Skip to content
Log in
Everyday Life

Kucing Nakal yang Manja

Satu hari di Hidup Jane

by JM

Published 5 min read2 views

Kucing Nakal yang Manja

Bagi Jane, dunia ini penuh dengan hewan-hewan lucu yang menggemaskan, terutama anjing dan kucing. Meskipun di rumahnya sendiri Jane sudah memelihara seekor anjing setia berbulu cokelat lebat yang diberi nama Brownie—sesuai dengan warna bulunya yang mirip kue cokelat—Jane tetap tidak bisa menolak pesona kucing-kucing tetangga yang sering berkeliaran di sekitar halaman rumahnya.

Tetangga sebelah rumah Jane memang memelihara beberapa ekor kucing yang sangat menggemaskan. Setiap sore hari, jika Jane sedang bersantai di teras depan, kucing-kucing itu sering datang mendekat.

Jane selalu menyempatkan diri untuk mengelus kepala mereka yang lembut. Kucing-kucing itu pun tampak sangat akrab; mereka suka mendengkur pelan sambil menggosok-gosokkan badan mereka yang berbulu halus ke kaki Jane, mencari perhatian dan belaian. Jane menganggap mereka adalah teman-teman berbulu yang manis.

Suatu sore yang cerah, Jane baru saja pulang dari minimarket Indomaret di dekat rumahnya. Di dalam kantong belanjanya, terdapat satu makanan paling favorit di dunia bagi Jane: sebatang sosis siap santap berukuran besar yang rasanya sangat gurih.

Jane membuka bungkus sosis itu dengan tidak sabar. Sambil berjalan santai menuju teras rumahnya, ia menggigit ujung sosis tersebut dengan penuh kenikmatan. Aroma sosis panggang yang lezat langsung menguar di udara sore itu.

Tanpa Jane sadari, aroma sosis yang menggugah selera itu ternyata tertangkap oleh penciuman tajam seekor kucing tetangga yang berbulu abu-abu belang putih. Kucing itu—yang biasanya terlihat sangat manis dan suka bermanja-manja—sedang mengintai dari balik pot bunga.

Jane duduk di kursi teras, asyik menikmati gigitan keduanya. Tepat pada detik ketika Jane sedang menoleh ke arah jalan untuk memanggil Brownie, kucing abu-abu itu melihat kesempatan emas.

Sikat!

Dengan kecepatan kilat, si kucing melompat ke atas kursi Jane. Tanpa basa-basi, ia langsung membuka mulutnya lebar-lebar, menggigit sosis yang sedang dipegang Jane erat-erat, lalu menariknya kuat-kuat dari tangan gadis kecil itu.

"Hah?!" Jane terperanjat kaget.

Sebelum ia sempat mempertahankan makanannya, koyakan kuat dari si kucing berhasil merampas separuh batang sosis dari tangan Jane. Kucing nakal itu langsung mendarat kembali ke lantai halaman dengan sosis di mulutnya, lalu kabur beberapa langkah ke bawah pohon mangga.

Jane terdiam selama dua detik, menatap sosisnya yang kini sudah berpindah tangan. Seketika itu juga, pertahanan hatinya runtuh. Tangisnya pecah seketika, bercampur dengan rasa kesal yang amat sangat.

"Huwaaaaa!! Sosiskuuuu!" jerit Jane histeris. Ia menunjuk ke arah si kucing dengan jari telunjuknya yang gemetar karena marah. "Bad cat! Bad cat! Kamu kucing nakal! Jahat banget!" teriak Jane kesal.

Namun, apa reaksi si kucing?

Alih-alih merasa bersalah atau ketakutan, kucing abu-abu itu justru duduk dengan santai di atas rumput. Dengan gaya tanpa dosa, ia mulai mengunyah sosis milik Jane dengan sangat lahap, menikmati setiap gigitan makanan curian itu sambil sesekali melirik Jane seolah-olah sedang berkata, "Hmm, enak sekali terima kasih, ya."

Kemarahan Jane semakin menjadi-jadi melihat tingkah kucing tersebut. Ia masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kaki, mengadu kepada Mama dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

"Ma! Lihat tuh kucing tetangga! Jahat banget! Sosis Jane yang dibeli di Indomaret direbut dan dimakan sama dia!" adu Jane dengan suara terisak-isak.

Mama yang sedang merapikan meja makan mendekati Jane dan mengelus pundak putrinya dengan lembut. "Lho, kok bisa direbut? Kamu taruh di mana sosisnya?"

"Jane pegang, tapi Jane tadi lengah sebentar... eh, dia langsung gigit dan tarik! Padahal itu sosis kesukaan Jane," isak Jane masih dengan sisa-sisa amarah di wajahnya. "Bad cat banget pokoknya, Ma!"

Keesokan paginya, ketika Jane membuka pintu depan rumah untuk menyapu halaman, ia melihat seekor bayangan melompat pelan ke teras. Itu adalah si kucing abu-abu kemarin!

Jane langsung melotot, bersiap mengusir kucing itu. "Hei! Pergi sana! Kamu kucing nakal!" teriak Jane memperingatkan.

Tetapi, apa yang dilakukan si kucing sungguh di luar dugaan. Kucing itu sama sekali tidak ingat kejadian kemarin—atau lebih tepatnya, ia tidak peduli. Dengan muka polos dan ekor yang melengkung ke atas tanda gembira, kucing itu berjalan mendekati kaki Jane.

Ia mengeong pelan ("Meow..."), lalu dengan sangat manja kembali menggosok-gosokkan badannya yang hangat ke betis Jane, meminta dielus seperti biasa.

Jane tertegun sejenak. Ia menatap si kucing dengan perasaan campur aduk antara sebal dan geli.

Mama yang kebetulan keluar membawa segelas air hangat melihat kejadian itu dari ambang pintu. Beliau tersenyum geli melihat ekspresi wajah Jane.

"Tuh kan, dia datang lagi tanpa rasa bersalah," kata Mama sambil tertawa kecil. "Jane, dengar ya. Kamu tidak boleh terus-menerus sebal begitu. Kucing itu sebenarnya tidak salah."

Jane menoleh ke arah Mama dengan mata membelalak heran. "Kok tidak salah, Ma? Jelas-jelas dia sudah merampok sosis Jane kemarin!"

Mama berlutut di sebelah Jane, menyamakan tingginya dengan sang anak. "Namanya juga hewan, Jane. Kucing tidak punya akal pikiran seperti manusia untuk tahu mana barang milik orang lain dan mana yang bukan. Bagi dia, waktu mencium bau sosis yang enak di depan hidungnya, instingnya sebagai kucing langsung bergerak untuk mengambil makanan. Dia tidak mengerti kalau itu adalah makanan kesukaanmu yang dibeli pakai uang."

Jane terdiam, mencerna perkataan Mama. Ia melirik kembali ke arah si kucing yang kini sedang meregangkan badan (stretching) di dekat sepatunya dengan sangat menggemaskan.

"Jadi... dia tidak sengaja berniat jahat sama Jane?" tanya Jane pelan, nada marahnya mulai mereda.

"Tentu saja tidak. Dia cuma lapar dan tergoda," jawab Mama sambil tersenyum sabar. "Makanya, kalau kamu sedang makan makanan yang beraroma sedap di luar rumah, lain kali harus lebih berhati-hati dan dijaga baik-baik, jangan sampai lengah. Hewan tidak mengerti aturan manusia, Sayang."

Jane menghela napas panjang, lalu perlahan ia menurunkan tangannya yang tadinya mengepal. Ia menatap si kucing abu-abu yang kembali mendengkur manja di kakinya. Sedikit rasa jengkel di hatinya akhirnya menguap, digantikan oleh senyuman kecil.

"Ya sudah deh... Kamu sih, bikin kaget saja," gumam Jane kepada si kucing sambil akhirnya mengelus pelan puncak kepala hewan berbulu itu.

Sejak hari itu, Jane belajar dua hal penting: pertama, ia harus lebih waspada menjaga makanannya agar tidak disambar hewan lain. Kedua, memaafkan itu jauh lebih baik daripada menyimpan marah—bahkan kepada seekor kucing tetangga yang nakal tapi menggemaskan.

What did you think?

Log in to save this story to your library and react to it.

0 saves · 0 reader reactions

About the writer

JM

@jml21

Jane adalah siswi SD Pius yang ceria, penuh rasa ingin tahu, dan sangat menyukai petualangan di alam. Dikenal aktif dan mudah excited, ia sering mengalami berbagai kejadian seru. Di balik sifatnya yang usil dan keras kepala, Jane adalah anak yang jujur, cepat belajar dari kesalahan, dan sangat menyayangi keluarganya.

7 stories published · 5 followers

Comments

0 comments

Log in to join the conversation.

No comments yet.

More in Everyday Life

Recently published stories from the same category.