Skip to content
Log in
Everyday Life

Sing Penting Isinya……

by Maurice Joanna

Published 9 min read7 views

Start reading

Jumat itu agak berbeda dari biasanya.

Ibu telah menelepon Raisa sejak semalam.

“Nak, Ayahmu masuk rumah sakit karena DBD. Minggu ini kami nggak bisa jemput kamu ke kost, ya. Kamu kalau ada apa-apa telepon saja. Mama sudah isi GoPay kamu.”

“Iya, Ma. Tenang saja. Mama jaga Papa. Raisa di kost saja minggu ini.”

Biasanya seminggu sekali Mama Raisa selalu menjemputnya dari kost untuk pulang ke rumah. Maklum, Raisa tahun ini baru akan menginjak umur lima belas tahun pada bulan November nanti.

Pilihan SMA di Surabaya membuat dia harus nge-kost.

Sebenarnya jarak rumahnya tidak sampai membuat orang harus naik pesawat atau kereta semalaman. Tetapi kalau ditempuh setiap hari tetap saja melelahkan. Apalagi jam masuk sekolah pagi sekali. Akhirnya, setelah melalui perdebatan panjang antara Mama yang khawatir dan Papa yang lebih santai, diputuskan Raisa tinggal di sebuah kost khusus pelajar yang tidak terlalu jauh dari sekolah.

Hanya saja orang tua Raisa sering khawatir anaknya kesepian.

Yah, tipe orang tua zaman sekarang.

Anaknya baru tidak membalas WhatsApp setengah jam saja, Mama sudah menelepon.

“Kamu di mana?”

“Di kamar.”

“Kok WA Mama nggak dibalas?”

“Lagi mandi.”

“Ya bilang dulu kalau mau mandi.”

Raisa sampai bingung.

Bagaimana caranya bilang mau mandi kalau Mama mengirim pesan ketika dia sudah di kamar mandi?

Tapi Raisa tahu itu cara Mamanya menyayangi dirinya.


Sabtu pagi, Raisa bangun hampir pukul sembilan.

Tidak ada agenda.

Tidak ada Mama yang menelepon dari depan kost sambil berkata, “Cepetan turun, Papa sudah nunggu.”

Ia mengambil ponsel.

Ada pesan dari Mama.

Papa sudah agak turun panasnya. Jangan khawatir. Sarapan ya.

Raisa membalas singkat.

Siap Ma 👍

Lalu turun ke dapur kost.

Penampilannya seperti biasa.

Kaos oblong abu-abu agak kebesaran, celana pendek hitam, rambut diikat seadanya, dan sandal jepit.

Sandal jepit itu bahkan bukan sandal mahal.

Sandal karet biasa.

Kalau putus, mungkin Raisa akan mencari sedotan plastik untuk menyambungnya.

Begitulah Raisa.

Ia berasal dari sebuah kota yang jauh lebih kecil dibanding Surabaya. Kehidupan keluarganya sebenarnya cukup baik. Tetapi sejak kecil Papa dan Mamanya tidak pernah membiasakannya menilai orang dari barang yang dipakai.

Papa pernah berkata,

“Kalau beli barang bagus karena memang kamu suka dan mampu, silakan. Tapi jangan beli barang supaya orang lain menganggap kamu hebat.”

Kalimat itu menempel di kepala Raisa sampai sekarang.

Akibatnya, Raisa menjadi anak yang kadang terlalu cuek.

Pergi membeli makan?

Kaos.

Ke minimarket?

Kaos.

Mengerjakan tugas kelompok?

Kaos.

Mau beli es teh lima ratus meter dari kost?

Kaos dan sandal jepit.

Bagi Raisa, selama bajunya bersih dan sopan, persoalan selesai.

Siang itu, ketika ia sedang menikmati nasi goreng bungkus di ruang tengah kost, tiga temannya turun dari lantai atas.

Ada Kezia, Michelle, dan Felicia.

Mereka juga anak SMA yang tinggal di kost yang sama.

“Rais!” teriak Kezia. “Nanti ikut ke mal, yuk!”

Raisa mengunyah nasi gorengnya.

“Ngapain?”

Pertanyaan itu membuat ketiganya tertawa.

“Ya ampun. Ke mal kok ditanya ngapain?”

“Ya memang ngapain?”

“Jalan-jalan. Makan. Lihat-lihat. Bosan di kost.”

Raisa mengangkat bahu.

“Oke.”

“Jam dua, ya.”

“Oke.”


Tepat pukul dua kurang sepuluh, tiga temannya sudah berkumpul di ruang depan.

Kezia memakai rok dengan atasan yang rapi. Michelle memakai sneakers putih yang kelihatannya baru dibersihkan sampai tidak ada setitik debu pun. Felicia memakai tas kecil yang Raisa tidak tahu mereknya, tetapi dari cara Felicia beberapa kali membetulkan posisinya, kemungkinan tas itu cukup mahal.

Kemudian Raisa turun dari tangga.

Kaos putih.

Celana pendek selutut.

Sandal jepit.

Tas selempang kain kecil.

“Sudah,” katanya.

Ketiganya diam.

Michelle memandang Raisa dari atas sampai bawah.

“Raisa…”

“Hmm?”

“Kamu mau ke mana?”

“Ke mal.”

“Iya. Maksudku… kamu mau ke mal pakai begitu?”

Raisa melihat bajunya sendiri.

“Kenapa?”

Kezia mulai tertawa.

“Ya ampun, Rais. Sandal jepit?”

“Lha terus?”

“Ganti sepatu kek.”

“Ngapain?”

“Biar proper.”

Raisa kembali melihat sandalnya.

“Ini nggak rusak, kok.”

Felicia tertawa paling keras.

“Bukan masalah rusak!”

Raisa hanya nyengir.

Ia masuk sebentar ke kamar.

Teman-temannya saling berpandangan.

“Nah, gitu dong. Pasti ganti,” kata Michelle.

Tidak sampai satu menit, Raisa keluar lagi.

Masih dengan sandal jepit.

Hanya membawa power bank.

“Yuk.”

“Raisaaaa!”

“Apa lagi?”

Akhirnya mereka menyerah.


Mal di Surabaya itu ramai sekali sore itu.

Bagi ketiga temannya, suasana seperti itu sudah biasa.

Bagi Raisa, mal besar tetap terasa sedikit aneh.

Begitu banyak toko.

Begitu banyak lampu.

Begitu banyak orang berjalan membawa paper bag.

Dan entah mengapa begitu banyak orang membeli minuman yang harganya menurut Raisa bisa dipakai membeli tiga porsi nasi pecel di dekat rumahnya.

Mereka berhenti di sebuah kedai minuman.

“Rais, mau apa?”

Raisa melihat papan menu.

Matanya bergerak dari atas ke bawah.

Lalu kembali ke atas.

“Air mineral ada?”

Ketiga temannya tertawa lagi.

“Kita ke sini buat beli minuman, Rais!”

“Iya. Air mineral kan minuman.”

“Boba kek. Matcha. Coffee.”

Raisa menggeleng.

“Air putih saja.”

“Kamu benar-benar anak desa, ya.”

Ucapan itu sebenarnya terdengar seperti bercanda.

Raisa pun tidak tersinggung.

Ia malah tertawa.

“Iya. Terus kenapa?”

Jawaban sesederhana itu justru membuat Michelle berhenti tertawa beberapa detik.

Raisa memang seperti itu.

Sulit mengejek orang yang tidak merasa sedang dihina.

Mereka melanjutkan berjalan.

Sesekali teman-temannya berhenti untuk berfoto.

“Rais, fotoin!”

Raisa mengambil ponsel.

Klik.

“Yang portrait!”

Klik.

“Dari bawah sedikit biar kelihatan tinggi.”

Raisa jongkok.

Klik.

“Eh jangan terlalu bawah!”

“Katanya dari bawah.”

“Ya nggak segitu juga!”

Raisa tertawa.

Baginya sore itu menyenangkan.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Sampai akhirnya mereka tiba di area atrium.

Di situlah keributan kecil terjadi.

Seorang laki-laki asing berusia sekitar lima puluhan berdiri dekat eskalator bersama seorang perempuan dan seorang anak kecil. Wajah mereka terlihat cemas.

Seorang petugas keamanan mal mencoba membantu.

“Sir… where do you want to go?”

Laki-laki itu menggeleng.

Ia menjawab cepat dalam bahasa yang tidak dipahami petugas.

Petugas keamanan memanggil rekannya.

Seorang staf perempuan datang.

“Hotel, Sir? Taxi?”

Laki-laki itu kembali berbicara.

Tetap tidak ada yang mengerti.

Beberapa pengunjung mulai memperhatikan.

Ada yang sekadar melirik.

Ada pula yang berdiri menonton.

Raisa dan teman-temannya kebetulan melewati tempat itu.

Kezia berkata pelan,

“Kayaknya orang Arab, deh.”

Michelle mengangguk.

“Kasihan. Nggak bisa bahasa Inggris kayaknya.”

Raisa yang tadinya berjalan terus mendadak berhenti.

Ia mendengarkan beberapa detik.

Laki-laki asing itu kembali berbicara.

Raisa memiringkan kepala.

“Oh…”

“Apa?” tanya Felicia.

“Dia ngomong Arab.”

“Ya kita juga tahu kali.”

“Bentar.”

Raisa menyerahkan botol air mineralnya kepada Kezia.

“Pegang.”

“Lho, mau ke mana?”

Raisa sudah berjalan mendekati kerumunan.

Sandal jepitnya berbunyi pelan.

Tek. Tek. Tek.

Petugas keamanan sempat mengangkat tangan.

“Dek, sebentar ya, ini sedang—”

Raisa justru menatap laki-laki asing itu.

Lalu dengan tenang ia bertanya,

“Assalāmu'alaikum. Hal yumkinunī musā'adatuka? Mā al-musykilah?”

Assalamu'alaikum. Apa saya bisa membantu? Ada masalah apa?

Laki-laki itu langsung terdiam.

Wajahnya yang sejak tadi tegang berubah.

“Wa'alaikumussalam!”

Ia menjawab panjang dalam bahasa Arab.

Kezia melongo.

Michelle menurunkan ponselnya.

Felicia berkedip beberapa kali.

Petugas keamanan pun memandang Raisa seperti baru saja melihat sesuatu yang sama sekali tidak diduganya.

Raisa mendengarkan dengan serius.

Sesekali ia mengangguk.

Kemudian ia bertanya lagi.

Percakapan berlangsung hampir dua menit.

Ternyata keluarga tersebut sedang mencari tempat penjemputan kendaraan daring. Mereka sudah terpisah dari rombongan. Ponsel milik laki-laki itu tidak dapat tersambung ke jaringan internet, sementara alamat hotel dan informasi kendaraan berada di ponsel istrinya yang baterainya hampir habis.

Mereka mengira pintu keluar yang ditunjukkan sebelumnya adalah tempat penjemputan, padahal kendaraan menunggu di sisi lain gedung.

Raisa berbalik kepada petugas keamanan.

“Pak, mereka mau ke titik penjemputan kendaraan online. Katanya mobilnya menunggu di pintu sebelah timur. Mereka tadi salah diarahkan ke sini. Bisa dibantu?”

“Oh! Bisa, bisa.”

Petugas itu segera menghubungi rekannya melalui radio.

Raisa kemudian menjelaskan kembali dalam bahasa Arab bahwa petugas mal akan mengantar mereka ke lokasi yang benar.

Laki-laki tersebut tersenyum lebar.

Istrinya juga tersenyum lega.

Sebelum pergi, laki-laki itu menyalami Raisa dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Raisa menjawab singkat.

Selesai.

Tidak ada pidato.

Tidak ada gaya.

Ia berbalik, lalu berjalan kembali menuju teman-temannya.

Tek. Tek. Tek.

Sandal jepit yang tadi menjadi bahan tertawaan masih sandal jepit yang sama.

Tetapi sekarang tiga temannya memandang sandal itu—dan pemiliknya—dengan cara yang berbeda.

“Rais…”

“Hm?”

“Kamu bisa bahasa Arab?”

“Sedikit.”

“SEDIKIT?”

Raisa mengambil kembali botol air mineralnya dari tangan Kezia.

“Ya bisa ngobrol.”

Michelle masih tidak percaya.

“Belajar dari mana?”

“Dari kecil.”

“Les?”

“Macam-macam. Papa Mama memang suruh aku belajar bahasa. Katanya bahasa itu buat buka pintu.”

“Pintu apa?”

Raisa membuka tutup botolnya.

“Nggak tahu. Papa ngomongnya gitu.”

Ia minum.

Petugas keamanan yang tadi membantu berjalan melewati mereka.

Ia tersenyum kepada Raisa.

Kemudian berkata kepada rekannya dalam bahasa Jawa khas Surabaya,

“Walah… nganggo kathok pendek, kaosan, jebul pinter arek iki.”

Temannya tertawa.

Raisa ikut tertawa.

“Pak, sandal jepite durung disebut.”

Petugas itu tertawa semakin keras.

“Yo sandal jepitan pisan!”

Teman-temannya pun akhirnya ikut tertawa.

Tetapi kali ini tawa mereka berbeda.

Bukan menertawakan Raisa.

Mereka tertawa bersama Raisa.


Malamnya, mereka makan di food court.

Kezia tiba-tiba bertanya,

“Rais, kamu sebenarnya bisa bahasa apa aja?”

Raisa sedang sibuk mengaduk sambalnya.

“Indonesia.”

“Ya iyalah!”

“Jawa.”

“Terus?”

“Inggris.”

“Arab.”

“Sedikit Mandarin.”

Ketiganya kembali terdiam.

“Sedikit Mandarin itu seberapa sedikit?”

Raisa berpikir.

“Ya… kalau kalian nyasar di China mungkin aku masih bisa bantu cari toilet.”

“RAISA!”

Mereka tertawa.

Felicia kemudian berkata,

“Gila sih. Dari tadi kita ngeledekin kamu gara-gara pakaian.”

Raisa mengangkat wajah.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu nggak kesel?”

“Ngapain?”

“Ya… kita bilang kamu kayak anak desa.”

Raisa mengambil sepotong ayam.

“Aku memang dari kota kecil.”

Jawaban itu kembali membuat mereka diam.

Bagi Raisa, tidak ada sesuatu yang harus dipermalukan.

Kota kecil bukan kebodohan.

Sandal jepit bukan kemiskinan.

Kaos sederhana bukan berarti tidak punya kemampuan.

Dan pakaian mahal pun tentu tidak berarti seseorang buruk.

Itu hanya pakaian.

Raisa teringat sesuatu yang sering dikatakan Papanya.

“Wadah itu penting, Rais. Harus bersih, harus pantas. Tapi jangan habiskan hidupmu menghias wadah sampai lupa mengisi isinya.”

Dulu Raisa tidak terlalu mengerti.

Malam itu ia mulai sedikit memahami.


Sekitar pukul sembilan, Raisa sudah kembali di kamar kost.

Ia melakukan video call dengan Mamanya.

Wajah Mama muncul di layar.

Di belakangnya terlihat kamar rumah sakit.

“Gimana hari ini?”

“Main ke mal.”

Mama langsung terlihat senang.

“Nah, bagus! Sama teman-teman?”

“Iya.”

“Beli apa?”

“Air mineral.”

Mama terdiam.

“Ke mal beli air mineral?”

Raisa tertawa.

“Terus tadi bantu orang Arab nyasar.”

“Hah?”

Raisa menceritakan kejadian sore tadi.

Mama mendengarkan sambil tersenyum.

Setelah Raisa selesai, terdengar suara Papa dari tempat tidur.

“Itu Raisa?”

“Iya.”

“Kasih sini.”

Kamera berpindah.

Wajah Papa masih terlihat pucat.

“Hebat kamu,” katanya.

Raisa tersenyum.

“Biasa aja, Pa.”

“Bahasa Arabnya kepakai akhirnya.”

“Iya.”

Papa tertawa kecil.

“Tuh kan. Dulu disuruh belajar protes terus.”

“Kan susah.”

“Tapi berguna?”

Raisa mengangguk.

“Berguna.”

Papa terdiam sebentar.

Kemudian berkata,

“Makanya, orang itu jangan sibuk kelihatan pintar. Sibuklah belajar. Nanti kalau waktunya datang, kepintaran itu keluar sendiri.”

Raisa tersenyum.

“Iya, Pa.”

“Terus tadi ke mal pakai apa?”

“Kaos.”

“Celana pendek?”

“Iya.”

“Sandal jepit?”

“Iya.”

Papa tertawa.

“Ya ampun. Mama kamu nggak ngajarin dandan?”

Dari belakang terdengar suara Mama.

“Sudah! Anaknya aja yang bandel!”

Mereka bertiga tertawa.

Sebelum menutup telepon, Raisa berkata,

“Papa cepat sembuh ya.”

“Iya.”

“Minggu depan jemput aku.”

“Siap.”

Telepon berakhir.

Raisa meletakkan ponsel di meja.

Ia melihat sandal jepitnya di depan pintu kamar.

Sandal sederhana.

Tidak bermerek.

Mungkin kalau dipajang di mal sore tadi tidak akan ada yang mau membelinya.

Tetapi Raisa tersenyum melihatnya.

Hari itu ia belajar sesuatu.

Mungkin penampilan memang penting.

Berpakaian pantas adalah bentuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Tidak ada yang salah dengan berdandan, memakai sepatu bagus, tas mahal, atau menikmati kehidupan kota.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Apa yang kita simpan di kepala.

Apa yang kita tanam di hati.

Apa yang bisa kita lakukan ketika orang lain membutuhkan bantuan.

Sebab dunia terkadang terlalu cepat menilai seseorang dari apa yang terlihat.

Padahal manusia bukan etalase toko.

Dan kemampuan tidak selalu datang dengan sepatu mahal.

Kadang-kadang ia datang memakai kaos oblong, celana pendek, membawa air mineral…

dan berjalan santai dengan sandal jepit.

Tek. Tek. Tek.

Raisa mematikan lampu kamar.

Sebelum tidur, ia teringat komentar petugas keamanan tadi.

Walah… nganggo kathok pendek, kaosan, jebul pinter arek iki.

Raisa tertawa sendiri.

Lalu menarik selimut.

Sing penting dudu bungkusé.

Sing penting isiné.

------- Selesai -------

By .

Agt08

08 Agustus 2026

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

Maurice Joanna

@maurice_joanna

7 stories published · 1 follower

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Everyday Life

Recently published stories from the same category.