Skip to content
Log in
Humor

Wong Tegal Kiyeeee

Isshhh aja Isinnnn... ( jangan Malu )

by AGT

Published 10 min read2 views

WONG TEGAL KIYÉ!

Cerita tentang logat, kampung halaman, dan sebuah smash dari Tegal

Hari pertama kuliah di Jakarta, Tino belajar satu hal penting.

Bukan Kalkulus.

Bukan Fisika.

Bukan cara mencari ruang kelas.

Tetapi...

jangan terlalu banyak bicara kalau tidak ingin satu kelas tahu kamu orang Tegal.

Masalahnya, bagi Tino, itu hampir mustahil.

---

Namanya Tino.

Delapan belas tahun hidupnya dihabiskan di Tegal.

Lahir di Tegal.

Sekolah di Tegal.

Teman-temannya orang Tegal.

Tetangganya orang Tegal.

Warung langganannya tentu saja di Tegal.

Jadi ketika akhirnya diterima di sebuah universitas di Jakarta, Tino merasa dirinya sudah siap menghadapi kehidupan ibu kota.

Ia membawa pakaian.

Buku.

Sepatu.

Uang secukupnya.

Dan pesan panjang dari Ibunya.

"Sing ati-ati nang Jakarta."

"Iya, Bu."

"Aja boros."

"Iya."

"Mangan sing teratur."

"Iya."

"Telepon Ibu."

"Iya..."

Ibunya masih terus memberikan nasihat.

Tino akhirnya tertawa.

"Iya, Bu! Nyong wis gede!"

Ibunya langsung berkacak pinggang.

"Gede apane? Celanamu bae isih Ibu sing ngumbahi!"

Tino tertawa.

Begitulah.

Ia berangkat ke Jakarta membawa semua perlengkapannya.

Termasuk satu barang yang tidak mungkin ditinggalkan di rumah.

Logat Tegalnya.

---

Anak Baru dari Tegal

Minggu pertama kuliah berjalan lancar.

Sampai suatu hari seorang teman bertanya,

"Tin, nanti makan di mana?"

Tino menjawab santai,

"Nyong melu bae."

Semua berhenti.

"Hah?"

Tino menoleh.

"Apa?"

"Lo tadi ngomong apa?"

"Nyong melu bae."

Temannya mengernyit.

"Nyong apaan?"

Tino baru sadar.

"Oh."

Ia tertawa.

"Maksudnya gue ikut saja."

Teman-temannya langsung tertawa.

"NYOOONG!"

Sejak saat itu selesai sudah.

Rahasia asal-usul Tino terbongkar.

---

Setiap kali Tino bicara sedikit terlalu cepat, logat Tegalan-nya keluar.

"Keprimen, sih?"

Temannya langsung menyahut.

"KEPRIMEEEN!"

Tawa pecah.

Tino menggeleng.

"Batir inyong pada kurang kerjaan."

"Hah?! BATIR?"

"Teman!"

Tawa semakin keras.

Salah satu temannya, Dimas, paling senang menggodanya.

"Tin."

"Apa?"

"Coba ngomong, 'Ora papa.'"

"Nggo apa?"

"Nah! Itu lagi! NGGO APA!"

Tino mulai kesal.

"Ya ampun..."

Dimas berdiri sambil bergaya seperti pembawa acara.

"Wong Tegal..."

Teman-temannya menyambung,

"WONG TEGAL KIYÉÉÉ...!"

Semua tertawa.

Tino mengambil buku dan pura-pura hendak melemparkannya.

"Kurang kerjaan kabeh!"

Mereka semakin tertawa.

Sebenarnya Tino tahu mereka hanya bercanda.

Tidak ada yang benar-benar bermaksud jahat.

Tetapi lama-lama...

ia mulai sedikit malu.

---

Kalau menelepon Ibunya di depan teman-teman, Tino menjauh.

Kalau ada teman dari Tegal menelepon, ia mencoba menggunakan bahasa Indonesia.

Logatnya perlahan ia tahan.

Suatu malam Ibunya bahkan bertanya,

"Kowe kenapa ngomonge saiki kaya wong televisi?"

Tino tertawa.

"Nggak apa-apa."

"Kok 'nggak apa-apa'?"

Ibunya sengaja menirukan gaya Jakarta.

Tino tertawa.

"Aja kaya kuwe, Bu."

"Nah! Metu maning Tegale!"

Mereka tertawa bersama.

Tetapi setelah telepon ditutup, Tino terdiam.

Entah mengapa, di Jakarta ia mulai merasa bahwa untuk terlihat keren...

ia harus terdengar sedikit kurang Tegal.

---

Pak Arman

Ada satu orang yang membuat semua mahasiswa berhenti bercanda.

Namanya Pak Arman.

Dosen Kalkulus.

Legenda hidup di fakultas.

Begitu Pak Arman masuk kelas, suara mahasiswa biasanya turun sekitar sembilan puluh persen.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak."

"Lho, kok lemas? Belum sarapan?"

Mahasiswa tertawa kecil.

Pak Arman meletakkan buku.

"Bagus. Kalau masih bisa tertawa berarti siap kuis."

Seketika semua diam.

Pak Arman tersenyum.

"Kenapa diam?"

Tidak ada yang menjawab.

Kuis Pak Arman terkenal.

Soalnya panjang.

Waktunya pendek.

Dan menurut mahasiswa...

angka-angkanya seperti mempunyai dendam pribadi.

Suatu kali Dimas berbisik kepada Tino,

"Tin."

"Hm?"

"Gue kayaknya salah jurusan."

"Kenapa?"

"Gue baru sadar huruf ternyata bisa dicampur sama angka."

Tino hampir tertawa.

Pak Arman langsung menoleh.

"Saudara Dimas."

Dimas tegak.

"Iya, Pak."

"Ada yang lucu?"

"Nggak, Pak."

"Bagus."

Pak Arman menunjuk papan tulis.

"Silakan kerjakan nomor tiga."

Wajah Dimas pucat.

Tino menunduk menahan tawa.

Sejak hari itu ada aturan tidak tertulis:

Jangan bercanda di kelas Pak Arman.

---

Tidak ada mahasiswa yang tahu banyak tentang kehidupan pribadi Pak Arman.

Yang mereka tahu:

Dosen senior.

Tegas.

Sudah puluhan tahun mengajar dan tinggal di Jakarta.

Bahasa Indonesianya rapi.

Logat daerahnya hampir tidak terdengar.

Dan kalau sedang menjelaskan turunan fungsi...

sepertinya beliau tidak mengenal kata belas kasihan.

Karena itu tidak ada seorang pun menduga bahwa sebuah lapangan bulutangkis akan mengubah semuanya.

---

Lapangan Bulutangkis

Sabtu sore Tino dan beberapa temannya bermain bulutangkis.

Tino cukup jago.

Sejak kecil ia memang suka bermain.

"Gue sama Tino!" teriak Dimas.

"Nggak mau! Tino smash-nya kenceng."

Tino tertawa.

"Takut?"

"Siapa takut?"

Pertandingan dimulai.

Suasananya santai.

Teriakan memenuhi lapangan.

"Keluar!"

"Masuk!"

"Out!"

"Apanya out? Garis itu!"

Sampai suatu ketika shuttlecock jatuh tepat di garis.

Tino spontan berteriak,

"Kiye mlebu!"

Semua diam sepersekian detik.

Lalu...

meledak.

"KIYEEE!"

Dimas sampai membungkuk tertawa.

"Wong Tegal keluar!"

Temannya yang lain ikut menyahut.

"WONG TEGAL..."

Dimas mengangkat raket seperti mikrofon.

"WONG TEGAL KIYÉÉÉ!"

Tino tertawa sambil mengejar mereka dengan raket.

"Asu kowe!"

"WOI! Bahasa daerah keluar semua!"

Suasana semakin ramai.

Sampai tiba-tiba terdengar suara dari lapangan sebelah.

"Eh."

Semua berhenti.

Mereka menoleh.

Seorang laki-laki berdiri memegang raket.

Kaos olahraga.

Celana pendek.

Handuk kecil di leher.

Kacamata diletakkan di bangku.

Tino membeku.

Dimas menelan ludah.

Pak Arman.

"Selamat sore, Pak..."

Suara mereka mendadak sopan.

Pak Arman memandang mereka.

Kemudian memandang Tino.

"Kamu orang Tegal?"

Tino gugup.

"I-iya, Pak."

"Mana?"

"Kota Tegal, Pak."

Pak Arman mengangguk.

Kemudian berkata sesuatu yang membuat semuanya terdiam.

"Nyong ya wong Tegal."

Tino melongo.

Dimas hampir menjatuhkan raket.

"HAH?"

Pak Arman tertawa.

---

Pak Arman Ternyata Ngapak

"Serius, Pak?"

"Memangnya muka saya kurang Tegal?"

Tidak ada yang berani menjawab.

Pak Arman tertawa.

"Saya lahir dan besar di Tegal."

"Tapi Bapak nggak ada logatnya," kata Dimas.

"Sudah lebih dari tiga puluh tahun tinggal di Jakarta."

Pak Arman mengambil minum.

"Ya logatnya sedikit pudar."

Kemudian ia tersenyum kepada Tino.

"Tapi kalau ketemu wong Tegal..."

Ia berhenti.

"...metu maning."

Tino tertawa keras.

Untuk pertama kalinya ia melihat Pak Arman bukan sebagai dosen Kalkulus yang menakutkan.

Tetapi sebagai...

orang sekampung.

Dari lapangan sebelah terdengar seseorang memanggil,

"Man! Ayo lanjut!"

Pak Arman menoleh.

"Sebentar!"

Kemudian ia menunjuk beberapa orang yang bermain bersamanya.

"Itu juga banyak orang Tegal."

Tino melihat.

"Serius, Pak?"

Pak Arman tertawa.

"Kamu kira orang Tegal cuma kamu?"

---

Dimas mulai berani bercanda.

"Pak, kok di kelas Bapak serem banget?"

Pak Arman menatapnya.

Semua kembali diam.

Lalu Pak Arman tersenyum.

"Ya beda."

"Di kelas saya dosen."

Ia mengangkat raket.

"Di sini saya pemain bulutangkis."

Kemudian katanya,

"Di kelas harus keras."

Pak Arman memutar raket di tangannya.

"Kalau di sini..."

Ia tersenyum.

"...smash-nya yang harus keras."

Semua langsung tertawa.

"Pak Arman bisa bercanda ternyata!"

Pak Arman menunjuk Dimas dengan raket.

"Senin saya kasih kuis tambahan."

Dimas langsung berhenti tertawa.

"Maaf, Pak."

Tawa kembali pecah.

---

Tegal dan Bulutangkis

Pak Arman duduk di pinggir lapangan.

Tino dan teman-temannya ikut duduk.

"Tino," katanya.

"Iya, Pak?"

"Kamu tahu Tegal juga punya hubungan kuat dengan bulutangkis?"

Tino berpikir.

"Tahu sedikit, Pak."

Pak Arman mengangkat sebuah shuttlecock.

"Benda ini."

Ia memutarnya di antara jari.

"Daerah Tegal dan sekitarnya sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi shuttlecock."

Dimas melihat shuttlecock itu.

"Serius, Pak?"

"Serius."

"Jadi shuttlecock yang kita pakai bisa saja buatan orang Tegal?"

"Bisa."

Pak Arman tersenyum.

"Daerah kita juga melahirkan orang-orang yang ikut membanggakan Indonesia lewat bulutangkis."

Tino memandang shuttlecock di tangan dosennya.

Benda kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan asalnya.

Pak Arman melemparkannya kepada Tino.

"Makanya jangan merasa kampungmu tidak punya apa-apa."

Tino menangkapnya.

Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa berbeda.

---

Pak Arman kemudian berdiri.

"Oh iya."

Ia melihat mahasiswa-mahasiswanya.

"Jangan lupa satu lagi."

"Apa, Pak?"

Pak Arman memasang wajah serius.

"Orang Tegal itu kasih makan orang se-Indonesia, lho."

Semua bingung.

Dimas bertanya,

"Maksudnya?"

Pak Arman tertawa.

"Warteg!"

Semua langsung tertawa.

Pak Arman mulai menghitung.

"Jakarta ada Warteg."

"Bandung ada."

"Bekasi ada."

"Tangerang ada."

"Kota-kota lain juga banyak."

Ia mengangkat kedua tangan.

"Bayangkan kalau semua orang Tegal pulang kampung bareng..."

Ia berhenti dramatis.

"...kalian makan di mana?"

Tawa pecah di seluruh lapangan.

Dimas mengangkat tangan.

"Rumah makan Padang, Pak!"

Pak Arman tertawa keras.

"Nah! Untung Indonesia banyak suku!"

Semua semakin tertawa.

---

Kemudian Pak Arman berkata,

"Itulah Indonesia."

Nada suaranya berubah sedikit lebih tenang.

"Ada orang Tegal."

"Ada orang Madura."

"Orang Padang."

"Orang Manado."

"Orang Bali."

"Orang Papua."

"Orang Batak."

"Orang Sunda."

"Orang Jawa."

"Dan banyak sekali lainnya."

"Masing-masing punya bahasa."

"Punya logat."

"Punya makanan."

"Punya kebiasaan."

"Punya cerita."

Pak Arman melihat Tino.

"Kalau semua orang harus bicara dengan logat yang sama supaya dianggap keren..."

Ia tersenyum.

"...Indonesia malah jadi membosankan."

Tino terdiam.

---

Pak Arman berdiri dan mengambil raketnya.

Sebelum kembali ke lapangan, ia menepuk bahu Tino.

"Logat itu bukan tanda kamu kurang pintar."

Tino menatapnya.

"Itu tanda kamu datang dari suatu tempat."

Pak Arman menunjuk dadanya.

"Dan orang yang tahu dari mana dia berasal biasanya lebih mudah tahu ke mana dia mau pergi."

Tino tersenyum.

"Iya, Pak."

Pak Arman berjalan beberapa langkah.

Kemudian menoleh lagi.

"Tapi Kalkulus tetap belajar."

Tino tertawa.

"Siap, Pak."

"Logat Tegal tidak bisa membantu integral."

Semua kembali tertawa.

---

Senin Pagi

Senin berikutnya Pak Arman masuk kelas.

Suasana kembali hening.

Kemeja rapi.

Celana bahan.

Buku di tangan.

Tidak ada kaos olahraga.

Tidak ada raket.

Tidak ada senyum lebar seperti di lapangan.

Pak Arman menulis soal di papan.

Panjang.

Sangat panjang.

Dimas melihat Tino.

Berbisik,

"Yang kemarin di lapangan siapa?"

Tino menahan tawa.

"Nggak tahu."

"Kayaknya kembarannya."

Pak Arman berhenti menulis.

Tanpa menoleh ia berkata,

"Saudara Dimas."

Dimas membeku.

"Iya, Pak?"

"Kalau masih sempat ngobrol berarti soalnya kurang."

"Nggak, Pak. Sudah cukup."

Kelas tertawa.

Pak Arman berbalik.

Tatapannya masih serius.

Tetapi sesaat matanya bertemu dengan Tino.

Pak Arman berkata,

"Bagaimana, Tino?"

Tino berdiri.

"Baik, Pak."

"Soalnya bisa?"

Tino melihat papan.

"Waduh..."

Hampir saja ia menjawab dengan bahasa Indonesia.

Tetapi kali ini ia tidak menahannya.

"Angel, Pak."

Beberapa mahasiswa mulai tertawa.

Pak Arman menatapnya.

Kemudian...

senyum kecil muncul.

"Ya sinau, aja sambat."

Kelas meledak.

"PAK ARMAN NGAPAK!"

Untuk pertama kalinya, ruang Kalkulus yang biasanya menegangkan dipenuhi tawa.

Pak Arman mengangkat tangan.

"Sudah! Sudah!"

Ia mencoba memasang wajah galak lagi.

"Garis besar tetap sama."

"Yang tidak bisa mengerjakan..."

Ia menunjuk papan.

"...nilainya tetap jelek."

Tawa semakin keras.

---

Sejak hari itu, sesuatu berubah dalam diri Tino.

Bukan logatnya.

Justru sebaliknya.

Ia berhenti berusaha menyembunyikannya.

Kalau sedang bicara bahasa Indonesia, ia bicara bahasa Indonesia.

Kalau logat Tegalan-nya keluar...

ya keluar.

Kalau teman-temannya tertawa, kadang ia ikut tertawa.

"Wong Tegal!"

Tino sekarang malah menjawab,

"Iya! Wong Tegal kiyé! Keprimen?"

Teman-temannya tertawa.

Tino juga.

Bukan karena ia sedang menertawakan dirinya sendiri.

Tetapi karena akhirnya ia nyaman menjadi dirinya sendiri.

---

Beberapa tahun kemudian Tino baru benar-benar memahami perkataan Pak Arman.

Semakin jauh ia pergi dari Tegal...

semakin sering ia menemukan Tegal.

Di Jakarta ada Warteg.

Di kota lain ia bertemu orang Tegal.

Di lapangan bulutangkis ia menemukan produk dari daerahnya.

Di tempat kerja ia bertemu orang dengan logat yang berbeda-beda.

Madura.

Padang.

Manado.

Bali.

Papua.

Batak.

Sunda.

Jawa.

Dan masih banyak lagi.

Anehnya...

ketika semua orang berhenti merasa logatnya paling benar, percakapan justru menjadi lebih menyenangkan.

Karena Indonesia memang tidak dibangun dari satu suara.

Indonesia terdengar seperti jutaan suara yang berbeda...

yang memilih hidup bersama.

---

Bertahun-tahun kemudian, setiap kali ada seseorang bertanya,

"Mas Tino orang mana?"

Tino tidak lagi menjawab pelan.

Tidak lagi berusaha menghilangkan logatnya.

Ia akan tersenyum.

Lalu menjawab dengan bangga,

"Nyong wong Tegal."

Kalau orang itu tertawa mendengar logatnya, Tino biasanya ikut tertawa.

Kadang bahkan ia menambahkan,

"Wong Tegal kiyé!"

Sebab logat bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Bahasa daerah bukan tanda bahwa seseorang kurang modern.

Dan kampung halaman bukan sesuatu yang harus ditinggalkan agar kita terlihat berhasil.

Kita boleh sekolah sejauh mungkin.

Bekerja di kota sebesar apa pun.

Belajar bahasa sebanyak mungkin.

Menjadi siapa pun yang kita cita-citakan.

Tetapi jangan pernah malu pada suara pertama yang mengajarkan kita memanggil Ibu.

Karena dari Sabang sampai Merauke, kita memang berbicara dengan bunyi yang berbeda.

Ada yang medok.

Ada yang ngapak.

Ada yang cepat.

Ada yang lembut.

Ada yang keras.

Ada yang bernada khas.

Tetapi justru dari perbedaan itulah Indonesia terdengar begitu indah.

Dan seperti kata Pak Arman sore itu di lapangan bulutangkis:

"Jangan malu dengan asalmu."

"Logatmu hanya sedang memberi tahu dunia bahwa kamu punya tempat untuk pulang."

Dari lapangan sebelah seseorang berteriak,

"Man! Ayo main!"

Pak Arman mengangkat raket.

"Sebentar!"

Lalu menoleh kepada Tino.

"Siap lawan saya?"

Tino tersenyum.

"Siap, Pak."

"Yakin?"

Tino mengambil raketnya.

Lalu dengan logat Tegal yang kali ini sengaja dibuat setebal mungkin, ia menjawab,

"Lha wong mung badminton, Pak. Keprimen sih?"

Pak Arman tertawa.

"Kurang ajar."

Tino bersiap menerima servis.

Pak Arman memegang shuttlecock.

Senyumnya muncul.

"Siap?"

"Siap!"

Pak Arman melakukan servis.

Dan sore itu, di sebuah lapangan bulutangkis di tengah Jakarta...

terdengar suara yang sangat jauh dari rumah,

tetapi entah mengapa membuat Tino merasa sedang berada di Tegal.

"Kiyé, Tin! Smash!"

PLAK!

Shuttlecock meluncur tajam.

Semua tertawa.

Dan Tino akhirnya mengerti:

ternyata untuk menjadi bagian dari dunia yang besar, kita tidak perlu mengecilkan tempat dari mana kita berasal.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

AGT

@agt

5 stories published · 4 followers

Comments

1 comment

Log in to join the conversation.

  1. Don

    Ortega orang Tegal asli

More in Humor

Recently published stories from the same category.