Skip to content
Log in
Humor

Yahhhh..... Nyasar Dah.....

by Maurice Joanna

Published 11 min read11 views

Start reading

“Dit! Charger-mu wis dilebokke durung?”

“Sudah, Bu!”

“Dompet?”

“Ada!”

“Botol minum?”

“Ada!”

“Buku?”

“Ada!”

“Jaket?”

“Ad—”

Dodit berhenti sebentar.

Tangannya yang sejak tadi sibuk menggulir layar HP langsung meraba-raba kasur.

Kanan.

Kiri.

Bawah bantal.

“Lho… jaketku mana, Bu?”

Dari luar kamar terdengar suara ibunya.

“NAHHH! Kuwi! Baru ditakoni lima detik wis ra ngerti barangmu nang endi!”

Dodit nyengir.

Begitulah kehidupan sehari-hari Dodit.

Kalau orang lain kehilangan dompet mungkin akan panik setengah mati. Bagi Dodit, kehilangan dompet sudah hampir seperti agenda tahunan.

Botol air minum ketinggalan di sekolah?

Biasa.

Buku matematika hilang entah ke mana?

Jangan ditanya.

HP lupa ditaruh di mana?

Itu malah paling lucu.

Pernah suatu sore Dodit keliling rumah mencari HP sambil ngomel-ngomel.

“Bu! HP-ku ilang!”

Ibunya keluar dari dapur sambil memandang aneh.

“Sing kok cekel kuwi opo?”

Dodit melihat tangan kanannya.

HP-nya ada di sana.

“Oh iya.”

Ibunya cuma menggeleng.

“Gusti Allah… anakku.”


Dodit baru berumur empat belas tahun.

Usianya bahkan masih terasa terlalu muda untuk menjalani kehidupan anak kos.

Tetapi tahun itu ia berhasil masuk SMA pilihannya di Surabaya.

Sejak SMP, Dodit memang sudah punya keinginan sendiri. Ketika pengumuman penerimaan sekolah keluar dan namanya tercantum sebagai salah satu siswa baru, ia langsung mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa ia ingin berangkat.

Bapaknya sempat meminta Dodit berpikir ulang.

“Semarang ke Surabaya itu bukan sebelah rumah, Dit.”

Ibunya lebih khawatir lagi.

“Kamu itu kaos kaki saja bisa hilang sebelah. Terus mau hidup sendiri?”

Dodit tetap kukuh.

“Aku bisa, Bu.”

“Masak?”

“Bisa beli.”

“Nyuci?”

“Laundry.”

“Bangun pagi?”

“Alarm.”

“Kalau sakit?”

“Telepon Ibu.”

Ibunya memandang suaminya.

Bapaknya memandang istrinya.

Keduanya akhirnya menyerah.

“Yo wis,” kata bapaknya. “Kalau memang kamu memilih sekolah itu, Bapak kasih kesempatan. Tapi kamu harus belajar mandiri.”

Dan begitulah.

Sudah satu setengah bulan Dodit tinggal di sebuah kos tidak terlalu jauh dari sekolahnya di Surabaya.

Sejauh ini ia masih hidup.

Kamar kosnya memang kadang terlihat seperti bekas lokasi bencana alam.

Kaos di kursi.

Buku di lantai.

Seragam tergantung di gagang pintu.

Handuk kadang entah bagaimana bisa berada di atas meja belajar.

Tetapi setidaknya Dodit selalu datang sekolah.

Hampir selalu.

Masalah terbesar Dodit sebenarnya bukan karena ia bodoh atau tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Masalahnya cuma satu.

HP.

Kalau sudah melihat HP, perhatian Dodit seperti pindah ke dimensi lain.

Dia bisa menonton video sambil makan dan lupa kalau sendok masih ada di mulut.

Dia bisa membaca komik sampai tidak sadar sudah lewat tengah malam.

Kalau bermain game, apalagi.

Dunia boleh kiamat, mungkin Dodit baru sadar setelah baterainya tinggal dua persen.


Hari Minggu siang itu Dodit harus kembali ke Surabaya setelah menghabiskan akhir pekan di rumahnya di Semarang.

Kereta berangkat pukul dua siang.

Sejak pagi ibunya sudah mondar-mandir memastikan semua barang masuk tas.

“Celana?”

“Sudah.”

“Seragam?”

“Sudah.”

“Sabun?”

“Sudah.”

“Uang?”

Dodit menepuk dompet.

“Aman.”

“Dompet taruh nang tas!”

“Ah, Bu, di kantong aman.”

Ibunya menunjuk wajahnya.

“Kamu pernah bilang begitu. Terus dompetmu ketinggalan di minimarket.”

Dodit terdiam.

“Oh iya.”

“Makanya masuk tas!”

“Iyaaaa…”

Sekitar pukul satu siang, bapak dan ibunya mengantar Dodit ke stasiun.

Sebelum turun dari mobil, ibunya bahkan masih memberikan pengarahan terakhir seperti komandan mengirim tentaranya ke medan perang.

“Nanti turun Surabaya langsung pesan taksi.”

“Iya.”

“Pastikan alamatnya.”

“Iya.”

“Jangan sambil main HP.”

“Iya.”

“Dengerin orang kalau diajak ngomong.”

“Iya.”

“Kalau driver tanya alamat, lihat petanya.”

“Iyaaaa, Bu…”

Ibunya menyipitkan mata.

“Ini dengar enggak sih?”

Dodit ternyata sedang melihat notifikasi HP.

“Dengar kok.”

“Barusan Ibu ngomong apa?”

Dodit berpikir.

“Pokoknya hati-hati.”

Ibunya menarik napas panjang.

“Ya Tuhan…”


Perjalanan Semarang–Surabaya berjalan lancar.

Dodit duduk dekat jendela.

Tas ranselnya berada di samping kaki.

Awalnya ia menikmati pemandangan dari balik kaca kereta.

Lima menit kemudian HP keluar.

Sepuluh menit kemudian earphone terpasang.

Dua puluh menit kemudian dunia luar lenyap.

Ia menonton video, pindah ke media sosial, membalas pesan teman sekolah, kemudian membuka sebuah game.

Beberapa jam berlalu begitu saja.

Ketika kereta akhirnya memasuki Surabaya, Dodit hampir saja tidak sadar.

“Mas, Surabaya, Mas.”

Seorang penumpang di sebelahnya menegur.

Dodit terkejut.

“Oh! Iya!”

Ia buru-buru memasukkan charger, earphone, botol minum, dan HP ke tas.

Kemudian berdiri.

Dua langkah.

Berhenti.

Balik lagi.

Botol minumnya masih di meja.

“Waduh.”

Penumpang tadi tertawa.

“Hati-hati, Mas.”

“Iya, Pak.”

Dodit turun dari kereta, berjalan keluar stasiun, lalu memesan taksi melalui aplikasi.

Beberapa menit kemudian mobil datang.

“Dodit?” tanya pengemudi.

“Iya, Pak.”

Dodit memasukkan tas ke bagasi lalu duduk di kursi belakang.

Begitu duduk, HP kembali berada di tangan.

Driver melihat alamat tujuan yang masuk di aplikasi.

“Mas, mau ke Jalan Majapahit nomor sembilan ya?”

Dodit sedang membaca pesan grup sekolah.

“Hm.”

“Ini yang daerah…”

Driver berhenti sebentar.

Di aplikasi muncul sebuah titik lokasi.

“Yang ini, Mas?”

Dodit hanya melirik sekilas.

Bahkan mungkin tidak sampai satu detik.

“Betul, Pak. Yuk jalan.”

Mobil pun bergerak.


Lima menit pertama, Dodit sibuk membaca grup kelas.

Sepuluh menit berikutnya ia membalas pesan.

Setelah itu sebuah video muncul.

Klik.

Video kedua.

Klik.

Video ketiga.

Klik.

Sementara itu mobil terus bergerak.

Keluar dari kawasan pusat kota.

Masuk jalan besar.

Semakin jauh.

Dodit tidak memperhatikan sama sekali.

Sesekali driver melihat kaca spion.

Anak di belakang itu tampak tenang.

Berarti alamatnya benar, pikirnya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian lalu lintas mulai padat.

Mobil bergerak perlahan.

Dodit sempat mengangkat kepala.

“Macet ya, Pak?”

“Iya, Mas.”

“Oh.”

Kepalanya kembali menunduk.

HP lagi.

Sepuluh menit kemudian telepon masuk.

IBU.

Dodit mengangkatnya.

“Halo, Bu.”

“Dit, wis tekan?”

“Belum, Bu.”

“Lho? Belum?”

“Macet iki.”

Ibunya terdengar heran.

“Macet lewat mana? Kamu sudah hampir satu jam dari stasiun lho.”

Dodit melihat keluar jendela sekilas.

Entah di mana.

“Ya… macet.”

Ibunya makin bingung.

“Ono demo opo, Dit? Kok macet men Surabaya?”

Dodit hendak menjawab santai.

Tapi tiba-tiba matanya menangkap sebuah papan petunjuk jalan.

SIDOARJO.

Dodit diam.

Ia melihat papan itu sekali lagi.

Kemudian melihat Google Maps di HP.

Titik biru kendaraan mereka berada jauh sekali dari kosnya.

Wajahnya perlahan berubah.

“Pak…”

Driver melihat kaca spion.

“Iya, Mas?”

“Pak…”

“Iya?”

“Ini… kita di mana?”

Driver sedikit bingung.

“Ya menuju Jalan Majapahit, Mas.”

“Majapahit mana?”

Driver menunjuk aplikasi navigasi.

“Ini, Mas. Yang Sidoarjo.”

Dodit membeku.

Ibunya masih berada di telepon.

“Dit?”

Tidak ada jawaban.

“Dodit?”

Dodit menelan ludah.

“Bu…”

“Kenapa?”

“Aku… kayaknya…”

“Apa?”

Dodit memejamkan mata.

“Nyasar.”

Hening dua detik.

“NYASAR PIYE?!”

Suara ibunya sampai terdengar oleh driver.

Dodit menjauhkan HP dari telinga.

Driver mulai ikut panik.

“Lho, Mas, alamatnya bukan ini?”

“Bukan, Pak! Majapahit yang Keputran, Surabaya!”

Driver menoleh cepat.

“Lho tadi saya tunjukkan titiknya!”

Dodit langsung teringat.

Memang benar.

Driver tadi sudah menunjukkan peta.

Dan dirinya sendiri yang mengatakan—

Betul, Pak. Yuk jalan.

Padahal tidak melihat.

Dodit menepuk dahinya.

“Aduhhhh…”

Ibunya masih bertanya dari telepon.

“Kamu sekarang di mana?”

“Sidoarjo.”

“HAH?!”

Dodit semakin mengecil di kursi belakang.

“Bu…”

“Dari stasiun Surabaya kok iso nyampe Sidoarjo?!”

Dodit tidak tahu harus menjawab apa.

Driver akhirnya menepi sebentar dan memeriksa lokasi tujuan sebenarnya.

Setelah dicari ulang, barulah muncul alamat yang benar.

Sang driver ikut menggeleng.

“Wah, Mas. Ini kita sudah jauh sekali.”

Dodit melihat rute.

Perjalanan menuju kos masih panjang.

Ia spontan mengucapkan kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan saat itu.

“Matenggggg…”


Mobil akhirnya berputar arah.

Dodit sekarang tidak main HP lagi.

Untuk pertama kalinya sejak keluar stasiun, HP itu cuma diletakkan di pangkuannya.

Matanya menatap jalan.

Diam.

Sangat diam.

Sesekali ia melihat meteran argo.

Angkanya terus bertambah.

Seratus ribu.

Seratus dua puluh.

Seratus lima puluh.

Dua ratus.

Dodit mulai berkeringat.

Bukan karena panas.

Dompetnya cuma berisi uang yang sudah dijatah untuk satu minggu.

Ketika akhirnya kendaraan masuk kembali ke Surabaya, angka perjalanan sudah mendekati tiga ratus ribu rupiah.

Dodit mulai menghitung di kepala.

Uang makan.

Laundry.

Jajan.

Fotokopi.

Semua langsung menari-nari seperti hantu.

“Pak…”

“Iya, Mas?”

“Total kira-kira berapa?”

Driver melihat aplikasi.

“Hampir tiga ratus ribu, Mas.”

Dodit memejamkan mata.

Padahal biasanya dari stasiun menuju kos hanya sekitar tiga puluh ribuan.

Perjalanan tiga puluh ribu berubah menjadi hampir tiga ratus ribu hanya karena satu kalimat:

“Betul, Pak. Yuk jalan.”

Tanpa melihat peta.

Saat itu Dodit mendapatkan pengetahuan ekonomi yang jauh lebih efektif daripada pelajaran mana pun.

Bahwa tidak fokus ternyata mahal.

Sangat mahal.


Ketika sampai kos, Dodit membayar dengan wajah lesu.

“Maaf ya, Pak.”

Driver tersenyum.

“Enggak apa-apa, Mas. Lain kali alamat dicek dulu.”

“Iya, Pak.”

Driver pergi.

Dodit berdiri di depan gerbang kos sambil membawa ransel.

Ia menatap layar HP.

Kemudian menatap langit.

“Ya Allah…”

Belum selesai mengeluh, HP berbunyi.

Ibu menelepon lagi.

Dodit tahu percakapan berikutnya tidak akan menyenangkan.

“Halo, Bu…”

“Wis tekan?”

“Sudah.”

“Bayar berapa?”

Dodit diam.

“Dodit.”

“Tiga ratus…”

“TIGA RATUS OPO?”

“Ribu.”

Hening.

Dodit menunggu.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Kemudian terdengar suara ibunya.

“Normalnya berapa?”

“Tiga puluh ribuan…”

Hening lagi.

Dodit bahkan mulai berharap telepon terputus.

Tidak.

Ibunya masih di sana.

“Berarti gara-gara kamu ora fokus, uang sembilan sampai sepuluh kali lipat keluar?”

“Iya…”

“Kenapa tadi driver sudah menunjukkan peta kamu bilang betul?”

Dodit tidak berani bohong.

“Aku… lagi lihat HP.”

“Nah.”

Nada ibunya justru menjadi lebih tenang.

Entah kenapa, nada tenang itu malah terasa lebih menakutkan.

“Denger ya, Dit.”

“Iya, Bu.”

“Kamu yang memilih sekolah di Surabaya.”

“Iya.”

“Kamu yang bilang ingin belajar mandiri.”

“Iya.”

“Ibu sama Bapak sudah kasih kepercayaan. Tapi mandiri itu bukan cuma bisa tinggal sendiri, pesan makan sendiri, atau naik kereta sendiri.”

Dodit diam.

“Mandiri itu juga berarti bertanggung jawab sama keputusanmu.”

“Iya…”

“Kalau kamu teledor, kamu yang menanggung akibatnya.”

Dodit mulai bisa menebak arah pembicaraan.

Dan benar saja.

“Minggu ini uang jajanmu dipotong.”

“BU!”

“Termasuk uang makan.”

“Lho, terus aku makan apa?!”

“Di kamar masih ada beras?”

“Ada.”

“Telur?”

“Ada enam.”

“Mi?”

“Ada.”

“Nah.”

Dodit langsung duduk di kursi depan kos.

“Bu… masa seminggu makan telur terus?”

“Ben kapok.”

“Tapi Bu…”

“Belajar ngatur uang.”

“Bu…”

“Belajar fokus.”

“Bu…”

“Dan belajar bahwa setiap kesalahan ada konsekuensinya.”

Dodit mengusap wajah.

“Haduuh…”

Ibunya tertawa kecil di ujung telepon.

“Kamu pikir hidup mandiri itu bebas?”

Dodit tidak menjawab.

“Mandiri bukan berarti bebas dari orang tua. Mandiri berarti kamu mulai belajar jadi orang yang bisa dipercaya.”

Kalimat itu membuat Dodit terdiam.

Kali ini benar-benar diam.

“Paham?”

“Iya, Bu.”

“Besok sekolah jangan terlambat.”

“Iya.”

“Set alarm.”

“Iya.”

“Terus HP-mu jangan ditonton sampai jam dua pagi.”

“Iya.”

Ibunya berhenti sebentar.

“Dan lain kali kalau naik taksi…”

Dodit sudah tahu lanjutannya.

“Lihat alamat dulu.”

“Pinter.”

Telepon ditutup.


Dodit masuk kamar kos.

Ia meletakkan ransel.

Kemudian membuka dompet.

Menghitung sisa uang.

Wajahnya langsung muram.

“Waduh…”

Ia membuka lemari kecil.

Ada enam telur.

Beberapa bungkus mi.

Sekantung beras.

Satu kaleng sarden.

Dodit menatap semuanya.

“Selamat datang di program penghematan nasional.”

Malam itu ia memasak nasi sendiri.

Telur diceplok.

Sambil menunggu matang, tangannya refleks mengambil HP.

Baru hendak membuka video…

Dodit berhenti.

Ia melihat HP.

Melihat penggorengan.

Melihat HP lagi.

Kemudian berkata pada dirinya sendiri,

“Ora. Mengko gosong terus nyalahke HP maneh.”

HP diletakkan di meja.

Untuk pertama kalinya, Dodit memasak telur sambil benar-benar melihat telur.


Hari Senin di sekolah, cerita itu tentu saja tidak bertahan lama sebagai rahasia.

Salah seorang temannya bertanya,

“Dit, kemarin balik Surabaya jam berapa?”

Dodit menjawab singkat.

“Jangan tanya.”

“Kenapa?”

“Nyasar.”

“Nyasar ke mana?”

“Sidoarjo.”

Temannya terdiam.

“Kamu naik kereta turun di Surabaya terus bisa nyasar ke Sidoarjo?”

“Iya.”

“Gimana caranya?”

Dodit menarik napas.

“Bakat.”

Temannya langsung tertawa.

Dalam hitungan menit, cerita itu menyebar.

Ketika jam istirahat, tiga temannya sudah datang.

“Dit!”

“Apa?”

“Katanya ongkos taksimu tiga ratus ribu?”

“Siapa yang ngomong?”

“Rahasia.”

Dodit menghela napas.

Temannya menepuk bahunya.

“Anggap saja study tour.”

“Study tour ndasmu.”

“Lumayan, keliling Surabaya–Sidoarjo.”

“Gratis pengalaman, bayar tiga ratus ribu.”

Mereka tertawa.

Dodit ikut tertawa pada akhirnya.

Mau bagaimana lagi?

Memang lucu.

Walaupun dompetnya menangis.


Seminggu setelah kejadian itu, ada sedikit perubahan pada Dodit.

Tidak drastis.

Dia tetap Dodit.

Botol minum masih hampir ketinggalan dua kali.

Pensil mekaniknya hilang entah di mana.

Dan suatu malam ia masih mencari kacamata selama lima menit padahal kacamatanya berada di kepala.

Tetapi ada satu kebiasaan baru.

Setiap naik kendaraan online, Dodit selalu melihat peta.

Benar-benar melihat.

Nama jalan.

Nomor rumah.

Kecamatan.

Titik lokasi.

Bahkan kadang ia bertanya kepada driver.

“Pak, ini Keputran ya?”

Sampai suatu sore seorang driver tertawa.

“Iya, Mas. Tenang saja.”

Dodit menjawab serius.

“Harus dicek, Pak. Saya punya sejarah kelam.”


Beberapa hari kemudian ibunya menelepon.

“Gimana, Dit? Uangmu cukup?”

Dodit sedang makan nasi dengan telur dadar.

“Cukup.”

“Makan apa?”

“Telur.”

Ibunya tertawa.

“Kapok?”

Dodit mengunyah sebentar.

“Lumayan.”

“Lumayan piye?”

“Kapok sih.”

“Terus?”

“Tapi ternyata telur pakai kecap enak juga.”

Ibunya tertawa makin keras.

Dodit ikut tertawa.

Setelah telepon ditutup, ia memandang kamar kosnya.

Kamar kecil itu masih berantakan sedikit.

Buku bertumpuk.

Tas sekolah bersandar di kursi.

Seragam besok sudah tergantung.

Dan HP-nya berada di meja.

Untuk sesaat Dodit memahami sesuatu.

Ketika dulu ia bersikeras ingin sekolah di Surabaya, ia membayangkan mandiri sebagai sesuatu yang keren.

Tinggal sendiri.

Pergi sendiri.

Tidak disuruh-suruh orang tua.

Bisa menentukan jadwal sendiri.

Ternyata mandiri tidak sesederhana itu.

Mandiri berarti ketika salah naik arah, tidak ada orang tua di sebelah kita yang langsung berkata,

“Eh, salah jalan.”

Mandiri berarti uang tiga puluh ribu bisa berubah menjadi tiga ratus ribu karena keputusan kita sendiri.

Mandiri berarti kalau uang habis, kita belajar mengatur sisa beras dan enam butir telur.

Dan yang paling penting…

Mandiri berarti mulai menyadari bahwa perhatian adalah bagian dari tanggung jawab.

Dodit mengambil HP.

Ada pesan baru dari grup kelas.

Tangannya hampir otomatis membukanya.

Namun saat itu ia sedang menyiapkan buku pelajaran untuk besok.

Dodit tersenyum.

HP itu kemudian ia letakkan kembali.

“Beresin dulu.”

Mungkin ibunya benar.

Belajar mandiri bukan berarti harus langsung sempurna.

Kadang-kadang pelajarannya datang melalui hal sederhana.

Kadang melalui dompet yang hilang.

Kadang melalui botol minum yang tertinggal.

Dan kadang…

Pelajarannya datang melalui perjalanan taksi hampir tiga ratus ribu rupiah menuju alamat yang salah.

Dodit memasukkan buku terakhir ke dalam tas.

Kemudian mengecek jadwal sekolah untuk besok.

Sebelum tidur, ia memasang alarm.

HP diletakkan agak jauh dari tempat tidur.

Lampu dimatikan.

Lima detik kemudian Dodit membuka mata.

“Eh…”

Ia bangkit lagi.

Mengecek tasnya.

Dompet ada.

Botol minum ada.

Buku ada.

Charger ada.

Dodit tersenyum puas.

“Nah. Aman.”

Ia kembali ke tempat tidur.

Beberapa detik kemudian matanya membesar.

“LAH!”

Dodit bangkit lagi.

Handuknya belum diangkat dari jemuran.

Ia menghela napas.

“Yahhhh…”

Kemudian tertawa sendiri.

Tidak apa-apa.

Namanya juga belajar.

Yang penting sekarang kalau nyasar…

setidaknya jangan sampai ke Sidoarjo lagi.

— TAMAT —

Agt08

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

Maurice Joanna

@maurice_joanna

7 stories published · 1 follower

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Humor

Recently published stories from the same category.