
Pukul 05.17 pagi.
Anna masih tidur.
Alarm di HP-nya sebenarnya sudah berbunyi tiga kali.
05.00.
05.05.
05.10.
Semuanya berhasil dimatikan tanpa membuat pemiliknya benar-benar bangun.
Barulah ketika alarm keempat berbunyi, Anna membuka mata.
“HAH?!”
Dia langsung duduk.
Rambutnya berantakan. Selimut jatuh ke lantai. HP hampir ikut terlempar dari kasur.
“Jam lima lewat?!”
Anna adalah siswi kelas X-D di sebuah SMA swasta di Surabaya. Baru beberapa bulan ini dia tinggal sendirian di sebuah kamar kost tidak terlalu jauh dari sekolah.
Bagi Anna, ini adalah pengalaman pertamanya hidup tanpa Mama dan Papa.
Kalau dulu baju kotor tinggal dilempar ke keranjang, beberapa hari kemudian secara ajaib sudah kembali ke lemari dalam keadaan bersih dan wangi.
Sekarang keajaiban itu sudah tidak ada.
Baju kotor kalau dilempar ke keranjang...
ya tetap di keranjang.
Tidak ada yang mencuci.
Tidak ada yang menyetrika.
Tidak ada pula suara Mama dari luar kamar,
“Annaaa! Bajumu jangan ditaruh sembarangan!”
Awalnya tinggal sendiri terdengar menyenangkan.
Bebas.
Mau makan jam berapa terserah.
Mau tidur jam berapa terserah.
Tidak ada yang cerewet.
Sampai akhirnya Anna menyadari satu fakta penting:
bebas ternyata berarti semuanya harus dikerjakan sendiri.
Makan harus beli sendiri.
Air minum habis harus isi sendiri.
Kamar berantakan harus bereskan sendiri.
Dan yang paling menyebalkan...
baju harus dicuci sendiri.
Anna sebenarnya bukan anak yang manja.
Dia hanya...
cuek.
Sangat cuek.
Apalagi pembawaannya memang agak tomboy.
Rambut pendek, jalan cepat, tas kadang cuma disampirkan di satu bahu, dan kalau sedang tidak sekolah, kaos oblong, celana pendek, serta sandal jepit adalah pakaian kebesarannya.
Pak Bimo, wali kelas X-D, sudah hafal kelakuannya.
Pernah suatu siang Pak Bimo masuk kelas dan menemukan Anna sedang makan roti di belakang.
“Anna.”
Anna menoleh sambil masih mengunyah.
“Iya, Pak?”
“Itu mulutnya sedang apa?”
“Makan, Pak.”
Pak Bimo terdiam.
Tentu saja beliau tahu Anna sedang makan.
“Nduk... Bapak tahu kamu makan. Maksud Bapak, kenapa makan di kelas?”
Anna berpikir sebentar.
“Lapar, Pak.”
Teman-temannya langsung tertawa.
Pak Bimo menatap langit-langit kelas seolah sedang mencari kesabaran yang jatuh entah ke mana.
Pernah juga ketika pelajaran kosong, Anna tidur dengan kepala di atas meja.
“Nduk...”
Tidak bergerak.
“Anna...”
Tetap tidak bergerak.
Pak Bimo akhirnya mengetuk mejanya.
Anna bangun dengan wajah polos.
“Sudah pulang, Pak?”
Seisi kelas kembali meledak tertawa.
Pak Bimo hanya geleng-geleng kepala.
“Duhhh, Nduk... kamu ini anak perempuan, kok kelakuannya begini, toh?”
Anna cuma nyengir.
Tetapi Jumat kali ini seharusnya berbeda.
Hari itu kelas X-D akan melakukan foto kelas.
Bukan sekadar foto biasa.
Sudah sejak beberapa hari sebelumnya anak-anak merencanakan konsepnya. Ada sesi memakai jersey kebanggaan sekolah, kemudian sesi lain memakai seragam khas sekolah yang biasanya dikenakan setiap hari Kamis.
Malam sebelumnya Mama sudah melakukan video call.
Seperti biasa, Mama melakukan pemeriksaan jarak jauh.
“Jersey sudah?”
“Sudah.”
“Sepatu?”
“Sudah.”
“Kaos kaki?”
“Ada.”
“Seragam untuk foto?”
Anna yang saat itu sedang rebahan sambil melihat HP menjawab santai.
“Adaaa, Ma.”
“Sudah disiapkan?”
“Aman.”
“Jangan cuma bilang aman.”
“Aman banget.”
“Anna.”
“Iyaaa, Mamaaa...”
Mama menatap anaknya dari layar.
“Kamu besok foto kelas. Jangan sampai ada yang ketinggalan.”
Anna mengangkat jempol.
“Siap, Komandan.”
Mama hanya menggeleng.
“Sudah sana tidur. Jangan malam-malam.”
“Siap.”
Video call berakhir.
Anna kembali melihat HP.
Dalam pikirannya semuanya memang sudah siap.
Jersey sudah masuk tas.
Sepatu siap.
Properti foto siap.
Bahkan sisir yang biasanya tidak terlalu dianggap penting sudah masuk tas.
Perfect.
Setidaknya menurut Anna.
Pagi itu, setelah berhasil bangun pukul 05.17, Anna langsung mandi.
Lima belas menit kemudian dia keluar sambil mengeringkan rambut.
Tas.
Ada.
Jersey.
Ada.
Sepatu.
Ada.
Seragam foto...
Anna membuka lemari.
Tangannya berhenti.
Dia melihat ke kanan.
Ke kiri.
Membuka gantungan.
Tidak ada.
“Hah?”
Dia membuka lemari sekali lagi.
Seolah-olah seragam itu mungkin muncul kalau pintunya ditutup lalu dibuka kembali.
Tetap tidak ada.
Anna mulai berpikir.
Kemarin...
Kamis.
Kemarin dia memakai seragam itu.
Pulang sekolah...
masuk kost...
ganti baju...
kemudian...
Mata Anna perlahan bergerak menuju sudut kamar.
Di sana ada sebuah keranjang cucian.
Kosong.
Jantungnya mulai tidak enak.
Lalu dia melihat ember di dekat kamar mandi.
Dan tiba-tiba semuanya kembali ke ingatan.
Kemarin sore dia mencuci seragam itu.
Anna berlari ke tempat jemuran.
Di sana...
tergantung dengan damai...
seragam kebanggaannya.
Masih basah.
Anna memegangnya.
Air bahkan masih menetes sedikit dari ujung kain.
“........”
Lima detik hening.
Kemudian terdengar suara dari kamar kost.
“WADUHHHHH... DICUCIIIIII!!!”
Pukul 05.46.
HP Mama berbunyi.
Video call.
Ketika diangkat, wajah Anna memenuhi layar.
“MAAAA!”
Mama yang masih berada di rumah langsung kaget.
“Ada apa?!”
“Bajuku!”
“Kenapa bajumu?”
“DICUCI!”
Mama terdiam.
“Ya bagus kalau dicuci.”
“BUKAN ITU! Seragam buat foto hari ini dicuci!”
Mama mulai memahami situasinya.
“Lho?! Bukannya Mama semalam sudah tanya?”
“Aku lupa kalau kemarin aku cuci!”
“Terus sekarang?”
“Basah.”
“Disetrika?”
“Ma, ini bukan lembap. Ini BASAH.”
Mama menarik napas panjang.
“Anna... Anna...”
“Aku pakai apa sekarang?”
“Ya pakai seragam lain dulu.”
“Nanti foto gimana?”
“Itu dipikir nanti. Sekarang kamu jangan sampai terlambat sekolah.”
Anna melihat jam.
Benar juga.
Tidak ada waktu lagi.
Dia mengambil seragam lain yang tersedia, memasukkan semua barang ke tas, memakai sepatu, lalu berangkat.
Sesampainya di sekolah, masalah berikutnya muncul.
Di depan gerbang berdiri petugas tata tertib.
Anna langsung berhenti beberapa meter sebelum gerbang.
“Waduh.”
Teman-temannya berjalan melewatinya memakai seragam yang benar.
Sementara Anna...
berbeda sendiri.
Sekolahnya menerapkan sistem poin pelanggaran. Salah seragam tentu berpotensi mendapat poin.
Anna melihat petugas Tatib.
Kemudian melihat jalur masuk.
Lalu melihat beberapa siswa yang sedang bergerombol.
Otaknya bekerja cepat.
Kalau masuk bareng mereka mungkin nggak kelihatan.
Anna memasang wajah santai.
Tas disampirkan.
Jalan biasa.
Tidak usah panik.
Sedikit ke kanan...
berlindung di belakang dua anak yang lebih tinggi...
jalan...
jalan...
dan...
LOLOS.
Anna hampir tersenyum bangga.
Easy.
Sayangnya, baru beberapa langkah memasuki area sekolah terdengar suara yang sangat dikenalnya.
“Anna.”
Langkahnya berhenti.
Perlahan Anna menoleh.
Pak Bimo berdiri beberapa meter di belakangnya.
Tatapan Pak Bimo turun dari kepala Anna...
ke seragamnya...
kemudian kembali ke wajah Anna.
Hening.
Pak Bimo sampai seperti kehilangan kata-kata.
“Nduk...”
Anna tersenyum kecil.
“Pagi, Pak.”
“Kamu... kenapa pakai baju itu?”
“Panjang ceritanya, Pak.”
“Bapak punya waktu.”
Anna menggaruk kepala.
“Seragamnya dicuci, Pak.”
“Dicuci?”
“Iya.”
“Seragam yang buat foto hari ini?”
“Iya.”
“Dicuci kemarin?”
“Iya.”
“Dan kamu baru ingat pagi ini?”
Anna mengangguk pelan.
“Iya.”
Pak Bimo menatap Anna cukup lama.
“Hebat.”
“Terima kasih, Pak.”
“ITU BUKAN PUJIAN!”
Beberapa temannya yang melihat mulai tertawa.
“ANNA!”
“Woi, gangster datang!”
“Yang lain seragam semua, dia beda sendiri!”
Anna malah memasukkan tangan ke saku dan berjalan santai.
“Fashion, Bos.”
“Fashion dari mana?!”
“Limited edition.”
“Limited karena cuma kamu yang salah seragam!”
Semua tertawa.
Anna ikut tertawa.
Memang begitulah dirinya.
Kalau masalah sudah terjadi, panik berlebihan juga tidak membuat seragam di kost mendadak kering.
Tetapi Pak Bimo kemudian memanggilnya.
“Nduk, sini sebentar.”
Anna mendekat.
“Kamu tadi lewat Tatib diam-diam, kan?”
Anna terdiam.
Waduh.
Ketahuan.
“Enggak, Pak.”
Pak Bimo hanya menatap.
Anna bertahan sekitar tiga detik.
“...iya, Pak.”
“Nah.”
Pak Bimo tidak marah.
Beliau hanya bicara pelan.
“Bapak bisa paham kamu lupa. Semua orang bisa lupa. Tapi jangan menyelesaikan satu kesalahan dengan kesalahan berikutnya.”
Anna mulai diam.
“Kalau memang salah seragam, bilang jujur ke Tatib. Jelaskan. Kalau memang dapat poin, ya diterima. Jangan malah sembunyi-sembunyi.”
Anna melihat sepatunya.
“Iya, Pak.”
“Sekarang bagaimana fotonya?”
Anna mengangkat bahu.
“Nggak tahu.”
Pak Bimo berpikir sebentar.
“Cari teman dari kelas lain yang ukuran badannya kurang lebih sama. Pinjam seragamnya waktu sesi foto.”
Anna langsung mengangkat kepala.
“Oh iya!”
Pak Bimo menggeleng.
“Begitu saja kok nggak kepikiran.”
“Hehehe...”
“Jangan hehehe.”
Operasi pencarian seragam pun dimulai.
Untung Anna punya cukup banyak teman.
Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya ada seorang teman dari kelas lain yang bersedia meminjamkan seragamnya saat sesi foto.
Ukurannya memang sedikit kebesaran.
Tapi masih jauh lebih baik daripada Anna berdiri sendirian dengan seragam berbeda.
Ketika waktunya foto tiba, Anna buru-buru berganti pakaian.
Temannya melihat dari atas sampai bawah.
“Lumayan.”
“Apanya?”
“Sekarang kelihatan seperti murid sekolah ini lagi.”
“Memangnya tadi?”
“Kayak gangster nyasar ke foto angkatan.”
Anna tertawa.
“Gangster apaan?”
“Gayamu itu lho! Sudah salah baju, jalan paling santai sendiri.”
Anna memasang pose sok keren.
“Gangster tidak panik.”
“Gangster seragamnya nggak dicuci sehari sebelum foto!”
“DIAM.”
Mereka tertawa.
Akhirnya sesi foto berjalan lancar.
Ketika kamera diarahkan, semua anak X-D berdiri rapi dengan seragam yang sama.
Tidak ada yang tahu bahwa salah satu seragam di dalam foto itu sebenarnya hasil pinjaman darurat lima belas menit sebelumnya.
“Semua lihat kamera!”
Anna tersenyum.
Klik.
Selesai.
Untuk sesi jersey, tentu saja tidak ada masalah.
Jersey Anna sudah disiapkan sejak malam.
Setidaknya...
satu hal berhasil dia lakukan dengan benar.
Sore harinya Anna kembali ke kost.
Seragam yang pagi tadi basah kini sudah kering sempurna tertiup angin.
Anna berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
“Kamu sekarang kering?”
Tentu saja seragam itu tidak menjawab.
“Pagi tadi kenapa nggak kering?”
Tetap diam.
Anna mengambil seragam itu lalu masuk kamar.
Tak lama kemudian HP-nya berbunyi.
Mama Video Calling...
Anna mengangkat.
“Halo, Ma.”
“Gimana foto kelasnya?”
“Berhasil.”
“Bajunya?”
“Pinjam teman.”
Mama mengangguk.
“Terus tadi masuk sekolah pakai apa?”
Anna mulai curiga.
“Seragam lain.”
“Kena Tatib?”
Anna terdiam.
Mama langsung tahu.
“Kamu ngapain?”
“Enggak ngapa-ngapain...”
“Anna.”
“Cuma... lewat diam-diam.”
Mama menutup mata.
“Ya ampun, Nduk...”
“Tapi Pak Bimo sudah ngomong. Aku akhirnya jujur kok.”
Mama menggeleng-geleng kepala.
Anehnya, Mama tidak marah.
“Anna, kamu sekarang tinggal sendiri.”
“Iya.”
“Mama nggak mungkin setiap hari ada di situ untuk mengecek bajumu, makananmu, bukumu, atau barang-barangmu.”
Anna mendengarkan.
“Kejadian hari ini memang kelihatannya kecil. Cuma lupa satu baju.”
“Iya.”
“Tapi gara-gara satu baju, kamu panik. Pak Bimo ikut mikir. Kamu harus pinjam teman. Temanmu harus repot melepas seragam. Bahkan kamu hampir dapat masalah dengan Tatib.”
Anna terdiam.
Benar juga.
Hal yang awalnya terlihat sepele ternyata merepotkan banyak orang.
Mama melanjutkan,
“Belajar mandiri itu bukan cuma berani tinggal sendirian.”
Anna menatap layar.
“Terus?”
“Belajar memperhatikan hal-hal kecil. Karena kadang hal kecil yang kita abaikan justru bikin orang lain ikut repot.”
Anna mengangguk.
“Iya, Ma.”
“Besok-besok?”
“Lebih teliti.”
“Bener?”
“Bener.”
Mama tersenyum.
“Bagus.”
Anna ikut tersenyum.
Kemudian Mama bertanya,
“Sudah makan?”
Anna mendadak diam.
Matanya bergerak menuju meja.
Kosong.
Ke arah kantong makanan.
Kosong.
Ke kulkas kecil.
Hampir kosong.
Mama langsung curiga.
“Anna...”
“Hehehe...”
“Jangan bilang kamu lupa beli makan.”
Anna mengambil dompet.
“Aku keluar dulu ya, Ma!”
“ANNA!”
Video call dimatikan.
Anna buru-buru memakai sandal jepitnya dan keluar kamar.
Beberapa detik kemudian HP-nya berbunyi lagi.
Mama Calling...
Anna melihat layar.
Lalu nyengir sendiri.
Ternyata benar.
Hidup sendirian itu menyenangkan.
Bebas.
Tidak ada yang mengingatkan ini-itu setiap lima menit.
Masalahnya...
sekarang Anna mulai mengerti kenapa dulu Mama selalu mengingatkan hal-hal kecil.
Karena menjadi mandiri ternyata bukan sekadar bisa melakukan semuanya sendiri.
Tetapi juga belajar supaya kecerobohan kita tidak membuat orang lain harus membereskan akibatnya.
Anna memasukkan HP ke saku dan berjalan mencari makan.
Baru beberapa langkah, dia berhenti.
Melihat sandal jepitnya.
Kemudian bergumam,
“Besok jangan sampai ini ikut dicuci juga dah...”
-Selesai-
18 September 2026
By
AGT


