Skip to content
Log in
Humor

Duhhh Putus .......

Apanya yang Putus ?

by MJ

Published 9 min read1 view

Duhhh.... Putus dah...

Siang itu seperti biasanya, sepulang sekolah Maurice segera berganti pakaian dan bersiap untuk kembali pergi ke sekolah.

Bukan karena ada pelajaran tambahan. Bukan pula karena dihukum guru.

Hari itu jadwal ekstrakurikuler debat.

Maurice baru duduk di kelas X. Usianya belum genap enam belas tahun. Tetapi kalau soal penampilan di luar jam sekolah, jangan berharap melihat Maurice seperti gambaran anak SMA di drama-drama yang sering ditonton mamanya.

Rok cantik? Jarang.

Blus? Apalagi.

Sneakers bagus yang dibelikan papanya beberapa bulan lalu?

Masih bersih di rak sepatu.

Maurice punya seragam kebangsaan sendiri: celana pendek selutut, kaos oblong, dan sandal jepit.

Selesai mandi, ia membuka lemari.

Kaos hitam.

Celana pendek abu-abu.

Selesai.

Kemudian kakinya langsung mencari sepasang sandal jepit hitam yang sudah menjadi teman setianya entah sejak kapan.

Papanya yang sedang duduk di ruang makan hanya bisa memandang.

"Maurice..."

"Hmmm?"

"Kamu mau ke mana?"

"Sekolah."

Papanya memperhatikan dari atas sampai bawah.

"Kamu yakin?"

Maurice ikut melihat dirinya sendiri.

"Iya."

"Papa kira mau beli es teh depan kompleks."

Maurice mendengus.

"Kan cuma ekskul, Pa."

Mamanya yang mendengar percakapan itu keluar dari dapur.

"Maurice! Sepatu kamu itu banyak. Mama sampai bingung belinya buat siapa. Kenapa ke mana-mana pakai sandal jepit?"

Maurice memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya.

"Nyaman, Ma."

"Nyaman, nyaman. Nanti putus di jalan baru tahu rasa."

"Ya beli lagi."

"Kalau putusnya di tengah jalan?"

"Ya nyeker."

Jawabannya ringan sekali.

Papa menggeleng.

"Anak perempuan Papa ini benar-benar..."

Maurice menyambar botol minumnya.

"Udah ya. Berangkat."

"Maurice!" Mama masih mengejar sampai depan pintu. "Minimal pakai sepatu kalau pergi ke sekolah!"

"Ini bukan jam sekolah, Ma."

"Ya tetap sekolah!"

Maurice sudah berjalan keluar.

"Byeeee!"

Mama berdiri di pintu sambil berkacak pinggang.

"Untung kalau ke gereja hari Minggu dia masih sadar diri pakai sepatu."

Papa tertawa.

"Masih ada harapan berarti."

---

Maurice memang begitu.

Sejak kecil ia tidak terlalu peduli dengan penampilan. Baginya pakaian punya fungsi sederhana: menutup badan dan membuatnya nyaman bergerak.

Selesai.

Ia tidak mengerti kenapa orang harus memakai sesuatu yang membuat kaki panas kalau ada sandal jepit yang jauh lebih praktis.

Masukkan kaki.

Jepit.

Berangkat.

Tidak ada tali.

Tidak ada kaus kaki.

Tidak perlu membungkuk.

Efisien.

Bahkan teman-temannya sudah hafal.

Begitu Maurice tiba di sekolah sore itu, salah seorang temannya langsung menunjuk kakinya.

"Astaga, Maurice. Sandal itu lagi?"

Maurice melihat ke bawah.

"Kenapa?"

"Lu punya sepatu nggak sih?"

"Punya."

"Terus?"

"Di rumah."

Temannya tertawa.

"Lu tuh kayak CEO kaya raya yang lagi menyamar di Dracin. Aslinya punya perusahaan lima belas, tapi tiap hari pakai kaos oblong sama sandal jepit."

Maurice tertawa.

"Bagus dong. Berarti aura orang kaya gue keluar."

"Bukan aura orang kaya. Aura nggak niat."

"Yang penting otaknya niat."

"Nah, kalau itu gue nggak bisa bantah."

Maurice memang punya kemampuan bicara yang bagus. Itulah alasan ia memilih ekstrakurikuler debat. Kalau sudah berargumentasi, wajah cueknya berubah. Ia bisa menyusun alasan dengan cepat, menyerang kelemahan argumen lawan, lalu mempertahankan pendapatnya seolah sedang berbicara di depan parlemen.

Sore itu latihan berlangsung hampir dua jam.

Topik debat mereka cukup serius: Apakah penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan lebih banyak memberikan manfaat atau justru menciptakan ketergantungan?

Maurice kebagian posisi pro.

Ia bicara lancar.

Ia membangun argumen.

Ia menyampaikan data.

Bahkan pelatih debat beberapa kali mengangguk puas.

Sampai akhirnya latihan selesai.

"Bagus, Maurice," kata pelatihnya. "Tapi minggu depan coba lebih terstruktur. Jangan terlalu cepat kalau bicara."

"Siap, Kak."

Seorang temannya berbisik dari belakang.

"Debatnya kelas internasional, outfit-nya kelas beli galon."

Maurice menoleh.

"Yang penting menang."

---

Menjelang petang, beberapa anak belum langsung pulang.

"Eh, ke pasar malam yuk!"

Maurice yang tadinya sedang memainkan ponselnya mengangkat kepala.

"Di mana?"

"Nggak jauh. Katanya ada pasar malam. Banyak makanan."

Kata terakhir itu yang menarik perhatian Maurice.

"Makanan?"

"Iya."

"Gas."

Tidak sampai setengah jam kemudian mereka sudah tiba.

Lampu warna-warni memenuhi lapangan yang disulap menjadi pasar malam. Musik terdengar dari berbagai arah. Ada bianglala, komidi putar, permainan lempar gelang, penjual mainan, jajanan, minuman, sampai pedagang pakaian.

Maurice berjalan santai.

Kaos oblong.

Celana pendek.

Sandal jepit.

Sangat santai.

"Enak kan pakai sandal begini?" katanya sambil berjalan.

Temannya melirik.

"Belum tentu pulangnya masih lengkap."

"Apaan sih."

Mereka tertawa.

Semakin malam, pengunjung semakin ramai.

Di depan salah satu stan makanan terjadi antrean panjang. Orang-orang berdesakan karena jalur antara pedagang cukup sempit.

Maurice masih santai.

Sampai kemudian—

PLAK!

Kaki kanannya terasa tertahan.

Tubuh Maurice sudah bergerak maju, tetapi sandal kanannya tidak ikut.

"Eh!"

Ia refleks menarik kaki.

PLOK!

Sesuatu terlepas.

Maurice berhenti.

Orang di belakangnya hampir menabrak.

"Kenapa, Mo?"

Maurice menatap ke bawah.

Kaki kanannya telanjang.

Sandal jepitnya tertinggal sekitar setengah meter di belakang.

Tali bagian depannya tercabut dari lubangnya.

Maurice terdiam.

Temannya ikut melihat.

Dua detik sunyi.

Lalu—

"HAHAHAHAHAHA!"

"WOI! SANDAL LU PUTUS!"

Maurice mengambil sandalnya.

"Anjir..."

Temannya sudah tidak kuat menahan tawa.

"CEO PENYAMARANNYA TERBONGKAR!"

"Diam lu!"

Maurice mencoba memasukkan kembali karet sandal ke lubangnya.

Bisa.

Ia berdiri.

Satu langkah.

PLOK.

Lepas lagi.

"Duhhh.... Putus dah....."

Teman-temannya semakin tertawa.

Maurice akhirnya ikut tertawa meski kesal.

"Tunggu. Gue bisa benerin."

Ia memasukkan lagi ujung karetnya.

"Gimana?"

"Kayaknya bisa."

Maurice mencoba berjalan perlahan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Berhasil.

"Nah!"

Belum sempat ia bangga, arus orang dari belakang kembali bergerak.

Seseorang tidak sengaja menginjak bagian belakang sandal Maurice.

Maurice melangkah ke depan.

Sandalnya tertahan.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Eh! Eh! Eh!"

Kaki kirinya mencoba menahan badan.

Pada saat yang hampir bersamaan, seseorang di sampingnya juga tidak sengaja menginjak bagian samping kakinya.

"Aduh!"

Maurice tersungkur.

"Maurice!"

Teman-temannya langsung berhenti tertawa.

Maurice duduk sambil memegang kaki.

"Sakit..."

"Yang mana?"

"Ini."

Pergelangan dan bagian atas kakinya mulai terasa nyeri.

Orang yang tadi tidak sengaja menginjaknya langsung meminta maaf.

"Maaf, Dik. Saya nggak lihat."

"Nggak apa-apa, Pak."

Maurice mencoba berdiri.

Begitu kaki menyentuh tanah—

"Aduh!"

Ia langsung duduk lagi.

Teman-temannya mulai panik.

"Kayaknya bengkak deh."

"Serius?"

"Iya."

Maurice melihat kakinya.

Benar.

Bagian atas kaki dan sekitar pergelangan mulai membengkak.

"Mo, kita ke rumah sakit aja."

"Nggak usah. Nanti juga sembuh."

"Lu berdiri aja nggak bisa."

"Ntar dikompres."

"Jangan sok dokter."

Akhirnya dua temannya membantu Maurice keluar dari keramaian.

Sandal jepit yang menjadi sumber kekacauan itu dibawa salah seorang temannya dengan cara dijinjing.

"Ini barang bukti," katanya.

Maurice melotot.

"Buang aja sekalian!"

"Nggak boleh. Ini harus dipajang di museum."

---

Tidak lama kemudian Maurice sudah berada di IGD sebuah rumah sakit.

Ia duduk di kursi roda dengan wajah sangat tidak bahagia.

Bukan karena sakitnya saja.

Tetapi karena ia tahu satu hal yang jauh lebih mengerikan.

Mama dan Papa akan tahu.

"Jangan telepon Mama dulu," katanya.

Temannya menatap.

"Terus siapa yang bayar?"

Maurice terdiam.

"Ya... telepon deh."

Telepon dilakukan.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian kedua orang tuanya tiba.

Mama berjalan cepat masuk ke IGD.

"Maurice!"

"Aku nggak apa-apa, Ma."

Mama melihat kaki anaknya.

Kemudian melihat sandal jepit putus yang masih dibawa temannya.

Mama diam.

Maurice tahu tatapan itu.

Tatapan seorang ibu yang ingin mengatakan seribu kalimat tetapi sedang menahan diri karena anaknya berada di IGD.

Papa menyusul dari belakang.

"Kenapa?"

Teman Maurice menjawab hati-hati.

"Tadi sandalnya keinjak orang, Om. Terus putus. Maurice jatuh dan kakinya juga sempat keinjak."

Papa memandang Maurice.

Lalu memandang sandal.

Lalu memandang Mama.

Papa menutup mulut, berusaha keras agar tidak tertawa.

"Papa!" Maurice protes.

"Sorry... sorry."

Tidak lama kemudian dokter datang memeriksa.

"Yang sakit sebelah mana?"

"Di sini, Dok."

Dokter memeriksa perlahan.

"Kalau ditekan sakit?"

"Aduh! Iya."

"Kalau digerakkan?"

"Bisa, tapi sakit."

Dokter bertanya lagi.

"Jatuhnya bagaimana?"

Maurice diam.

Temannya yang menjawab.

"Sandal jepitnya putus, Dok."

Dokter berhenti sejenak.

"Sandal jepit?"

"Iya. Keinjak orang di pasar malam."

Dokter melihat Maurice.

"Terus kakinya?"

"Ikut keinjak orang."

Dokter mencoba mempertahankan ekspresi profesionalnya.

Gagal.

Ia tersenyum.

Kemudian tertawa kecil.

"Ini baru pertama kali hari ini saya dapat pasien IGD gara-gara sandal jepit putus."

Maurice menutup wajah.

"Dok..."

Semua orang tertawa.

Bahkan Mama akhirnya ikut tertawa.

Setelah diperiksa dan dilakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada cedera serius, hasilnya cukup melegakan.

Tidak ada tulang yang patah.

Tidak ada cedera berat.

Hanya memar dan pembengkakan jaringan lunak akibat benturan dan terinjak.

Dokter memberi penjelasan mengenai perawatan dan meminta Maurice mengurangi aktivitas yang membebani kaki untuk sementara waktu.

Sebelum pergi, dokter sempat melihat sandal jepit yang diletakkan di bawah kursi.

"Besok ganti sandal, ya."

Maurice mengangguk.

"Siap, Dok."

Dokter tersenyum.

"Atau lebih bagus lagi, kalau pergi ke tempat ramai pakai alas kaki yang lebih melindungi."

"Iya, Dok."

Papa langsung menyahut.

"Nah! Tolong ditulis di resep sekalian, Dok."

"Papa!"

Dokternya tertawa lagi.

---

Dalam perjalanan pulang, Maurice duduk di kursi belakang mobil.

Kakinya masih terasa nyeri.

Sandal jepitnya tergeletak di lantai mobil.

Putus.

Tidak berdaya.

Mama duduk di sebelahnya.

Anehnya, Mama tidak memarahi.

Justru itu yang membuat Maurice merasa sedikit bersalah.

"Ma..."

"Hmmm?"

"Besok sandal ini dibuang aja."

Mama menoleh.

"Kenapa? Katanya nyaman."

Maurice mendengus.

"Nyaman sih nyaman."

"Terus?"

Maurice melihat kakinya yang bengkak.

"Tapi ternyata ada tempat yang memang nggak cocok pakai sandal jepit."

Papa yang menyetir tersenyum kecil.

"Contohnya?"

"Ya tempat ramai kayak pasar malam."

"Terus?"

"Sekolah juga mungkin."

Mama tersenyum.

"Terus?"

Maurice tahu mamanya sengaja memancing.

"Iya, iya. Kalau pergi yang proper ya pakai alas kaki yang proper."

"Nah."

"Tapi kalau ke warung depan rumah tetap sandal jepit."

Papa tertawa.

"Silakan. Papa nggak pernah melarang."

Maurice bersandar.

Baru sekarang ia memahami bahwa nasihat orang tuanya selama ini bukan semata-mata soal penampilan.

Bukan karena sandal jepit itu jelek.

Bukan pula karena seseorang harus selalu berpakaian mahal.

Sandal jepit memang nyaman. Murah, ringan, sederhana, dan praktis. Untuk di rumah, halaman, atau kegiatan santai tertentu, tidak ada yang salah dengannya.

Tetapi setiap benda dibuat dengan fungsi dan keterbatasannya masing-masing.

Begitu pula pakaian dan alas kaki.

Ada tempat yang menuntut kepantasan.

Ada situasi yang membutuhkan keamanan.

Di tengah keramaian, sandal jepit mudah terinjak, mudah terlepas, dan hampir tidak memberikan perlindungan pada kaki.

Hari itu Maurice mendapatkan pelajaran tersebut dengan cara yang cukup menyakitkan.

Secara harfiah.

---

Seminggu kemudian, Maurice kembali datang untuk latihan debat.

Teman-temannya sedang duduk di depan ruang kegiatan ketika Maurice berjalan mendekat.

Salah seorang langsung berdiri.

"WOI!"

Semua menoleh.

Maurice datang dengan kaos oblong seperti biasa.

Celana pendek selutut seperti biasa.

Tetapi ada satu perubahan besar.

Di kakinya terpasang sepasang sneakers.

Teman-temannya langsung bertepuk tangan.

"SELAMAT DATANG KEMBALI KE PERADABAN!"

Maurice memutar mata.

"Lebay."

"Mana sandal jepit legendaris?"

"Di rumah."

"Udah dibuang?"

"Nggak."

"Lho?"

Maurice duduk.

"Masih gue pakai."

Temannya terbelalak.

"HAH?"

"Ya buat di rumah, bego."

Mereka tertawa.

Salah seorang menepuk bahunya.

"Berarti sekarang udah tobat?"

Maurice berpikir sebentar.

"Nggak juga."

"Lah?"

Maurice menunjuk sepatunya.

"Gue cuma akhirnya mengakui satu hal."

"Apa?"

Maurice tersenyum.

"Ternyata Mama gue kadang-kadang bener juga."

Teman-temannya tertawa keras.

Dan sejak hari itu Maurice tetap menjadi Maurice.

Tetap cuek.

Tetap tomboy.

Tetap memilih kaos oblong daripada baju yang ribet.

Dan tentu saja tetap mencintai sandal jepitnya.

Hanya saja sekarang ia tahu:

nyaman belum tentu cocok untuk semua keadaan.

Sebab terkadang nasihat sederhana yang terdengar cerewet baru terasa masuk akal setelah hidup memberikan contoh langsung.

Dan bagi Maurice, contoh itu datang dalam bentuk sebuah sandal jepit hitam yang putus di tengah pasar malam.

Sebuah pelajaran sederhana yang harganya lumayan mahal.

Satu sandal putus.

Satu kaki bengkak.

Satu kunjungan ke IGD.

Dan bahan tertawaan teman-temannya entah sampai kapan.

Duhhh.... Putus dah.....

------ Selesai ----------

MJ daily experiences

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 1 reader reaction

About the writer

MJ

@mjl

Founder of MJTales.com & Compedium World. Building worlds through stories, imagination, and ideas. Every story leaves a trace.

8 stories published · 8 followers

Comments

1 comment

Log in to join the conversation.

  1. Wibi

    Sandal keramat

More in Humor

Recently published stories from the same category.