
Kisah Jane Menangkap Kodok
Pagi itu, sinar matahari bersinar hangat menyelimuti bangunan kokoh SD Pius. Angin semilir meniup dedaunan pohon mangga di halaman depan, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas lapangan aspal.
Hari itu bukanlah hari sekolah biasa. Tidak ada buku matematika yang berat atau tugas menulis di papan tulis. Hari itu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh murid kelas 2: hari jalan santai!
Jane, seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua dan senyum yang selalu mengembang, sudah berdiri di lapangan dengan penuh semangat. Ia terus melompat-lompat kecil sambil membetulkan tali sepatu olahraganya.
Di antara semua teman-temannya, Jane dikenal sebagai anak yang paling tidak bisa diam dan sangat menyukai petualangan. Baginya, dunia ini penuh dengan hal-benda ajaib yang menunggu untuk ditemukan, terutama hewan-hewan kecil yang hidup di sekitar kita.
"Teeet!" Suara peluit memecah udara pagi.
Itu adalah Bu Dewi, wali kelas 2 yang sangat disayangi anak-anak. Bu Dewi selalu tampil rapi, memakai kacamata berbingkai bulat, dan memiliki suara yang selembut kapas. Beliau sangat anggun dan selalu wangi bunga melati.
"Ayo, anak-anak manis! Waktunya berbaris. Ingat ya, kita berbaris dua-dua. Bergandengan tangan dengan teman sebelahnya agar tidak ada yang tertinggal. Kita akan berjalan-jalan santai mengelilingi kompleks sekolah yang luas ini," seru Bu Dewi sambil merapikan barisan.
Jane segera meraih tangan sahabatnya, Siska. Siska adalah anak yang pemalu dan penakut, kebalikan dari Jane. Namun, mereka berdua adalah teman sebangku yang tidak bisa dipisahkan.
Barisan panjang murid kelas 2 pun mulai bergerak keluar dari area lapangan, berjalan dengan tertib seperti kawanan semut yang sedang berbaris mencari gula.
Udara pagi itu terasa sangat segar. Mereka berjalan melewati kapel sekolah yang tenang, lalu berbelok menuju area perumahan guru dan asrama yang penuh dengan taman bunga.
Ada bunga sepatu yang mekar merah menyala, bunga kertas yang rimbun, dan pohon-pohon rindang yang menjadi rumah bagi banyak burung gereja.
Anak-anak bernyanyi lagu "Naik-Naik ke Puncak Gunung" sambil mengayunkan tangan mereka. Bu Dewi berjalan di barisan paling depan, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan anak-anak tetap berada di jalurnya.
Ketika barisan mulai melewati area belakang kantin sekolah, jalanan di sana sedikit lebih teduh dan lembap. Terdapat banyak pot-pot besar berisi tanaman talas dan pakis. Semalam memang turun hujan deras, sehingga tanah di area itu masih basah dan menyisakan beberapa genangan air kecil.
Tiba-tiba, mata Jane yang tajam menangkap sebuah gerakan kecil dari balik daun talas yang lebar.
Plop. Lompat.
Jane seketika menghentikan langkahnya. Siska yang tangannya sedang digandeng oleh Jane ikut berhenti, nyaris menabrak punggung teman di depannya.
"Ada apa, Jane?" bisik Siska bingung.
Mata Jane berbinar-binar seperti baru saja melihat berlian jatuh dari langit. Ia melepaskan genggaman tangan Siska dan mengendap-endap mendekati pot tanaman besar itu. Di atas sebuah batu yang lembap, duduklah seekor makhluk hijau yang sangat menggemaskan (setidaknya menurut Jane).
Itu adalah seekor kodok berukuran sedang, kulitnya berwarna hijau zamrud mengilap dengan sedikit bintik-bintik cokelat di punggungnya. Matanya yang bulat besar berkedip-kedip menatap Jane.
"Wah... cantiknya," gumam Jane terpesona.
Bagi anak lain, kodok mungkin terlihat menggelikan atau berlendir. Tapi bagi Jane, kodok adalah hewan pelompat yang hebat dan berwajah lucu. Tanpa berpikir panjang, rasa ingin tahunya mengalahkan aturan barisan. Jane menjulurkan kedua tangannya, bersiap seperti seorang ninja.
Dalam satu gerakan cepat... Hap!
Jane berhasil menangkap kodok itu dengan kedua tangannya. Kodok itu terasa dingin, empuk, dan sedikit licin. Ia meronta-ronta kecil, berusaha melepaskan diri dari telapak tangan mungil Jane.
Siska yang melihat adegan itu dari jauh menutup mulutnya rapat-rapat menahan jeritan ngeri.
"Sst, diam ya, teman kecil," bisik Jane pada kodok itu. "Kamu aman bersamaku."
Jane kebingungan. Ia tidak membawa kantong plastik, kotak, atau botol apa pun. Jika ia terus memegangnya di tangan, Bu Dewi pasti akan melihatnya dan menyuruhnya melepaskan hewan itu.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Celana olahraga sekolahnya memiliki saku yang cukup besar dan dalam. Dengan sangat hati-hati, Jane memasukkan kodok hijau itu ke dalam saku celana sebelah kanannya. Ia menepuk sakunya perlahan, memastikan hewan itu aman di dalam.
"Ayo, Siska! Jalan lagi!" kata Jane santai, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu kembali meraih tangan sahabatnya yang masih pucat pasi.
Perjalanan dilanjutkan. Sepanjang sisa jalan santai, Jane tidak bisa berhenti tersenyum. Sesekali, ia merasakan kodok itu bergerak-gerak, menendang-nendang pelan di dalam sakunya.
Rasanya sedikit geli, membuat Jane beberapa kali menahan tawa. Di dalam kepalanya yang kreatif, Jane sedang menyusun sebuah rencana besar. Ia berpikir keras, kepada siapakah ia akan memberikan tangkapan hebatnya ini?
Pikirannya langsung tertuju pada Bu Dewi. Guru kesayangannya itu pernah berkata di kelas bahwa warna favoritnya adalah hijau—warna alam yang menyegarkan.
Kodok di dalam sakunya ini berwarna hijau yang sangat terang dan indah! Selain itu, Bu Dewi selalu memberi bintang emas setiap kali Jane bisa mengerjakan PR matematika. Jane merasa ini adalah saat yang tepat untuk membalas kebaikan gurunya dengan sebuah "hadiah alam" yang sangat spesial.
Satu jam kemudian, kegiatan jalan santai pun berakhir. Anak-anak kembali ke ruang kelas 2 dengan wajah merah merona dan napas terengah-engah, namun terlihat sangat gembira.
Bu Dewi duduk di kursi guru di depan kelas, mengusap keringat di dahinya dengan saputangan, lalu meminta anak-anak untuk minum air putih dari bekal mereka masing-masing.
Kelas menjadi sedikit tenang karena anak-anak sibuk minum dan beristirahat. Saat itulah, Jane merasa bahwa ini adalah momen yang sempurna.
Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Jane berdiri dari bangkunya. Ia merogoh saku celananya dalam-dalam. Jari-jarinya merasakan tubuh kodok yang dingin. Ia menggenggamnya erat-erat agar tidak melompat, lalu berjalan ke depan kelas mendekati meja guru.
"Bu Dewi!" panggil Jane dengan suara nyaring dan ceria. Seluruh pandangan anak-anak di kelas langsung tertuju pada Jane.
Bu Dewi meletakkan botol minumnya dan tersenyum lembut melihat muridnya yang paling energik itu. "Iya, Jane? Ada apa, Sayang? Kamu mau bertanya sesuatu?"
Jane menggeleng cepat. Wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan. "Tidak, Bu. Jane ke sini karena punya hadiah spesial untuk Bu Dewi. Hadiah ini Jane temukan khusus untuk Ibu saat kita jalan santai tadi!"
Hati Bu Dewi seketika meleleh. Betapa manisnya anak ini, pikir beliau. Bu Dewi mencondongkan badannya ke depan dengan antusias. "Wah, benarkah? Hadiah apa itu, Jane? Apakah bunga yang cantik? Atau batu dengan bentuk yang unik?"
"Ibu kan suka warna hijau, jadi Jane bawakan ini untuk Ibu. Tadaaaa!"
Jane membuka kedua telapak tangannya tepat di atas meja Bu Dewi.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti di ruang kelas 2 SD Pius.
Kodok hijau yang malang itu, yang merasa kepanasan dan terkurung di dalam saku yang gelap selama hampir empat puluh menit, tiba-tiba melihat cahaya yang terang benderang. Bebas! Hewan itu langsung mengambil ancang-ancang.
KROAAAK!
Dengan satu lompatan yang sangat kuat, kodok itu melontarkan dirinya dari tangan Jane. Alih-alih mendarat di lantai, kodok itu mendarat tepat dengan suara plak yang nyaring di atas buku absensi harian yang sedang terbuka di meja Bu Dewi.
Mata Bu Dewi terbelalak sangat lebar, seolah mau keluar dari kelopaknya. Beliau menatap makhluk hijau berlendir yang kini membalas tatapannya tepat di depan hidungnya. Jantung Bu Dewi seakan berhenti berdetak sesaat.
"KODOK!!!" jerit Bu Dewi dengan nada sopran yang luar biasa melengking, memecahkan keheningan kelas.
Saking kagetnya, Bu Dewi melompat mundur dari kursinya dengan sangat tidak anggun. Kacamatanya miring hingga nyaris jatuh ke hidung, dan tumpukan kertas ulangan di pinggir mejanya berserakan ke lantai.
Mendengar jeritan gurunya, seisi kelas langsung dilanda kepanikan yang luar biasa. Keributan seketika pecah.
"Hwaaaa! Ada monster kecil!" jerit Siska sambil naik ke atas kursinya, diikuti oleh anak-anak perempuan lainnya yang ikut menjerit-jerit sambil mengangkat kaki tinggi-tinggi.
Sementara itu, anak-anak laki-laki justru melihat ini sebagai permainan yang menyenangkan. "Wah! Kodoknya keren! Ayo tangkap!" teriak Budi.
Melihat keramaian itu, sang kodok ikut panik. Ia mulai melompat tak tentu arah. Dari meja Bu Dewi, ia melompat ke papan tulis, memantul jatuh ke lantai, lalu mulai melompat-lompat zig-zag di antara kaki meja dan kursi murid-murid. Prok! Prok! Prok!
Ruang kelas 2 yang biasanya tenang dan damai kini berubah menjadi seperti pasar malam yang kacau balau.
Anak perempuan berteriak, anak laki-laki merangkak-rangkak di bawah meja mencoba menangkap kodok, sementara Bu Dewi masih berdiri merapat ke tembok sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Jane, sang pelaku utama, hanya berdiri mematung di depan kelas dengan mulut terbuka, sama sekali tidak menyangka bahwa hadiahnya akan menimbulkan bencana sebesar ini.
Keributan itu begitu keras hingga terdengar oleh Pak Manto, tukang kebun sekolah yang sedang menyapu koridor. Dengan sapu lidi di tangan, Pak Manto berlari masuk ke dalam kelas.
"Ada apa ini, Bu Dewi?! Ada ular?!" tanya Pak Manto panik.
"K-k-k-kodok, Pak Manto! Tolong, ada kodok!" tunjuk Bu Dewi dengan tangan gemetar ke arah kolong meja.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat situasi kelas yang berantakan, Pak Manto yang sudah terbiasa dengan hewan-hewan taman segera mengambil posisi.
Dengan kelincahan yang luar biasa, Pak Manto berhasil menyudutkan kodok itu di dekat lemari buku dan menangkapnya dengan jaring serangga yang biasa ia simpan di gudang.
"Sudah tertangkap, Bu! Aman!" seru Pak Manto sambil mengangkat jaringnya tinggi-tinggi, yang disambut dengan sorakan gembira dari anak-anak laki-laki dan desahan napas lega dari anak-anak perempuan.
Setelah Pak Manto membawa kodok itu keluar kelas untuk dilepaskan kembali ke taman belakang, perlahan-lahan keadaan kelas mulai terkendali. Anak-anak kembali duduk di kursi masing-masing, meskipun masih ada beberapa yang tertawa tertahan atau berbisik-bisik.
Bu Dewi meminum air putihnya banyak-banyak, menarik napas panjang, dan membetulkan letak kacamatanya. Ia merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu menatap ke arah depan kelas.
Jane masih berdiri di sana. Wajahnya yang ceria kini berubah mendung. Kepalanya tertunduk dalam-dalam hingga dagunya menyentuh dada. Kedua tangannya meremas ujung baju seragamnya dengan gelisah. Ia tahu ia telah membuat kekacauan besar.
"Jane," panggil Bu Dewi. Suaranya masih sedikit bergetar, tapi tidak terdengar marah.
Jane melangkah pelan mendekati meja Bu Dewi. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Maafkan Jane, Bu Dewi," cicitnya dengan suara serak. "Jane sama sekali tidak bermaksud membuat Ibu takut. Jane pikir Ibu akan sangat senang menerima hadiah kodok itu. Warnanya kan hijau terang, persis seperti warna kesukaan Ibu. Jane cuma ingin berterima kasih karena Ibu selalu baik sama Jane..."
Mendengar alasan jujur dari mulut mungil muridnya itu, sisa-sisa rasa jengkel dan kaget di hati Bu Dewi seketika menguap.
Beliau menyadari betapa polosnya jalan pikiran anak-anak. Niat Jane sungguh tulus dan penuh kasih sayang, hanya saja cara penyampaiannya yang sedikit... melompat-lompat.
Bu Dewi beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Jane, lalu berlutut agar tinggi mereka sejajar. Beliau menghapus setetes air mata yang jatuh di pipi Jane dan tersenyum hangat.
"Jane sayang," kata Bu Dewi dengan nada selembut sutra yang sangat familiar bagi anak-anak.
"Ibu sama sekali tidak marah. Ibu justru sangat terharu dan berterima kasih karena kamu mengingat warna kesukaan Ibu dan ingin memberikan hadiah yang spesial."
Jane mendongak, menatap gurunya dengan mata bulatnya yang masih basah. "Benarkah, Bu?"
"Tentu saja," Bu Dewi tertawa kecil. "Tapi, Jane, kita harus ingat satu hal. Meskipun kodok warnanya hijau cantik, mereka adalah makhluk hidup yang rumahnya ada di alam bebas. Tempat terbaik bagi mereka adalah di taman yang lembap, di dekat kolam berair, dan di bawah daun-daun lebar."
Bu Dewi menepuk lembut saku celana olahraga Jane. "Membawa kodok di dalam saku celana yang sempit dan panas akan membuat mereka ketakutan dan tidak bisa bernapas dengan baik. Dan menaruhnya di meja guru... yah, itu bisa membuat jantung gurumu ini hampir copot, Sayang."
Seluruh kelas tertawa mendengar ucapan Bu Dewi, begitu pula dengan Jane yang akhirnya kembali tersenyum lega.
"Jadi, lain kali, kalau kamu melihat hewan yang indah di taman, biarkan saja mereka hidup bahagia di tempat asalnya ya. Kalau kamu mau memberikan hadiah untuk Ibu dengan warna hijau kesukaan Ibu, kamu boleh menggambar pemandangan alam yang indah di buku gambarmu. Ibu pasti akan memajangnya di dinding kelas. Bagaimana, setuju?" tanya Bu Dewi sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Setuju, Bu Dewi!" seru Jane dengan semangat. Ia mengaitkan jari kelingking kecilnya ke kelingking Bu Dewi.
Hari itu, kegiatan jalan santai ditutup dengan sebuah pelajaran berharga tentang menyayangi alam dan menghargai tempat tinggal makhluk hidup lainnya.
Jane tidak akan pernah lupa betapa serunya menangkap kodok kecil itu, dan Bu Dewi pun pastinya tidak akan pernah melupakan 'hadiah' paling mengejutkan yang pernah diterimanya seumur hidup. Sejak hari itu, setiap kali melihat warna hijau, Bu Dewi akan selalu teringat pada Jane dan senyumnya yang secerah matahari pagi.






