MIE AYAM DAN BAKSO DAGING TIKUS
Di daerah Seturan, Yogyakarta, tidak jauh dari Selokan Mataram, ada satu warung mie ayam yang sudah hampir tiga tahun berdiri.
Pemiliknya bernama Mas Parto.
Asalnya dari Wonogiri.
Warungnya sederhana.
Dinding kayu.
Atap seng.
Meja panjang.
Bangku plastik.
Gerobak mie ayam berdiri di bagian depan.
Kalau dilihat sekilas, tidak ada yang istimewa.
Tapi kalau sudah makan…
orang biasanya datang lagi.
Harga satu mangkuk mie ayam cuma:
Rp15.000.
Isinya penuh.
Mienya banyak.
Ayamnya juga tidak pelit.
Potongan ayam kecap memenuhi permukaan mangkuk sampai beberapa mahasiswa pernah bercanda,
“Mas, iki Njenengan adol mie ayam opo ayam nggo mie?”
Mas Parto cuma tertawa.
“ Yo penting wareg to Kang .”
Di zaman sekarang, harga Rp15.000 untuk semangkuk mie ayam lengkap memang sesuatu.
Anak-anak mahasiswa zaman sekarang punya istilah sendiri.
«“In this economy?”»
Makanya warung Mas Parto selalu ramai.
Anak kos.
Mahasiswa.
Ojol.
Pegawai kantor.
Sampai bapak-bapak yang pulang kerja.
Apalagi rasanya memang enak.
Kaldu gurih.
Mie kenyal.
Ayam manis gurih.
Sambalnya pedas.
Baksonya juga cukup padat.
Tidak lembek seperti tepung berjalan.
Belum lagi warung Mas Parto tergolong bersih.
Walaupun dindingnya kayu, meja selalu dilap.
Lantai disapu berkali-kali.
Gerobaknya rapi.
Pisau dan talenan tertata.
Mas Parto sendiri malah punya gaya yang agak berbeda dari tukang mie ayam kebanyakan.
Ia selalu memakai baju koki putih.
Celemek hitam.
Kadang sarung tangan.
Dan yang paling khas:
bandana hitam.
Kalau sedang serius memasak, alis berkerut dan tangannya cepat sekali.
Mahasiswa-mahasiswa sering mengejek.
“Chef Juna cabang Seturan!”
Mas Parto tertawa.
“Juna Wonogiri.”
---
Selama hampir tiga tahun, warungnya semakin ramai.
Jam makan siang bisa antre.
Jam tujuh malam meja sering penuh.
Kadang ojol berjejer menunggu pesanan.
Sampai suatu hari…
muncul gosip.
Entah siapa yang memulai.
Awalnya cuma bisik-bisik.
Seorang mahasiswa berkata pada temannya,
“Eh, ono kbar iki ? Kandhane ayam nang kene iki gak nganggo daging ayam.”
Temannya langsung berhenti mengunyah.
“Terus opo?”
“Tikus.”
Mie di mulutnya hampir keluar lagi.
“HAH?”
Cerita itu menyebar.
Cepat.
Sangat cepat.
Lebih cepat daripada kuah mie ayam dingin terkena kipas.
Ada yang bilang pernah melihat banyak tikus mati di belakang warung.
Ada yang bilang ayamnya terlalu murah untuk ukuran sebanyak itu.
Ada pula yang mulai menghubungkan dengan hal-hal mistis.
“Jarene pesugihan.”
“Pesugihan opo?”
“Kaldu tikus.”
“Ngawur.”
“Serius.”
Katanya syarat pesugihan tertentu harus memasukkan kaldu tikus ke makanan supaya pembeli ketagihan.
Ada lagi versi lain.
Katanya bukan ayam yang dipakai.
Tapi daging tikus yang diolah dengan bumbu kecap.
Ada lagi yang lebih ekstrem.
Baksonya juga katanya dari tikus.
Tentu saja seperti biasa…
kalau gosip sudah masuk grup WhatsApp, Instagram Story, TikTok, dan obrolan anak kos…
fakta biasanya kalah cepat.
---
Satu malam ada video beredar.
Durasi hanya 23 detik.
Video direkam dari kejauhan.
Gelap.
Goyang.
Tidak jelas.
Tapi cukup untuk membuat semua orang heboh.
Terlihat Mas Parto sedang membawa sebuah karung plastik hitam besar dari arah belakang warung.
Karung itu kemudian diletakkan di samping dapur.
Besok paginya…
ada beberapa tikus mati ditemukan di dekat belakang warung.
Video langsung diberi caption:
«“PANTES MIE AYAM SETURAN MURAH. CUMA INFO AJA.”»
Lalu ada komentar:
«“Fix daging tikus.”»
«“Katanya buat pesugihan.”»
«“Gue kemarin makan dua mangkuk. Anjir.”»
«“Udah laporin dinas belum?”»
«“Mie ayam rasa Mickey Mouse.”»
Bahkan ada yang membuat konten:
“MIE AYAM VIRAL SETURAN DIDUGA PAKAI DAGING TIKUS?”
Videonya tembus puluhan ribu view.
---
Efeknya langsung terasa.
Warung yang biasanya penuh…
mendadak sepi.
Jam makan siang hanya ada dua pelanggan.
Sore hari bahkan tidak ada orang.
Mas Parto tetap membuka warung seperti biasa.
Baju putih.
Celemek hitam.
Bandana.
Gerobak bersih.
Tapi kursi-kursi kosong.
Seorang pelanggan lama datang.
Namanya Dimas.
Mahasiswa yang sudah hampir dua tahun langganan.
Dimas duduk.
Mas Parto langsung bertanya,
“Mas Dimas, mie ayam bakso, ya?”
Dimas ragu.
“Mmm…”
Mas Parto memandangnya.
“Ono Opo Mas Dimas ?”
Dimas akhirnya bertanya.
“Mas…”
“Iyo ? ”
“Bener ,Mas Parto ? iki daging tikus?”
Mas Parto berhenti sebentar.
Pisau masih di tangannya.
Ia memandang Dimas.
Lalu berkata,
“Sampeyan wis langganan ning kene ono pirang taun, Mas Dimas ?”
“Rong taun.”
“Tau lara , bar tumbas Mie ?”
“Ra tau.”
“Tau nemu buntut tikus?”
Dimas tertawa gugup.
“Yo ora.”
Mas Parto kembali memotong ayam.
Lalu berkata,
“Sampeyan percoyo karo ilat e sampeyan dhewe, Mas Dimas .....”
“…apa percaya TikTok?”
Dimas diam.
Mas Parto tersenyum kecil.
“Yen wedi, ojo Tumbas Mas .”
Jawaban itu malah membuat Dimas semakin penasaran.
---
Beberapa hari kemudian, kabarnya ada laporan masuk.
Petugas kesehatan datang ke warung.
Mas Parto tidak melawan.
" Monggo Di priksani kabeh Bapak, Ibu .”
Freezer dibuka.
Kulkas diperiksa.
Daging dibongkar.
Bakso dicek.
Kaldu diambil sampel.
Talenan.
Pisau.
Tempat penyimpanan.
Semua diperiksa.
Bahkan beberapa bahan dibawa untuk pengujian.
Orang-orang sekitar ikut menonton.
Beberapa mahasiswa sengaja berdiri di seberang jalan.
Seolah sedang menunggu penggerebekan laboratorium narkoba.
Dua hari kemudian hasil pemeriksaan keluar.
Tidak ditemukan daging tikus.
Daging yang dipakai mie ayam adalah ayam.
Bakso adalah campuran daging sapi dan bahan bakso biasa.
Tidak ada bahan aneh.
Tidak ada tikus.
Tidak ada indikasi makanan berbahaya.
Warungnya bahkan dinilai cukup bersih untuk ukuran warung kecil.
Gosip mulai goyah.
Tapi masih ada satu pertanyaan.
Lalu tikus-tikus mati di belakang warung itu dari mana?
Dan karung hitam malam itu isinya apa?
---
Mas Parto akhirnya menjelaskan.
Ia membawa beberapa orang ke belakang warung.
Di sana terlihat beberapa kotak perangkap tikus.
Ada perangkap jepit.
Ada perangkap kandang.
Ada pula lem tikus.
Mas Parto menunjuk ke arah Selokan Mataram.
“Warung iki kan cedhak selokan.”
“Yen tikus mlebu dapur, rampung usahaku.”
Karena itu setiap malam ia memasang banyak perangkap.
Tikus yang mati selalu dikumpulkan.
Lalu dibuang.
“Lha sing ndelok tikus mati terus nggawe cerita…”
“Daging tikus.”
Mas Parto menggeleng.
Karung hitam?
Mas Parto membukanya di depan beberapa mahasiswa.
Isinya:
sisa sayuran.
Tulang ayam.
Kardus bekas.
Plastik sampah.
Dan perangkap rusak.
Tidak ada tikus untuk dimasak.
Tidak ada potongan daging aneh.
Tidak ada ritual.
---
Tapi pertanyaan berikutnya justru muncul.
Kalau ayamnya benar ayam…
kok bisa semurah itu?
Satu mahasiswa langsung bertanya.
“Mas, serius iki Rp15.000 terus opo seh ono untung e ?”
Mas Parto tertawa.
“Nah, kuwi pertanyaan sing bener.”
Ia menjelaskan.
Adiknya punya usaha pemotongan ayam di Wonogiri.
Mas Parto mengambil ayam langsung dalam jumlah besar.
Tidak lewat pasar eceran.
Mienya juga dibuat sendiri.
Bumbunya diracik sendiri.
Tempat warung itu milik saudaranya.
Jadi tidak membayar sewa mahal.
Ia juga jarang memakai pegawai.
Sebagian besar dikerjakan sendiri bersama istrinya.
Seorang mahasiswa langsung nyeletuk,
“Lhaaaa pesugihane dudu tikus iki........”
Semua menoleh.
Mahasiswa itu mengangkat gelas es teh.
“Pesugihane…”
“SUPPLY CHAIN.”
Satu warung pecah tertawa.
Mas Parto sampai geleng-geleng kepala.
---
Anehnya, setelah kasus itu viral dan terbukti bohong…
warungnya malah semakin ramai.
Orang yang sebelumnya tidak pernah tahu warung tersebut jadi penasaran.
“Ini yang katanya daging tikus itu?”
“Bukan, Mas. Itu hoaks.”
“Ya udah, saya coba.”
Satu minggu kemudian antrean kembali.
Bahkan lebih panjang.
Mas Parto kembali sibuk.
Mie direbus.
Ayam dituang.
Bakso masuk.
Pesanan ojol berjejer.
Suatu malam ada mahasiswa berkata,
“Mas Parto.”
“Opo?”
“Yen ora nganggo pesugihan, kok iso rame terus?”
Mas Parto tertawa.
“Pesugihan opo…”
Ia menunjukkan kedua tangannya.
“Jam loro esuk aku wis tangi.”
“Gawe mie.”
“Nyacah ayam.”
“Gawe kaldu.”
“Jam enem wis belanja.”
“Jam sepuluh buka.”
“sore wes tutup, istirahat, subuh we tangi meneh.”
Ia mengangkat tangannya lagi.
“Nah.”
“Kuwi pesugihanku.”
Semua tertawa.
---
Sore itu menjelang Maghrib warung tutup pukul 18.00.
Kursi dimasukkan.
Meja dilap.
Lantai disapu.
Mas Parto sendirian.
Istrinya sudah pulang lebih dulu.
Ia mencuci panci.
Mematikan kompor.
Menutup freezer.
Kemudian melepas celemek.
Hujan baru saja berhenti.
Udara maghrib Seturan terasa dingin.
Selokan Mataram terdengar mengalir pelan.
Mas Parto mengambil tas.
Ketika hendak mematikan lampu…
terdengar suara dari belakang warung.
KREK.
Mas Parto berhenti.
Suara perangkap.
Ia mengambil senter.
“Waduh, tikus iki pasti.”
Mas Parto berjalan ke belakang.
Tanah masih basah.
Udara lembap.
Ia menyorotkan senter.
Satu tikus besar terjebak di perangkap kandang.
Mas Parto mendekat.
Namun kemudian langkahnya berhenti.
Di samping perangkap itu…
ada sesuatu.
Mas Parto mengarahkan senter.
Matanya menyipit.
Ada tujuh ekor tikus mati.
Berjajar.
Rapi.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Semua menghadap ke arah warung.
Mas Parto diam.
Tidak ada bekas perangkap.
Tidak ada darah.
Tidak ada racun.
Yang membuat tubuhnya semakin dingin…
malam itu ia belum memasang perangkap.
Sejak warung ramai kembali, ia baru berencana memasangnya sebelum pulang.
Lalu tujuh tikus ini…
dari mana?
Mas Parto mundur selangkah.
Angin dari arah Selokan Mataram bertiup.
Daun-daun bergerak.
Lampu belakang warung berkedip.
tik… tik… tik…
Lalu terdengar suara.
Sangat pelan.
Seperti berasal dari tepi selokan.
“Partoooo…”
Mas Parto membeku.
Ia menyorotkan senter.
Tidak ada siapa-siapa.
“Partoooo…”
Kali ini lebih jelas.
Mas Parto langsung mundur.
“Assalamualaikum…”
Tidak ada jawaban.
Ia kembali ke dalam warung.
Cepat.
Pintu belakang dikunci.
Lampu dimatikan.
Mas Parto pulang.
Tujuh tikus itu dibiarkan.
---
Besok paginya…
Mas Parto datang jam lima.
Langsung menuju belakang.
Tujuh tikus itu…
sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya perangkap kosong.
Mas Parto berdiri lama.
Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Warung tetap buka.
Harga tetap Rp15.000.
Ayam tetap banyak.
Bakso tetap sapi.
Gerobak tetap bersih.
Mas Parto tetap pakai baju koki putih.
Celemek hitam.
Bandana.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Beberapa minggu kemudian seorang mahasiswa yang baru pertama datang bercanda,
“Mas…”
Mas Parto menoleh.
“Ngapa?”
“Katanya dulu di sini ada kasus tikus ya?”
Mas Parto berhenti mengaduk mie.
Mahasiswa itu tertawa.
“Tenan ora iki daging tikus?”
Mas Parto menatapnya beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
Tipis.
“Wis…”
“Ojo takon tikus maneh.”
Mahasiswa itu tertawa.
Tapi Mas Parto tidak.
Ia hanya melirik sebentar ke arah belakang warung.
Ke arah Selokan Mataram.
Malam itu…
entah kenapa…
dari balik tumpukan kayu terdengar suara kecil.
Krek.
---
TAMAT







