
Aduhhhh dicapit......
Liburan sekolah akhirnya tiba! Setelah berbulan-bulan disibukkan dengan buku pelajaran dan ulangan matematika, Jane akhirnya bisa bernapas lega. Apalagi, liburan kali ini sangat spesial. Papa dan Mama mengajak Jane beserta kakak perempuannya, Maurice, untuk menghabiskan akhir pekan di pantai yang indah.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Jane tidak bisa berhenti bernyanyi dan berceloteh. Ia sudah membayangkan betapa serunya membangun istana pasir yang besar, mengumpulkan kerang beraneka bentuk, dan tentu saja, mencari hewan-hewan laut yang unik. Maurice, yang usianya lima tahun lebih tua dari Jane, hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah adiknya yang kelebihan energi itu.
"Jane, nanti di pantai jangan lari-larian terlalu jauh dari Papa dan Mama ya," pesan Mama sambil menoleh ke kursi belakang.
"Siap, Ma!" jawab Jane sambil memberi hormat ala komandan cilik.
Setibanya di pantai, angin laut yang hangat dan aroma asin air garam langsung menyambut mereka. Hamparan pasir putih yang lembut terlihat berkilauan ditimpa sinar matahari siang. Tanpa menunggu aba-aba, Jane langsung melepas sandal jepitnya dan berlari kegirangan menuju bibir pantai.
Sementara Mama dan Maurice sibuk menggelar tikar piknik dan mengeluarkan bekal di bawah pohon rindang, Papa berjalan menyusul Jane untuk mengawasinya. Jane sedang asyik berjongkok di dekat bebatuan karang kecil yang sesekali tersapu ombak dangkal. Matanya yang jeli sedang mencari-cari 'harta karun' laut.
Tiba-tiba, dari balik celah batu karang, muncul sesosok makhluk kecil yang berjalan menyamping dengan sangat lucu. Warnanya perpaduan antara jingga dan cokelat pasir, dengan dua mata kecil yang mencuat ke atas menyerupai antena periskop.
"Wah, kepiting kecil!" pekik Jane tertahan. Matanya berbinar-binar penuh rasa gemas. Ia langsung teringat pada kodok hijau yang pernah ia tangkap di sekolah dulu. Bagi Jane, kepiting ini tidak kalah menggemaskannya.
Papa yang berdiri tak jauh dari sana menyadari apa yang sedang diamati oleh putri bungsunya. "Jane," seru Papa memperingatkan, "jangan ditangkap, ya! Biarkan saja dia jalan-jalan. Kepiting itu punya capit, kalau kamu pegang nanti bisa menjepit jarimu dan bikin luka."
"Tapi Pa, dia kecil banget! Lucu, jalannya miring-miring. Jane cuma mau pegang sebentar saja kok, mau lihat cangkangnya dari dekat," rengek Jane yang sudah sangat penasaran.
"Tidak boleh, Sayang. Dilihat saja dari jauh," larang Papa lagi dengan tegas, lalu berbalik sebentar untuk melambai pada Maurice yang memanggilnya dari kejauhan.
Namun, godaan makhluk kecil bermata antena itu terlalu kuat bagi Jane. Di kepalanya, kepiting itu seolah melambai-lambai mengajaknya bermain. Ah, capitnya kan sekecil ini, pasti tidak akan sakit, pikir Jane meremehkan. Dengan gerakan perlahan, ia mengendap-endap mendekati batu karang. Ia menjulurkan tangan kanannya, bersiap menangkap kepiting itu dari belakang persis seperti gaya ninjanya saat menangkap kodok.
Hap!
Jane berhasil menyentuh cangkang kerasnya. Namun, kepiting pantai adalah hewan yang sangat gesit dan tangguh. Merasa terancam, kepiting kecil itu dengan cepat memutar capit kirinya yang ternyata cukup besar ke arah belakang, dan...
CEKLEK!
"ADUHHHH DICAPIT......!!!"
Jeritan melengking Jane seketika memecah suara deburan ombak. Rasa sakit yang tajam dan mengejutkan menyengat jari telunjuk kanannya. Kepiting itu menjepit jarinya dengan sangat kuat, seolah tidak mau melepaskannya. Jane mengayun-ayunkan tangannya sambil menangis histeris, membuat kepiting itu akhirnya terlempar kembali ke pasir dan buru-buru berlari menghilang ke balik karang.
Mendengar jeritan putrinya, Papa, Mama, dan Maurice langsung berlari panik menghampiri Jane. Jane duduk di atas pasir sambil memegangi tangan kanannya. Jari telunjuknya tampak lecet dan mengeluarkan titik-titik darah segar.
"Tuh kan, apa Papa bilang!" seru Papa sambil berjongkok dan memeriksa jari Jane. Nada suara Papa terdengar khawatir namun terselip omelan khas orang tua. "Sudah Papa ingatkan jangan ditangkap, malah tetap nekat."
"Huwaaa... sakit, Pa... Kepitingnya nakal!" isak Jane dengan air mata berderai.
Mama dengan cekatan mengambil botol air bersih dan mencuci luka Jane, lalu menempelkan plester luka dari tas kecilnya. Maurice yang berdiri di sebelah Mama tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Kamu ini, Jane. Kemarin nabrak rak supermarket, sekarang musuhan sama kepiting. Ada-ada saja."
Sepanjang sisa sore itu, Jane lebih banyak duduk diam di atas tikar sambil cemberut. Ia bahkan tidak mau lagi mendekati air laut. Ia terus memandangi jari telunjuknya yang dibalut plester, merasa sangat sebal pada makhluk bercapit tajam itu.
Namun, kesedihan Jane tidak pernah bertahan lama, apalagi jika sudah menyangkut soal makanan.
Malam harinya, udara pantai terasa sejuk. Perut keluarga itu sudah berkeroncong setelah seharian beraktivitas. Papa mengajak mereka makan malam di sebuah restoran seafood terkenal yang letaknya tak jauh dari penginapan. Aroma harum bawang putih dan bumbu rempah langsung menyambut mereka saat memasuki restoran.
Setelah mereka duduk, seorang pelayan memberikan buku menu.
"Nah, anak-anak, malam ini kita mau makan apa?" tanya Mama. "Papa mau pesan ikan bakar. Maurice mau udang goreng tepung?"
"Boleh, Ma," jawab Maurice. Lalu Maurice menoleh ke arah adiknya dengan senyum jahil. "Kalau Jane mau pesan apa? Jangan-jangan masih trauma dan takut dengar kata kepiting?"
Mendengar godaan kakaknya, Jane yang tadinya sedang mengusap-usap plester di jarinya langsung mendongak. Matanya tertuju pada sebuah gambar besar di buku menu: seporsi besar Kepiting Saus Padang yang terlihat sangat menggugah selera, mengepulkan asap dengan bumbu merah yang kental. Perut Jane seketika berbunyi nyaring. Jane memang sangat menyukai olahan kepiting!
Raut wajah Jane yang sedih langsung berubah drastis. Ia menepuk meja dengan tangan kirinya dan berseru penuh semangat, "Pa, Ma! Jane mau pesan kepiting saus Padang yang paling besaaar!"
Papa dan Mama saling berpandangan dengan bingung. "Lho? Bukannya kamu tadi siang menangis gara-gara dicapit kepiting?" tanya Papa keheranan.
Dengan wajah serius bercampur senyum nakal yang lebar, Jane menjawab mantap, "Justru itu, Pa! Tadi siang dia sudah berani capit jari Jane sampai berdarah. Sekarang saatnya Jane balas dendam! Jane mau capit dan makan mereka semua sampai habis! Hahahaha!"
Mendengar alasan kepiting balas dendam ala Jane, tawa Papa, Mama, dan Maurice langsung meledak memenuhi meja makan. Malam itu, diiringi suara ombak dari kejauhan, Jane benar-benar menepati janjinya. Dengan sangat lahap dan belepotan bumbu di sekitar mulutnya, ia 'membalas dendam' pada sang kepiting, menikmati setiap gigitan dagingnya yang manis tanpa tersisa sedikit pun.






