
Pagi itu hari Jumat.
Seperti biasa, Slamet bangun pagi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia mandi, sarapan seadanya, memastikan buku-buku sudah masuk ke dalam tas, lalu berangkat.
Tahun ajaran baru saja dimulai.
Slamet kini duduk di kelas X di salah satu SMA swasta Katolik terbaik di Kota Surabaya. Sekolah itu terkenal dengan disiplin yang tinggi, prestasi akademik yang bagus, dan proses penerimaan siswa yang cukup ketat.
Slamet termasuk beruntung bisa diterima di sana.
Atau mungkin bukan sekadar beruntung.
Sejak SMP, Slamet memang dikenal pandai secara akademik. Matematika dan Fisika adalah pelajaran kesukaannya. Nilainya hampir selalu berada di jajaran atas. Karena itulah, meskipun Slamet beragama Islam, ia bisa diterima dan merasa bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut.
Namun ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya sejak tahun ajaran baru dimulai.
Salat Jumat.
Hari ini adalah Jumat keempat Slamet sebagai siswa SMA.
Artinya, sudah tiga kali hari Jumat berlalu sejak ia mulai bersekolah di sana.
Dan selama tiga Jumat itu pula, Slamet belum pernah melaksanakan salat Jumat.
Bukan karena sakit.
Bukan karena sedang bepergian.
Bukan pula karena ia sengaja ingin meninggalkan kewajibannya.
Ia hanya tidak memiliki keberanian untuk meminta izin.
Pada Jumat pertama, Slamet berpikir mungkin sekolah sudah mempunyai pengaturan untuk siswa Muslim. Tetapi ternyata tidak ada yang memberitahunya.
Jumat kedua, ia sudah berniat bertanya kepada wali kelas. Namun ketika melihat seluruh temannya tetap mengikuti pelajaran seperti biasa, keberaniannya hilang.
“Nanti dikira minta perlakuan khusus,” pikirnya.
Pada Jumat ketiga, Slamet bahkan sudah membawa peci dan sajadah kecil di dalam tas.
Namun benda-benda itu kembali pulang bersamanya tanpa pernah digunakan.
Sekarang adalah Jumat keempat.
Dan kali ini Slamet benar-benar gelisah.
Sejak kecil ia dididik keluarganya dengan nilai-nilai agama yang cukup kuat. Ayahnya selalu mengingatkan bahwa menjadi pintar di sekolah adalah sesuatu yang penting, tetapi kepandaian tidak boleh membuat seseorang melupakan kewajibannya kepada Tuhan.
Slamet juga pernah mendengar peringatan keras mengenai seorang Muslim laki-laki yang berulang kali meninggalkan salat Jumat tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalam pemahamannya sebagai anak remaja, muncul ketakutan besar di dalam kepalanya.
Bagaimana kalau aku meninggalkan salat Jumat lagi?
Bagaimana kalau imanku dipertanyakan?
Bahkan pernah terlintas ketakutan di benaknya tentang anggapan bahwa meninggalkan salat Jumat berkali-kali dapat membuat seseorang dianggap meninggalkan agamanya.
Entah pemahamannya sudah sepenuhnya tepat atau belum.
Tetapi bagi Slamet, ketakutan itu nyata.
Sebenarnya Slamet bukan satu-satunya siswa Muslim di sekolah tersebut.
Ada beberapa siswa Muslim lainnya.
Namun selama tiga minggu pertama, Slamet memperhatikan mereka menjalani hari Jumat seperti hari sekolah biasa.
Tidak ada yang meminta izin keluar.
Tidak ada yang membicarakan pergi ke masjid.
Mungkin mereka mempunyai alasan masing-masing.
Slamet tidak tahu.
Dan Slamet juga tidak merasa berhak menghakimi mereka.
Hanya saja Slamet merasa dirinya sedikit berbeda.
Bukan lebih baik.
Bukan pula merasa lebih saleh.
Ia hanya dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan bahwa kewajiban agama adalah sesuatu yang harus diusahakan, bukan sekadar dicari alasan mengapa tidak bisa dilakukan.
Setelah Jumat ketiga, Slamet akhirnya memberanikan diri bercerita kepada ayahnya.
“Yah, aku sudah tiga kali enggak Jumatan.”
Ayahnya menoleh.
“Kenapa?”
“Sekolah masih berlangsung. Murid enggak boleh keluar.”
“Kamu sudah minta izin?”
Slamet diam.
“Belum.”
Ayahnya tersenyum.
“Kalau belum meminta, bagaimana kamu tahu tidak diizinkan?”
Slamet tidak menjawab.
“Takut, Yah.”
“Takut apa?”
“Takut dianggap merepotkan. Aku kan baru masuk. Takut dibilang minta perlakuan khusus. Lagian peraturan sekolah memang enggak boleh keluar selama jam pelajaran.”
Ayahnya mengangguk.
Ia tidak memarahi Slamet.
“Met, salat Jumat itu penting.”
“Iya, Yah.”
“Kalau kamu bisa melaksanakannya, laksanakan.”
Slamet mengangguk.
“Tetapi ingat satu hal. Tuhan juga tahu keadaan kita.”
Slamet menatap ayahnya.
“Kalau kamu sudah sungguh-sungguh berusaha tetapi keadaan akhirnya membuatmu tidak bisa, jangan mencari-cari alasan untuk membenarkan diri. Serahkan kepada Tuhan.”
Ayahnya menepuk bahunya.
“Allah melihat usaha kita. Mudah-mudahan Allah meridai ikhtiar kita dengan izin-Nya.”
Kalimat itu terus berada di kepala Slamet.
Yang penting adalah usahanya.
Maka Jumat keempat ini, Slamet membuat keputusan.
Ia tidak mau kembali pulang membawa sajadah yang tidak pernah dibuka.
Kalau akhirnya sekolah tidak mengizinkannya, setidaknya kali ini ia sudah mencoba.
Pukul 06.25 WIB, Slamet masuk ke lingkungan sekolah seperti biasa.
Di atas gedung utama sekolah, salib besar berdiri seperti setiap hari.
Slamet memandangnya sebentar.
Di luar pagar sekolah ini, Slamet adalah bagian dari mayoritas.
Masjid ada di mana-mana. Azan terdengar lima kali sehari. Hampir tidak ada orang yang mempertanyakan mengapa seorang laki-laki Muslim pergi ke masjid pada Jumat siang.
Tetapi hanya dengan melangkahkan kaki melewati satu pagar sekolah, posisinya berubah.
Di sini ia menjadi minoritas.
Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup, Slamet mulai memahami bahwa menjadi minoritas tidak selalu berarti diperlakukan buruk.
Kadang menjadi minoritas hanya berarti kita membutuhkan sedikit keberanian lebih untuk mengatakan apa yang kita butuhkan.
Kegiatan pagi dimulai dengan doa.
Teman-temannya membuat tanda salib dan berdoa sesuai keyakinan mereka.
Slamet berdiri tenang dan menundukkan kepala.
Tidak ada yang memaksanya mengikuti.
Ia menghormati teman-temannya yang sedang berdoa.
Setelah itu pelajaran dimulai.
Matematika.
Guru memberikan sebuah soal yang cukup sulit.
Beberapa siswa langsung mengeluh.
“Pak, ini soal Matematika apa tes masuk NASA?”
Kelas tertawa.
Slamet ikut tersenyum.
Beberapa menit kemudian Slamet mengangkat tangan, maju ke depan, dan menyelesaikan soal tersebut.
“Betul,” kata gurunya.
Teman di belakang berbisik,
“Makanya jangan duduk dekat Slamet. Bikin minder.”
Slamet tertawa.
Untuk beberapa jam, kegelisahannya tentang Jumat terlupakan.
Sampai menjelang pukul sebelas.
Slamet mulai melihat jam.
11.05.
11.12.
11.20.
Pak Vincent yang sedang mengajar memperhatikannya.
“Slamet.”
Slamet terkejut.
“Ya, Pak?”
“Kamu dari tadi lihat jam terus. Ada janji sama Presiden?”
Kelas tertawa.
Biasanya Slamet mungkin akan ikut tertawa lalu kembali diam.
Tetapi kali ini ia teringat ucapan ayahnya.
Kalau belum meminta, bagaimana kamu tahu tidak diizinkan?
Slamet menarik napas.
“Pak... saya mau minta izin.”
“Mau ke mana?”
Untuk orang lain mungkin kalimat berikutnya sangat sederhana.
Tetapi Slamet membutuhkan waktu hampir empat minggu untuk berani mengatakannya.
“Saya harus salat Jumat, Pak.”
Pak Vincent terdiam beberapa detik.
Kemudian melihat jam tangannya.
“Oh... iya. Hari ini Jumat.”
“Iya, Pak.”
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Slamet tersenyum kikuk.
“Saya enggak berani, Pak.”
“Kenapa?”
“Takut tidak boleh keluar sekolah.”
Pak Vincent menatapnya.
“Sudah pernah minta izin?”
Slamet menggeleng.
“Belum, Pak.”
“Terus tiga Jumat sebelumnya?”
Slamet menjawab pelan.
“Saya enggak Jumatan, Pak.”
Ekspresi Pak Vincent berubah.
“Karena sekolah?”
Slamet buru-buru menggeleng.
“Bukan, Pak. Karena saya sendiri enggak berani meminta izin.”
Pak Vincent terdiam.
Kemudian ia menutup buku yang sedang dipegangnya.
“Met.”
“Ya, Pak?”
“Sekolah ini memang Katolik.”
Slamet menatap gurunya.
“Tapi kamu tetap Muslim, kan?”
Slamet mengangguk.
“Iya, Pak.”
“Ya sudah. Jangan gara-gara sekolah ini Katolik lalu kamu takut mengatakan bahwa kamu punya kewajiban sebagai seorang Muslim.”
Slamet terdiam.
“Pergi ke ruang piket. Minta izin baik-baik.”
“Kalau tidak boleh bagaimana, Pak?”
Pak Vincent tersenyum.
“Ya kita cari caranya.”
Slamet berjalan menuju ruang piket.
Namun persoalan ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.
“Tidak bisa keluar sendiri.”
Petugas piket menjelaskan bahwa selama jam sekolah, siswa tidak diperbolehkan meninggalkan lingkungan sekolah tanpa izin resmi dan pendamping.
“Saya mau salat Jumat, Pak.”
“Saya mengerti. Tapi saya juga tidak bisa begitu saja membuka gerbang.”
Slamet melihat jam.
11.30.
Waktu terus berjalan.
11.35.
Untuk orang lain, lima atau sepuluh menit mungkin tidak berarti apa-apa.
Bagi Slamet, setiap menit terasa sangat panjang.
Pak Vincent akhirnya menyusul.
“Kok belum berangkat?”
“Tidak boleh keluar sendiri, Pak.”
Petugas piket menjelaskan peraturan sekolah.
Pak Vincent tidak marah.
Ia memahami bahwa petugas piket juga sedang menjalankan tugas.
Masalah tersebut akhirnya dibawa kepada wakil kepala sekolah.
Ada kekhawatiran bahwa jika satu siswa diizinkan keluar pada jam pelajaran, siswa lain mungkin akan meminta hal serupa dengan berbagai alasan.
“Kalau kita izinkan Slamet keluar begitu saja, nanti siswa lain juga bisa meminta keluar.”
Pak Vincent menjawab tenang.
“Karena itu jangan biarkan dia keluar begitu saja.”
Semua menatapnya.
“Saya dampingi.”
Ruangan menjadi hening.
“Dengan begitu kita tidak melanggar aturan sekolah. Slamet tetap keluar dengan izin resmi dan didampingi.”
Pak Vincent melanjutkan,
“Ini bukan soal memberikan keistimewaan kepada Slamet. Ini soal bagaimana aturan sekolah tetap berjalan tanpa membuat seorang siswa meninggalkan kewajiban agamanya.”
Wakil kepala sekolah melihat jam.
Kemudian mengangguk.
“Baik. Dicatat di buku piket. Pak Vincent dampingi.”
Slamet menarik napas lega.
Mereka segera menuju masjid terdekat.
Dalam perjalanan Slamet merasa tidak enak.
“Maaf ya, Pak. Jadi merepotkan.”
Pak Vincent menoleh.
“Kenapa minta maaf?”
“Bapak jadi harus keluar sekolah gara-gara saya.”
Pak Vincent tersenyum.
“Met, kamu kan bukan mau ke mal.”
Slamet tertawa kecil.
“Bukan, Pak.”
“Kamu juga bukan mau bolos?”
“Ya enggak, Pak.”
“Ya sudah.”
Mereka tiba di depan masjid.
Jemaah mulai berdatangan.
Slamet turun.
Namun sebelum masuk, ia berhenti.
“Pak?”
“Ya?”
“Bapak tunggu di sini?”
“Iya.”
“Lama lho, Pak.”
Pak Vincent melihat sebuah warung kecil di seberang masjid.
“Tidak apa-apa. Saya minum teh di situ.”
Slamet masih merasa sungkan.
“Beneran, Pak?”
Pak Vincent tertawa.
“Kamu masuk saja. Saya juga kalau hari Minggu ke gereja tidak suka diburu-buru.”
Slamet terdiam.
Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa begitu dalam.
“Terima kasih, Pak.”
Slamet berjalan memasuki masjid.
Ia mengambil air wudu, lalu bergabung bersama jemaah.
Ketika khutbah dimulai, pikirannya sempat melayang.
Pagi tadi ia berdiri diam menghormati teman-temannya ketika mereka berdoa.
Siang ini, seorang guru Katolik sedang duduk di sebuah warung menunggu dirinya selesai menjalankan ibadah sebagai seorang Muslim.
Tidak ada perdebatan agama.
Tidak ada yang berusaha membuktikan siapa yang paling benar.
Tidak ada pula yang harus mengurangi keyakinannya.
Semuanya terasa sederhana.
Selesai salat Jumat, Slamet keluar.
Dari kejauhan ia melihat Pak Vincent masih duduk di warung.
Di atas meja ada segelas teh yang tinggal separuh.
“Sudah?”
“Sudah, Pak.”
“Ya sudah, kita balik. Nanti kamu malah bolos beneran.”
Keduanya tertawa.
Sesampainya di sekolah, Slamet mengira persoalan selesai.
Ternyata ia dipanggil ke ruang kepala sekolah.
“Slamet, tadi sudah salat Jumat?”
“Sudah, Pak.”
“Pak Vincent yang mengantar?”
“Iya.”
Kepala sekolah mengangguk.
“Kamu tahu kenapa tadi sempat tidak diperbolehkan keluar?”
“Karena peraturan sekolah, Pak.”
“Betul. Selama jam sekolah, keselamatan kamu menjadi tanggung jawab kami. Sekolah tidak bisa membiarkan siswa keluar begitu saja.”
“Saya mengerti, Pak.”
“Tetapi sekolah juga mempunyai kewajiban menghormati keyakinan setiap siswanya.”
Slamet menatap kepala sekolah.
“Mulai Jumat depan, kita akan buat prosedurnya. Siswa Muslim yang hendak melaksanakan salat Jumat akan mendapat izin resmi dan pengaturan pendampingan. Jadi tidak perlu menunggu sampai menit terakhir seperti hari ini.”
Slamet tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Sebelum Slamet keluar, kepala sekolah berkata,
“Slamet, sekolah ini punya aturan. Tetapi aturan dibuat untuk mendidik manusia, bukan untuk membuat manusia kehilangan kewajibannya kepada Tuhan.”
Sore itu Slamet pulang.
Saat makan malam ia menceritakan semuanya kepada ayahnya.
“Yah, akhirnya tadi aku Jumatan.”
Ayahnya tersenyum.
“Terus?”
“Pak Vincent yang antar.”
“Guru kamu?”
“Iya.”
“Muslim?”
Slamet tertawa.
“Katolik, Yah.”
“Terus dia ikut masuk masjid?”
“Ya enggaklah, Yah. Dia nunggu di warung depan masjid sambil minum teh.”
Ayahnya tertawa.
Beberapa saat kemudian ayahnya bertanya,
“Sekarang kamu tahu bedanya tiga Jumat kemarin dengan Jumat hari ini?”
Slamet berpikir.
“Karena sekarang diizinkan?”
Ayahnya menggeleng.
“Bukan.”
Slamet menatapnya.
“Tiga Jumat kemarin kamu menganggap tidak akan diizinkan sebelum kamu mencoba meminta izin.”
Slamet terdiam.
“Hari ini kamu mencoba.”
Ayahnya tersenyum.
“Dan ternyata ada jalan.”
Slamet mengangguk.
“Tapi ingat, Met. Kalau tadi akhirnya sekolah tetap tidak bisa memberikan izin setelah kamu sungguh-sungguh berusaha, jangan membenci sekolahmu. Jangan pula merasa Tuhan tidak mengerti keadaanmu.”
Ayahnya menepuk bahu Slamet.
“Kita manusia hanya bisa berusaha. Allah yang mengetahui niat dan keadaan kita. Mudah-mudahan ikhtiar yang sungguh-sungguh mendapat rida-Nya.”
Kemudian ayahnya mengucapkan kalimat yang pernah ia katakan sebelumnya.
“Yang penting adalah usahanya.”
Malam itu Slamet masuk ke kamar.
Ia membuka tas sekolah.
Di dalamnya terdapat buku Matematika, Fisika, beberapa lembar tugas, sebuah peci, dan sajadah kecil yang akhirnya hari itu benar-benar digunakan.
Slamet memandang sajadah tersebut.
Kemudian ia teringat salib besar yang berdiri di atas gedung utama sekolahnya.
Ia tersenyum.
Pagi tadi seorang anak Muslim berdiri diam menghormati teman-temannya yang sedang berdoa secara Katolik.
Siang tadi seorang guru Katolik menunggu di luar masjid agar murid Muslimnya dapat menyelesaikan salat Jumat.
Tidak seorang pun berubah agama.
Tidak seorang pun kehilangan keyakinannya.
Slamet tetap seorang Muslim.
Pak Vincent tetap seorang Katolik.
Tetapi justru karena mereka berbeda, hari itu keduanya belajar sesuatu yang mungkin tidak pernah tertulis di buku pelajaran.
Bahwa menghormati orang lain tidak berarti harus menjadi sama.
Bahwa menjalankan keyakinan sendiri tidak berarti harus merendahkan keyakinan orang lain.
Bahwa aturan dan agama tidak selalu harus dipertentangkan apabila manusia mau duduk bersama mencari jalan.
Dan bahwa toleransi ternyata tidak selalu membutuhkan seminar, spanduk, atau pidato panjang.
Kadang toleransi hanya berbentuk sebuah izin keluar sekolah.
Kadang berbentuk seorang guru yang bersedia meninggalkan ruang kelas beberapa saat.
Kadang berbentuk segelas teh di warung depan masjid dan seseorang yang sabar menunggu.
Dan kadang keberanian mempertahankan keyakinan tidak harus ditunjukkan dengan kemarahan.
Cukup dengan keberanian untuk mengetuk pintu dan berkata dengan sopan:
“Pak, saya minta izin untuk salat Jumat.”
Slamet menutup tasnya.
Jumat depan mungkin semuanya akan lebih mudah.
Bukan karena perbedaan telah hilang.
Tetapi karena hari ini ada orang-orang yang mau berusaha memahami perbedaan itu.
Slamet akhirnya mengerti.
Mungkin hidup memang tidak selalu memberikan keadaan yang sempurna.
Aturan tidak selalu bisa mengakomodasi semuanya sejak awal.
Orang lain juga tidak selalu langsung memahami apa yang kita butuhkan.
Tetapi sebelum menyalahkan keadaan, sebelum menyalahkan aturan, dan sebelum menyalahkan orang lain, ada satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu:
Sudahkah kita berusaha?
Slamet tersenyum.
Ia kembali teringat pesan ayahnya.
“Yang penting adalah usahanya.......”
— SELESAI —
By. Agt08

