
Indonesia Ghost Hunter Chapter 1
Indonesia Ghost Hunter
Pemburu Tuyul Profesional
by Onitsuga
Published 12 min read2 views
INDONESIA GHOST HUNTER
Episode 1 — PENANGKAP TUYUL PROFESIONAL
“Kamu percaya hantu? Tidak masalah jika kamu tidak percaya, mereka tetap ada bahkan jika kamu tidak percaya!”
---
Di Kampung Jatiwarna, hampir tidak ada orang yang tidak mengenal Pak Surono.
Orangnya sederhana.
Tubuhnya kurus, rambutnya sudah hampir seluruhnya putih, dan kalau berjalan sedikit membungkuk sambil membawa tongkat kayu yang entah sudah berapa tahun menemaninya.
Pak Surono ramah kepada siapa saja.
Anak kecil lewat di depan rumah pasti disapa.
Tetangga mengirim makanan, pasti piringnya kembali dalam keadaan sudah dicuci bersih.
Ada warga sakit, kadang Pak Surono datang menjenguk tanpa banyak bicara.
Karena umurnya sudah sepuh dan termasuk salah satu orang paling tua di kampung, hampir semua warga memanggilnya:
Mbah Rono.
Tidak ada yang benar-benar tahu berapa umur Mbah Rono.
Ada yang bilang tujuh puluh lima.
Ada yang bilang sudah lewat delapan puluh.
Kalau ditanya langsung, beliau cuma tertawa.
«“Umur itu urusan Gusti Allah. Kalau masih dikasih bangun pagi, berarti masih disuruh kerja.”»
Kerja apa?
Nah.
Itu yang tidak pernah benar-benar diketahui warga.
---
RUMAH PENUH BOTOL
Mbah Rono tinggal sendirian di sebuah rumah tua di ujung kampung.
Rumahnya cukup luas untuk ukuran rumah desa, tetapi bentuknya sederhana. Dinding sebagian masih kayu jati tua, halaman depannya ditumbuhi pohon mangga besar, dan di samping rumah ada sumur tua yang sudah lama tidak digunakan.
Tidak ada istri.
Tidak ada anak.
Tidak pernah terlihat keluarga datang.
Tetapi sesekali, ada tamu dari luar kota.
Biasanya datang menggunakan mobil.
Kadang Avanza.
Kadang Innova.
Pernah sekali warga melihat sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti hampir dua jam di depan rumah Mbah Rono.
Orang-orang yang datang juga bukan orang sembarangan.
Ada yang berpakaian necis.
Ada ibu-ibu memakai perhiasan cukup mencolok.
Pernah pula datang seorang laki-laki memakai batik mahal ditemani dua orang berbadan besar.
Tetapi mereka selalu masuk dengan wajah tegang.
Dan keluar dengan wajah lega.
Kalau warga bertanya, Mbah Rono hanya tersenyum.
«“Teman lama.”»
Yang lebih aneh adalah isi rumah Mbah Rono.
Botol.
Banyak sekali botol.
Botol kaca besar.
Botol kecil.
Botol bening.
Botol hijau.
Botol cokelat.
Ada yang tinggi seperti botol sirup.
Ada yang sebesar botol kecap.
Ada juga yang kecil seperti botol obat.
Sebagian tersusun di lemari kayu.
Sebagian berada di rak dinding.
Sebagian lagi disimpan di sebuah kamar khusus yang pintunya hampir selalu terkunci.
Pernah seorang anak kampung bertanya:
«“Mbah, botol sebanyak ini buat apa?”»
Mbah Rono tertawa.
«“Koleksi.”»
“Isinya apa?”
«“Kosong.”»
“Terus yang datang naik mobil itu siapa?”
Mbah Rono tersenyum lebih lebar.
«“Kolektor juga.”»
Jawaban itu dianggap lucu.
Tidak ada yang memikirkannya lagi.
Sampai suatu siang…
Mbah Rono meninggal.
---
KOPI TERAKHIR
Hari itu tidak ada hujan.
Tidak ada petir.
Tidak ada tanda-tanda apa pun.
Sekitar pukul sebelas siang, seperti biasa Mbah Rono duduk di warung kopi milik Bu Lastri.
Pesanannya selalu sama.
Kopi hitam.
Sedikit gula.
Dan dua buah pisang goreng.
Mbah Rono sempat bercanda dengan beberapa orang.
Katanya harga cabai sekarang sudah seperti harga emas.
Semua tertawa.
Kemudian beliau mengangkat cangkir kopi.
Menyeruput sekali.
Meletakkannya kembali.
Lalu kepalanya perlahan tertunduk.
Pak Joko yang duduk di sebelahnya mengira Mbah Rono tertidur.
«“Mbah?”»
Tidak menjawab.
Pak Joko menyentuh bahunya.
Tubuh Mbah Rono miring.
Hampir jatuh dari kursi.
Warung langsung heboh.
Orang-orang berlari.
Ada yang memanggil bidan desa.
Ada yang mengambil motor.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Mbah Rono meninggal dunia di kursi kayu warung kopi, di depan secangkir kopi yang bahkan belum habis setengah.
---
Kabar kematian beliau menyebar cepat.
Warga berdatangan.
Masalah kemudian muncul.
Tidak seorang pun tahu siapa keluarga Mbah Rono.
Pak Sutrisno, Kepala Desa Jatiwarna, mencoba mencari dokumen lama.
Yang diketahui hanya sedikit.
Mbah Rono merupakan salah satu penghuni lama Jatiwarna.
Istrinya sudah bercerai puluhan tahun lalu.
Anak-anaknya mengikuti sang ibu pindah ke luar pulau.
Ke mana?
Tidak ada yang tahu.
Nomor telepon?
Tidak ada.
Alamat?
Tidak ada.
Mbah Rono memang hampir tidak pernah bercerita tentang keluarganya.
Karena tidak ada keluarga yang dapat dihubungi, warga akhirnya sepakat mengurus pemakamannya.
Sore itu, Mbah Rono dimakamkan di pemakaman kampung.
Sederhana.
Tenang.
Tanpa banyak upacara.
Tetapi ternyata…
yang meninggalkan dunia dengan tenang bukan berarti meninggalkan urusan yang sederhana.
---
TAMU DENGAN INNOVA HITAM
Setelah pemakaman selesai, beberapa warga kembali ke rumah Mbah Rono untuk membersihkan rumah.
Pak Kades Sutrisno ikut membantu.
Baru beberapa menit mereka bekerja, sebuah Toyota Innova hitam masuk ke jalan kampung.
Mobil berhenti tepat di halaman rumah Mbah Rono.
Seorang perempuan turun dari kursi belakang.
Usianya mungkin sekitar lima puluhan.
Penampilannya berbeda sekali dengan warga kampung.
Rambut tertata.
Tas mahal.
Sepatu bersih.
Parfum kuat.
Dan jam tangan yang bahkan Pak Kades tidak berani menebak harganya.
Perempuan itu memandang kerumunan orang.
Wajahnya berubah.
«“Maaf… ini rumah Pak Surono?”»
Pak Kades mengangguk.
“Iya, Bu.”
Perempuan itu melihat janur dan kursi-kursi bekas pelayat.
Wajahnya langsung pucat.
«“Ada apa?”»
Pak Kades menjawab pelan.
“Mbah Rono tadi siang meninggal, Bu.”
Perempuan itu terdiam.
Tangannya memegang pintu mobil.
Seolah kakinya kehilangan tenaga.
«“Meninggal?”»
“Iya.”
“Sudah… dimakamkan?”
“Baru saja.”
Perempuan itu duduk kembali di jok mobil.
Lemas.
Benar-benar lemas.
Pak Kades mulai curiga.
“Maaf, Ibu ini keluarganya Mbah Rono?”
Perempuan itu menggeleng.
«“Bukan.”»
“Teman?”
Dia kembali menggeleng.
Lalu perempuan itu memandang orang-orang di sekitar rumah.
«“Pak… bisa bicara empat mata?”»
---
PENGAKUAN IBU RARAS
Mereka pergi ke Balai Desa.
Pintu ruang Kepala Desa ditutup.
Hanya Pak Sutrisno dan perempuan tersebut.
Namanya Raras.
Dia berasal dari sebuah kota besar yang dalam cerita ini kita sebut saja sebagai:
Kota S.
Nama kotanya sengaja tidak disebutkan.
Anda akan segera mengerti alasannya.
Awalnya Raras kesulitan bicara.
Tangannya gemetar.
Pak Kades memberinya segelas air.
Setelah beberapa menit, akhirnya dia berkata:
«“Pak… apa pun yang saya ceritakan, saya mohon jangan tertawa.”»
Pak Sutrisno mengangguk.
“Silakan.”
Raras menarik napas.
«“Saya datang untuk mengambil sesuatu dari Pak Surono.”»
“Barang apa?”
Diam beberapa detik.
Kemudian jawabannya keluar.
«“Tuyul saya.”»
Pak Sutrisno menatapnya.
Tidak berkedip.
“Apa, Bu?”
«“Tuyul.”»
Pak Sutrisno masih diam.
Mungkin otaknya sedang mencoba memastikan apakah perempuan di depannya sedang bercanda.
Tetapi wajah Raras terlalu serius untuk bercanda.
Kemudian cerita itu keluar.
---
Bertahun-tahun lalu, usaha keluarga Raras hampir bangkrut.
Utang menumpuk.
Bisnis jatuh.
Rumah hampir disita.
Dalam keputusasaan, seseorang memperkenalkan Raras kepada seorang paranormal.
Dari situlah semuanya dimulai.
Raras melakukan ritual.
Dan mendapatkan sesuatu yang menurut orang-orang tertentu disebut sebagai:
tuyul peliharaan.
Makhluk itu diperintahkan mencuri uang.
Bukan mengambil semuanya.
Sedikit demi sedikit.
Dari banyak tempat.
Supaya tidak mudah diketahui.
Anehnya, setelah itu keadaan ekonomi Raras perlahan membaik.
Bisnis bangkit.
Utang lunas.
Rumah tidak jadi disita.
Kemudian bisnis berkembang lebih besar.
Tetapi beberapa minggu sebelumnya terjadi sesuatu.
Tuyulnya tidak pulang.
Satu malam.
Dua malam.
Tiga malam.
Raras mulai panik.
Paranormal yang dulu memberinya tuyul juga tidak dapat memanggil makhluk tersebut.
Sampai pada malam ketujuh, Raras mendengar suara.
Bukan dari luar rumah.
Bukan dari telepon.
Suara itu terdengar langsung di kepalanya.
«“Jatiwarna.”»
Kemudian sebuah nama.
«“Surono.”»
Dan terakhir:
«“Tebus.”»
Raras kemudian mencari nama Surono dan Desa Jatiwarna.
Butuh waktu beberapa hari hingga akhirnya dia menemukan alamat tersebut.
Itulah alasan dia datang.
---
Pak Sutrisno masih berusaha mencerna semuanya.
“Jadi Ibu bilang… Mbah Rono menangkap tuyul Ibu?”
Raras mengangguk.
«“Dia pemburu tuyul, Pak.”»
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
Pak Sutrisno teringat semua botol di rumah Mbah Rono.
“Botol?”
Raras menatapnya.
«“Iya.”»
Pak Kades tidak lagi tersenyum.
«“Botol-botol di rumah Mbah Rono…”»
Raras menjawab perlahan.
«“Tidak kosong.”»
---
PEKERJAAN RAHASIA MBAH RONO
Menurut cerita Raras, Mbah Rono sudah terkenal di kalangan tertentu.
Tetapi bukan sebagai dukun pesugihan.
Bukan sebagai paranormal yang menjanjikan kekayaan.
Justru kebalikannya.
Mbah Rono adalah pemburu tuyul.
Orang-orang yang merasa rumah atau tempat usahanya sering kehilangan uang dapat meminta bantuan kepadanya.
Mbah Rono akan memasang semacam perlindungan.
Kalau ada tuyul memasuki tempat tersebut…
makhluk itu akan tertangkap.
Kemudian dimasukkan ke dalam botol.
Pemiliknya diberi kesempatan datang dan menebus.
Kalau pemiliknya tidak datang?
Raras menelan ludah.
«“Dimusnahkan.”»
Pak Kades bertanya:
“Kalau dimusnahkan bagaimana?”
Raras menjawab lirih.
«“Pemiliknya bisa sakit.”»
“Kalau parah?”
«“Bisa ikut mati.”»
Pak Sutrisno merinding.
Sekarang dia mengerti.
Mobil-mobil yang selama bertahun-tahun datang ke rumah Mbah Rono bukan kolektor botol.
Mereka mengambil sesuatu yang ada di dalam botol.
---
BOTOL YANG BERGERAK
Sore mulai turun ketika Pak Kades membawa Raras menuju rumah Mbah Rono.
Tidak banyak warga yang ikut.
Pak Kades hanya membawa Pak Joko dan seorang perangkat desa bernama Yanto.
Begitu pintu rumah dibuka…
tercium aroma aneh.
Bukan bau bangkai.
Bukan bau got.
Sulit dijelaskan.
Campuran tanah basah, telur busuk, dan sesuatu yang manis seperti bunga yang sudah terlalu lama layu.
Yanto langsung menutup hidung.
“Pak… tadi siang belum bau begini.”
Pak Sutrisno tidak menjawab.
Raras berjalan masuk.
Matanya menyapu rak-rak botol.
Puluhan.
Mungkin ratusan.
Kemudian dia berhenti.
Di salah satu rak paling belakang terdapat sebuah botol kaca bening setinggi kurang lebih botol air mineral 600 ml.
Mulut botolnya ditutup kain hitam.
Diikat menggunakan benang merah.
Raras langsung menunjuk.
«“Itu.”»
Pak Kades menatap botol tersebut.
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian…
tik.
Botol bergerak.
Pak Kades membeku.
Botol itu bergerak lagi.
tik… tik…
Kemudian semakin keras.
KRAK! KRAK! KRAK!
Botol bergetar sendiri di atas rak.
Yanto mundur sampai hampir menabrak pintu.
“Astaghfirullah…”
Raras menangis.
Tetapi anehnya, dia malah mendekati botol.
«“Iya… Mama datang…”»
Pak Sutrisno menoleh cepat.
Mama?
Belum selesai rasa herannya—
BRAK!
Botol meloncat beberapa sentimeter.
Lalu jatuh kembali ke rak.
Untung tidak pecah.
Pak Kades melihat jelas.
Tidak ada benang.
Tidak ada mesin.
Tidak ada orang yang menyentuhnya.
Namun botol itu bergerak seperti ada sesuatu di dalamnya yang berusaha keluar.
---
SERATUS JUTA
Raras mengeluarkan amplop.
Kemudian berkata:
«“Pak Kades, saya bayar seratus juta.”»
Pak Sutrisno menoleh.
“Apa?”
«“Rp100.000.000.”»
“Untuk?”
Raras menunjuk botol.
«“Saya ambil botol itu. Dan semua yang terjadi hari ini tidak pernah terjadi.”»
Pak Sutrisno langsung menolak.
“Bu, ini rumah orang meninggal. Saya bukan ahli warisnya.”
«“Saya tahu.”»
“Kalau begitu saya tidak bisa menjual barang beliau.”
Raras membuka tasnya.
Mengeluarkan beberapa bundel uang.
«“Saya tidak membeli botolnya, Pak.”»
“Lalu?”
Raras memandang tepat ke mata Pak Kades.
«“Saya menebus isinya.”»
Pak Sutrisno tidak tahu harus menjawab apa.
Di belakangnya, botol kembali bergetar.
Krak… krak… krak…
Raras berkata:
«“Kalau benda itu tetap di sini terlalu lama tanpa Pak Surono, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi.”»
Kalimat itu justru membuat keadaan semakin tidak nyaman.
Akhirnya setelah berdiskusi dengan beberapa perangkat desa, Pak Sutrisno membuat keputusan.
Uang tersebut diterima.
Bukan untuk dirinya.
Dicatat sebagai uang titipan sambil menunggu kemungkinan keluarga Mbah Rono ditemukan.
Raras diperbolehkan mengambil satu botol.
Hanya botol yang dia klaim sebagai miliknya.
Raras memegang botol tersebut dengan kedua tangan.
Aneh.
Begitu menyentuh tangannya…
botol berhenti bergerak.
Sepi.
Benar-benar diam.
Raras tersenyum.
Lega.
«“Terima kasih, Pak.”»
Dia membawa botol itu menuju mobil.
Sebelum masuk ke Innova, dia berhenti.
Menoleh kepada Pak Sutrisno.
«“Pak…”»
“Iya?”
Raras menunjuk rumah Mbah Rono.
«“Jangan buka botol yang lain.”»
Pak Sutrisno merinding.
“Kenapa?”
Raras tidak menjawab.
Dia hanya masuk ke mobil.
Innova hitam perlahan meninggalkan Kampung Jatiwarna.
---
MALAM PERTAMA
Malam itu Pak Sutrisno tidak bisa tidur.
Pikirannya terus teringat rumah Mbah Rono.
Dan botol-botol di dalamnya.
Sekitar pukul 01.20 dini hari, teleponnya berbunyi.
Pak Sutrisno terbangun.
Nomor tidak dikenal.
Dia mengangkat.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas.
Pelan.
Kemudian terdengar suara perempuan.
«“Pak Kades…”»
Itu Raras.
“Iya, Bu Raras?”
Suara perempuan itu gemetar.
«“Pak… saya salah ambil.”»
Pak Sutrisno langsung duduk.
“Maksudnya?”
Beberapa detik tidak ada suara.
Kemudian Raras berbisik.
«“Itu bukan punya saya.”»
Pak Sutrisno merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Lalu tuyul Ibu yang mana?”
Raras mulai menangis.
«“Saya tidak tahu.”»
Terdengar suara benda pecah dari seberang telepon.
PRANG!
Raras menjerit.
Kemudian sambungan terputus.
---
Pak Sutrisno mencoba menelepon kembali.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Tidak ada jawaban.
Pagi harinya, Pak Sutrisno menerima sebuah pesan.
Hanya satu foto.
Dikirim dari nomor Raras.
Foto bagian dalam mobil Innova.
Jok belakang kosong.
Dan di lantainya…
ada pecahan botol kaca.
Di bawah foto tertulis:
«“Yang ini bukan anak saya.”»
Setelah itu nomor tersebut tidak pernah aktif lagi.
---
BOTOL-BOTOL MBAH RONO
Warga akhirnya sepakat tidak menyentuh rumah Mbah Rono.
Pintu depan dikunci.
Jendela ditutup.
Tidak ada yang berani membersihkan bagian dalam lagi.
Uang Rp100 juta disimpan sebagai titipan desa sambil terus berusaha mencari keluarga Mbah Rono.
Beberapa minggu kemudian…
sebuah mobil datang.
Seorang laki-laki turun.
Dia bertanya:
«“Rumah Pak Surono di mana?”»
Pak Kades bertanya balik.
“Keperluannya?”
Laki-laki itu tampak ragu.
Kemudian berbisik:
«“Mau menebus.”»
Pak Sutrisno langsung mengerti.
Dia menunjuk rumah tua di ujung jalan.
Tetapi ketika laki-laki tersebut tahu bahwa Mbah Rono sudah meninggal…
dia langsung pergi.
Tidak jadi masuk.
Seminggu kemudian datang orang lain.
Lalu orang lain lagi.
Dalam tiga bulan, setidaknya tujuh orang datang.
Semuanya mencari Mbah Rono.
Semuanya bertanya soal botol.
Dan semuanya pergi ketika mengetahui bahwa Mbah Rono sudah meninggal.
---
Rumah itu masih berdiri sampai sekarang.
Tidak ada warga yang berani tinggal di sana.
Tidak ada yang berani membongkar rumahnya.
Apalagi membuka botol-botol yang tersimpan di dalam.
Kadang malam-malam, warga yang lewat mengaku mendengar suara dari dalam rumah.
Seperti anak kecil tertawa.
Kadang seperti orang mengetuk kaca.
Tik…
Tik…
Tik…
Pak Sutrisno sendiri sudah tidak mau membicarakannya.
Tetapi ada satu kejadian yang tidak pernah dia ceritakan kepada warga.
Beberapa bulan setelah kematian Mbah Rono, Pak Sutrisno pernah memberanikan diri melihat rumah tersebut dari jendela.
Dia menghitung botol di rak paling depan.
Ada tiga puluh dua botol.
Besok paginya…
dia menghitung lagi.
Tiga puluh tiga.
Ada satu botol baru.
Botol kecil.
Kaca bening.
Dengan kain hitam di mulutnya.
Dan pada botol tersebut terdapat secarik kertas kecil.
Tulisan tangan.
Pak Sutrisno sangat mengenal tulisan itu.
Karena puluhan tahun Mbah Rono selalu menggunakan tulisan yang sama ketika mengisi buku tamu Balai Desa.
Di kertas itu hanya ada dua kata:
“Belum selesai.”
Sejak hari itu, Pak Sutrisno tidak pernah lagi mendekati rumah tersebut.
Dan kalau Anda kebetulan suatu hari melewati Kampung Jatiwarna…
kemudian melihat sebuah rumah tua dengan pohon mangga besar di depannya…
jangan iseng masuk.
Kalau melihat botol kosong…
jangan disentuh.
Kalau botolnya bergerak…
jangan penasaran.
Dan kalau dari dalam botol terdengar suara anak kecil memanggil:
«“Mama…”»
Sebaiknya Anda lari.
Karena mungkin…
botol itu memang kosong bagi mata Anda.
Tetapi belum tentu…
benar-benar kosong.
---
SATU PERINGATAN
Mulai sekarang, kalau Anda berkunjung ke rumah seseorang yang mengaku sebagai kolektor botol, jangan terlalu penasaran.
Apalagi kalau koleksinya terdiri dari botol-botol kaca tua yang tampak kosong.
Jangan sembarangan membukanya.
Jangan mencabut penutupnya.
Jangan melepas kain atau benang yang mengikat mulut botol.
Dan jangan sekali-kali membuka hanya karena ingin memastikan apakah botol itu benar-benar kosong.
Karena Anda hanya bisa melihat apa yang mata Anda mampu lihat.
Anda tidak pernah tahu…
apa yang sebenarnya ada di dalamnya.
Kalau setelah Anda menyentuh botol itu kemudian terdengar suara ketukan kecil dari dalam—
tik… tik… tik…
taruh kembali.
Pelan-pelan.
Lalu pergilah.
Jangan menoleh.
---
Lalu bagaimana dengan tempat tinggalmu?
Apakah di desamu ada orang seperti Mbah Rono?
Seseorang yang hidup sederhana.
Jarang menceritakan pekerjaannya.
Sering didatangi orang-orang dari luar kota.
Atau mungkin memiliki sebuah kamar yang tidak pernah boleh dimasuki siapa pun.
Jangan buru-buru menganggap mereka aneh.
Bisa jadi…
itulah profesi mereka.
Karena kalau cerita tentang Mbah Rono benar, mungkin beliau bukan satu-satunya.
Di negeri yang memiliki ribuan pulau, ratusan budaya, dan begitu banyak cerita tentang dunia yang tidak terlihat…
siapa tahu masih ada banyak orang dengan profesi seperti Mbah Rono.
Mereka tidak memasang papan nama.
Tidak punya kantor.
Tidak beriklan di media sosial.
Bahkan tetangganya sendiri mungkin tidak tahu apa pekerjaannya.
Tetapi ketika seseorang mengalami masalah yang tidak bisa dijelaskan oleh logika…
entah bagaimana…
orang-orang tertentu tahu harus mencari mereka ke mana.
Jadi coba perhatikan lagi orang-orang di sekitarmu.
Mungkin…
salah satu dari mereka adalah Ghost Hunter yang sesungguhnya.
Dan ingat satu hal:
Kalau bertemu kolektor botol, jangan sembarangan membuka botol kosong miliknya.
Karena yang tampak kosong…
belum tentu tidak berpenghuni.
---
INDONESIA GHOST HUNTER
“Kamu percaya hantu? Tidak masalah jika kamu tidak percaya, mereka tetap ada bahkan jika kamu tidak percaya!”
EPISODE 1 — PENANGKAP TUYUL PROFESIONAL
SELESAI






