Skip to content
Log in
Mystery

Sate Kemenyan

Satenya Enak Sekali

by WS

Published 8 min read2 views

Sate Kemenyan

Namanya Mas Agus.

Setidaknya begitu orang-orang di sekitar ruko memanggilnya.

Ia pendatang baru di Kota Pemalang.

Belum sampai dua bulan tinggal di sana, Mas Agus sudah membuka warung sate di sebuah ruko dua lantai yang cukup bagus.

Lantai bawah untuk warung.

Lantai atas untuk tempat tinggal.

Nama warungnya sederhana:

SATE SAPI BUMBU BALI – MAS AGUS

Menu utamanya juga tidak banyak.

Sate sapi.

Nasi putih.

Plecing kangkung.

Dan sambal pedas khas Bali yang konon membuat pelanggan berkeringat sebelum tusuk sate kelima.

Rasanya memang enak.

Daging sapinya empuk.

Bumbunya masuk sampai dalam.

Ada rasa gurih, manis, pedas, sedikit aroma rempah yang kuat.

Sambalnya?

Jangan ditanya.

Orang Pemalang yang biasanya bilang dirinya tahan pedas, kalau sudah makan sambal buatan Mas Agus biasanya berubah jadi lebih rendah hati.

“Mas…”

“Iya?”

“Es teh satu lagi.”

“Baru tadi pesan, Pak.”

“Habis.”

---

Sebulan setelah dibuka, warung Mas Agus mulai ramai.

Jam makan siang hampir selalu penuh.

Pegawai kantor datang.

Anak muda datang.

Sopir datang.

Keluarga datang.

Ada juga pelanggan yang seminggu bisa datang tiga kali.

Beberapa mengatakan:

“Ini sate bikin nagih.”

Yang lain bilang:

“Sambalnya beda.”

Mas Agus hanya tertawa.

“Bumbu Bali, Pak.”

Sebenarnya tidak ada yang aneh.

Makanan enak.

Tempat bersih.

Pelayanan ramah.

Harga masuk akal.

Wajar kalau ramai.

Tapi masalahnya…

Tidak semua orang puas dengan penjelasan sesederhana itu.

---

Tepat di sebelah ruko Mas Agus tinggal seorang pria bernama Pak Raden.

Pak Raden bukan pedagang makanan.

Ia kolektor barang antik.

Rumahnya penuh keris.

Topeng tua.

Wayang.

Patung kayu.

Jam kuno.

Koin lama.

Bahkan ada sebuah kursi tua yang menurut Pak Raden pernah diduduki seorang bangsawan.

Tidak ada yang bisa membuktikan.

Tapi Pak Raden sangat yakin.

Selain barang antik, Pak Raden juga punya hobi lain.

Cerita mistik.

Kalau ada suara genteng jatuh malam-malam, menurut orang lain mungkin kucing.

Menurut Pak Raden:

“Ada yang lewat.”

Kalau lampu berkedip?

“Energi.”

Kalau pintu terbuka sendiri?

“Ada yang mau masuk.”

Padahal angin.

Tapi menurut Pak Raden, angin juga jangan terlalu cepat dipercaya.

---

Sejak warung Mas Agus mulai ramai, Pak Raden mulai memperhatikan.

“Heran aku,” katanya suatu malam kepada teman-temannya.

“Kenapa, Den?”

“Baru buka kok sudah ramai.”

Temannya menjawab,

“Ya mungkin enak.”

Pak Raden menggeleng.

“Jangan polos.”

Teman-temannya langsung diam.

Kalau Pak Raden sudah bilang jangan polos, biasanya akan ada cerita yang tidak bisa diverifikasi.

Pak Raden mendekat.

“Saya sering mencium bau kemenyan dari rukonya.”

Teman pertama langsung membelalakkan mata.

“Serius?”

“Serius.”

Teman kedua bertanya,

“Jam berapa?”

“Pagi.”

Teman ketiga langsung menyimpulkan,

“Wah.”

Padahal belum jelas wah apa.

---

Besoknya cerita mulai berkembang.

Versi pertama:

Mas Agus membakar kemenyan supaya warung ramai.

Dua hari kemudian naik level.

Katanya sebelum buka warung, Mas Agus mengelilingi panggangan sate sambil membaca mantra.

Tidak ada yang pernah melihat.

Tapi tetap diceritakan.

Seminggu kemudian muncul versi lebih canggih.

Katanya sate Mas Agus bukan dibakar pakai arang biasa.

Ada sedikit serpihan kemenyan di bawah bara.

Supaya asapnya masuk ke daging.

Seorang teman Pak Raden bahkan berkata,

“Saya dengar sambalnya juga ada campuran menyan.”

Pak Raden langsung mengangguk.

“Pantes.”

“Pantes apa?”

“Bikin orang balik lagi.”

Padahal kalau sambal benar-benar dicampur kemenyan, kemungkinan besar pelanggan justru tidak balik lagi.

---

Lalu datang cerita yang paling menyeramkan.

Suatu malam salah seorang teman nongkrong Pak Raden berkata:

“Den…”

“Apa?”

“Kemarin saya lewat depan warung Mas Agus jam sebelas malam.”

“Terus?”

“Saya lihat ada bayangan besar.”

Pak Raden langsung duduk tegak.

“Sebesar apa?”

“Besar.”

“Manusia?”

“Nggak tahu.”

“Hitam?”

“Iya.”

Teman lain ikut menambahkan,

“Jangan-jangan penjaganya.”

Pak Raden merinding.

“Penjaga apa?”

Semua terdiam.

Lalu salah satu berbisik:

“Setan.”

Sejak malam itu, cerita resmi versi tongkrongan Pak Raden adalah:

Warung Sate Mas Agus dijaga makhluk besar.

Bayangan yang sebenarnya mungkin terpal hitam kena lampu itu sekarang sudah naik jabatan menjadi makhluk gaib penjaga omzet.

---

Tapi ada satu hal lagi yang menurut Pak Raden semakin mencurigakan.

Mas Agus tidak pernah terlihat pergi salat ke masjid.

Pak Raden sering memperhatikan.

Azan Zuhur.

Tidak kelihatan.

Asar.

Tidak.

Magrib.

Juga tidak.

Pak Raden mulai menyambungkan semuanya.

Warung ramai.

Bau dupa.

Ada bayangan besar.

Tidak pernah terlihat salat di masjid.

Selesai.

Di kepala Pak Raden, kasus sudah hampir terpecahkan.

---

Istrinya, Bu Raden, sebenarnya sudah mulai kesal.

“Pak.”

“Iya?”

“Jangan suka ngomongin orang.”

“Saya bukan ngomongin.”

“Terus?”

“Investigasi.”

Bu Raden menatap suaminya.

“Kamu polisi?”

“Bukan.”

“Wartawan?”

“Bukan.”

“Terus kenapa investigasi?”

Pak Raden diam.

Bu Raden kembali mengupas bawang.

“Kalau penasaran ya datang. Makan satenya. Kenalan.”

Pak Raden merasa itu ide yang masuk akal.

Sekaligus kesempatan membuktikan teorinya.

---

Keesokan paginya, sekitar jam sepuluh, Pak Raden datang ke warung Mas Agus.

Warung baru saja buka.

Masih sepi.

Memang biasanya pelanggan mulai ramai menjelang makan siang.

Begitu masuk, Pak Raden langsung mencium sesuatu.

Melati.

Lalu samar-samar…

dupa.

Pak Raden berhenti.

Bulu tangannya berdiri.

“Wah…”

Mas Agus keluar dari belakang.

“Eh, Pak! Silakan masuk.”

Pak Raden tersentak.

“Oh… iya.”

“Duduk saja, Pak.”

Pak Raden duduk pelan.

Matanya bergerak ke kiri.

Ke kanan.

Ke bawah meja.

Ke dekat kompor.

Mencari sesuatu.

Entah kepala jenglot.

Entah mangkuk sesajen.

Entah makhluk besar.

Yang ia temukan cuma sapu, tabung gas, dan keranjang bawang merah.

---

Mas Agus tersenyum.

“Bapak mau coba sate?”

Pak Raden mengangguk.

“Boleh.”

“Pedas?”

Pak Raden ingin menjaga harga diri.

“Pedas.”

Mas Agus bertanya lagi.

“Pedas biasa atau pedas Bali?”

Pak Raden ragu sebentar.

“Bedanya?”

Mas Agus tersenyum.

“Kalau biasa masih bisa ngobrol.”

“Kalau Bali?”

“Biasanya lebih banyak diam.”

Pak Raden akhirnya memilih pedas biasa.

Untuk kepentingan investigasi, katanya dalam hati.

---

Sambil menunggu sate dibakar, Pak Raden memperhatikan warung.

Bersih.

Meja rapi.

Botol sambal ditutup.

Piring tersusun.

Lantai kering.

Pegawainya menyapa sopan.

Daging disimpan dalam wadah tertutup.

Mas Agus bahkan beberapa kali mengingatkan pegawainya:

“Yang lama jangan dicampur sama yang baru.”

Pak Raden mulai sedikit kecewa.

Tidak ada yang mencurigakan.

---

Tak lama kemudian sate datang.

Asapnya harum.

Mas Agus meletakkan sambal di samping.

“Silakan, Pak.”

Pak Raden mengambil satu tusuk.

Menggigit.

Diam.

Mengunyah.

Diam lagi.

Mas Agus bertanya,

“Gimana, Pak?”

Pak Raden sebenarnya ingin mencari kekurangan.

Tapi sulit.

“Enak.”

“Alham—”

Mas Agus tertawa kecil lalu membetulkan,

“Syukurlah kalau cocok.”

Pak Raden mencoba sambalnya.

Pedas.

Tapi enak.

Ada terasi.

Cabai.

Jeruk limau.

Rempah.

Sedikit rasa manis.

Tidak ada rasa kemenyan.

Pak Raden mulai bingung.

---

Karena suasana masih sepi, Mas Agus ikut duduk.

“Bapak memang tinggal sebelah, ya?”

“Iya.”

“Maaf saya belum sempat kenalan. Baru pindah.”

Pak Raden mulai membuka percakapan.

“Asalnya dari mana, Mas?”

“Bali.”

Pak Raden berhenti mengunyah.

“Bali?”

“Iya.”

Mas Agus tersenyum.

“Nama lengkap saya I Putu Agus Sudarsana.”

Pak Raden hampir menjatuhkan sendok.

“Oh…”

Mas Agus melanjutkan.

“Saya pindah ke Pemalang karena istri saya dipindah tugas oleh kantornya.”

Pak Raden mulai merasa ada kepingan puzzle di kepalanya yang perlahan runtuh.

Ia memberanikan diri bertanya.

“Mas… kalau pagi suka bakar dupa ya?”

Mas Agus mengangguk santai.

“Iya.”

Pak Raden langsung tegang.

Mas Agus melanjutkan,

“Saya Hindu, Pak.”

Pak Raden membeku.

“Oh.”

“Sebelum buka toko saya biasa sembahyang dulu.”

“Oh…”

“Makanya kadang ada aroma dupa sama bunga.”

“Oh…”

Mas Agus tersenyum.

“Saya juga masih cari informasi pura yang bisa saya kunjungi di sekitar sini.”

Pak Raden tidak tahu harus meletakkan muka di mana.

---

Tiba-tiba semua cerita yang selama ini ia bangun runtuh satu per satu.

Bau dupa?

Mas Agus memang sedang sembahyang.

Bunga melati?

Bagian dari persembahan dan bunga yang digunakan.

Tidak pernah ke masjid?

Ya jelas.

Mas Agus Hindu.

Sambal bikin ketagihan?

Karena memang enak.

Setan besar di depan toko?

Belum terjawab.

Pak Raden memberanikan diri bertanya.

“Mas…”

“Iya?”

“Kalau malam… suka ada bayangan besar di depan toko nggak?”

Mas Agus berpikir.

“Oh!”

Pak Raden tegang.

Mas Agus menunjuk ke pojok.

“Itu mungkin patung dekorasi saya yang ditutup kain hitam kalau malam.”

Pak Raden memegang jidat.

Selesai sudah.

---

Siang itu Pak Raden pulang.

Istrinya sedang menjemur pakaian.

Bu Raden langsung bertanya,

“Gimana investigasinya?”

Pak Raden diam.

“Satenya gimana?”

“Enak.”

“Kemenyannya?”

Pak Raden mendengus.

“Dupa buat sembahyang.”

Bu Raden berhenti menjemur.

“Terus katanya nggak pernah salat?”

Pak Raden menjawab pelan,

“Dia Hindu.”

Bu Raden menatap suaminya lima detik.

Lalu tertawa.

“HAHAHAHAHAHA!”

Pak Raden semakin malu.

Bu Raden sampai duduk.

“Ya ampun, Pak!”

“Wis.”

“Makanya jangan suka suudzon!”

“Wis!”

“Orang sembahyang dibilang pesugihan.”

“Wis, Bu!”

“Orang Hindu nggak ke masjid kamu curigai!”

“BU!”

“Terus setan besar?”

Pak Raden menjawab kecil,

“Patung ditutup kain.”

Bu Raden tertawa lebih keras.

---

Malamnya Pak Raden datang ke tongkrongan.

Teman-temannya langsung bertanya.

“Gimana, Den?”

“Ketemu sesuatu?”

Pak Raden duduk.

Mengambil teh.

Lalu menjawab,

“Ketemu.”

Semua langsung mendekat.

“Apa?”

Pak Raden menjawab datar,

“Ketemu kebodohan saya sendiri.”

Semua bingung.

Pak Raden akhirnya menceritakan semuanya.

Beberapa tertawa.

Beberapa malu.

Satu orang tetap mencoba menyelamatkan teori.

“Tapi sambalnya kok bikin nagih?”

Pak Raden langsung menjawab,

“Karena enak, Goblok.”

---

Sejak saat itu Pak Raden malah sering makan di warung Mas Agus.

Kadang membantu mengenalkan Mas Agus kepada tetangga.

Mas Agus juga sering mampir ke rumah Pak Raden melihat koleksi barang antiknya.

Mereka akhirnya menjadi teman.

Dan kalau ada pelanggan baru bertanya,

“Pak, kok warung ini wangi dupa?”

Pak Raden biasanya menjawab duluan:

“Mas Agus sembahyang tiap pagi.”

Lalu dengan wajah serius ia menambahkan,

“Kalau mau cari pesugihan, jangan di sini.”

Orang biasanya tertawa.

---

Beberapa bulan kemudian, Mas Agus memasang tulisan kecil dekat kasir:

«“Rahasia sate kami: daging segar, bumbu Bali, bara panas, dan kerja yang benar.”»

Di bawahnya Pak Raden menambahkan tulisan dengan spidol:

“Bukan kemenyan.”

Mas Agus melihat tulisan itu lalu tertawa.

“Pak Raden ini…”

Pak Raden ikut tertawa.

Karena akhirnya ia belajar satu hal:

Gosip memang seperti bara.

Digosok sedikit…

bisa makin panas.

Ditambah cerita sedikit…

bisa jadi api.

Dan kalau tidak hati-hati, yang terbakar bukan orang lain.

Muka sendiri.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 1 reader reaction

About the writer

WS

@seat

A Story to Remember

1 story published · 1 follower

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Mystery

Recently published stories from the same category.