
MAKAM KERAMAT
Cerita Misteri Pantura
Nasib memang kadang datang tanpa mengetuk pintu.
Pagi itu Wahyu berangkat kerja seperti biasa. Mengenakan seragam biru tua yang warnanya sudah mulai pudar, sepatu safety, dan membawa bekal nasi buatan teman warung dekat kosnya.
Jam tujuh pagi ia sudah berdiri di depan mesin las.
Jam sepuluh, ia dipanggil bagian HRD.
Jam sebelas…
Ia bukan lagi karyawan.
“Mohon maaf, Mas Wahyu. Pabrik akan melakukan relokasi. Kontrak Mas Wahyu tidak dapat kami perpanjang.”
Kalimatnya pendek.
Efeknya panjang.
Pesangon?
Dua kali gaji.
Ya mau bagaimana lagi. Wahyu memang karyawan kontrak.
Padahal kemampuan Wahyu mengelas tidak sembarangan. Ia lulusan STM yang dulu termasuk terbaik di Brebes. Kalau urusan mesin las, membaca gambar teknik, sampai menyambung baja, tangannya terkenal halus.
Tapi PHK rupanya tidak pernah membaca ijazah.
Apalagi menanyakan ranking sekolah.
Yang membuat kepalanya semakin berat adalah keadaan di rumah.
Wahyu merantau ke Jakarta dari sebuah desa di Kabupaten Brebes. Istrinya tinggal di kampung bersama anak laki-laki mereka yang masih TK.
Dan beberapa minggu lalu istrinya memberi kabar bahagia.
Hamil lagi.
Seharusnya Wahyu senang.
Ia memang senang.
Tapi sekarang setiap kali membayangkan perut istrinya yang semakin besar, biaya persalinan, uang sekolah anak, susu, kontrakan, listrik, dan kebutuhan rumah…
Kepalanya justru seperti mesin las yang korsleting.
Panas.
---
Sore itu Wahyu duduk di warteg langganannya di samping kos.
Di depannya secangkir kopi hitam.
Di tangannya sebatang rokok.
Asap rokok berputar-putar di udara sementara pikirannya entah sudah pergi ke mana.
“Yu, kok meneng bae?” tanya seorang pelanggan warteg.
Wahyu cuma tersenyum.
“Mumet.”
“Mumet duit?”
Wahyu mengangguk kecil.
Seorang laki-laki bernama Slamet yang sedang makan gorengan tiba-tiba ikut nimbrung.
“Yen urusan duit, inyong ngerti cerita sing apik.”
Wahyu melirik.
“Cerita apa?”
Slamet mengecilkan suaranya.
“Pesugihan.”
Wahyu hampir tertawa.
“Halah.”
Tetapi orang yang sedang punya pekerjaan mungkin bisa menertawakan pesugihan.
Orang yang baru kehilangan pekerjaan…
kadang telinganya bekerja berbeda.
Slamet mulai bercerita tentang sebuah makam keramat di daerah pesisir Kota Tegal.
Katanya banyak orang datang malam-malam.
Pejabat.
Pedagang.
Orang bangkrut.
Orang terlilit utang.
Sampai orang yang ingin menang togel.
Cerita itu semakin menarik ketika nama Bambang disebut.
“Bambang kae ngerti ora?”
“Bambang endi?”
“Bambang sing biyen dodol HP bekas.”
Wahyu mengangguk.
“Kenapa?”
“Saiki duwe mobil.”
Wahyu berhenti mengisap rokok.
“Mobil?”
“Umahe ya anyar.”
Cerita berlanjut.
Ada lagi Ridwan yang katanya pernah menang togel empat angka.
Ratusan juta.
Semuanya konon pernah datang ke makam keramat di pesisir Tegal.
Entah benar.
Entah kebetulan.
Entah memang cerita warung kopi.
Tetapi gosip yang dibumbui kopi hitam memang biasanya jauh lebih lezat daripada fakta.
Wahyu mulai berpikir.
Pusingnya perlahan hilang.
Sayangnya bukan karena menemukan lowongan kerja.
Otaknya justru mulai…
konslet.
---
Malam itu di kamar kosnya Wahyu rebahan sambil memegang ponsel.
Tangannya mulai scroll.
Google.
Sekarang zaman memang sudah canggih.
Dulu orang mencari pesugihan harus bertanya dari mulut ke mulut.
Sekarang…
makam keramat pun ada di internet.
Wahyu mengetik berbagai kata kunci.
Makam keramat Tegal.
Pesugihan Pantura.
Tempat mencari kekayaan Tegal.
Sampai akhirnya sebuah artikel muncul.
Tentang Makam Mbah Pandan Kuning di kawasan Muarareja, Kota Tegal.
Wahyu membaca pelan-pelan.
Katanya makam tersebut sering dikaitkan masyarakat dengan berbagai cerita mistis.
Matanya semakin serius.
Sampai ia membaca satu bagian.
Konon katanya ada ritual tertentu yang bahkan meminta tumbal nyawa manusia.
“Waduh…”
Wahyu langsung duduk.
Bulu kuduknya berdiri.
“Nyawa manusia?”
Ponselnya diletakkan.
Rokok dinyalakan.
Lima menit kemudian ponselnya diambil lagi.
Dasar orang putus asa.
Takut iya.
Penasaran lebih besar.
---
Dua hari kemudian Wahyu pulang ke Brebes.
Istrinya sampai heran melihat suaminya muncul di depan rumah membawa tas.
“Lho, Mas? Kok mulih?”
Wahyu sudah menyiapkan jawabannya.
“Pabrik lagi pembaruan mesin. Libur seminggu.”
Istrinya percaya.
Namanya juga suami sendiri.
“Alhamdulillah. Bisa nganter anak sekolah.”
Wahyu tersenyum kecut.
“Nggih.”
Padahal mesin pabrik mungkin sedang baik-baik saja.
Yang diperbarui justru status pegawainya.
Dari karyawan menjadi pengangguran.
---
Besok siangnya Wahyu pamit.
“Arep neng Tegal sek.”
“Ngapa?”
“Ketemu kanca.”
Padahal teman yang hendak ditemuinya bahkan belum ia kenal.
Namanya:
juru kunci makam.
---
Setelah bertanya sana-sini akhirnya Wahyu sampai di kawasan Muarareja.
Udara Pantura panas.
Angin laut membawa aroma asin.
Tidak jauh dari sana tampak kawasan makam yang selama ini hanya ia lihat dari layar ponsel.
Wahyu berdiri memandangi tempat itu.
“Ya Allah…”
Dari jauh sebenarnya biasa saja.
Makam.
Pohon.
Tanah.
Tidak ada suara gamelan gaib.
Tidak ada kuntilanak.
Tidak ada uang beterbangan.
Masalah berikutnya muncul.
Juru kuncinya mana?
Wahyu mondar-mandir hampir setengah jam.
Tidak ketemu.
Akhirnya ia melihat sebuah warung kopi kecil tak jauh dari situ.
Duduklah Wahyu.
“Kopi ireng, Mas.”
Penjual warung meliriknya dari atas sampai bawah.
Sepertinya sudah sangat berpengalaman membaca manusia.
“Dudu wong kene ya, Mas?”
“Brebes.”
“Oalah.”
Kopi ditaruh di meja.
Belum sempat Wahyu bertanya, si pemilik warung sudah tersenyum.
“Meh golek juru kuncine makam?”
Wahyu kaget.
“Kok ngerti?”
Pemilik warung tertawa.
“Wong kaya sampeyan akeh.”
Wahyu menjadi salah tingkah.
Pemilik warung mendekat sedikit.
“Pengin sugih cepet, Mas?”
Wahyu tersenyum kecut.
“Iya… maksude…”
“Pimen?”
Wahyu akhirnya menyerah.
“Iya Mas. Syarate apa bae?”
Penjual kopi memandangnya beberapa detik.
Lalu berkata,
“Halah, Mas…”
“Pengin sugih aja nang makam.”
“Kerja sing nggenah.”
Wahyu terdiam.
“Ya kiye juga ikhtiar, Mas.”
Penjual kopi hampir tersedak mendengarnya.
“Lha ikhtiar kok nang makam!”
Beberapa orang di warung tertawa.
Wajah Wahyu memerah.
Tetapi ia belum menyerah.
“Tenan ora ana, Mas?”
Pemilik warung menunjuk makam di kejauhan.
“Mas…”
“Nek makam kuwi isa gawe wong sugih, inyong ora bakal dodol kopi neng kene.”
Wahyu diam.
“Wong makam e tanggane inyong. Saben dina inyong ning kene. Lah inyong tetep dodol kopi.”
Masuk akal.
Sangat masuk akal.
Sayangnya akal sehat Wahyu sedang cuti bersama.
“Terus kok akeh wong teka?”
Penjual warung tersenyum.
“Oalah…”
“Nah kuwi sing nggawe inyong sugih.”
Wahyu bingung.
“Maksud e?”
“Pas Jumat Kliwon akeh wong teka.”
“Ngopi.”
“Tuku rokok.”
“Tuku mie.”
“Tuku gorengan.”
Ia tertawa.
“Sing gawe sugih dudu makame, Mas. Sing gawe sugih ya wong-wong sing teka nang makam tuku kopi nang inyong.”
Satu warung tertawa.
Wahyu ikut tertawa.
Kecut.
Tetapi sebelum pulang, seseorang berkata kepadanya,
“Yen penasaran, bali mene malem Jumat Kliwon.”
“Biasane rame.”
Kalimat terakhir itulah yang justru menempel di kepala Wahyu.
---
Malam Jumat Kliwon berikutnya…
Wahyu datang lagi.
Sejak selepas Magrib tempat itu ternyata memang jauh berbeda.
Orang mulai berdatangan.
Beberapa membawa bunga.
Beberapa membawa kantong plastik.
Ada yang duduk diam.
Ada yang berbisik.
Ada yang membakar kemenyan.
Aroma melati bercampur asap dupa dan angin asin dari Laut Jawa.
Entah karena sugesti atau memang suasananya berbeda, bulu kuduk Wahyu mulai berdiri.
Ia berjalan perlahan.
Di dekat sebuah makam dilihatnya seorang lelaki tua.
Usianya mungkin tujuh puluhan.
Kumis tebal.
Pakaian serba hitam.
Tangannya memegang tongkat kayu tua.
Orang itu duduk bersimpuh.
Mulutnya komat-kamit.
Wahyu menelan ludah.
Iki mesthi juru kuncine.
Ia mendekat.
“Sugeng ndalu, Mbah…”
Tidak ada jawaban.
“Mbah…”
Perlahan lelaki tua itu membuka mata.
Tatapannya tajam.
“Ono opo, Mas?”
Wahyu semakin yakin.
Auranya beda.
Wahyu duduk bersila.
“Kowe ngundang aku?”
“Nggih, Mbah.”
“Sopo jenengmu?”
“Kula… Wahyu.”
“Arep opo?”
Wahyu mencoba memakai bahasa Jawa halus yang kemampuannya pas-pasan.
“Kula badhe… golek makmur… gemah ripah loh jinawi, Mbah.”
Lelaki tua itu menatapnya lama.
“Maksudmu pengin sugih?”
Wahyu tersenyum malu.
“Nggih.”
“Cepet?”
“Nggih.”
Lelaki tua itu menarik napas panjang.
“Kowe nggowo sesajen?”
“Mboten.”
“Terus?”
“Kula badhe nyuwun petunjuk.”
Lelaki tua itu diam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Yen arep nglakoni, resikno awakmu disik.”
Wahyu semakin serius.
“Mandi neng Kali Ketiwon. Sing mili tekan Laut Jawa.”
“Nggih.”
“Banjur nggowo kembang pitung rupa.”
Wahyu mengangguk.
“Kopi pait.”
“Nggih.”
“Rokok Dji Sam Soe sak bungkus.”
Wahyu mencatat di ponsel.
“Ketan abang putih.”
“Nggih.”
Lelaki tua itu berhenti.
Wahyu menunggu.
“Lan pitik urip pitu.”
Wahyu langsung mengangkat kepala.
“Pitik?”
“Pitu.”
Wahyu menghitung cepat dalam hati.
Ayam tujuh ekor memang lumayan mahal.
Tapi…
jauh lebih baik daripada tumbal manusia.
Ia lega.
“Mbah…”
“Nopo?”
“Iki tenan iso sugih?”
Orang tua itu memandang laut.
Lalu menjawab pelan.
“Namane ya ikhtiar, Mas.”
“Kersane Gusti Allah.”
“Rejeki kuwi sing ngatur Gusti.”
Wahyu agak kecewa.
Jawabannya terasa seperti jawaban paling aman sedunia.
Tetapi karena sudah kepalang percaya…
ia lanjut.
---
Malam itu ritual dijalani.
Mandi.
Kembang tujuh rupa.
Kopi pahit.
Rokok.
Ketan merah putih.
Tujuh ayam hidup.
Wahyu duduk berjam-jam.
Berdoa.
Menunggu tanda.
Angin laut bertiup.
Pohon bergoyang.
Kadang terdengar suara burung malam.
Pukul satu.
Pukul dua.
Pukul tiga.
Tidak ada koper berisi uang.
Tidak ada nomor togel muncul di langit.
Tidak ada jin menawarkan kontrak kerja sama.
Yang ada cuma nyamuk.
Banyak sekali.
Menjelang Subuh Wahyu pulang.
Tetapi hatinya penuh keyakinan.
Seminggu lagi.
Pasti ada tanda.
---
Seminggu berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Wahyu masih santai.
“Mungkin proses.”
Dua minggu.
Tidak ada apa-apa.
Sebulan.
Tetap tidak ada.
Dua bulan.
Saldo mulai menipis.
Tiga bulan.
Wahyu masih belum bekerja.
Ia lebih sering duduk di rumah.
Kadang merokok.
Kadang membuka ponsel.
Kadang membaca artikel-artikel mistis lain.
Istrinya yang perutnya mulai membesar akhirnya tidak tahan.
“MAS!”
Wahyu yang sedang tidur siang terbangun.
“Napa?”
“Kowe iki sejatine kerja apa ora?”
Wahyu diam.
“Telung wulan nang omah!”
“Jarene pabrik lagi ndandani mesin!”
Wahyu salah tingkah.
“Mesine… durung rampung.”
Istrinya menatap tajam.
“Mesin opo nggawe pesawat ruang angkasa? Telung wulan ora rampung-rampung?”
Wahyu diam.
Akhirnya terbongkar semuanya.
PHK.
Pesangon dua bulan.
Makam keramat.
Kembang tujuh rupa.
Kopi pahit.
Dji Sam Soe.
Ketan merah putih.
Sampai…
tujuh ekor ayam.
Istrinya memegang kepalanya.
“YA ALLAH, MAS WAHYU!”
“Kowe di-PHK malah tuku pitik pitu?!”
“Jarene kanggo syarat…”
“SYARAT OPO?!”
Wahyu mengecil.
“Ben sugih…”
Istrinya hampir menangis sekaligus ingin melempar sapu.
“Sing marahi wong sugih kuwi kerja, Mas!”
“Dudu ngenteni duit tiba saka langit!”
Wahyu diam.
“Anake arep sekolah.”
“Aku lagi meteng.”
“Kowe malah ritual!”
“Rugi pitik!”
“Rugi rokok!”
“Rugi ongkos!”
“Rugi telung wulan!”
Kalimat terakhir tepat mengenai kepala Wahyu.
Tiga bulan.
Kalau selama tiga bulan itu ia mencari pekerjaan…
mungkin sudah dapat.
---
Malamnya Wahyu duduk sendirian di teras.
Ia malu.
Bukan kepada tetangga.
Bukan kepada teman.
Tetapi kepada dirinya sendiri.
Ponselnya dibuka.
Bukan lagi mencari:
pesugihan Pantura.
Kali ini ia mengetik:
LOWONGAN WELDER SEMARANG
Lalu:
LOWONGAN TEKNISI LAS TEGAL
Lalu:
LOWONGAN WELDER CIKARANG
Ada beberapa.
Wahyu mengirim CV.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sepuluh.
Dua puluh.
Tiga hari kemudian sebuah nomor menelepon.
“Pak Wahyu?”
“Nggih?”
“Kami dari perusahaan fabrikasi baja di kawasan Cikarang. Kami sudah melihat CV Bapak. Apakah bisa datang untuk tes welding?”
Jantung Wahyu berdegup.
“Bisa, Pak!”
---
Seminggu kemudian Wahyu mengikuti tes.
Plat baja diletakkan di depannya.
Mesin las menyala.
CRESSSSSSS…
Percikan api berhamburan.
Di situlah Wahyu akhirnya kembali menjadi Wahyu yang sebenarnya.
Bukan pemburu pesugihan.
Bukan pencari nomor togel.
Bukan lelaki yang duduk menunggu keajaiban di makam.
Tangannya bergerak mantap.
Hasil lasnya rapi.
Penguji memperhatikan lama.
“Pak Wahyu.”
“Iya, Pak?”
“Sudah berapa tahun pengalaman?”
“Hampir sepuluh tahun.”
Penguji mengangguk.
“Bagus sekali.”
Dua hari kemudian ia diterima.
Gajinya bahkan sedikit lebih tinggi dibanding pabrik sebelumnya.
---
Beberapa bulan berlalu.
Suatu sore Wahyu kebetulan sedang berada di Tegal.
Entah mengapa ia ingin mampir ke warung kopi dekat makam itu.
Pemilik warung masih mengenalinya.
“Lhoooo…”
“Mas sing pengin sugih!”
Wahyu tertawa malu.
“Halah, Mas…”
“Saiki wis sugih?”
“Durung.”
“Terus?”
“Wis kerja maning.”
Penjual kopi tertawa.
“Nah.”
“Kuwi luwih jelas.”
Wahyu memesan kopi hitam.
Sambil minum, matanya melihat ke arah makam.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Mas…”
“Ngapa?”
“Wong tua sing nganggo klambi ireng, kumis tebal, nggawa tongkat… juru kuncine isih ana?”
Pemilik warung mengernyit.
“Sapa?”
“Sing biasane lungguh cedhak makam. Sepuh. Kumise kenthel.”
Pemilik warung menggeleng.
“Juru kunci kene ora kaya kuwe.”
Wahyu berhenti minum.
“Lho?”
“Iya. Juru kuncine Pak Darsono. Awake cilik. Ora duwe kumis.”
Wahyu merasakan sesuatu merambat dari tengkuknya.
“Tapi aku ketemu…”
Ia menjelaskan ciri-ciri lelaki tua itu.
Semakin Wahyu bercerita, wajah pemilik warung semakin berubah.
Akhirnya si pemilik warung berdiri.
Ia masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian kembali membawa sebuah foto lama.
Foto hitam putih.
Sudah kusam.
Foto beberapa orang sedang berdiri di sekitar makam puluhan tahun lalu.
Pemilik warung menunjuk satu orang.
“Sing sampeyan maksud…”
“…iki?”
Wahyu melihatnya.
Kumis tebal.
Baju hitam.
Tongkat kayu.
Tangannya langsung dingin.
“Iya…”
“Wong iki.”
Penjual kopi diam.
Wahyu menatapnya.
“Sapa, Mas?”
Penjual kopi menarik kursi.
Duduk.
Lalu berkata pelan,
“Jenenge Mbah Suro.”
“Mbiyen sing ngurus makam iki.”
Wahyu semakin tegang.
“Saiki nang endi?”
Penjual kopi memandang ke arah makam.
“Wis seda.”
Wahyu menelan ludah.
“Kapan?”
Pemilik warung menjawab pendek.
“Taun 1987.”
Gelas kopi di tangan Wahyu hampir terlepas.
---
Malam itu dalam perjalanan pulang, Wahyu terus memikirkan kejadian tersebut.
Siapa lelaki tua yang ditemuinya malam Jumat Kliwon itu?
Hantu?
Jin?
Halusinasi?
Atau cuma seseorang yang kebetulan mirip?
Wahyu tidak pernah tahu.
Tetapi ada satu hal yang akhirnya ia sadari.
Lelaki tua itu sebenarnya tidak pernah menjanjikannya kaya.
Bahkan ketika Wahyu bertanya,
“Mbah, iki tenan iso sugih?”
Orang tua itu hanya menjawab,
“Namane ya ikhtiar, Mas. Kersane Gusti Allah. Rejeki kuwi sing ngatur Gusti.”
Baru sekarang Wahyu memahami kalimat tersebut.
Mungkin petunjuk yang sebenarnya bukan kembang tujuh rupa.
Bukan kopi pahit.
Bukan tujuh ayam.
Bukan pula makam keramat.
Petunjuknya sederhana.
Ikhtiar.
Bekerja.
Berusaha.
Dan tidak menyerah ketika nasib sedang buruk.
Wahyu tersenyum sendiri.
Satu hal lagi terlintas di kepalanya.
Tujuh ayam yang dulu ia bawa malam itu…
sebenarnya ke mana?
Wahyu bergidik.
Lalu menggeleng.
“Wis lah…”
“Sing penting saiki kerja.”
---
Sementara itu, di warung kopi dekat makam…
malam Jumat Kliwon kembali tiba.
Beberapa orang mulai berdatangan.
Seorang lelaki muda duduk di bangku.
Wajahnya kusut.
“Kopi ireng, Mas.”
Pemilik warung membuatkan kopi.
Lelaki itu melihat ke arah makam.
Lalu bertanya pelan,
“Mas…”
“Juru kuncine makam neng endi?”
Pemilik warung berhenti mengaduk kopi.
Ia memandang lelaki itu.
Kemudian menghela napas.
“Mas…”
“Sampeyan pengin sugih cepet?”
Lelaki itu tersenyum malu.
“Iya…”
Pemilik warung menggeleng.
Kemudian berkata,
“Halah…”
“Pengin sugih aja nang makam.”
“Kerja sing nggenah, Mas.”
TAMAT






