu tersebut melalui video call.

"Bu, maaf sekali. Terima kasih sudah membantu anak saya. Boleh minta nomor rekening atau QRIS-nya? Saya transfer sekarang."

Ibu itu tersenyum.

"Nggak usah, Bu."

"Jangan, Bu. Saya ganti."

"Nggak perlu."

"Tapi—"

Ibu itu menggeleng.

"Saya juga punya anak yang tinggal di luar kota."

Joan mengangkat wajah.

"Kadang kita nggak bisa selalu ada di dekat anak kita. Hari ini saya bantu anak Ibu. Siapa tahu suatu hari nanti, kalau anak saya kesulitan, ada orang lain yang membantu dia."

Mama terdiam.

Joan juga.

Tiba-tiba dua puluh ribu rupiah terasa jauh lebih besar nilainya.

"Biar kebaikannya jalan terus saja, Bu," lanjut ibu itu.

Mama tersenyum dari layar.

"Terima kasih banyak, Bu."

Joan ikut berkata pelan,

"Terima kasih, Tante."

"Nah," kata Mama, "belajar ya."

"Iya, Mah."

"Besok-besok bawa uang tunai."

"Iya."

"Jangan iya doang."

"IYAAAAA..."


Kereta mulai berjalan.

Joan menyimpan HP.

Untuk beberapa menit dia benar-benar tidak menyentuhnya.

Ajaib.

Dia malah memikirkan perkataan ibu di sebelahnya.

Tentang anaknya.

Tentang kebaikan.

Tentang orang asing yang saling membantu.

Tetapi manusia, terutama remaja empat belas tahun, memiliki kemampuan luar biasa untuk cepat pulih dari perenungan hidup.

Empat puluh menit kemudian...

Joan lapar.

Ternyata bungkus snack di tas tadi memang hanya bungkus.

Dia melihat jam.

Masih dua jam lebih.

Perutnya mulai berbunyi.

Joan bangkit dan berjalan menuju gerbong makan.

Ada nasi.

Ada mi.

Ada minuman.

Ada camilan.

Surga.

Joan memesan makanan.

"Satu ini sama teh ya, Mas."

"Baik."

Makanan disiapkan.

Joan membuka HP.

"QRIS-nya mana, Mas?"

Pramusaji melihat Joan.

"Oh, mohon maaf, Kak."

"Kenapa?"

"QRIS kami sedang gangguan."

Joan diam.

"Jadi?"

"Untuk sementara pembayaran tunai."

Joan menatap pramusaji.

Pramusaji menatap Joan.

Joan menatap HP.

HP menatap Joan.

Yah, sebenarnya HP tidak bisa menatap.

Tapi sore itu Joan merasa benda tersebut sedang mengejeknya.

WELCOME BACK TO THE REAL WORLD.

"Cash aja?"

"Iya, Kak."

"Nggak bisa transfer?"

"Belum bisa, Kak."

Joan memejamkan mata.

Di kepalanya terdengar suara Mama.

Bawa uang tunai.

Suara Papa.

Dengerin Mama.

Suara Pak Darto.

Sudah bawa uang tunai, Mbak?

Bahkan seolah-olah suara porter tadi ikut muncul.

QR apa, Mbak?

Aduhhhhhh.

"Nggak jadi deh, Mas."

Joan kembali ke kursinya.

Ibu di sebelahnya melihat Joan.

"Lho, nggak jadi makan?"

Joan tersenyum kecut.

"QRIS-nya error."

Ibu itu menahan tawa.

"Mau Tante pinjami lagi?"

Harga diri Joan masih tersisa sedikit.

"Nggak usah, Tante."

"Yakin?"

"Yakin."

Perut Joan berbunyi.

Kruuukkk...

Ibu itu tertawa.

Joan ikut tertawa.

Kali ini dia benar-benar menyerah.


Dua jam berikutnya menjadi perjalanan yang sangat panjang.

Joan duduk sambil memandangi pemandangan dari jendela.

HP-nya ada di tangan.

Baterai 78 persen.

Internet lancar.

Saldo rekening ada.

E-wallet ada.

QRIS ada.

Mobile banking ada.

Semua lengkap.

Tapi dia tetap tidak bisa membeli nasi.

Ironis sekali.

Untuk pertama kalinya Joan memahami bahwa punya uang dan bisa menggunakan uang ternyata adalah dua hal yang berbeda.

Teknologi membuat hidup mudah.

Tetapi teknologi bukan jaminan bahwa semua keadaan akan selalu mudah.

Ada orang yang tidak punya rekening.

Ada tempat yang sinyalnya buruk.

Ada sistem yang bisa error.

Ada baterai yang bisa habis.

Ada HP yang bisa rusak.

Dan ternyata masih ada kondisi ketika selembar uang dua puluh ribu rupiah jauh lebih berguna daripada smartphone jutaan rupiah.


Kereta akhirnya tiba.

Joan turun.

Di luar stasiun, Mama sudah menunggu.

Begitu melihat anaknya, Mama membuka tangan.

Joan memeluknya.

"Lapar, Mah."

Mama tertawa.

"Kenapa nggak beli makan?"

Joan diam.

Mama langsung tahu.

"QRIS error?"

Joan mengangguk.

Mama tertawa keras.

"Makanya!"

"Mahhhh..."

"Kan sudah Mama bilang!"

"Iya, iya."

Dalam perjalanan pulang, Mama mampir membeli makanan.

Joan makan dengan lahap.

Sambil makan dia membuka HP.

Mama langsung melirik.

"HP lagi."

Joan tertawa.

"Ya masa habis kejadian tadi aku buang HP, Mah?"

Mama ikut tertawa.

"Teknologi itu dipakai, bukan dijadikan satu-satunya pegangan."

Joan berhenti mengunyah sebentar.

Kalimatnya sederhana.

Tapi kali ini masuk.

Tidak keluar lagi lewat telinga satunya.


Minggu sore, sebelum kembali ke Surabaya, Joan sedang bersiap.

Koper.

Ransel.

Charger.

Power bank.

HP.

Mama berdiri di pintu kamar.

"Jo..."

Belum sempat Mama menyelesaikan kalimatnya, Joan mengeluarkan sesuatu dari tas.

Dompet.

Mama terdiam.

Joan membukanya.

Ada beberapa lembar uang tunai.

"Seratus ribu. Pecahan kecil juga ada. Cukup?"

Mama tersenyum puas.

"Wah, kemajuan."

Joan memasukkan dompet ke ransel.

"Jangan lebay."

Mama tertawa.

Joan kemudian mengambil HP.

Tetap benda paling penting dalam hidupnya.

Tetap akan pakai QRIS.

Tetap akan pesan makanan online.

Tetap akan bayar cashless.

Dia tidak berubah menjadi anak zaman dahulu hanya gara-gara satu kejadian.

Dan memang bukan itu pelajarannya.

Joan tetap anak zaman digital.

Hanya saja sekarang dia mengerti satu hal:

Menjadi modern bukan berarti meninggalkan semua cara lama.

Kadang teknologi terbaru dan cara paling sederhana justru harus berjalan bersama.

QRIS boleh ada.

Mobile banking boleh ada.

E-wallet boleh penuh.

HP boleh canggih.

Tapi...

uang lima puluh ribu di dalam dompet tetap tidak ada salahnya.

Karena kita tidak pernah tahu kapan teknologi memutuskan untuk berkata:

"Maaf, sistem sedang mengalami gangguan."

Dan pada saat itulah...

anak kelahiran 2011 akhirnya akan mendengar suara Mamanya terngiang-ngiang di kepala:

"MAKANYA MAMA BILANG APA?"

Dasar...

ANAK JAMAN SEKARANG! 😆

-Selesai-

By Agt 08

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

Maurice Joanna

@maurice_joanna

7 stories published · 1 follower

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Humor

Recently published stories from the same category.